Berita PTPN XI

Penganugerahan Pemenang Lomba Desain Logo

Post at Thursday, 17 August 2017 , Comment

SURABAYA (17/08/2017) Selain memberikan apresiasi PMK, PTPN XI yang beberapa waktu lalu menggelar Lomba Desain Logo PTPN XI memberikan hadiah kepada para pemenang Lomba. Juara satu diraih oleh Hermawan Susanto, Juara II oleh Latiful Muttaqin dan Juara III diraih oleh Ade Anandra. Hadiah yang diberikan berupa uang tunai sebesar Rp30 juta untuk Juara I, Rp10 juta untuk Juara II, dan Juara III sebesar Rp5 juta, serta masing-masing mendapat piagam penghargaan dari PT Perkebunan Nusantara XI.

Dalam sambutannya, Moh. Cholidi Direktur Utama PTPN XI menyebutkan dari Lomba Desain tersebut Logo baru diharapkan mampu mencerminkan visi, misi, budaya dan meaning baru PTPN XI. “ Selain mampu mencerminkan visi, misi baru, logo yang terpilih oleh juri tidak kalah  bila dibandingkan dengan perusahaan internasional “, ujarnya. Selanjutnya logo yang terpilih akan mengalami penyempurnaan untuk menjadi logo baru perusahaan agro industri yang sedang mengalami transformasi bisnis ini.

Sementara itu disinggung tentang mundurnya jadwal penetapan pemenang, pihaknya membutuhkan waktu agar maksimal dalam penilaian mengingat besarnya animo terhadap lomba desain logo ini. Tercatat 159 peserta yang mengirimkan karyanya, sedangkan jumlah karya yang masuk sebanyak 189 desain logo. (Jo)

Read More

Apresiasi Karyawan, PTPN XI Bagikan Penghargaan Masa Kerja

Post at Thursday, 17 August 2017 , Comment

SURABAYA (17/08/2017) Setelah menggelar upacara bendera peringatan hari Kemerdekaan RI yang ke-72 pada hari Kamis (17/08), PT Perkebunan Nusantara XI memberikan apresiasi melalui pemberian Penghargaan Masa Kerja (PMK) kepada 18 karyawan Kantor Pusat berupa uang tunai dan lencana emas.

PMK diberikan kepada karyawan yang telah berkarya selama 20, 25, 30 dan 35 tahun di peusahaan yang mempunyai visi menjadi perusahan agro industri yang unggul di Indonesia. Sebanyak 8 orang yang telah mempunyai masa kerja selama 20 tahun, 7 orang yang mempunyai masa kerja selama 25 tahun, 1 orang memiliki masa kerja 30 tahun dan sebanyak 2 orang yang memiliki masa kerja 35 tahun. (lihat grafis)

Dalam kesempatan tersebut Moh. Cholidi berharap dengan semangat Jujur Tulus Ikhlas karyawan mampu meneladani dan memberikan konstribusi terbaiknya. “ Diharapkan karyawan termotivasi, sehingga lebih baik lagi dalam memberikan konstribusi kepada perusahaan “, terangnya lebih lanjut. (Jo)

Read More

BUMN Harus Hadir Ada Ketika Masyarakat Membutuhkan

Post at Thursday, 17 August 2017 , Comment

SURABAYA (17/08/2017) Pekik "Merdeka" lantang disuarakan oleh ratusan peserta upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-72 menimpali Salam kemerdekaan yang dilontarkan oleh Moh. Cholidi Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XI yang menjadi inspektur upacara. Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis (17/08) pagi di halaman Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara XI ini diikuti oleh karyawan PT Perkebunan Nusantara yang berada di Surabaya yakni PTPN X, PTPN XI, dan PTPN XII.

Kekayaan bangsa menjadi modal besar dalam membangun negara Indonesia ditengah-tengah era globalisasi. “ Kita adalah bangsa yang besar, yang dikarunia segala kekayaan dan keberagaman. Ini potensi yang harus kita jaga dengan sepenuh hati, kita kelola dengan nurani, pikiran dan keragaman Adat dan Budaya tindakan serta etika suci demi berkibarnya panji- panji Ibu Pertiwi diantara negeri-negeri “, terang Moh. Cholidi dalam sambutannya.

Negara harus hadir ketika rakyat membutuhkan solusi, demikian juga dengan peran BUMN melalui program BUMN hadir untuk Negeri. “ Demikian pula kita sebagai anak bangsa yang diamanahi mengelola aset BUMN, BUMN harus hadir ketika yang lemah sedang membutuhkan uluran tangan, bumn harus hadir ketika masyarakat membutuhkan layanan produk yang berkualitas, berdaya saing tinggi dan sehat ”, ujarnya lebih lanjut.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan midley lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan oleh tim paduan suara gabungan tiga perusahaan perkebunan tersebut. (Jo)

Read More

PG Wonolangan tingkatkan kapasitas hingga 3 juta ton

Post at Monday, 14 August 2017 , Comment

SURABAYA (14/08/2017)  Pabrik Gula (PG) Wonolangan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI tahun ini meningkatkan kapasitas giling tebu menjadi 3 juta ton. Untuk itu pabrik gula yang berlokasi di Probolinggo, Jawa Timur ini telah menginvestasikan Rp20 miliar untuk menambah sejumlah alat atau mesin pabrik.

General Manager PG Wonolangan, Heru Wibowo mengatakan investasi tersebut digunakan untuk membeli planetary senilai Rp12 miliar dan sejumlah peralatan pabrik lainnya.

”Tahun ini kami ingin menargetkan bisa giling tebu hingga 3 juta ton, dengan produksi gula kapasitas ekslusif 18.500 ton hingga 20.500 ton,” katanya, Selasa (8/8/2017).

Selain itu, lanjut Heru, PG Wonolangan juga melakukan investasi Hi Grade untuk meningkatkan kualitas mutu gula dan banyak melakukan efisiensi pabrik guna menekan Harga Pokok Produksi (HPP) dari Rp7.500/kg menjadi Rp6.000/kg.

”Mengingat harga jual hasil gula sebesar Rp9200/kg, maka kapasitas ditingkatkan dan HPP harus ditekan agar ada margin. Tahun ini, kami targetkan perolehan laba bersihsebelum pajak Rp14 miliar, dan laba kotornya Rp34 miliar,” katanya.

Heru menambahkan, kinerja pendapatan tahun ini meningkat dibandingkan capaian tahun lalu yang hanya mampu memperoleh laba bersih Rp2,5 miliar dengan jumlah produksi gula yang hanya mencapai 5.000 ton (gula milik PG).

Begitu pula dengan kinerja rendemen tebu yang diperoleh tahun lalu jauh dari kondisi tahun ini, di mana tahun lalu hanya 6,01 persen dan tahun ini ditarget 8 persen. ”Ini karena kondisi anomali cuaca tahun-tahun sebelumnya ada hujan berkepanjangan,” imbuhnya. (jo/Sumber:disini)

Read More

Pengumuman Prakualifikasi

Post at Thursday, 10 August 2017 , Comment

PT Perkebunan Nusantara XI akan mengadakan prakualifikasi dalam rangka Pemilihan Langsung guna Pemberdayaan Aset BUMN sebagai berikut:

Nama Paket Pekerjaan : 

Penyedia Teknologi dalam rangka Pembangunan dan Operasional Workshop Kanigoro Madiun Menjadi Mitra dengan pola kerjasama Operasi dalam pembangunan Workshop Kanigoro, Madiun.

Lingkup Perkerjaan :

Workshop Kanigoro Madiun direncanakan memproduksi dan melakukan pemeliharaan peralatan Pabrik Gula pada Stasiun Gilingan dan peralatan lainnya seperti Pompa, Konveyor, Perpipaan, Bejana Bertekanan yang dibutuhkan oleh Pabrik Gula maupun Industri selain Pabrik Gula.

Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada lampiran berikut:

pungumuman prakualifikasi

Read More

Jajaran Direksi berubah, PT NSM diharap Lebih Lincah

Post at Monday, 07 August 2017 , Comment

SURABAYA (07/08/2017) Pada hari ini Senin (7/8) pagi berlangsung RUPS Luar Biasa PT Nusantara Sebelas Medika selaku anak perusahaan PTPN XI. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Pusat PTPN XI. Berdasarkan hasil RUPS LB tersebut , mengangkat  dr. Arif Wijanto sebagai Direktur Utama PT NSM dan Dadang Hermawan sebagai Direktur Komersial. Sebelumnya Direktur Utama PT NSM dijabat oleh Anang Abdul Qoyyum  yang saat ini ditugaskan sebagai Direktur Keuangan PT Garam (Persero).

Moch. Cholidi selaku Direktur Utama PTPN XI yang juga bertindak sebagai pemegang saham mayoritas berharap, dengan perubahan struktur Direksi PT NSM mampu lebih lincah dan bersaing sebagai perusahaan yang membidangi  jasa medis di Indonesia. (Jo/Yns)

Read More

SOSIALISASI PENEGASAN PEMBEBASAN PPN GULA PETANI

Post at Wednesday, 19 July 2017 , Comment

SURABAYA (19/07/2017) Setelah sempat menjadi polemik, pengenaan pajak pertambahan nilai gula petani menemui titik terang. Setelah dilakukan audiensi dengan beberapa pihak terkait, akhirnya pengenaan pajak tersebut tidak diberlakukan. Hal ini disosialisasikan kepada para pelaku industri gula, mulai petani, pabrik gula, HIPGI dan APGI pada Rabu (20/7) di Surabaya. Direktur Utama PTPN XI, M. Cholidi turut hadir dalam agenda sosialisasi tesebut (Jo/Yns)

Read More

Pabrik Gula Situbondo Belum Lakukan Pemotongan Pajak

Post at Tuesday, 18 July 2017 , Comment

SURABAYA (18/07/2017) Pabrik gula di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, belum melakukan pemotongan pajak pertambahan nilai atau PPN sebesar 10 persen dari hasil penjualan gula pasir milik petani tebu. "Sampai dengan hari ini kami belum mendapatkan informasi dari kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara Surabaya apakah pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen yang dibebankan kepada petani tebu sudah berlaku atau tidak dan sudah ada pemotongan pajak atau belum," ujar Direktur PG Asembagus, Kabupaten Situbondo, Achmad Barnas di Situbondo, Kamis (6/7). Ia mengemukakan, tebu petani yang sudah digiling di pabrik gula pada periode pertama pembayaran hasil panen tebunya (DO) masih dibayar menggunakan dana talangan sama dengan tahun sebelumnya atau masih belum ada pemotongan pajak. Hasil panen tebu petani dibayar menggunakan dana talangan oleh pabrik gula itu, katanya, Rp9.100 per kilogram gula pasir dan ketika gula petani sudah terjual (dilelang) kepada pedagang, maka setelah dua hingga satu bulan, petani akan kembali mendapatkan tambahan uang sesuai harga gula yang sudah dibeli. "Jadi, petani tebu baru diketahui sudah terkena pajak PPN sebesar 10 persen itu setelah gula pasir dibeli oleh pedagang dan selanjutnya pabrik gula menerima data harga efektif penjualan hasil lelang dan data itu biasanya tiga minggu hingga satu bulan diterima PG," ucapnya. Barnas mencontohkan, apabila gula pasir petani yang dilelang dan dibeli oleh pedagang Rp10.550 per kilogram petani akan kembali menerima tambahan hasil panen tebunya Rp1.450 per kilogram dari yang diterima sebelumnya Rp9.100 per kilogram dana talangan pabrik gula. "Dari angka Rp1.450 itulah nantinya akan terlihat apakah petani sudah dibebani pajak PPN 10 persen atau tidak. Jika uang tambahan hasil panen tebu Rp1.450 per kilogram tidak berkurang berarti belum ada pemotongan pajak," paparnya. Sebelumnya, salah seorang petani tebu asal Desa/ Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Ratno Hariyadi mengatakan para petani tebu di desanya mulai resah rencana adanya pemotongan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen hasil penjualan gula pasir dibebankan kepada petani. "Petani di Situbondo sudah banyak yang berencana juga untuk beralih menanam padi dan tanaman lainnya bila pajak PPN 10 persen harus petani yang menanggung bukan pedagang gula (pembeli gula petani)," katanya. (Jo/Sumber: disini)

Read More

DIREKSI PTPN X, XI DAN XII KUNJUNGI POLDA JATIM

Post at Monday, 17 July 2017 , Comment

SURABAYA (17/07/2017) Direksi PTPN XI beserta Direksi PTPN X dan PTPN XII mengunjungi Polda Jatim pada Senin (17/7). Pertemuan yang berlangsung di Kantor Polda Jawa Timur di Surabaya bertujuan untuk Silahturahmi dan Koordinasi Bersama sekaligus untuk perkenalan antara Kapolda Jatim yang baru yakni Inspektur Jenderal Polisi Drs. Machfud Arifin, S.H dengan jajaran Direksi PTPN X, XI dan XII yang baru dilantik pada 24 Februari 2017 lalu.

Selain perkenalan pejabat baru, pertemuan tersebut juga membahas terkait pengamanan asset produksi untuk swasembada gula, termasuk pengamanan gula impor dari luar Jawa Timur dengan harga yang lebih murah. (Yns)

Read More

SINERGI KETAHANAN PANGAN GULA

Post at Thursday, 13 July 2017 , Comment

BANDUNG (13/07/2017) Direktur Keuangan PT Bio Farma Pramusti Indrascaryo (tengah) bersama Direktur Komersil PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X Muhammad Hanugroho (kedua kiri), dan Direktur Komersil PTPN XI Flora Pudji Lestari (kedua kanan) serta Kepala Subbidang Kebijakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Kementerian BUMN Masni Napitupulu (kiri) dan Kepala Divisi CSR dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Bio Farma R. Herry saling bergandengan tangan usai penandatanganan perjanjian kerja sama sinergi BUMN program kemitraan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/7). Bio Farma menyalurkan dana kemitraan sinergi senilai Rp11 miliar kepada PTPN X sebesar Rp7 miliar dan PTPN XI sebesar Rp 4 miliar, untuk membantu program pemerintah dalam kemandirian ketahanan pangan khususnya khususnya gula. (Yns/Sumber : disini)

Read More

TIM PANJA ASET KOMISI VI DPR RI KUNJUNGI PTPN XI

Post at Friday, 14 July 2017 , Comment

 

SURABAYA (14/07/2017) Panja Aset Komisi VI DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur Jumat (13/7). Bertempat di Kantor Pusat PTPN XI dihadiri oleh Deputi Bidang Agroindustri dan Farmasi, Wahyu Kuncoro, Direksi PTPN X, XI, dan XII.

Dipaparkan kondisi aset BUMN yg dimiliki oleh ketiga PTPN tersebut, "Aset merupakan hal pnting bagi BUMN, harus dijaga keberadaannya untuk dioptimalkan dalam melakukan aktivitas usahanya. Selain tanah, properti, mesin dan sebagainya, SDM juga merupakan aset yg tidak ternilai" jelas Azam Azman Natawijana, Ketua Tim Kunjungan Kerja Panja Komisi VI DPR RI

“PTPN XI telah melakukan upaya untuk optimalisasi dan keamanan aset yg kami miliki, diantaranya digunakan oleh PT NSM (anak perusahaan PTPN XI)  sebagai klinik yg akan dikembangkan menjadi Rumah Sakit di daerah Ngagel Surabaya”, terang M. Cholidi, Direktur Utama PTPN XI.

Selain paparan dan diskusi, kunjungan kerja tersbeut  dilanjutkan dengan mengunjungi  aset PTPN XI eks Pabrik Karung Rosella di daerah Ngagel yang kini dimanfaatkan  sebagai klinik dan Kantor Pusat PT NSM. (Jo/Yns)

Read More

PTPN XI Jalin Kerjasama dengan PT Bank BNI (Persero)

Post at Wednesday, 12 July 2017 , Comment

SURABAYA (12/07/2017) Bertempat di Ruang Rapat Utama Kantor Pusat PTPN XI, telah dilakukan penandatanganan kerjasama antara PT Perkebunan Nusantara XI yang diwakili oleh Direktur Utama, Moh. Cholidi dengan PT Bank BNI (Persero) yang diwakili oleh Anton Siregar selaku Pimpinan Divisi Usaha Kecil PT Bank BNI (Persero) pada Rabu 07 Juli 2017.

Dana yang disalurkan PT Bank BNI (Persero) melalui PKBL PTPN XI total sebesar Rp 70.3 Miliar. Direktur Utama PTPN XI, Moh. Cholidi berharap dengan adanya kerjasama ini dapat membantu pendanaan para UKM dan petani binaan PTPN XI yang belum bankable, sehingga bisa membantu meningkatkan tingkat kesejahteraan mereka.

“Penyaluran (dana) tersebut ditujukan untuk membantu UKM yang belum bankable sehingga bisa visible” ujar Anton Siregar dalam sambutannya

Turut hadir pula dalam acara tersebut, jajaran kepala Divisi, Sekretaris Perusahaan dan Staf Divisi PKBL PTPN XI serta Slamet Jumantoro selaku Pimpinan PT BNI (Persero) wilayah Surabaya dan Haris A Handoko selaku wakil pimpinan Divisi Binsis PT BNI (Persero) wilayah Malang (Jo/Yns)

Read More

Dewan Komisaris PTPN XI Kunjungi PG Wilayah Barat

Post at Monday, 10 July 2017 , Comment

SURABAYA (10/7/2017) Dewan Komisaris PTPN XI melakukan kunjungan kerja ke Pabrik Gula PTPN XI di wilayah barat. Selain menjalankan fungsi pengawasan sekaligus memberikan support kepada manajemen dan karyawan pabrik gula yang saat ini tengah menjalani musim giling tahun 2017. Kunjunga kerja tersebut dilakukan dua hari yakni pada kamis dan jumat (06-07 Juli 2017). Adapun PG yang dikunjungi antara lain, PG Pagottan, PG Rejosari, PG Purwodadi dan PG Sudono. (Jo/Yns)

Read More

Gula Tebu Petani Tidak DIpungut PPN

Post at Friday, 07 July 2017 , Comment

SURABAYA (07/07/2017) Sesuai Surat Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 27/M-DAG/PER/5/ 2017 Tentang : PENETEPAN HARGA ACUAN PEMBELIAN DI PETANI DAN HARGA ACUAN PENJUALAN DI KONSUMEN Untuk Gula adalah sebagai berikut :

Harga Dasar Acuan Pembelian  Gula Petani Rp 9.100/kg Harga Acuan Penjualan di Konsumen Rp 12.500/kg.

Dengan Terbitnya surat Peraturan Menteri Perdagangan No 27 th 2017 tersebut, petani tebu tidak memiliki pilihan lain selain meningkatkan produktifitas serta peningkatan efisiensi pabrik gula. Untuk itu HM Arum Sabil selaku Ketua Dewan Pembina APTRI mengungkapkan bahwa atas isu yang beredar mengenai Pengenaan Pajak PPN Gula Petani, berdasarkan hasil pertemuan antara Ketua Dewan Pembina APTRI HM Arum Sabil dan para pimpinan DPP dan DPP APTRI se – Indonesia dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani pada 31 Mei 2017, Ibu Sri Mulyani Menteri Keuangan menegaskan bahwa petani yang merugi atau pendapatan dari hasil pertanian tebunya di bawah Rp 54 juta pertahun bebas PPN. Untuk itu petani tebu dan pedagang yang membeli gula petani tidak usah risau masalah PPN dan di persilahkan melakukan transaksi seperti biasanya.

Selain itu, sesuai Surat Edaran Direktur Jendral Pajak Nomor : SE- 10/PJ.51/1999 tentang PPN atas penyerahan Gula Pasir dinyatakan bahwa atas 65% gula pasir bagian petani yang dibeli oleh Perusahaan Gula atas pembelian tersebut tidak terutang PPN, kecuali nyata-nyata Pihak Penjual adalah pengusaha kena pajak (seperti produsen gula yang memiliki Pabrik Gula BUMN maupun Swasta)

Atas 10% Gula Pasir Yang di berikan Kepada Petani dalam Bentuk Natura Tidak Terutang PPN .

PUTUSAN MK Nomor : 39/PUU-X1V/2016 tentang Hasil Uji Materi yang diajukan oleh Dolly Hutari P dan Sutejo.

Mahkamah Konstitusi (MK) Memutuskan Bahwa Kebutuhan Pokok yang tidak di kenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak terbatas pada 11 Jenis barang yang tercantum pada pasal 4A ayat (2) huruf b undang- undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN).

Walupun gula tidak di sebutkan dalam putusan tersebut  faktanya secara Dejure dan Defacto gula adalah termasuk kebutuhan pokok utama. Artinya Gula Merupakan Kebutuhan Pokok Utama juga Merupakan yang tidak terpisahkan dari Putusan MK tersebut.

Sehingga putusan MK No: 39/PUU-XIV/2016, Maka PPN kusus Gula Pasir Milik Petani Bisa sejalan dan Lebih Memperkuat  Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor : SE-10/PJ.51/1999 yang menyatakan Bahwa atas Pembelian Gula Pasir tersebut tidak Terutang PPN, Kecuali bila nyata-nyata Pihak Penjual adalah Pengusaha Kena Pajak (seperti Perusahaan Produsen Gula yg memiliki Pabrik Gula BUMN maupun Swasta.)

Read More

BUMN HADIR UNTUK NEGERI, BUMN BERBAGI BINGKISAN RAMADHAN 1438 H

Post at Friday, 16 June 2017 , Comment

SURABAYA (16/06/2017). Momentum Ramadhan adalah saatnya untuk merenung, berserah diri, mengabdi dan membantu mereka yang membutuhkan. Keberadaan BUMN diharapkan memberi konstribusi di tengah masyarakat. Untuk itu program BUMN hadir untuk negeri – BUMN berbagi bingkisan Ramadhan 1438 H digelar serentak di 40 titik tersebar di Semarang dan Surabaya pada hari Jumat tanggal 16 Juni 2017 dengan total bingkisan sejumlah 60.000 paket sembako yang dibagikan kepada masyarakat kurang mampu. Sebagai bentuk kepedulian BUMN untuk membantu mereka yang membutuhkan di saat Ramadhan tahun ini. Pembagian Bingkisan Ramadhan di Semarang akan dilakukan bersama Menteri BUMN sedangkan di Surabaya dilaksanakan oleh 20 BUMN diantaranya : BNI, Jasa Raharja, Angkasa Pura 1, Pelindo 3, Pupuk Indonesia Group, Sucofindo, PGN, Askrindo, TASPEN, ASDP Indonesia Ferry,  PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, Kimia Farma, KAI, Semen Indonesia, Bulog, BTN, Pertamina dan Pos Indonesia

“ Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen BUMN Hadir untuk Negeri dan sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo agar kegiatan “BUMN berbagi” juga dilaksanakan di lokasi lain di luar Jabodetabek “, terang Mohammad Cholidi Direktur Utama PTPN XI disela-sela pembagian paket sembako di Masjid Baitul Falah Ngagel Jaya Tengah Jumat (16/06). 

Kegiatan yang akan dilaksanakan ini merupakan hasil kerjasama para pihak BUMN RI sebagai apresiasi terhadap masyarakat Indonesia yang kurang mampu. “ Untuk wilayah Surabaya kami menggelar di 20 lokasi kegiatan dengan total paket sembako sebanyak 30.000 bingkisan. PTPN XI kebagian menyelanggarakan di Masjid Baitul Falah Ngagel Jaya Tengah dengan 1.500 paket sembako yang dibagikan berisi Beras 5 kg, Minyak Goreng 2 Liter, Kecap 1 Botol, dan Gula 1 kg senilai Rp200.000,- ditambah bantuan transport Rp50.000,- “ ujarnya lebih lanjut.

Sementara itu penyaluran dana program kemitraan PTPN XI hingga Mei 2017 mencapai sebesar Rp. 13.021.989.138,-. Sedangkan realisasi penyaluran program Bina Lingkungan sampai dengan bulan Mei tahun 2017 mencapai Rp. 3.178.929.000,- , dengan peruntukan perbaikan atau pembuatan sarana prasarana publik (fasum), bantuan pendidikan dan pelatihan serta bantuan sarana ibadah.

PT Perkebunan Nusantara XI bagian dari BUMN merupakan bagian dari masyarakat Indonesia, diharapkan memiliki kontribusi dalam membangun negeri tanpa kecuali. (Jo)

Read More

PTPN Diversifikasi Produk

Post at Wednesday, 14 June 2017 , Comment

SURABAYA (14/06/2017) Perusahaan BUMN gula melanjutkan strategi diversifikasi usaha. Seperti PTPN XI yang merintis bisnis edamame dan membidik segmen pasar premium. Rencananya, hasil produksi tersebut dipasarkan ke luar negeri.

Dirut PTPN XI Moch. Cholidi menyatakan, gagasan awal untuk masuk ke bisnis edamame muncul untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan. Selain mendapat pasokan tebu dari lahan-lahan milik petani, PTPN XI memiliki lahan dengan status hak guna usaha (HGU). Pada tahap awal, bisnis edamame dikerjakan di lahan sendiri.

Selama ini, ketika masa rotasi tanaman, lahan hanya diistirahatkan. Nah, sekarang pihaknya berkomitmen menanam kedelai dan edamame. Setelah tanaman tebu dibongkar, lahan bisa dimanfaatkan buat dua kali tanam untuk komoditas lain. ”Jadi, sambil merotasi tanaman, sekaligus menjaga kesuburan tanah,” katanya kemarin (12/6).

Tahun ini, diproyeksikan ada sekitar 500 hektare lahan yang dibongkar. Sebagian lahan tersebut digunakan untuk pembibitan edamame. Sisanya dimanfaatkan untuk penanaman kedelai. Namun, mengingat besarnya potensi pasar edamame, ke depan seluruh lahan dapat digunakan untuk penanaman edamame. Produk edamame premium dipilih karena potensi pasar masih terbuka.

”Kami sedang jajaki kerja sama dengan Taiwan untuk pemasarannya,” ungkapnya. Bila bisnis pada tahap awal sukses, lahan bisa diperluas hingga 700 hektare. Pengembangan edamame akan dikerjakan di sekitar Pabrik Gula Jatiroto, Lumajang. Alasannya, edamame membutuhkan cold storage yang konsumsi listriknya besar. Tahun depan, PG Jatiroto siap memproduksi listrik. (Sumber: DIsini)

Read More

Punya Lahan 500 Ha, PTPN XI akan Kembangkan Edamame

Post at Wednesday, 14 June 2017 , Comment

SURABAYA (14/06/2017) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mulai tahun ini akan mengembangkan tanaman Edamame. Pengembangan budidaya tanaman tersebut bagian dari program diversifikasi yang tengah digencarkan perusahaan plat merah (badan usaha milik negara ) ini. "Kami punya lahan HGU (Hak Guna Usaha) sekitar 500 hektar. Nanti setelah dari panen tebu, akan ditanam Edamame," kata Direktur Utama PTPN XI M Cholidi kepada wartawan di sela acara buka bersama karyawan PTPN XI dan Anak Yatim Piatu di kantornya, Jalan Merak, Krembangan, Surabaya, Senin (12/6/2017).

Rencana produksi Edamame tersebut, akan dilakukan di kawasan Pabrik Gula Djatiroto, Lumajang. Kata Cholidi, tahun ini masih dilakukan pengkajian dan pembibitan Edamame.

"Setelah dilakukan pembibitan dan pengkajian, tahun depan baru kita lakukan penanaman," tuturnya. Alasan menanam Edamame karena potensi pasar ekspor yang menjanjikan seperti Jepang dan Taiwan. Pasalnya, di dua negara Asia tersebut, kebutuhan Edamame sangat tinggi.

"Di Taiwan kekurangan areal untuk memproduksi Edamame. Kita akan menjajaki potensi dari negara tersebut. Untuk itu, kami ingin memastikan komitmen yang tinggi dari mereka hingga proses administrasi antar negara," tuturnya.

Lahan untuk menanam Edamame sudah ada. Namun, pihaknya masih terus melakukan persiapan dan dukungan sarana prasarana seperti listri hingga cold storage.

"Yang dibutuhkan memang energi listrik yang cukup besar dan cold storage, untuk penyimpanan produk edamame frozen," jelasnya sambil mengembangan produk diversifikasi itu diyakini mampu menyumbang kinerja dan pendapatan perseroan.

PTPN XI juga menggandeng Pupuk Kujang dan MoU yang diteken pada 5 Juni 2017 lalu di Jakarta. Kerja sama tersebut meliputi di bidang penelitian dan pengembangan produk pupuk organik berbasis limbah tebu.

Kata Cholidi, produksi pupuk organik tersebut rencana dilakukan pabrik gula di Madiun dan satu pabrik gula di Probolinggo.

"Rencana ini juga menjadi program alih fungsi aset PG (pabrik gula) yang tidak efisien, dan menjadikan pabrik terintegrasi," tuturnya sambil mencontohkan pabrik terintegrasi seperti PG Djatiroto, Lumajang dan PG Assembagoes yang memproduksi pupuk organik limbah.

"Alih fungsi ini bukan berarti pabrik-pabrik ini beralih fungsi sepenuhnya menjadi pabrik pupuk, tetapi pengeringan blontong bisa menggunakan panas yang dihasilkan dari proses produksi gula," tandasnya.

Cholidi menambahkan, tahun ini perseroan menargetkan meningkatkan produksi gula menjadi 432.327,7 ton dari tebu yang digiling 5.490.006 ton. Target tahun 2017 ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu yang memproduksi gula kristal putih 319.913,1 ton dari tebu yang digiling 5.106.563 ton tebu dari petani dan lahan HGU.

"Untuk mencapai target tersebut, tentunya kita secara bersama-sama harus bisa mencapai rendemen tebu pada akhir giling yakni 8 persen," pungkas Cholidi.(Sumber: Disini)

Read More

Sambut Giling 2017, PTPN XI optimistis Jatim jadi lumbung gula

Post at Wednesday, 14 June 2017 , Comment

SURABAYA (14/06/2017) Sejumlah Pabrik Gula (PG) di lingkungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mulai akhir Mei 2017 lalu telah memasuki musim giling tebu. Berbagai upaya telah dilakukan perseroan untuk mencapai target produksi dan menjadikan Jawa timur sebagai lumbung gula nasional.

PTPN XI mencatat, pada tahun 2016 perseroan telah menggiling tebu petani dan tebu lahan HGU sebanyak 5.106.563 ton tebu dan  menghasilkan produksi gula kristal putih (GKP) mencapai 319.913,1 ton gula. Alhasil, capaian produksi gula perseroan ini merupakan produksi terbesar kedua di Jawa, karena berkontrobusi 14,5 % terhadap total produksi gula nasional.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI M Cholidi mengatakan tahun ini akan meningkatkan produksi gula menjadi 432.327,7 ton dari 5.490.006 ton tebu yang digiling.

“Untuk mencapai target tersebut, tentunya kita secara bersama-sama harus bisa mencapai rendemen tebu pada akhir giling yakni 8% melalui berbagai cara”, Kata M Cholidi saat Media Update Industri Gula dan Buka Bersama PTPN XI, Senin (12/6/2017).

M Cholidi menjelaskan, sejumlah cara akan dilakukan untuk mengejar rendemen tinggi. Diantaranya  yakni mengubah pola kerja petani terutama pada sistem tebang, muat dan angkut yang selama ini menjadi momok bagi hasil tebu petani yang seharusnya punya ciri MBS (Manis, Nersih dan Segar).

“Kami bersama dengan seluruh CEO Pabrik Gula di Jawa Timur sudah membuat kesepakatan. Mulai tahun ini semua PG hanya akan menerima tebu yang bersih dan berkualitas bagus untuk digiling di pabrik kami. Ini dilakukan agar petani tidak menebang tebu dengan asal-asalan, masih kotor dan ada yang tingkat kemasakannya belum tepat sudah ditebang”, katanya.

Selain itu strategi yang digunakan di tahun 2017 adalah perbaikan pabrik (off farm) secara kontinyu untuk menjamin mutu gula dan kelancaran giling serta persiapan proyek revitalisasi di PG Djatiroto dan PG Asembagus.

Rencana untuk mengaktifkan kembali PASA ( Pabrik Alkohol dan Spiritus) Djatiroto sebagai industri etahnol, saat ini telah dilakukan persiapan kelengkapan pengolahan dan proses ethanol mengingat lama non aktif. Pembuatan instalasi limbah dan menjajaki pangsa pasar juga tengah dilakukan hingga saat ini dan diharapkan akhir tahun ini sudah running. PASA Djatiroto mempunyai kapasitas 15 kiloliter per hari.

Adapun tehun ini PTPN XI memiliki 4 program di sisi on farm (kebun) yang diyakini dapat meningkatkan pendapatan petani.

Pertama, tahun ini PTPN XI akan membantu mencarikan pendanaan yang cepat  dan tepat bagi petani dengan menggunakan skema-skema seerti Kredir Usaha Rakyat (KUR), kredit di Bank Jatim, melalui bank BUMN atas jaminan PTPN XI, maupun melalui program Kementrian dan Bina Lingkungan (PKBL)

Kedua, petugas PTPN XI aka menyediakan layanan mekanisasi untuk petani, di masa satu sinder aan menguasau satu traktor, termasuk alat-alat pemupum dan alat membuka lahan sehingga pekerjaan on farm lebih cepat dan efisen.

Ketiga, PTPN XI berkoordinasi atau kerja sama dengan perusahaan penyedia pupuk agar pemupukan tanaman tebuh petani rakyat dan tebuhsendiri bisa tepat waktu dan tidak terlambat sehingga pertumbuhan tebu pun dipasyikan bisa seragam.

Keempat, PTPN XI akan secara langsung mengatur dan menyiapkan program pemantauan tebu yang siap atau matang untuk ditebang dan digiling. (Sumber : disini)

Read More

Target Produksi Gula Dinaikkan, ini Strategi PTPN XI

Post at Wednesday, 14 June 2017 , Comment

SURABAYA (14/06/2017) Jelang musim giling tahun 2017, Pabrik Gula (PG) di bawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI ditarget produksi gula sebanyak 432.327,7 ton. Jumlah itu meningkat lebih besar dari tahun 2016 lalu.

"Target produksi gula itu didapat dari tebu yang digiling sebanyak 5.490.006 ton. Untuk mencapainya, kami bersama-sama harus bisa mencapai rendemen tebu pada akhir giling yakni 8 persen melalui berbagai cara," jelas M Cholidi Direktur Utama PTPN XI, Senin (12/6/2017).Cholidi menjelaskan, sejumlah cara akan dilakukan untuk mengejar rendemen tinggi, yakni mengubah pola kerja petani terutama pada sistem tebang, muat dan angkut yang selama ini menjadi momok bagi hasil tebu petani yang seharusnya punya ciri Manis, Bersih dan Segar (MBS).

Musim giling di PTPN XI sudah dimulai sejak akhir Mei 2017. Dari catatan tahun 2016, PG milik perseroan telah menggiling tebu petani dan tebu dari lahan HGU sebanyak 5.106.563 ton, sehingga mampu menghasilkan produksi gula kristal putih (GKP) mencapai 319.912,1 ton.

Alhasil, produksi gula perseroan merupakan terbesar kedua di Jawa, karena telah terkontribusi 14,5 persen dari total produksi nasional.

Selain itu, strategi yang digunakan di tahun 2017, adalah perbaikan pabrik (off farm) secara kontinyu untuk menjamin mutu gula dan kelancaran giling serta persiapan proyek revitalisasi di PG Djatiroto dan PG Assembagoes.

"Kami juga punya empat program diisi on farm (kebun) yang diyakini dapat meningkatkan pendapatan petani. Antara lain, PTPB XI akan membantu mencarikan pendanaan yang cepat dan tepat bagi petani dengan menggunajan skema-skema seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat), Kredit Bank Jatim, melalui bank BUMN atas jaminan PTPN XI, maupun melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL), " jelas Cholidi.

Kedua, petugas PTPN XI menyediakan layanan mekanisasi untuk petani, dimana satu sinder akan menguasai satu traktor, termasuk alat-alat pemupuk dan alat pembuka lahan sehingga pekerjaan on farm lebih cepat dan efisien.

Ketiga, berkoordinasi atau kerjasama dengan perusahaan penyedia pupuk agar pemupukan tanaman tebu rakyat dan tebu sendiri bisa tepat waktu dan tidak terlambat sehingga pertumbuhan tebu dipastikan bisa seragam.

Keempat, PTPN XI secara langsung mengatur dan menyiapkan program pemantauan tebu yang siap atau matang untuk ditebang dan digiling. (Sumber:disini)

Read More

PTPN XI Bidik Produksi Gula 430 Ribu Ton

Post at Wednesday, 14 June 2017 , Comment

SURABAYA (14/06/2017) PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI) menargetkan produksi gula tahun ini mencapai 430 ribu ton, atau naik 26% dibanding 2016 yang hanya 340 ribu ton. Kenaikan produksi tersebut dipicu oleh membaiknya produktivitas dan tingkat rendemen tanaman tebu perseroan.

Menurut Direktur Utama PTPN XI M Cholidi, produksi 430 ribu ton gula berasal dari pengolahan 5,5 juta ton tebu. Tahun lalu, PTPN XI hanya mampu mengolah 5,1 juta ton tebu dengan produksi gula 340 ribu ton.

"Musim giling masih berlangsung, kami proyeksikan tahun ini produksi gula PTPN XI mencapai 430 ribu ton seiring produktivitas yang semakin baik dan penambahan areal. Tahun lalu, produksi hanya 340 ribu ton karena musim tidak terlalu bagus," kata dia.

M Cholidi mengatakan hal tersebut usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PTPN XI dengan PT Pupuk Kujang di Jakarta, Senin (5/6). Penandatangan MoU tersebut dilakukan oleh M Cholidi dengan Presiden Direktur PT Pupuk Kujang Nugraha Budi Eka Irianto, disaksikan Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PT Perkebunan Nusantara III (PTPN Holding) Dasuki Amsir. Saat ini, PTPN XI menaungi 15 pabrik gula (PG).

Perusahaan, ujar Cholidi, terus melakukan upaya revitalisasi guna menopang peningkatan rendemen melalui proses ekstraksi yang lebih baik. Meski, tingkat rendemen sebenarnya lebih ditentukan oleh tanaman itu sendiri.

"Penentu tingginya rendemen itu banyak faktor, utamanya tanaman itu sendiri. Kalau memang di dalam tebunya tidak banyak gula, mau sehebat apa pun pabrik gulanya, rendemen tetap. Kami sudah buktikan, pabrik sifatnya hanya untuk ekstraksi potensi yang ada. Tidak serta merta pabrik baru, langsung rendemennya melompat," jelas dia.

Faktor lain dalam mendongrak rendemen adalah musim. Musim mempengaruhi fotosintetis, syarat ideal adalah tanaman mendapat penyinaran yang panjang, minimal 10 jam. Lalu, suhu siang dan malam harus berbeda jauh. Persyaratan lainnya adalah nutrisi yang tepat, memilih waktu tebang yang tepat, dan pada saat puncak masak. "Pemberian pupuk yang tepat berdampak pada homogenitas tanaman dan homogenitas menjadi kunci pencapaian rendemen tinggi," kata Cholidi. (Sumber:disini)

Read More

Kembangkan Pupuk Berbasis Limbah Tebu, PTPN XI Gandeng Pupuk Kujang

Post at Tuesday, 06 June 2017 , Comment

SURABAYA (06/06/2017)  PTPN XI menggandeng PT Pupuk Kujang mengembangkan pupuk organik berbasis limbah tebu, sebagai diversifikasi produk dari tebu, selain gula.

 

 

Pemanfaatan pupuk organik untuk kebun tebu juga dinilai dapat menekan biaya produksi, sehingga petani dapat memperoleh keuntungan signifikan. 

Direktur Utama PTPN XI Moh Cholidi menyampaikan selama ini petani tebu selalu menambah pupuk NPK dengan dosis dan biaya tinggi hanya untuk mengejar produktifitas. Sementara, penggunaan pupuk kimia yang berlebih menyebabkan daya ikat tanah terhadap unsur hara dan air semakin menurun. 

Akibatnya, kebun tebu membutuhkan air dan pupuk kimia lebih banyak, sehingga biaya budidaya lebih tinggi. Sebaliknya, riset yang dilakukan PT Pupuk Kujang menyebut pemanfataan pupuk organik dari limbah tebu dapat mengurangi konsumsi pupuk hingga 30%.

Konsumsi pupuk kimia dari rata-rata 1.200 kg per ha dapat menurun menjadi 700 kg per ha jika menggunakan pupuk organik. 

"Kami berharap harga pokok produksi di petani bisa di bawah Rp8.000 per kg dengan kombinasi pakan dan program mekanisasi. Kalau harga pokok di bawah itu, saya pikir menanam tebu tetap menarik," tuturnya dalam konferensi pers Mou PTPN XI dan PT Pupuk Kujang tentang kerjasama Penelitian dan Pengembangan Pupuk Organik Berbasis Limbah Tebu di Jakarta, Senin (5/6).Yns (Sumber : disini)

Read More

PTPN XI GELAR UPACARA HARI LAHIR PANCASILA PAGI INI

Post at Thursday, 01 June 2017 , Comment

Hari ini, kamis, 1 Juni 2017 Segenap jajaran Direksi dan karyawan PT Perkebunan Nusantara X, XI dan XII menghadiri upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila. upacara digelar di Halaman Gedung PT Perkebunan Nusantara XI, Surabaya.

Upacara dimulai pada pukul 07.00 WIB. Direktur PT Perkebunan Nusantara XII, Berlino Mahendra Santosa bertindak sebagai Inspektur Upacara.

"Tahun ini untuk pertama kalinya kita memperingati Hari Lahir Pancasila, sejak ditetapkannya Hari Lahir Pancasila 1 Juni sebagai hari libur nasional oleh Presiden Joko Widodo", jelas Agus Priambodo, Sekretaris Perusahaan. (DYZ)

#PekanPancasila #SayaIndonesia #SayaPancasila

Read More

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA KE – 72 TAHUN 2017

Post at Thursday, 01 June 2017 , Comment

SURABAYA (01/06/2017) Bertempat di halaman Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, diselenggarakan upacara bersama dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila ke 72. Upacara diikuti oleh Jajaran Direksi, Kepala Divisi dan karyawan PTPN X, XI, dan XII. Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Ir Berlino Mahendra Santosa, MM selaku Direktur Utama PTPN XII.

 

Pancasila merupakan hasil dari satu kesatuan proses yang dimulai dengan rumusan Pancasila tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan lr. Sukarno, Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, dan rumusan final Pancasila tanggal 18 Agustus 1945.

Mengutip sambutan Presiden RI Ir Joko Widodo dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila, disamapaikan bahwa, Kita perlu belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme, konflik sosial, terorisme dan perang saudara. Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal lka, kila bisa terhindar dari masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk memajukan negeri. Dengan Pancasila, lndonesia adalah harapan dan rujukan masyarakat internasional untuk membangun dunia yang damai, adil dan makmur di tengah kemajemukan.

“Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila. Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa harus menyatukan hati, pikiran dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang santun, berjiwa gotong royong dan toleran. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan lndonesia bangsa yang adil, makmur dan bermartabat di mata internasional.”

Selamat Hari Lahir Pancasila. Kita lndonesia, Kita Pancasila. Semua Anda lndonesia, semua Anda Pancasila. Saya lndonesia, saya Pancasila. (Yns)

Read More

Lomba Kreasi Logo PT. Perkebunan Nusantara XI

Post at Tuesday, 23 May 2017 , Comment

Menindaklanjuti kegiatan “Lomba Kreasi Logo PT. Perkebunan Nusantara XI” yang telah diselenggarakan dan dipublikasikan pada bulan November 2016, dengan ini disampaikan hal sebagai berikut :

1.      PT Perkebunan Nusantara XI menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas antusiasme seluruh masyarakat dalam mendukung kegiatan “Lomba Kreasi Logo PT. Perkebunan Nusantara XI”

2.      Sampai dengan batas waktu pengumpulan tgl. 30 Desember 2016, total kreasi logo yang masuk berjumlah ± 165 desain, baik dari internal maupun eksternal perusahaan

3.      Sebagai akibat tingginya antusiasme ini, maka proses seleksi oleh internal PT Perkebunan Nusantara XI membutuhkan waktu ± 6 bulan, mencakup tahapan seleksi :

a.       Seleksi Tahap I : Pemenuhan Dokumen Administrasi (bentuk format, identitas peserta)

b.      Seleksi Tahap II : Pemenuhan Unsur yang Dipersyaratkan (bebas SARA, pornografi, kebencian, penghinaan Negara/lambang Negara)

c.       Seleksi Tahap III : Pemenuhan Orisinalitas Karya

d.      Seleksi Tahap IV : Pemenuhan Relevansi dengan Visi, Misi dan Identitas Perusahaan

e.       Seleksi Tahap V : Brainstorming dan Seleksi Internal

f.       Seleksi Tahan VI : Finalisasi Calon Pemenang

g.      Seleksi Tahap VII : Penetapan Pemenang

Dengan mempertimbangkan hal tersebut di atas, maka tahap pengumuman penetapan pemenang kegiatan “Lomba Kreasi Logo PT. Perkebunan Nusantara XI” akan dilaksanakan pada bulan Juli 2017.

Segala hal terkait seleksi, Saudara dapat berkoordinasi dan konfirmasi kepada Tim Lomba Kreasi Logo PT. Perkebunan Nusantara XI melalui :

Telpon : +62-31-3524596

Fax : +62-31-3532525

Email : [email protected]

Official Facebook Account : PT. Perkebunan Nusantara XI

 

Read More

Penyelenggaraan HUT BUMN di Yogyakarta

Post at Friday, 21 April 2017 , Comment

Surabaya (21/04/2017) Dalam rangka peringatan HUT BUMN ke -19 yang diselenggatakan bertepatan dengan Hari Kartini pada hari ini jumat(21/04), tampak Direktur Utama PTPN XI, Moh Cholidi bersama para Direktur PTPN dan BUMN lain turut hadir dalam perhelatan tersebut yang diselenggarakan di kawasan Candi Prambanan Yogyakarta. Selain itu juga diselenggarakan Workshop Sinergi BUMN Hadir untuk Negeri dengan tema "menuju Indonesia Digdaya". sebagai pembicara adalah Desi Arryani, Direktur Utama PT Jasamarga, Amalia D. Maulana (Pengamat Ethonografi, Branding dan Marketing) serta Dwie Aroem Hadiatie (anggota Komisi VI DPR RI). Kegiatan tersebut dihadiri juga oleh mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta di Yogyakarta. (jo/yns)
Read More

PTPN XI Turunkan Target Laba 2017

Post at Wednesday, 12 April 2017 , Comment

SURABAYA (12/04/2017) PT Perkebunan Nusantara XI memproyeksikan laba 2017 sebesar Rp90 miliar, lebih rendah dari perolehan laba tahun-tahun sebelumnya yakni Rp186 miliar pada 2015 dan Rp194 miliar pada 2016. Pada Januari-Februari 2017, PTPN XI meraih laba Rp3,2 miliar.

Adapun, produksi gula kristal putih diproyeksikan sebesar 449.462 ton dengan rendemen 7,9% dan produksi tebu 5,6 juta ton. Proyeksi produksi ini lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 319.913 ton dengan rendemen 6,25% dan produksi tebu 5,1 juta ton, serta produksi gula 2015 sebesar 406.517 ton dengan rendemen 8,04% dan produksi tebu 5,04 juta ton.

Meski produksi gula tahun lalu turun karena iklim yang cenderung basah, tetapi laba tetap lebih tinggi dari 2015. Perolehan laba tahun tersebut dicapai melalui langkah efisiensi sejumlah pembiayaan yang dilakukan perusahaan, juga ditopang dengan harga gula yang tinggi. Meski demikian, beberapa pembiayaan tidak dapat ditahan seperti biaya energi karena musim hujan.

Direktur Utama PTPN XI Moh Cholidi memasang target konservatif pada perolehan laba tahun ini. Sebab, pada tahun ini PTPN XI melakukan investasi besar senilai Rp1,6 triliun, yang diperoleh dari Penyertaan Modal Negara sebesar Rp650 miliar dan perbankan sebesar Rp900an miliar, untuk modernisasi Pabrik Gula Jatiroto dan Pabrik Gula Asembagus.

Dari angka tersebut, investasi sebesar Rp870 miliar digunakan untuk peningkatan kapasitas giling PG Jatiroto dari 7.000 TCD menjadi 10.000 TCD. Sementara, peningkatan kapasitas giling PG Asembagus dari 3.000 TCD menjadi 6.000 TCD menelan dana Rp720 miliar. Cholidi berharap dua pabrik gula dengan kapasitas baru tersebut dapat beroperasi pada 2018.

"Proyeksi laba kami di RKAP menggunakan angka aman yakni Rp90 miliar. Sebab, tahun ini kami melakukan investasi besar, dimana kami harus memperhitungkan penyusutan dan bunga sebesar Rp320 miliar yang harus diangsur setiap tahun," tuturnya ditemui usai ditemui usai peresmian kantor perwakilan PTPN XI di Jakarta, Minggu (9/4).

Pada tahun berikutnya, PTPN XI melakukan peningkatan kapasitas giling menjadi 4.000 TCD pada empat pabrik gula lainya yakni di Prajekan, Wonolangan, Soedhono, dan Magetan. Dengan investasi tahap awal sebesar Rp500 miliar, harapannya empat pabrik gula dengan kapasitas baru itu dapat beroperasi 2019.

Melalui modernisasi ini harapannya dapat menekan harga pokok produksi gula menjadi Rp6.500 per kg, dari rata-rata pabrik gula Rp9.000 per kg, sehingga keuntungan bisa lebih besar.

Selain itu, Cholidi menyampaikan pabrik gula yang tutup tidak serta merta mati. Namun, pabrik tersebut akan dialih fungsikan pada kegiatan operasional yang mendukung industri gula. Yang sedang dipersiapkan tahun ini adalah Kanigoro sebagai pusat layanan teknis perbaikan mesin pabrik gula dengan investasi sekitar Rp50 miliar.

"Regrouping akan dilakukan bertahap. Tahun ini Kanigoro. Dengan modernisasi Jatiroto, kemungkinan yang terdampak adalah Gending," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Utama PTPN XI M Fadhil Hasan menyampaikan dalam jangka panjang PTPN XI perlu memperdalam hilirisasi dengan mengembangkan produk selain gula, sebagai sumber pendapatan lain. Dengan demikian, harapannya dapat membagi resiko, dari yang salam ini hanya menggantungkan pada penjualan gula.

"Kami ingin ada stabilisasi laba dengan tren yang terus meningkat. Selama ini, pabrik gula bumn sangat bergantung pada harga. Jika harga baik, maka pendapatan akan baik. Pun sebaliknya, jika harga jelek, maka pendapatan juga jelek," imbuhnya.(Jo/Sumber:disini dan disini)

Read More

Benih Bioteknologi Jadi Fokus CropLife

Post at Monday, 27 March 2017 , Comment

SURABAYA (27/03/2017) CropLife Asia mendorong pemerintah segera menyusun regulasi tentang benih biotek untuk meningkatkan efisiensi produk pertanian, menekan impor, hingga menstabilkan harga pangan. Croplife Asia merupakan asosiasi industri di bidang perlindungan tanaman dan benih/bioteknologi yang menjembatani petani di Asia agar dapat memanfaatkan teknologi, berupa hibrida maupun benih bioteknologi. Asosiasi yang berdiri 15 tahun lalu itu beranggotakan sejumlah perusahaan multinasional diantaranya, BASF, Bayer CropScience, Dow AgroSciences, DuPont, FMC, Monsanto, Nufarm, dan Syngenta. Direktur Eksekutif CropLife Asia Siang Hee Tan menyebutkan 39 juta petani kecil berada di Indonesia. Secara keseluruhan, sektor pertanian Indonesia menyerap hampir 40% dari total angkatan kerja. Meski memainkan peran penting dalam komposisi total angkatan kerja, kontribusi sektor ini terhadap PDB Indonesia hanya 14%. Perbedaan ini menunjukkan sektor ini belum tergarap maksimal. "Jadi pertanyannya adalah bagaimana kita meningkatkan taraf petani dalam bentuk teknologi. Ini sangat penting karena sektor pertanian menghadapi kekeringan, banjir, dan suhu yang meningkat," katanya ditemui di sela-sela kegiatan Responsible Business Forum pada Rabu (15/3). Sejak 10 tahun lalu, Croplife Asia secara konsisten memperkenalkan teknologi perbenihan yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian ini ke pemerintah maupun petani di Tanah Air. Hal ini dilakukan dengan menggelar seminar maupun workshop yang melibatkan keduanya. Tan menyebut dengan menggunakan luas lahan yang sama, produktivitas jagung dari 3-4 ton per ha dapat meningkat menjadi 10 ton per ha dengan bioteknologi. Diakuinya, ketiadaan regulasi yang mengatur benih biotek berpengaruh pada bisnis anggota Croplife Asia. Terlebih, biaya riset dan pengembangan teknologi perbenihan menelan hingga US$5 miliar atau 10,4% dari penjualan pada 2012. Meski demikian, pengembangan teknologi perbenihan ini dipercaya dapat membantu petani. Tan menyebut benih bioteknologi sudah diterapkan di 28 negara, diantaranya Filipina dengan lahan seluas 770.000 ha ditanam jagung biotek. Sebagai negara pengimpor jagung sebagai pakan ternak, kini Filipina dapat memenuhi kebutuhan domestiknya sendiri. Dia berharap hal ini juga dilakukan Indonesia, dimana kebutuhan jagung untuk pakan ternak terhitung besar. Apalagi perbedaan harga komoditas jagung dunia sebesar US$200 per ton dan Indonesia US$300 per ton, berimbas pada pakan ternak yang jauh lebih mahal dan dibebankan pada konsumen. "Tujuan kami bukan hanya membantu perusahaan, tetapi yang paling penting adalah agar petani dapat melihat manfaat dari benih ini," imbuhnya. Menurutnya, para ilmuwan di Tanah Air perlu mempromosikan hasil temuan bioteknologi mereka. Ini dapat menepis anggapan bahwa teknologi perbenihan ini hanya dimiliki oleh perusahaan asing. Salah satunya PTPN XI yang bekerjasama dengan Universitas Jember yang telah mampu mengembangkan tebu tahan kering. Tan melihat industri benih biotek akan cerah seiring dengan tantangan perubahan iklim. "Perlu suatu teknologi untuk membantu petani mencari solusi," katanya. (Jo/Sumber:Disini)

Read More

Holding Rumah Sakit BUMN Resmi Terbentuk

Post at Monday, 27 March 2017 , Comment

SURABAYA (27/03/2017)  Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meresmikan pembentukan Holding Rumah Sakit BUMN yang menggabungkan pengelolaan 70 rumah sakit milik perusahaan negara.

Peresmian pembentukan Holding RS BUMN atau Indonesia Healtcare Corporation (IHC) dilakukan di Kantor Pusat PT Pertamina, Jakarta, yang disaksikan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, sejumlah direksi BUMN, dan para dirut rumah sakit BUMN.

Ke-70 RS BUMN tersebut merupakan milik atau anak usaha dari PT Aneka Tambang, PT Bukit Asam, PT Pelindo I-III, PT Pelni, PT Pertamina, PT Petrokimia Gresik, PTPN I, PTPN II, PTPN III, PTPN IV, PTPN V, PTPN VIII, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, PTPN XIII, rumah sakit milik Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Sriwijaya, PT Sang Hyang Seri, PT Semen Indonesia, dan RS PT Timah.

"Proses pembentukan IHC cukup panjang dan menantang yang memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Namun hasilnya seluruh RS BUMN bersinergi memberikan pelayanan dengan standar kualitas yang tinggi," kata Rini, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis 23 Maret 2017.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dengan demikian jaringan RS BUMN lebih besar dan tangguh dengan pelayanan yang lebih canggih.

"Saya dan Ibu Nila (Menkes) tentu punya mimpi yang sama bagaimana RS BUMN ini memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat luas. Tidak hanya bagi karyawan BUMN tetapi publik di sekitar rumah sakit itu berada," ujar Rini.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengapresiasi Kementerian BUMN yang menggalang pembentukan IHC sebagai jaringan pengelolaan RS BUMN sehingga bisa menjadi operator rumah sakit terbesar di Indonesia.

Nila menjelaskan tingginya warga negara Indonesia yang berobat ke luar negeri karena layanan rumah sakit di Indonesia belum sebagus di negara lain seperti Malaysia dan Singapura. "Tingginya angka medical tourism yang mencapai triliunan rupiah ke luar negeri, dari sebagian segmen menengah atas Indonesia harus kita atasi dengan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit," ujarnya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Dukung Hilirisasi, Komisaris Kunjungi PASA

Post at Monday, 27 March 2017 , Comment

SURABAYA (27/03/2017) Komisaris menyambut posisif langkah Direksi PT Perkebunan Nusantara XI yang berencana mengembangkan hilirisasi usaha. Hal ini nampak dari kunjungan kerja Dewan Komisaris ke Pabrik Spiritus dan Alkohol (PASA) Kamis (23/03) lalu.

“ Secara fisik PASA masih baik kondisinya, meski 4 tahun ini tidak beroperasi “,  terang Djunaedi General Manager PASA dan Hilirisasi Usaha. Selanjutnya pihaknya sudah menyiapkan beberapa alternatif yang akan diambil dalam rangka optimalisasi PASA.

“ Kami mendukung penuh langkah Direksi untuk optimalkan hilirisasi usaha, selanjutnya dibutuhkan langkah-langkah riil yang akan ditempuh “, terang Dedy Mawardi Komisaris PTPN XI. Terkait pemasaran produk kedepannya pihaknya berharap korporasi bisa masuk dalam berbagai pasar yang masih terbuka lebar. (Jo)

Read More

Kunker Dewan Komisaris, Kunjungi 3 Tempat

Post at Monday, 27 March 2017 , Comment

SURABAYA (27/03/2017) Dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan, Dewan Komisaris PTPN XI melakukan kunjungan kerja Kamis hingga Jumat (23-24 Maret) kemarin. Pabrik gula Djatiroto menjadi tempat pertama yang dikunjungi, setelah itu Pabrik Spiritus dan Alkohol dan Pabrik Gula Assembagoes menjadi tempat terakhir yang dikunjungi.

Selain persiapan giling tahun 2017, perkembangan proyek revitalisasi pabrik menjadi fokus Komisaris. “ Kami kuatir melebihi jadwal karena beberapa komponen belum datang hingga hari ini “, terang Imam Sucipto General Manager PG Djatiroto pada saat mendampingi rombongan. Kapasitas PG Djatiroto direncanakan naik dari 7.000 ton menjadi 10 ribu ton dengan menggunakan investasi dari Penanaman Modal Negara (PMN) dan modal sendiri.

“ Kami harap bisa dikordinasikan terkait masalah tehnis, sehingga tetap pada jadwal yang ada. Dan tentunya proyek tersebut berjalan dengan tidak mengganggu proyek giling yang akan berjalan nantinya “ kata Dedy Mawardi Komisaris PTPN XI.   Menanggapi hal tersebut Fajar Lazuardi Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan Bisnis dan Inovasi sekaligus sebagai Tim PMN akan mengawal proses tersebut.

Sementara itu kegiatan teknis program revitalisasi Pabrik Gula melakukan aktivitasnya di PG Assembagoes, hal ini dikarenakan proses lelang yang terpaksa harus diulang hingga tiga kali terkait syarat dan prosedur lelang. “ Diharapkan pemenang tersebut langsung berkordinasi dengan PG Assembagoes sehingga jadwal tidak terlalu lama terlampaui “ ungkap Dedy lebih lanjut.

Kegiatan tersebut diikuti oleh Dedy Mawardi (Komisaris), H.J.G. Winachyu (Komisaris), Abdur Rasyid (komite Audit), Fajar Lazuardi (Kepala Divisi PPBI) dan staf Tanaman serta Teknik Kantor Pusat PTPN XI. (Jo)

Read More

Sharing Sesion Dewan Komisaris

Post at Monday, 27 March 2017 , Comment

SURABAYA (27/03/2017) Dewan Komisaris beserta organ PT Perkebunan Nusantara XI mengikuti acara Sharing Sesion yang digelar oleh Holding BUMN Perkebunan Rabu (22/03) lalu di Jakarta. Kegiatan tersebut diikuti oleh Dewan Komisaris dan Organ seluruh PTPN, serta Direksi Holding BUMN Perkebunan.

“Diharapkan Dewan Komisaris bisa memberikan nasehat yang akan menjadi rambu-rambu bagi Direksi“, harap Direktur HCM dan Umum Holding Perkebunan Seger Budi Budiarjo dalam sambutannya. Selanjutnya Seger mengungkapkan bahwa dengan adanya peraturan yang sedemikian banyak maka Direksi dalam mengambil tindakan korporasi membutuhkan legal opinion, sehingga sangat dibutuhkan hasil tela’ah Dekom untuk membantu kelancaran operasional korporasi. Selanjutnya pihaknya berharap peran dan dukungan dewan komisaris seluruh PTPN dalam kelancaran program E Procurement dan Impelementasi ERP SAP yang telah mulai digulirkan.

Dalam kesempatan tersebut, Fadhil Hasan Komisaris Utama PTPN XI menyampaikan pentingya komunikasi antara Dewan Komisaris anak perusahaan dengan Dewan Komisaris Holding serta Pemegang Saham. “ Hubungan dekom holding dengan dekom anak perusahaan belum dirumuskan dengan  baik polanya seperti apa, harus dibuat pola nya sehingga jelas alur komunikasinya” ujarnya.

Begitu juga Pemegang saham lainnya perlu dirumuskan pola komunikasi kepada Dewan Komisaris yang ditunjuk langsung untuk melakukan pengawasan pada masing-masing PTPN sehingga komunikasi dan informasi tidak terputus. “ Terkait perubahan direksi anak perusahaan, paling tidak seharusnya Dekom anak perusahaan dikomunikasikan tentang rencana pergantian direksi tersebut, sehingga paling tidak dekom bisa menjelaskan kepada stakeholder tentang pergantian tersebut “. jelasnya lebih lanjut. Sebelumnya pihaknya memberikan apresiasi terhadap pembentukan holding, karena dengan Holding bisa membuat proses lebih sederhana dan cepat. (Jo)

Read More

PTPN XI Fokus Efisiensi & Diversifikasi

Post at Wednesday, 22 March 2017 , Comment

SURABAYA (23/03/2017) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI pada tahun ini fokus dalam peningkatan efisiensi dan diversifikasi produk dalam rangka menjaga kinerja pendapatan perseroan.

Direktur Utama PTPN XI Moh Cholidi mengatakan dalam peningkatan pendapatan, banyak hal yang bisa dilakukan, terlebih di tengah harga gula yang tengah menurun. Salah satunya melalui pemangkasan biaya operasional.

“Kami masih ada biaya yang dikeluarkan pada tahun lalu, seperti energi dari luar, bahan bakar alternatif, dan biaya untuk listrik. Ini bisa kami turunkan, masih ada celah meskipun harga gula cenderung tertekan,” ujarnya di Surabaya, Senin (13/3).

Tahun lalu, PTPN XI membukukan laba senilai Rp132 miliar dan tahun ini diproyeksikan senilai Rp86 miliar.

Dia menjelaskan tahun ini perseroan tidak memasang target laba terlalu tinggi karena ada beberapa biaya yang harus dialokasikan untuk investasi tahun ini.

Salah satunya adalah peningkatan kapasitas pabrik gula (PG) Djatiroto dan PG Assembagoes dengan nilai total sekitar Rp1,6 triliun. Selain itu, masih ada pula biaya penyusutan dan bunga bank, sehingga proyeksi laba tahun ini tidak dapat terlalu tinggi.

“Walaupun demikian, kami berusaha untuk melampaui target tersebut,” ujarnya.

Direktur Operasional PTPN XI Daniyanto mengatakan pada tahun ini pihaknya mengejar diversifikasi produk tebu selain gula. Hal ini dilakukan sebagai alternatif pendapatan perusahaan karena harga gula dikontrol oleh pemerintah dan di sisi lain harga pokok produksi naik seiring biaya upah tenaga kerja serta bahan baku tebu.

Beberapa produk turunan tebu yang akan diproduksi yaitu fermented pellet bagasse atau fermentasi ampas tebu, dan bio feltilizer. “Kami juga memperbanyak varian produksi gula, seperti brown sugar serta utilisasi aset kami, yaitu membangun housing atau apartemen di lahan kami,” katanya.

Adapun, untuk meningkatkan hasil produksi, PTPN XI tengah berencana untuk memperluas lahan hak guna usaha (HGU) sebesar 1.000 hektar setiap tahunnya. Wilayah yang dibidik antara lain Jember, Bondowoso, dan Situbondo dengan potensi lahan HGU seluas 3.000 hektar hingga 4.000 hektar.

Di sisi lain, mantan Dirut PTPN XI yang baru saja resmi digantikan, Dolly Parlagutan Pulungan, berharap jajaran manajemen baru memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti kondisi ekonomi, cuaca, dan harga gula yang terbatas. Dia menilai PTPN XI memiliki potensi yang baik di tahun ini, terlebih manajemen lama telah menyiapkan pendanaan dan ekuitas yang kuat.

“Saya siapkan untuk pembelian lahan Rp500 miliar dan untuk pengembangan perusahaan kapasitas produksi sekitar Rp2,4 triliun,di mana Rp650 miliar berasal dari penyertaan modal negara dan sisanya dari kami,” ujarnya.

Sumber pembiayaan untuk ekspansi tahun ini juga ada yang berasal dari perbankan, yaitu dari BRI dan BNI dengan nilai pinjaman Rp1,8 triliun.

Sepanjang tahun lalu, total produksi gula PTPN XI tercatat mencapai 142.000 ton, dengan rendemen tertinggi dari PG Assembagoes yakni 7,08%. Tahun ini, ditargetkan total produksi gula sebesar 187.000 ton dengan rendemen tebu bisa mencapai 8,04%. (jo/sumber:disini)

Read More

Rencana Regruping PG, DPD RI Kunjungi Jawa Timur

Post at Monday, 20 March 2017 , Comment

SURABAYA (20/03/2017) PT Perkebunan Nusantara XI mengikuti kunjungan kerja Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI`pada Kamis (16/03) lalu di Surabaya. Tujuan dari Kunjungan Kerja ini adalah untuk mengetahui langsung terkait rencana modernisasi dan rencana penutupan pabrik gula yang mencuat beberapa bulan terakhir. Rencana tersebut dikuatirkan memicu pergolakan dari petani tebu yang khawatir hasil produksi mereka tidak diserap lagi.

“Semangat yang dilakukan bukan menutup pabrik, namun meningkatkan kapasitas PTPN XI secara keseluruhan dalam rangka memenuhi swasembada nasional. Dengan regrouping dipilih beberapa pabrik gula yang memiliki potensi untuk dilakukan modernisasi guna menyesuaikan skala ekonomi agar dapat mengembalikan nilai investasi yang dikeluarkan,” jelas Moch. Cholidi Diretur Utama PT Perkebunan Nusantara XI.

Sebagaimana diketahui PTPN XI saat ini tengah melakukan modernisasi di dua pabrik gula yaitu pabrik gula Djatiroto Lumajang dan pabrik gula Asembagoes Situbondo. PTPN XI mendapatkan kucuran dana PMN sebesar 650 milyar dari total kebutuhan dana 1,7 trilyun. Harapannya modernisasi yang dilakukan bisa segera dirasakan manfaatnya oleh petani (Dyah/Jo)

Read More

PTPN XI Jajaki Kerjasama dengan Korea

Post at Friday, 10 March 2017 , Comment

SURABAYA (10/03/2017)  PT Perkebunan Nusantara XI menjajaki jalin kerjasama dengan Korea dalam pengembangan bisnisnya. Hal ini tampak dari kunjungan Korea Trade investment Promotion Agency Jumat (10/03) di Kantor Pusat Surabaya. Hadir dalam kunjungan tersebut Mr. Son Byong Cheol Director General Korea Trade investment Promotion Agency Surabaya (Embassy of the Rupublic of Korea), Ricardo Basnur, Hana R., Direktur Operasional Daniyanto, Sekretaris Perusahaan Agus Priambodo, dan kepala divisi terkait.

Daniyanto menjelaskan kerjasama yang dijajaki mulai operasional hingga penjualan hasil produk. “ Banyak hal yang bisa dilakukan bersama, terlebih saat ini kami sedang menjalankan revitalisasi pabrik gula “, terang  Daniyanto merujuk pengembangan kapasitas PG Djatiroto dan PG Assembagoes. Selain itu pihaknya juga menjelaskan diversifikasi produk  yang akan dikembangkan kedepannya juga terbuka peluang untuk digarap bersama.

Kerjasama dengan negara luar bukanlah yang pertama dilakukan oleh PT Perkebunan NUsantara XI, sebelumnya juga pernah dilakukan dengan beberapa negara, sebut saja AS terkait tindak lanjut pengembangan program rekayasa genetika.(Jo)

Read More

Jalin Kebersamaan, Jalan Santai Bersama

Post at Friday, 10 March 2017 , Comment

SURABAYA (10/03/2017)  Jumat (10/03) pagi PT Perkebunan Nusantara XI menggelar olahraga bersama antara jajaran Direksi dan karyawan Kantor Pusat. Kegiatan ini merupakan kali pertama setelah perubahan struktur direksi yang dilakukan oleh Holding BUMN Perkebunan akhir bulan lalu di Jakarta.

“ Peluang kita masih cukup besar, sumber daya juga cukup banyak dengan kompetensi tinggi. Tinggal bagaimana kita bersama-sama memberikan konstribusi terbaik bagi perusahaan ‘, ujar Moch. Cholidi Direktur Utama dalam arahannya. Selanjutnya pihaknya berharap agar seluruh insan perusahaan menjaga kekompakan dan mewujudkan cita-cita bersama menjadi perusahaan besar pergulaan.

Acara tersebut diawali dengan jalan santai dan senam bersama serta arahan Direktur Utama.  Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran direksi lengkap yakni Direktur Utama Moch. Cholidi, Diretur Komersial Flora Pudji Lestari, dan Direktur Operasional Daniyanto, sertu seluruh karyawan kantor pusat PTPN XI.(Jo)

Read More

Pembukaan Dokumen Penawaran Paket B

Post at Thursday, 09 March 2017 , Comment

SURABAYA (09/03/2017) Setelah dilakukan aanwijzing paket B3 untuk revitalisasi PG Assembagoes pada akhir bulan lalu, Kamis (09/03) PT Perkebunan Nusantara melakukan proses selanjutnya yakni Pembukaan Dokumen Penawaran Paket B. Kegiatan tersebut dihadiri oleh panitia lelang PTPN XI, konsultan PMC, dan rekanan.

“ Dari lima yang kami undang mengikuti lelang, tiga rekanan yang memasukkan dokumen penawaran “, ungkap Bambang Tri Anggono ketua Panitia Lelang. Tiga rekanan tersebut adalah : konsorsium WIKA-BARATA-MULTINAS, ADHI KARYA, dan HK-UTTAM. “ Hasilnya adalah peringkat pertama konsorsium WIKA-BARATA-MULTINAS disusul ADHI KARYA. Sedangkan HK-UTTAM tidak memenuhi syarat sehingga gugur “, terangnya kemudian.

Pihaknya berharap proses selanjutnya dapat berlangsung sesuai jadwal, sehingga revitalisasi pabrik gula dapat segera terlaksana dan bisa mendukung program Pemerintah yakni menekan HPP gula.  sebagaimana diketahui rencana revitalisasi PG Assembagoes adalah Peningkatan Kapasitas dari 3.000 TCD menjadi 6.000 TCD, pemenuhan kualitas SNI dengan sasaran Incumsa  <100 IU, dan pengembangan Co-Generation 10 MW.  Pengembangan tersebut menggunakan dana PMN tahun 2015 dan ditambah investasi PTPN XI. (Jo)

Read More

PTPN XI Diversifikasi Produk Tebu

Post at Wednesday, 08 March 2017 , Comment

SURABAYA (09/03/2017) PTPN XI akan meningkatkan produksi gula tahun ini dan target profit melalui diversifikasi produk tebu non-gula. “Tahun ini perusahaan akan terus meningkatkan pengembangan  industri tebu non-diversifikasi gula."  Kata Moch. Cholidi. Ia menggantikan Dolly Parlagutan Pulungan  pada awal bulan  Maret menjadi Direktur Utama  perusahaan PTPN XI. Cholidi  mengakui bahwa perusahaan masih banyak tugas yang harus diselesaikan, di mana pabrik gula harus  meningkatkan kapasitas produksi, investasi ekuitas dari  Negara (PMN).

"Kami akan berusaha untuk mencapai dan menyelesaikan program. Meningkatkan produksi gula adalah tugas yang sulit, dan untuk mempertahankan tingkat keuntungan perusahaan dari tahun 2016 bahkan meningkatkannya ," jelasnya kemudian.

Pada diversifikasi produk,  Cholidi  mengatakan PTPN XI pada tahun 2018, perusahaan memiliki rencana untuk memperluas ke industri thermoelectric, biofuel dan produk derivatif lainnya, termasuk sebagai kimia partikel bahan baku yang digunakan dalam fermentasi.

Dia mengatakan: "Potensi bisnis perusahaan dapat mengembangkan periode yang luar biasa di masa depan, gula harus diversifikasi, untuk menjadi tulang punggung bisnis gula Namun demikian, industri gula masih merupakan inti utama ".

 Pada saat yang sama, direktur operasional perusahaan PTPN XI, Dani Yanto,  mengklaim bahwa perusahaan memiliki potensi untuk pengembangan produk diversifikasi yang tersedia sebagai pelet tebu bagasse fermentasi  (fermentasi ampas tebu  pelet).

Dia mengatakan: "Assembagoes  pabrik gula potensi produksi pelet fermentasi ampas tebu dari 100 ton per hari, sedangkan harga 2.000 per kilogram perisai. Fermentasi pelet ampas tebu potensi pasar di Jepang, Taiwan dan Korea Selatan. " jelasnya lebih lanjut.

Produksi gula tahun lalu mencapai 142.000 ton, sedangkan pabrik gula tebu Assembagoes tingkat tertinggi mencapai 7,08 persen. Sesuai target perusahaan, tingkat rendemen  tebu tahun ini dapat meningkat menjadi 8,04%. (Jo/Sumber:disini).

Read More

"Do It With Heart and Keep Learning to Make Improvement and Innovation"

Post at Wednesday, 08 March 2017 , Comment

SURABAYA (09/03/2017) Suasana riuh menghiasi ruang Audiotorium Magister Manajemen Agribisnis (MMA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pasalnya pada Jumat (03/03) Direktur Operasional PT Perkebunan Nusantara XI, Daniyanto, memberikan kuliah tamu di program studi magister ini. 

Kuliah tamu yang dihadiri oleh mahasiswa, dosen dan manajemen MMA ini berlangsung selama 2,5 jam. Terlihat juga mahasiswa MMA angkatan 34 kelas PTPN yang berasal dari 3 PTPN yakni PTPN X, XI dan XII.

"Apakah perusahaan agribisnis di Indonesia sudah kompetitif? Bagaimana jika dibandingkan dengan perusahaan agribisnis di negara lain?" menjadi pertanyaan pembuka dari Dr. Jamhari, S.P, M.P selaku Dekan Fakultas Pertanian UGM dalam sambutannya. 

Daya saing memang menjadi salah satu poin penting jika sebuah perusahaan ingin tetap mempertahankan eksistensinya dalam dunia bisnis. Jika berbicara tentang daya saing dan eksistensi tentu juga akan berhubungan erat dengan strategi bisnis perusahaan tersebut.

Dalam paparannya yang berjudul “Improving Milling OperationTthrough Partnerships, and Investment” Daniyanto menjelaskan, bahwa saat ini, Industri gula nasional menghadapi kondisi yang penuh tantangan. Tantangan yang dihadapi oleh industri gula nasional adalah harga gula dunia yang lebih rendah, biaya pokok produksi yang meningkat, single product gula putih, produktifitas tebu yang belum sesuai, penurunan luas areal tanaman tebu, biaya SDM yang cenderung naik, anomali cuaca, dan tantangan untuk meningatkan kesejahteraan petani. Tantangan ini harus dihadapi industri gula untuk tetap tumbuh menjadi perusahaan gula yang tangguh penuh dengan innovasi dan kreatifitas bisnis.

PTPN XI sebagai salah satu perusahaan berbasis pabrik tebu terbesar di Jawa dengan 16 Pabrik gula dan total kapasitas 42.000 TCD menghadapi tantangan yang sama dengan perusahaan gula lainnya di Indonesia. Langkah inovasi bisnis, investasi dan partnership telah membukukan laba usaha cukup signifikan jika dibanding tahun 2014. Pada tahun 2016, PTPN XI juga masih mencatatkan laba positifnya.

“Langkah innovasi bisnis difokuskan pada pengelolaan keuangan yang tepat berbasis overall cost leaderships, strengthening partnership, dan integrated investment. Langkah integrated investment dilakukan untuk memberikan cost benefit yang member kontribusi langsung terhadap profitability industri gula dan menurunkan biaya pokok produksi dibawah Rp.6.500/kg.” jelas Daniyanto.

Konsep partnership yang dilakukan oleh PTPN XI merupakan bagian dari upaya sustain ability perusahaan dalam rangka community development untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah "Do it with heart and keep learning to make improvement and innovation", pungkasnya. (yns/jo)

 

Read More

Patuhi Peraturan, PTPN XI Lakukan Asessment GCG

Post at Wednesday, 08 March 2017 , Comment

SURABAYA (08/03/2017) Mematuhi Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara nomor PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara serta Keputusan Sekretaris Kementrian Badan Usaha Milik Negara nomor SK-16/S.MBU/2012 tentang Indikator Parameter Penilaian dan Evaluasi Atas Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara, PT Perkebunan Nusantara XI melakukan evaluasi atas implementasi Tata Kelola Perusahaan yang baik di tahun 2016.

Asessment tersebut dilaksanakan secara simultan mulai dari proses internal yang dilakukan tim PTPN XI pada tanggal 20 hingga 28 Februari sedangkan pihak eksternal memulai asessment tanggal 6 hingga 31 Maret 2017. “Asessment kali ini sangat istimewa, berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya evaluasi dari pihak eksternal, kali ini juga melibatkan pihak internal perusahaan“, terang Dewa Putu Ngurah Brana Koordinator Pengawasan Bidang Akuntan Negara 1 dalam  acara entry meeting di Kantor Pusat PTPN XI hari Selasa (07/03) kemarin.

Selanjutnya Dewa menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan karena selain jumlah SDM BPKP Provinsi Jawa Timur berkurang dan disisi lain permintaan pendampingan oleh stakeholder semakin banyak,  pihaknya menginginkan adanya transfer of knowledge sehingga keahlian dalam penilaian juga dimiliki oleh tim internal perusahaan.

“ Yang terpenting dalam evaluasi GCG adalah sejauh mana implementasi dalam menjalankan keorganisasian perusahaan, untuk skor dan lain-lain pasti akan mengikuti “ , terang Moch. Cholidi Direktur Utama PTPN XI. Selanjutnya dirinya berharap disamping skor meningkat dari tahun sebelumnya, penerapan GCG juga meningkat.

Acara tersebut dihadiri oleh tim asesor dari BPKP Provinsi Jawa Timur, Direktur Utama PTPN XI, kepala divisi dan tim asesor internal sertatim counterpart  PTPN XI. Diharapkan evaluasi ini meningkatkan kesadaran insan perusahaan dan implementasi tata kelola perusahaan yang baik di PTPN XI. (Jo)

 

Read More

Tanam 5.000 Mangrove di Pesisir Pantai Jabungsisir

Post at Tuesday, 07 March 2017 , Comment

SURABAYA (07/03/2017) Dalam rangka mencegah terjadinya abrasi pantai, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan SR PG Padjarakan dan Mangrove Center Paiton melakukan penanaman 5000 pohon mangrove di pesisir pantai Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton,  Rabu (1/3/2017)

Penanaman mangrove jenis rhizophora apiculata (tinjang) ini melibatkan jajaran anggota Koramil Paiton, siswa dan siswi SDN Krucil 1 Kecamatan Krucil serta masyarakat setempat yang tergabung dalam kelompok Nelayan Berantas Laut.

Kasi Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Probolinggo Sugeng Hariyono mengungkapkan tanaman mangrove mempunyai banyak tugas. Diantaranya ekologi untuk mencegah abrasi pantai, instrusi air laut ke daratan dan penyerap karbon.

“Selain itu biologi untuk tempat perkembangan biota laut dan sumber-suumber makanan bagi spesies di lingkungan sekitarnya. Serta ekonomi untuk tempat rekrasi dan wisata sekaligus pewarna alami batik “, katanya.

Dengan adanya kegiatan ini Sugeng mengharapkan nantinya dapat mengetahui manfaat tentang pentingnya perlindungan ekosistem kawasan pesisir khususnya hutan mangrove, sehingga diharapkan dapat saling menjaga keberadaannya.

“Dengan terpeliharanya kawasan mangrove, tentunya dapat mencegah abrasi pantai yang lebih luas, karena hutan mangrove dapat mencegah serta menahan arus dan gelombang laut yang kuat”, tegasnya.

Sementara Kepala Bidang Pengendalian dan Penataan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Probolinggo Hendri Priyanto menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk pengendalian dan pelestarian lingkungan.

“Panjang pantai di Kabupaten Probolinggo mencapai 60 km dari Tongas hingga Paiton. Tidak menutup kemungkinan kalau tidak memelihara dengan baik akan menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang merugikan masyarakat “, ungkapnya.

Sedangkan manager pengolahan PG Padjarakan Sastradi Nugroho menegaskan bahwa PG Padjarakan selama ini memang mempunyai komitmen yang tinggi untuk selalu mendukung setiap kegiatan penghijauan. “ Setiap kegaitan yang bertujuan untuk menjaga lingkungan hidup, kami selalu berpartisipasi secara langsung. Semoga kegiatan ini bisa terus kita jaga dengan baik”. Katanya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

M. Cholidi Direktur Utama PTPN XI Gantikan Dolly P. Pulungan

Post at Thursday, 02 March 2017 , Comment

SURABAYA (02/03/2013) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI pada Rabu 1 Maret 2017 menggelar upacara serah terima jabatan sejumlah direksi yakni Direktur Utama PTPN XI yang sebelumnya dijabat oleh Dolly Parlagutan Pulungan, kini digantikan oleh M. Cholidi.

Sedangkan dua direksi baru lainnya yakni Direktur Komersial Flora Pudji Lestari, dan Direktur Operasional Dani Yanto.

Dalam sambutannya, Direktur Utama PTPN XI M. Cholidi mengatakan masih banyak pekerjaan rumah perseroan yang harus dikerjakan ke depan, salah satunya adalah proyek revitalisasi atau peningkatan kapasitas pabrik gula (PG) Assembagoes dan PG Djatiroto yang menggunakan dana Penyertaan Modal Negara (PMN).

“Program yang sudah kami rancang dengan direksi lama akan kami teruskan. Ini menjadi tugas berat dalam meningkatkan kinerja produksi gula, dan perolehan laba yang diukir tahun lalu harus bisa kami pertahankan dan dikembangkan,” ujarnya, Rabu (1/3/2017).

Cholidi menekankan, tahun ini pula PTPN XI akan memperkuat bisnisnya yakni menghasilkan produk diversifikasi dari tebu, selain gula. Di antaranya seperti energi listrik co-generation yang ditarget bisa dilakukan pada 2018, produk biofuel, hingga produk turunan lainnya seperti fermented pellet sebagai bahan baku kimia.

“PTPN XI ini mempunyai potensi luar biasa yang masih bisa dikembangkan. Ke depan industri usaha gula mutlak harus diversifikasi karena itu jadi andalan dan bisa menghasilkan, walau gulansebagai core bisnis tetap harus dijalankan,” ujarnya.

Selain itu, sebagai direksi yang baru yang akan meneruskan program-program sebelumnya, Cholidi akan meneruskan proyek perluasan lahan tebu HGU di Jember dan Pasuruan seluas 1.100 ha yang diperkirakan menelan investasi hingga Rp1,5 triliun.

Adapun sebelumnya PTPN XI pada 2017 ini telah memproyeksikan kinerja laba bisa mencapai Rp86 miliar berdasarkan penghitungan prognosa September. Pada 2016, perseroan berhasil mencetak laba hingga Rp132 miliar.

Sedangkan total produksi gula PTPN XI pada 2016 tercatat mencapai 142.000 ton dengan rendemen tertinggi dari PG Assembagoes 7,08%. Tahun ini pun ditargetkan rendemen bisa mencapai 8,04%.

Direktur Komersial Flora Pudji Lestari menambahkan ke depan PTPN XI akan  berupaya menekan harga pokok gula melalui berbagai efisiensi yakni mencari titik-titik pemborosan biaya produksi agar harga gula tetap bersaing.

“Kami juga akan perbesar aset yakni pembelian lahan tebu HGU, karena ke depan tantangan semakin besar apalagi persaingan memperoleh bahan baku tebu sangat tinggi,” ujarnya.

Direktur Operasional Dani Yanto menambahkan dalam waktu dekat produk diversifikasi yang potensi untuk digarap yakni fermentasi ampas tebu atau  fermented bagasse pellet yang digunakan sebagai bahan baku kimia.

“Potensi fermented bagasse pellet dari pabrik gula Assembagoes saja bisa mencapai 100 ton/hari, dan harga fermented bagasse pelletbisa mencapai 2.000/kg, bahkan potensi negara yang butuh produk ini seperti Jepang, Taiwan dan Korea,” papar Dani Yanto. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Kapasitas PG Jatiroto Lumajang Bertambah, Ini Permintaan APTRI

Post at Thursday, 02 March 2017 , Comment

SURABAYA (02/03/2017) Kapasitas terpasang Pabrik Gula (PG) Jatiroto, Kabupaten Lumajang naik menjadi 10.000 ton tebu per hari dari sebelumnya 6.000 ton tebu per hari.

Peningkatan kapasitas PG milik PTPN XI ini disampaikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno saat berada di Jember, Senin (27/2).

"Kami telah meresmikan untuk peningkatan kapasitas giling PG Jatiroto sampai 10.000 ton tebu per hari. Ini masih akan membangun dua PG lagi, yakni satu di Jawa Timur dan satu di Jawa Tengah," kata Rini usai acara Gerakan Kemandirian Pangan dan Sinergi BUMN di City of Forest and Arum Sabil Farm.

Peningkatan kapasitas giling tebu ini pun ditanggapi oleh petani. Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengatakan, pihaknya menyambut dengan suka cita peningkatan kapasitas ini.

"Dengan peningkatan kapasitas giling, maka akan lebih efisien dalam proses penggilingan tebu. Sebelumnya, PG Jatiroto memang selalu kelebihan bahan baku (tebu)," kata Arum.

Dengan kapasitas awal 6.000 ton, banyak tebu dari Kabupaten Lumajang yang telah dipanen tidak bisa digiling. Akhirnya, tebu tersebut dikirim ke PG Semboro Jember untuk digiling disana.

"Jika kapasitas PG naik, maka ini sangat menguntungkan bagi petani tebu Lumajang. Mereka tidak perlu lagi menggiling tebu ke luar Lumajang. Sehingga bisa menghemat biaya produksi," ujarnya.

Berdasarkan data APTRI, jumlah PG di Indonesia sebanyak 62 unit, baik yang di bawah BUMN maupun swasta. Jika pemerintah merencanakan pendirian PG baru, maka jumlah PG bertambah menjadi 64 unit.

"Kami berharap, ke depan pendirian PG baru ini memang fokus memproduksi gula dari tebu milik petani Indonesia. Sehingga, produksi gula Nasional aman untuk mencukupi kebutuhan gula dalam negeri," ucapnya. (Jo/sumber;disini)

Read More

Holding Perkebunan Ganti 11 Direksi

Post at Wednesday, 01 March 2017 , Comment

SURABAYA (01/03/2017) Dalam rangka penyegaran manajemen anak usaha agar dapat terus meningkatkan kinerja usaha dan melakukan perubahan budaya perusahaan yg berbasis jujur tulus ikhlas. PTPN III (persero) dan Kementerian BUMN selaku pemegang saham perusahaan perkebunan plat merah di Indonesia, Jumat (24/2/2017) lalu mutasi beberapa jabatan Direktur dilingkungan anak perusahaan.

Menurut Kabag Sekper PTPN V Romadka Purba kepada Tribun, Minggu (26/2/2017), penyegaran itu dilaksanakan di beberapa PTPN anak perusahaan holding.

"Untuk PTPN V Direktur Utama (Dirut) Berlino Mahendra Santosa diangkat menjadi Dirut di PTPN XII. Sedangkan posisi Dirut PTPN V digantikan oleh Mohammad Yudayat yang sebelumnya menjabat Direktur Komersil di PTPN V," ujar Romadka..

Selanjutnya jabatan direktur komersil PTPN v yang ditinggalkan Mohammad Yudayat dipercayakan kepada Muhammad Arwin Nasution yang sebelumnya menjabat sebagai Kabag SPI di PTPN V.

Mutasi Direktur tambah Rimadka juga dilakukan di beberapa PTPN lainnya yakni Dirut PTPN X yang semula dijabat oleh Subiyono digantikan oleh Dwi Satyo Annugroho, Direktur Komersil PTPN VIII yang semula di jabat Suharta Wiaya dipercayakan kepada Ryanto Wisnuardhy.

"Kemudian jabatan Direktur Operasional PTPN VIII yang semula dijabat oleh Tatang Supriatna dipercayakan kepada Jhoni Halilinta Tarigan. Lalu Direktur Operasional PTPN X dijabat oleh Mustaqin menggantikan Tarsisius Sutaryanto ," ucap Romadka.

Selanjutnya Direktur Komersil PTPN XI dijabat oleh Flora Pudji Lestari menggantikan Aris Toharisman. "Direktur Operasional PTPN XI dijabat oleh Daniyanto menggantikan Mohammad Cholidi dan Direktur Operasional PTPN XIV dipercayakan kepada Edi Piter menggantikan Amrullah Haris," ungkap Romadka.(Jo/sumber:disini)

Read More

Revitalisasi PG Assembagoes, Gelar Aanwijzing

Post at Friday, 24 February 2017 , Comment

SURABAYA (24/02/2017) Setelah lelang sebelumnya belum menemukan hasil untuk Paket B, PTPN XI kembali menggelar Aanwijzing dalam rangka uapaya revitalisasi Pabrik Gula Assembagoes Situbondo pada hari Jumat (24/02) di Kantor Pusat Surabaya.

Selain dihadiri PMC, proses tersebut dihadiri oleh 5 (lima) konsorsium yakni Hutama – Uttam, PT Adhi Karya – Mech Engineering, PP Ometraco, WIKA – Barata, dan Rekin – SS Engineering. Dalam kegiatan tersebut Bambang Tri Anggorono mempersilahkan kepada masing-masing rekanan untuk mempelajari lebih lanjut teknis proyek yang diajukan. “ Apabila ada kekurangjelasan, dan dibutuhkan ke lapangan kami persilahkan terkait posisi, letak dan sebagainya “, jelasnya lebih lanjut. Selanjutnya tanggal 2 para peserta diharapkan memasukkan dokument untuk proses selanjutnya.

Rencana revitalisasi PG Assembagoes adalah Peningkatan Kapasitas dari 3.000 TCD menjadi 6.000 TCD, pemenuhan kualitas SNI dengan sasaran Incumsa  <100 IU, dan pengembangan Co-Generation 10 MW.  Pengembangan tersebut menggunakan dana PMN tahun 2015 dan ditambah investasi PTPN XI. (Jo)

Read More

Wisata Edukasi IIKB PTPN XI ke PT Indofood

Post at Tuesday, 21 February 2017 , Comment

Pada Senin, 20 Februari 2017 lalu, Ikatan Istri Keluarga Besar (IIKB) Kantor Pusat PTPN XI melakukan kunjungan wisata edukasi ke PT Indofood yang terletak di Beji, Pasuruan. Di sana ibu-ibu melihat proses pembuatan mie instan yang terdiri dari beberapa proses yaitu: 

Proses Mixing, yaitu pencampuran semua keperluan atau bahan yang digunakan Pembentukan Mie. Dalam tahapan ini digunakan Roll Press untuk membentuk adonan, memotong hingga membentuk mie menjadi bergelombang. Steaming, proses pematangan mie. Frying. Pada tahap ini mie dipotong ke dalam cetakan kemudian digoreng pada suhu yang telah ditentukan. Proses Cooling, yaitu proses pendinginan mie yang telah digoreng. Packing. Proses terakhir dalam pembuatan mie instan. Kemasan harus dalam wadah yang rapat sesuai dengan SNI.

Selama 2 (dua) jam, ibu-ibu didampingi oleh Pak Sigit selaku tour leader dalam kunjungan tersebut. PT Indofood yang berada di Pasuruan ini merupakan noodle division atau hanya memproduksi mie instan.

Kunjungan ini merupakan salah satu proker (program kerja) IIKB PTPN XI dalam bidang pendidikan. (aq)

Read More

2018 Sistem Manajemen BUMN Perkebunan Terintegrasi, Siapkan Rp 480 M untuk Aplikasikan ERP

Post at Friday, 17 February 2017 , Comment

SURABAYA (17/02/2017) Tahun 2018 perusahaan holding BUMN Perkebunan siap mengaplikasikan sistem manajemen informasi berbasis teknologi Enterprise Resource Planning (ERP) SAP. Untuk program yang pilot project-nya diaplikasikan di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI dan PTPN V itu, holding menyiapkan investasi Rp 480 miliar.

Direktur Human Capital Management dan Umum, Holding BUMN Perkebunan, Seger Budiharjo, mengatakan setelah dua PTPN itu go live ERP, akan dilanjutkan roll out sistem ERP tahap kedua oleh 4 PTPN

"Yaitu PTPN III, IV, IX dan PTPN VIII yang ditargetkan selesai pada Juni 2017," jelas Seger Budiharjo, saat Launching ERP SAP PTPN XI, Kamis (16/2/2017). Setelah tahap kedua di Juni 2017 selesai, dilanjutkan dengan tahap ketiga proyek ERP untuk diterapkan di PTPN I, VI, XIII, dan XII yang ditargetkan launching pada September 2017.

Kemudian menyusul tahap empat di PTPN II, dan XIV yang ditargetkan rampung pada Desember 2017. "Ditahun 2018, semua sudah rampung dan dengan terintegtasinya seluruh sistem manajemen BUMN Perkebunan bakal terjadi efisiensi," tambah Seger.

Termasuk dengan memiliki data keuangan dari segala bidang, mulai dari data kebun, pabrik hingga data keuangan sehingga memudahkan direksi dalam mengambil keputusan manajemen.Dengan integrasi itu, semua sistem sudah siap digunakan dan semua laporan keuangan yang ada bisa dipantau holding.

ERP merupakan aplikasi yang mengintegrasikan seluruh fungsi di dalam suatu perusahaan secara end to end, mulai dari fungsi pengadaan, produksi, distribusi, penjualan hingga pengelolaan SDM.

Diperkirakan pengguna atau user ERP di BUMN Perkebunan ini mencapai 4.000 an user bahkan lebih karena total seluruh karyawan BUMN Perkebunan sekitar 139.000 orang. Direktur Utama PTPN XI, Dolly Parlagutan Pulungan menambahkan dalam penerapan ERP tersebut dibutuhkan revolusi kebiasaan, hingga perubahan budaya kerja dan konsistensi agar keberhasilan sistem manajemen ERP itu dapat tercapai.

"Dulu sistem manajemen informasi PTPN XI masih manual, di mana pabrik gula memiliki sistem sendiri-sendiri dalam setiap proses bisnis yang berlangsung, tapi sekarang sudah terintegrasi," jelas Dolly.

Executive Vice President, Division Enterprise Service Telkom, Siti Choiriana menambahkan sebagai pihak yang menggarap proyek ERP BUMN Perkebunan pihaknya siap mendampingi dan mengganti teknologi yang baru apalagi terdapat perubahan-perubahan sistem sesuai kebutuhan.

"Teknologi itu sangat cepat, sementara manusia yang investasi harus memikirkan 3 tahun depan ada perubahan apa lagi, tetapi kami sangat capable bila ada perubahan akan kami ganti teknologi baru," jelas Siti Choiriana. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Target IPO, PTPN XI Terapkan Sistem ERP

Post at Friday, 17 February 2017 , Comment

SURABAYA (17/02/2017) Tahun 2018 perusahaan holding BUMN Perkebunan siap mengaplikasikan sistem manajemen informasi berbasis teknologi Enterprise Resource Planning (ERP) SAP. Untuk program yang pilot project-nya diaplikasikan di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI dan PTPN V itu, holding menyiapkan investasi Rp 480 miliar.

Direktur Human Capital Management dan Umum, Holding BUMN Perkebunan, Seger Budiharjo, mengatakan setelah dua PTPN itu go live ERP, akan dilanjutkan roll out sistem ERP tahap kedua oleh 4 PTPN

"Yaitu PTPN III, IV, IX dan PTPN VIII yang ditargetkan selesai pada Juni 2017," jelas Seger Budiharjo, saat Launching ERP SAP PTPN XI, Kamis (16/2/2017).

Setelah tahap kedua di Juni 2017 selesai, dilanjutkan dengan tahap ketiga proyek ERP untuk diterapkan di PTPN I, VI, XIII, dan XII yang ditargetkan launching pada September 2017.

Kemudian menyusul tahap empat di PTPN II, dan XIV yang ditargetkan rampung pada Desember 2017. "Ditahun 2018, semua sudah rampung dan dengan terintegtasinya seluruh sistem manajemen BUMN Perkebunan bakal terjadi efisiensi," tambah Seger.

Termasuk dengan memiliki data keuangan dari segala bidang, mulai dari data kebun, pabrik hingga data keuangan sehingga memudahkan direksi dalam mengambil keputusan manajemen.

Dengan integrasi itu, semua sistem sudah siap digunakan dan semua laporan keuangan yang ada bisa dipantau holding. ERP merupakan aplikasi yang mengintegrasikan seluruh fungsi di dalam suatu perusahaan secara end to end, mulai dari fungsi pengadaan, produksi, distribusi, penjualan hingga pengelolaan SDM.

Diperkirakan pengguna atau user ERP di BUMN Perkebunan ini mencapai 4.000 an user bahkan lebih karena total seluruh karyawan BUMN Perkebunan sekitar 139.000 orang.

Direktur Utama PTPN XI, Dolly Parlagutan Pulungan menambahkan dalam penerapan ERP tersebut dibutuhkan revolusi kebiasaan, hingga perubahan budaya kerja dan konsistensi agar keberhasilan sistem manajemen ERP itu dapat tercapai.

"Dulu sistem manajemen informasi PTPN XI masih manual, di mana pabrik gula memiliki sistem sendiri-sendiri dalam setiap proses bisnis yang berlangsung, tapi sekarang sudah terintegrasi," jelas Dolly.

Executive Vice President, Division Enterprise Service Telkom, Siti Choiriana menambahkan sebagai pihak yang menggarap proyek ERP BUMN Perkebunan pihaknya siap mendampingi dan mengganti teknologi yang baru apalagi terdapat perubahan-perubahan sistem sesuai kebutuhan.

"Teknologi itu sangat cepat, sementara manusia yang investasi harus memikirkan 3 tahun depan ada perubahan apa lagi, tetapi kami sangat capable bila ada perubahan akan kami ganti teknologi baru," jelas Siti Choiriana. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Kinerja PTPN XI Terdongkrak Produktivitas Kebun Tebu, Naik 126 Persen Dibanding Tahun Lalu

Post at Friday, 17 February 2017 , Comment

SURABAYA (17/02/2017) Kinerja PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI dari hasil giling tahun 2016 lalu, berhasil terdongkrak dengan banyaknya inovasi dan kreasi. Baik dari sisi on farm, off farm, maupun keuangan. Salah satu yang mendongkrak kinerja adalah jumlah tebu giling tahun 2016 yang mencapai 5 juta ton dengan rerata produktifitas kebun 79,42 ton per hektar.

"Naik sekitar 126 persen dibanding tahun lalu," jelas Dolly P Pulunganz Direktur Utama PTPN XI, Senin (13/2/2017). Produktivitas kebun yang naik di tengah kondisi anomali iklim sepanjang tahun 2016 dan persaingan perebutan nahan baku tebu yang cukup ketat, tidak memberi pengaruh banyak.

Hasilnya, dengan peningkatan produktifitas kebun, berimbas pada perolehan Gula Kristal Putih (GKP) total tahun 2016 sebanyak 319.913 ton. "Peningkatan produktivitas dan capaian rendeman yang cukup tinggi, turut mendorong tercapainya target jumlah bahan baku tebu 2016," tambah Dolly.

Empat Pabrik Gula (PG) PTPN XI juga disebut Dolly mampu menembus 10 PG dengan rendeman terbaik di Pulau Jawa. Termasuk PG Assembagoes, yang menjadi PG dengan rendeman terbaik dari seluruh PG BUMN. Selain itu dengan adanya cost effectiveness, yang turut memberi kontribusi dalam pencapaian laba bersih unaudited tahun 2016 sebesar Rp 139,6 miliar.

"Hasil ini tidak hanya untuk tahun 2017 saat ini saja, tapi juga akan kami lanjutkan untuk tahun-tahun mendatang. Salah satunya dengan penerapan Financial Engineering yang diterapkan secara tepat," ungkap Dolly.

Penerapan financial enggineering sudah dilakukan dengan peningkatan aset lancar tahun 2016 sebesar 37 persen atau kenaikan total aset mencapai 15 persen dibanding tahun 2015 lalu. Kinerja lain yang ikut mendorong pertumbuhan adalah hasil penunjukan Menteri BUMN kepada PTPN XI untuk turut mendukung ketersediaan gula nasional. Yaitu sebagai salah satu perusahaan pelaksana impor dan pengolah raw sugar menjadi GKP.

Tahun 2016, produksi produksi GKP dengan bahan baku raw sugar sebanyak 38.313 ton. "Impor raw sugar ini bikan dalam bentuk impor gula kristal refinasi ataupun kristal putih. Tujuannya semata-mata untuk mengatasi defisit persediaan gula, serta dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional, " jelas Dolly. (Jo/Sumber: disini)

Read More

Jaga Komitmen, PTPN XI Siapkan Rp 700 Miliar Setahun

Post at Tuesday, 07 February 2017 , Comment

SURABAYA (07/02/2017) Perusahaan perkebunan berupaya mengamankan pasokan tebu tahun ini. Hal itu tak lepas dari ketatnya persaingan mendapatkan tebu di Jawa Timur (Jatim). Pada 2016, PTPN XI kehilangan pasokan hingga satu juta ton tebu karena persaingan dengan sesama perusahaan perkebunan negara maupun produsen gula swasta.

Dirut PTPN XI Dolly Parlagutan Pulungan menjelaskan, anomali cuaca pada tahun lalu mengakibatkan persaingan memperoleh tebu makin ketat. Karena itu, tahun ini pihaknya menyiapkan strategi sehingga produksi bisa maksimal. Salah satunya melakukan perluasan lahan tebu HGU (hak guna usaha).

Saat ini, kepemilikan lahan PTPN XI hanya 35 persen lahan. Sisanya sebanyak 65 persen merupakan milik petani. ’’Kami akan beli 1.100 hektare di Jember, Pasuruan, dan Situbondo. Rencana itu sudah dapat persetujuan dari Kementerian BUMN,’’ katanya, Jumat (27/1). Hingga tiga tahun mendatang, dianggarkan dana Rp 1,5 triliun. Dengan demikian, pada tahun ketiga penguasaan lahan oleh perseroan bisa sampai 60 persen.

Selain itu, PTPN XI akan menjaga komitmen dengan petani. ’’Tiap tahun kami siapkan dana talangan Rp 700 miliar,’’ ujarnya. Kemudian, strategi itu dikombinasikan dengan jaminan tebang angkut bagi petani. Karena itu, dia optimistis pasokan tebu tahun ini aman. Pihaknya juga akan melakukan pemantauan melalui sistem manajemen informasi enterprise resource planning (ERP). ’’Kalau ada tebu yang lari, kami bisa tahu lebih cepat,’’ ungkapnya.

ERP merupakan aplikasi yang mengintegrasikan seluruh fungsi di dalam perusahaan secara end-to-end. Mulai fungsi pengadaan, produksi, distribusi, penjualan, hingga pengelolaan sumber daya manusia (SDM). PTPN XI ditunjuk menjadi percontohan penerapan ERP oleh holding perkebunan yang siap go live pada Februari nanti.

(Jo/Sumber:Disini)

Read More

Hadapi Persaingan, PTPN XI Terapkan Sistem ERP

Post at Tuesday, 07 February 2017 , Comment

SURABAYA (07/02/2017) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI ditunjuk oleh holding menjadi proyek percontohan penerapan sistem manajemen informasi Enterprise Resource Planning (ERP) atau aplikasi yang mengintegrasikan seluruh fungsi di dalam suatu perusahaan secara awal hingga akhir.

Direktur Utama PTPN XI, Dolly Parlagutan Pulungan, menjelaskan, ERP merupakan sistem manajemen informasi mulai dari fungsi pengadaan, produksi, distribusi, penjualan hingga pengelolaan sumber daya manusia (SDM).

"Kami siap go live pada 1 Februari 2017, dan dengan menggunakan ERP, diyakini perusahaan akan mampu menghadapi persaingan bisnis," kata Dolly dalam keterangan persnya, di Surabaya, Sabtu (28/1).

Sebab, kata dia, sistem ERP tersebut menyajikan data aktual mengenai kondisi internal perusahaan dan analisis multifungsional sehingga memudahkan top manajemen untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

"Sistem manajemen informasi PTPN sebelumnya masih dilakukan secara manual, dan setiap pabrik gula (PG) memiliki sistem sendiri-sendiri, mulai dari rencana produksi, distribusi, penjualan dan kredit usaha yang dibutuhkan petani di setiap PG masih manual yakni bertemu langsung dengan sinder," katanya.

Dia menjelaskan PTPN XI ditunjuk sebagai proyek percontohan untuk modul tanaman semusim, sedangkan PTPN V ditunjuk sebagai modul untuk tanaman tahunan.

"Selanjutnya, sistem ERP tersebut nantinya secara roll out diteruskan oleh PTPN yang lain secara bertahap sehingga seluruh BUMN perkebunan ini terintegrasi dengan holding," katanya.

Dolly menambahkan, dengan adanya sistem baru tersebut secara langsung akan mengubah budaya kerja karyawan, yang sebelumnya dilakukan secara manual, kini dilakukan secara terintegrasi dan transparan.

"Jadi sistem kerja yang dulu manual kini menjadi tersistem dan menjadi satu kesatuan yang utuh dan serba realtime dan terpantau langsung mulai dari unit kerja di pabrik gula paling barat sampai ke timur. Dengan begitu akan ada pengendalian biaya yang lebih baik," ujarnya.

Dengan begitu, lanjut Dolly, PTPN XI memiliki pijakan untuk melangkah menjadi perusahaan yang go global dan setiap proses manajemen yang tercatat di sistem dapat diterima oleh investor dunia.

"Sistem ini juga merupakan persiapan bagi kami untuk menuju Initial Public Offering (IPO) karena manajemen perusahan mudah dipantau dan dapat dipercaya," katanya.

Secara kesiapan SDM, kata Dolly, perseroan telah melakukan sosialisasi kepada karyawan dan memberikan motivasi serta pelatihan-pelatihan dalam menggunakan sistem ERP tersebut.

Adapun dalam ERP tersebut terdapat sejumlah modul penting yang memiliki fungsi khusus, di antaranya modul Finance yang bertanggung jawab dalam proses transaksi keuangan serta penjualan, modul controlling (C) untuk akutansi dan pengendalian biaya.

Selain itu modul Plant Maintenance (PM) untuk pemeliharaan aset, Project System (PS) untuk pengelolaan proyek dan aktivitas lainnya, Production Planning (PP) untuk perencanaan produksi, dan Quality Management (QM) untuk pengendalian kualitas.

Ada pula modul Sales and Distribution (SD) untuk aktivitas penjualan dan distribusi, Material Management (MM) untuk pengadaan dan pergudangan, serta Human Capital Management (HCM) untuk pengelolaan sumber daya manusia dan penggajian. (Sumber:disini)

Read More

Ayo Terus Bekerja Dengan Jujur Tulus Dan Ikhlas

Post at Tuesday, 03 January 2017 , Comment

SURABAYA (3/1/2017) Salam sejahtera dan selamat menyambut tahun baru 2017 kepada seluruh Direksi, Dewan Komisaris dan karyawan/ti Perkebunan Nusantara Group baik yang berada di Kantor Direksi dan yang berada di kebun-kebun yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Pertama-tama mari kita mengucapkan pujisyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmatNYA lah kita telah berhasil melewati tahun 2016 dengan menorehkan beberapa progress transformasi yang semakin meyakinkan kita semua, bahwa kita sudah berada di jalur yang benar untuk membawa Perkebunan Nusantara Group menjadi Group Usaha yang membanggakan bagi seluruh stakeholders dan bangsa Indonesia.

Pada kurun waktu 7 bulan terakhir di tahun 2016 kita telah berhasil memetakan permasalahan, menyusun program transformasi serta mengimplementasikan program transformasi kita. Program transformasi yang meliputi peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, restrukturisasi keuangan, talent pool dan pencanangan implementasi Enterprise Resources Planning-SAP (“ERP-SAP”) telah kita mulai dan jalankan.

Selain itu pula, yang tidak kalah pentingnya adalah dimulainya budaya kerja baru yang berbasis jujur, tulus dan ikhlas sebagai nilai-nilai yang menyatukan hati kita semua untuk berkomitmen menumbuh kembangkan budaya kerja yang lebih bermartabat dan berorientasi pada kepentingan perusahaan. Tahun 2016 adalah tahun yang tidak mudah untuk kita semua di tengah wajah laporan keuangan kita yang tidak menjanjikan prospek usaha bagi lembaga perbankan, dimana rugi berjalan tahun 2015 mencapai Rp. 613,27 miliar dan total hutang kepada perbankan Rp. 33 triliun. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Holding Perkebunan untuk kembali meyakinkan lembaga perbankan bahwa kita semua telah berubah dan siap untuk duduk bernegosiasi dengan lembaga perbankan.

Namun demikian, saya berkeyakinan seiring dengan terlihatnya indikasi-indikasi perubahan yang lebih baik dari aspek operasional dan produksi di beberapa komoditi, khususnya komoditi kelapa sawit. Perubahan-perubahan inilah yang telah kami sampaikan kepada publik dan stakeholders Perkebunan Nusantara Group serta lembaga perbankan untuk terus mendukung kelanjutan restrukturisasi keuangan yang akan dilakukan di tahun 2017.

Kita semua patut berbangga, hasil kerja nyata kita juga terlihat dari performa karet. Bisnis karet yang dalam empat tahun terakhir di PTPN III tidak pernah untung, kini sudah mulai mencatatkan keuntungan sejak September 2016. Dengan perbaikan performa komoditi karet di PTPN III tersebut, kita harapkan di tahun 2017 semua bisnis karet di Perkebunan Nusantara Group bisa mulai mencatatkan keuntungan juga.

Secara konsolidasi, setelah pada 2015 total rugi Rp. 613,27 miliar, tahun ini telah berhasil menurunkan tingkat kerugian yang diestimasikan menjadi Rp. 226 miliar, serta net operating cashflow sebesar Rp. 2,1 triliun di akhir 2016. Ini semua tentunya merupakan prestasi kita bersama, yang saya yakini karena hati dan komitmen kita telah disatukan oleh nilai-nilai jujur, tulus dan ikhlas.

Semua prestasi tersebut kiranya dapat menjadi bukti bahwa hasil pemetaan masalah dan program yang kita susun di bulan April 2016 telah menunjukan kita berada di track yang benar. Tahun 2017 adalah tahun yang juga penuh tantangan bagi kita semua untuk terus konsisten melanjutkan kerja keras yang berbasis jujur, tulus dan ikhlas dan meneruskan program transformasi yang sudah kita canangkan di tahun 2016.

Di tahun 2017, kita akan terus melakukan penguatan pada beberapa aspek yakni restrukturisasi keuangan, implementasi e-procurement, meneruskan program ERP-SAP, strategi pemasaran dan sumber daya manusia. Sebagai penutup, saya mengajak seluruh Direksi, Dewan Komisaris dan karyawan/ti Perkebunan Nusantara Group untuk terus fokus melanjutkan perubahan budaya kerja dan produktivitas secara konsisten. Kita akan bekerja bersama menyatukan hati kita dan membangun legacy bagi kemajuan Perkebunan Nusantara yang akan menjadi kebanggan kita semua dan bangsa Indonesia.

Semoga Tuhan meridhoi niat baik kita untuk bekerja secara amanah di tahun 2017. God bless Perkebunan Nusantara Group. Salam hangat.

( Sambutan Awal Tahun: Elia Massa Manik Direktur Utama PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Holding Perkebunan)

Read More

Amankan Aset, Jalin MoU dengan POLDA Jatim

Post at Thursday, 22 December 2016 , Comment

SURABAYA (22/12/2016) Pengamanan aset dan proses produksi merupakan hal yang vital bagi perusahaan terutama Badan Usaha Milik Negara,  karena aset yang dimiliki besar dan merupakan milik negara. PT Perkebunan Nusantara XI merupakan salah satu Holding BUMN Perkebunan, mempunyai wilayah kerja yang membentang di Jawa Timur sehingga aset yang dimilkinya pun tersebar di berbagai wilayah tersebut.

Wujud upaya pengamanan aset adalah dengan dilakukannya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PTPN X, XI, XII dengan POLDA Jawa Timur pada hari Kamis (22/12) di MAPOLDA Jawa Timur.  “ Penandatanganan MoU Ini merupakan upaya PTPN XI bersama PTPN X dan XII untuk mengamankan aset dan proses produksi selama musim giling “, jelas Aris Toharisman Direktur Komersial PTPN XI di sela-sela acara penandatanganan MoU.

Sementara itu Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Drs. Anton Setiadji, S.H, M.H dalam sambutannya berharap setelah ditandatanganinya MoU masing-masing pihak untuk segera menyamakan presepsi serta segera melaksanakan tugas sesuai tanggungjawabnya. sehingga tujuan sebagaimana dimaksud dalam MoU tersebut dapat tercapai. Kerjasama tersebut adalah kali kedua, sebelumnya telah ditandatangani perjanjian serupa tahun lalu.  

Salah satu upaya pengamanan aset yang akan dilakukan adalah upaya mencegah, pendudukan atas aset,  pertukaran informasi, dukungan sarana prasarana pengamanan, dan peningkatan kualitas SDM satuan pengaman perusahaan.

Kegiatan ini dihadiri Kapolda Jatim, Wakapolda Jatim dan jajaran, Dirut PTPN X dan PTPN XII, Direktur Komersional dan Direktur Operasional PTPN XI beserta masing-masing jajaran. (Jo)

Read More

Menjaga Warisan Kota sebagai Cagar Budaya

Post at Thursday, 22 December 2016 , Comment

SURABAYA (21/12/2016) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya memanggil Tim Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur untuk memaparkan visi dan misi dalam mendata dan merawat benda cagar budaya.

Hal itu terkait dengan produktivitas tulisan atau literasi maupun visual yang ber­kaitan dengan cagar budaya masih minim.

Padahal banyak benda cagar budaya dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan pada generasi penerusnya.

“Selama ini masih sedikit yang mengupas tentang benda cagar budaya. Semisal, Penjara Kalisosok, apa betul dibangun di zaman Daendels,” kata Anggota Pansus DPRD Surabaya Adi Sutarwijono seperti yang dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Selasa (20/12).

Oleh karena itu, dirinya berharap agar tim cagar budaya ini lebih produktif lagi dalam membuat tulisan tentang benda cagar budaya. Sebab, dari situ dapat digali peradaban pada zaman dahulu dan kesinambungannya dengan kondisi saat ini.

“Namun, justru saat ini masih banyak yang mangkrak, sehingga aspek kekiniannya putus. Dan hanya mewakili masa lalu saja,” bebernya.

Senada dengan hal itu, Ketua Komisi A DPRD Surabaya Herlina Harsono Njoto menambahkan, tantangan yang dimiliki oleh tim cagar budaya saat ini yakni dalam hal penentuan kriteria cagar budaya atau bukan.

Karena hingga saat ini masih banyak dari bangunan kuno yang ada di Surabaya belum terdata sebagai benda cagar budaya.

Sementara cepatnya pembangunan di ibu kota Jatim ini semakin menggeser keberadaannya. “Kondisi bangunan cagar budaya, seperti hidup segan mati tak mau,” ungkap Herlina.

Sementara itu, Ketua Tim Cagar Budaya Retno Hastijanti menuturkan, dalam melestarikan bangunan bersejarah, timnya selalu berpedoman pada pada undang-undang  dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Menurutnya, dasar pelestarian cagar budaya di Surabaya ini haruslah Urban Heritage atau warisan kota. “Harus ada penyelarasan antara benda cagar budaya dengan kedinamisan kota,” tegas Retno.

Baginya, perawatan benda cagar budaya yang ada di Surabaya berbeda dengan di Trowulan. Pada urban heritage, kedinamisan kota harus diperhitungkan. Jadi, dalam melestarikan ada adaptasi bangunan dengan zamannya. (Jo/sumber:disini)

Read More

PTPN XI Dukung Gerakan Anti Narkoba

Post at Thursday, 15 December 2016 , Comment

SURABAYA (16/12/2016) “ Indonesia dalam kondisi darurat narkoba, dari orang biasa hingga pejabat yang terindikasikan bahkan terbukti memakai narkoba “ terang Aris Toharisman Direktur Komersial PTPN XI dalam sambutannya di depan karyawan pada acara Sosialisasi Anti Narkoba di Kantor Pusat PTPN XI Surabaya Kamis (16/12). Selanjutnya Aris menyebutkan dampak dari penyalahgunaan narkoba bagi manusia terutama karyawan suatu perusahaan, dari merusak psikis, fisik hingga kehidupan sosial. Tujuan dari sosialisasi anti narkoba yang ditindaklanjuti dengan tes narkoba seluruh karyawan tersebut adalah sebagai bentuk dari dukungan PTPN XI terhadap gerakan anti narkoba dan sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan melalui lingkungan yang sehat yakni bebas dari pengaruh narkoba.

Dalam kesempatan yang sama, Ria Damayanti Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat  BNN Provinsi Jatim menegaskan tentang bahaya narkoba. “ Narkoba tidak hanya menyasar golongan atas saja, sekarang menyasar lapisan bawah, dari yang dewasa hingga generasi muda kita. Hal ini berbahaya bagi masa depan bangsa “, terang nya lebih lanjut.

Sebanyak 182 karyawan mengikuti tes narkoba gelombang pertama ini, diikuti mulai direksi hingga karyawan tidak tetap. Direncanakan semua karyawan mengikuti tes tersebut. Tercatat pada hari pertama hasil tes negatif, tidak terdeteksi penggunaan narkoba oleh karyawan. (Jo)

Read More

PTPN XI dan BRI Sepakati Kerjasama Program Kemitraan Rp 100 Milyar

Post at Friday, 25 November 2016 , Comment

JAKARTA (25/11/2016) Setelah beberapa waktu lalu bersinergi dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Bank BUMN yang terhimpun dalam HIMBARA di momen Launching Kartu Tani, kali ini PT Perkebunan Nusantara XI kembali melakukan sinergi bersama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

“ BUMN masing-masing mempunyai keunggulan, dan dampaknya terasa kuat bila bersinegi dalam berbagai momen, terlebih masyarakatlah yang akan merasakan keuntungan “, ujar Agus Priambodo Sekretaris Perusahaan PTPN XI disela-sela menandatanganan perjanjian kerjasama antara PTPN XI dengan BRI di Jakarta Jumat (25/11) lalu.

“ Kami berharap PKS ini akan membantu mitra kami yakni para petani tebu dalam biaya pembelian sarana produksi pertanian (saprotan) seperti pupuk dan sebagainya, yang ujung-ujungnya mendongkrak produktivitas dan berpengaruh pada pencapaian swasembada gula nasional “, jelas Dolly P. Pulungan Direktur Utama PTPN XI. Sebagaimana diketahui beberapa waktu lalu petani tebu kesulitan dalam permodalan, bahkan beberapa petani tidak bisa melakukan pemupukan dan pemeliharaan sebagaimana mestinya sehingga berpengaruh pada produktivitas lahnnya.

Program kemitraan total sebesar Rp100 Milyar yang telah disepakati kedua belah pihak ini direncanakan untuk membantu permodalan petani tebu di wilayah kerja 16 (enam belas) pabrik gula dilingkup PTPN XI yaitu PG Sudono, PG Rejosari, PG Purwodadi, PG Pagottan, PG Kanigoro, PG Kedawung, PG Wonolangan, PG Gending, PG Pajarakan, PG Jatiroto, PG Semboro, PG Wringin Anom, PG Olean, PG Panji, PG Asembagus, dan PG Prajekan.

Acara yang dikemas sebagai Pelaksanaan Sinergi BUMN Penyaluran Program Kemitraan kepada Petani untuk budidaya tanaman tebu masa tanam 2017/2018, ini berlangsung di Kantor Pusat BRI dengan dihadiri langsung oleh Dolly Parlagutan Pulungan selaku Direktur Utama PTPN XI dan Mohammad Irfan Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (Yns/Jo)

Read More

Kementerian BUMN Kembangkan SMK Gula di Situbondo

Post at Wednesday, 23 November 2016 , Comment

SURABAYA (23/11/2016) Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengembangkan sekolah menengah kejuruan dengan program studi gula, perkebunan dan perhutanan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur untuk mencetak sumber daya manusia yang ahli di bidang tersebut. Deputi Bidang Usaha Agro dan Industri Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro di Surabaya, Selasa (22 November 2016) mengatakan pengembangan itu juga sebagai bagian dari program BUMN Untuk Negeri, serta tanggungjawab sosial kepada lingkungan setempat. "Kami harapkan dengan adanya SMK yang fokus pada beberapa bidang produksi BUMN, santri yang tercetak tidak hanya ahli dalam agama namun bisa masuk ke dalam dunia usaha atau profesional setelah lulus nanti," kata Wahyu. Wahyu yang ditemui usai penandatanganan kerja sama dengan Ponpes Slafiyah Syafiiyah Sukorejo di Kantor PTPN XI Surabaya mengatakan, awal keinginan Kementerian BUMN mengembangkan SMK program studi khusus ini datang dari Menteri BUMN Rini Soemarno saat kali pertama berkunjung ke pondok tersebut. "Ini merupakan inisiasi Bu Menteri saat melihat begitu banyaknya santri di pondok tersebut sekitar 15 ribu, yakni bagaimana nasib santri ke depannya, sehingga perlu dikembangkan dan dicetak untuk menjadi SDM yang mampu di bidang profesional," katanya. Wahyu menjelaskan, konsep SMK Gula sebelumnya telah berjalan dua tahun yakni untuk kelas 1 dan 2, namun saat ini dikembangkan untuk kelas 3, kemudian ditambah untuk bidang studi kehutanan dan perkebunan yang baru akan dimulai. "Nantinya pengajar yang ada dalam SMK tersebut juga akan melibatkan beberapa bidang usaha yang ada pada Kementerian BUMN, seperti PTPN dan Perhutani dengan kurikulum ada pada kementerian pendidikan dengan mengacu pada SMK Kehutanan yang ada," katanya. Sementara itu, Direktur SDM dan Umum PTPN XI M Cholidi mengatakan pabrik gula PTPN XI dan XII serta Perhutani pasti butuh tenaga kerja baru yang handal dibidangnya setiap tahun, sebab di perusahaan tersebut selalu terjadi masa pensiun. "Apabila ada SMK gula, dan lokasinya dekat dengan pabrik gula, pertama kami bisa menyerap masyarakat sekitar pabrik untuk jadi karyawan. Namun walau tidak semua masyarakat bisa tertampung jadi karyawan, setidaknya mereka bisa menjadi petani yang berpengetahuan tinggi dalam menanam tebu untuk menghasilkan gula berkualitas," katanya. Menanggapi rencana pengembangan itu, Ketua Yayasan Ponpes Salafiyah Safi'iyah Sukorejo H A Mudzakkir A Fattah mengaku sangat mengapresiasi, sebab setiap tahun ponpes tersebut menerima rata-rata 3.000 santri, sehingga total santri yang belajar di ponpes tersebut sudah mencapai 15.000 orang. "Tidak semua santri setelah selesai sekolah akan menjadi kyai, dan mereka pun butuh skill saat mereka lulus untuk bisa bekerja dan mengenal dunia usaha. Sehingga kami sepakat dengan adanya program studi kehutanan karena beberapa santri berasal dari pedesaan yang terletak tidak jauh dari wilayah pegunungan atau hutan," katanya. Ia mengaku, banyak santri yang ketika lulus dan bekerja di hutan namun tidak memahami dan memiliki pengetahuan tentang hutan, sehingga dengan adanya SMK ini diharapkan bisa menjadi bekal bekerja dan menjadi profesional. (Jo/Sumber:disini berita serupa: disini)

Read More

Menteri BUMN kunjungi PG Asembagoes

Post at Wednesday, 30 November -0001 , Comment

SURABAYA (17/11/2016) Menteri BUMN RI Rini Mariani Soemarno melakukan kunjungan kerja ke pabrik gula (PG) Asembagoes, Kabupaten Situbondo, Rabu (16/10/16). Dalam kesempatan itu Menteri BUMN juga menyerahkan Kartu Tani kepada para anggota APTR binaan PG Asembagoes  Kartu Tani juga diserahkan secara serentak kepada para petani tebu binaan beberapa PG yang ada di Jawa Timur. 

Hadir pula pada acara penyerahan Kartu Tani, diantaranya Dirut PTPN X Subiyono, Dirut PTPN XI Dolly Pulungan, Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Didik Prasetyo, para dirut bank pemerintah (Mandiri, BRI, BTN, BNI), Dirut Bulog, Dirut Pupuk Indonesia, Deputy Bidang Agro dan Perbankan, serta Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM. Arum Sabil.

HM Arum Sabil, saat ditanya wartawan menyebutkan bahwa dalam Kartu Tani termuat data tetang petani dan data kepemilikan letak,  serta luas kebun petani.  Kartu Petani, kata Arum, memiliki sejumlah manfaat, diantaranya mempermudah dan mempercepat akses untk mendapatkan kridit untuk biaya tanam tebu melalui bank – bank pemerintah.

Selain itu, tambah Arum, Kartu Tani juga mempermudah proses pengambilan uang hasil panen tebu,  sehingga tidak perlu antri di kasir PG, karena melalui fasilitas tersebut uang petani langsung di tranfer ke rekening (bank pemerintah) masing-masing. Kartu Tani juga berfungsi sebagai ATM.  “Selain itu, masih banyak manfaat lainnya dari Kartu Tani untuk kepentingan para petani tebu,” jelas Arum Sabil.

Sementara itu,  Menteri BUMN Rini M. Soemarno dalam sambutannya meminta secara khusus kepada semua jajaran direksi BUMN terkait industri gula agar terus bersinergi melakukan kerja-nyata, mewujutkan swasembada gula yang berdaya-saing,  agar kehidupan petani dan seluruh elemen di PG sejahtera.

Setelah melakukan kunjungan di PG Asembagoes, rombogan Menteri BUMN melanjutkan kunjungan silatu?ahmi ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Situbondo. Ribuan santri dan santriwati ponpes yang didirikan oleh Pahlawan Nasional KHR As’ad Samsul Arifin itu nampak telah menunggu kehadiran rombongan Rini Soemarno.

Dalam Kesempatan itu Menteri BUMN menyempatkan diri berziarah ke makam almarhum KHR KH As’ad Samsul Arifin yang berada di sekitar ponpes. Kyai As'ad belum lama ini telah dinobatkan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai Pahlawan Nasioanal karena perjuanganya (sebagai ulama) memimpin perlawanan dan pengusiran penjajah dari Bumi Pertiwi.

Selesai berziarah makam, rombongan Menteri BUMN melanjutkan ramah-tamah dengan pengasuh ponpes dan meninjau SMK Gula yang berada di lingkungan ponpes tersebut.

Kepada para siswa santri, Rini berpesan agar semangat perjuangan dan kepahlawanan Kyai As'ad bisa diteladani dalam mengisi kemerdekaan dan menjaga NKRI. Para santri yang mempunyai prestasi dijanjikan kesempatan mengabdi dan menjadi bagian dari generasi penerus penyelamat BUMN. (jo/Sumber:disini berita lainnya disini dan disini)

Read More

Petani Tebu: Pemerintah Proyeksikan 31.000 Kartu Tani

Post at Wednesday, 30 November -0001 , Comment

SURABAYA (17/11/2016) Pemerintah akhirnya meresmikan penggunaan Kartu Tani di sektor pertanian tebu di bawah naungan pabrik gula milik BUMN, yakni PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, X, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Pada tahap awal peluncuran, Kartu Tani ini ditargetkan untuk dibagikan kepada 31.000 petani tebu di Indonesia.

Menteri BUMN Rini M Soemarno mengatakan diharapkan dengan adanya kartu tani ini bisa mengintegrasikan industri pengolahan gula dengan basis data petani.

"Kartu ini berisi basis data yang menunjukkan profil petani secara lengkap, mulai dari luas dan lokasi lahan, jadwal panen, penjatahan pupuk, hingga akses pembiayaan perbankan sehingga memudahkan petani dan pabrik,"  katanya saat meluncurkan Kartu Tani di PG Assembagoes Situbondo, Rabu (16/11/2016).

Dia menambahkan program dari Kartu Tani untuk petani tebu ini juga mempermudah petani tebu untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), yakni untuk membeli pupuk, bibit baru hingga obat-obatan pertanian.

"Harapannya petani juga bisa menarik dana KUR untuk biaya hidup bulanan sehingga tidak harus meminjam dana ke tengkulak atau ke pihak lain dengan bunga yang sangat tinggi, sehingga nantinya saat panen bisa langsung menjual tebunya ke pabrik gula dan hasil penjualan itu bisa langsung masuk ke rekening milik petani," jelas Rini.

Adapun Kartu Tani ini dapat diakses melalui ATM bahkan memiliki aplikasi yang dapat diinstal di smartphone dan diisi data diri petani melalui nomor pada kartu tani maupun notifikasi sms dan ATM.

Dalam teknologi kartu tani tersebut terdapat rincian transaksi pabrik gula, termasuk jumlah rendemen (kadar gula dalam tebu) dan jumlah produksi gula.

Bagi pabrik gula, Kartu Tani ini juga bisa menjadi solusi untuk memberitahukan kepada petani waktu akan memanen tebu, kemudian pabrik gula memberitahukan kapan gula akan digiling dan kapan petani bisa mendapatkan dananya di rekeningnya sehingga memudahkan para petani.

Direktur Utama PTPN XI Dolly Parlagutan Pulungan menambahkan, Kartu Tani merupakan hasil sinergi antara PTPN dan bank BUMN yang terhimpun dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yakni BNI, BRI dan Bank Mandiri.

“Diharapkan nantinya Kartu Tani ini dapat Meningkatkan efisiensi bagi pabrik gula, memberikan keuntungan bagi petani dan pabrik gula khususnya karyawannya,” katanya.

Saat ini di PTPN XI yang mempunyai 16 PG yang tersebar di Jatim. Dari total 16 PG tersebut terdapat 6.067 petani yang sudah menerima Kartu Tani dengan luasan lahan 43.350 ha yang tersebar dalam 72.712 petak perkebunan.

Selain di PG Asembagoes Situbondo milik PTPN XI, peluncuran Kartu Tani juga dilakukan serentak di 6 pabrik gula lainnya di wilayah Jatim yakni PG Krebet Baru Malang milik RNI, PG Pradjekan Bondowoso, PG Djatiroto Lumajang, PG Pagotan Madiun dan PG Semboro Jember milik PTPN XI serta PG Ngadirejo Kediri milik PTPN X.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indoensia (APTRI) Pusat, Arum Sabil, menyambut baik realisasi Kartu Tani ini.

"Saya pikir Kartu Tani ini adalah pengakuan bagi petani, sekaligus sebagai langkah bagaimana mensukseskan swasembada gula yang berdaya saing, dan bagi perbankan juga tidak ragu lagi untuk menyalurkan kredit kepada petani karena mereka sudah terdata dengan baik," jelasnya.(Jo/Sumber:disini)

Read More

Tahun 2018, PG Asembagus Naikkan Produksinya Jadi 6 Ribu Ton

Post at Wednesday, 30 November -0001 , Comment

SURABAYA (17/11/2016) Dewan Komisaris Holding Perkebunan Nusantara, meninjau Pabrik Gula (PG) Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jatim, Rabu (09/11/2016). Dewan Komisaris Holding Perkebunan Nusantara, disambut ADM PG Asembagus beserta jajarannnya. Pejabat yang membawahi 14 PTPN di Indonesia tiba di  Pabrik Gula (PG) Asembagus dengan mengendarai mobil Toyota Alphat.Selanjutnya, empat orang komisaris ini menggelar rapat secara tertutup dan dilanjutkan peninjauan pabrik.

Juply Bharoni, Dewan Komisaris Holding Perkebunan Nusantara mengatakan, ini merupakan kunjungan kerja rutin di beberapa pabrik gula. Apalagi PG Asembagus usianya paling tua yakni berdirinya pada tahun 1891, namun kondisinya masih baik.

Kedepannya, kata Juply, kedepannya PTPTN ini menjadi bagian kebutuhan nasional. Untuk itu, pihaknya berupaya bisa bersaing, akan tetapi tetap kompit dengan cost yang rendah dan bersiang dengan pabrik swasta.

Saat disinggung target kedepannya, Juply menjelaskan, selama ini kapasitas produksi PG Asembagus sebesar 3000 ton, namun pada tahun 2018 kapasitasanya naik menjadi 6000 ton.

"Tentunya kita harus bekerja sama dengan masyarakat ataupun rakyat. Sebab jika pabriknya baik, maka kesejahteraan rakyat atau petaninya juga akan baik," kata Juply kepada Surya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Bulog Siap Penuhi Permintaan Sembako e-Warung

Post at Wednesday, 30 November -0001 , Comment

SURABAYA (17/11/2016) Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre XI Jember siap memenuhi permintaan sembako dari pemilik Warung Elektronik (e-Warung) di Kabupaten Jember.

Program e-Warung merupakan program Kementerian Sosial RI. Sementara Bulog ditunjuk menjadi penyedia empat komoditi yakni Beras, Gula, Tepung Terigu dan Minyak Goreng.

“Kami mengirimkan empat komoditi itu sesuai dengan PO (Purchasing Order) dari KMIS (Koperasi Masyarakat Indonesia Sejahtera). Setelah ada permintaan via email detail per item, kami kirimkan barang tersebut ke e-Warung yang disebutkan,” kata Kepala Bulog Subdivre XI Jember Khozin, Selasa (15/11).

Secara teknis, setelah Bulog mengirimkan barang yang dimaksud, selanjutnya Bulog akan membuat berita acara. Kemudian, bukti berita acara dan permintaan via email itu akan dikirim balik kepada KMIS yang berada di Jakarta.

“Bukti administrasi itu untuk penagihan kepada KMIS selaku pihak yang ditunjuk Kemensos dalam program e-Warung ini. Koordinasi Bulog bukan langsung dengan pemilik warung, melainkan hanya dengan KMIS,” tuturnya.

Berdasarkan data, saat ini baru terbentuk dua e-Warung di Kabupaten Jember yakni di Kecamatan Jelbuk dan Kecamatan Mayang. Dari dua warung tersebut, jumlah transaksi sebesar Rp 6 juta.

“Rinciannya, yaitu Beras harga Rp 7.800 sebanyak 300 kg, beras harga Rp 8.500 sebanyak 200 kg, gula 100 kg, tepung terigu 100 kg dan Minyak Goreng 100 liter,” sebut Khozin.

Ia menerangkan, persediaan Bulog untuk memenuhi permintaan e-Warung sangat mencukupi. Komoditi beras kualitas premium didapat dari hasil penyerapan beras petani Jember yang ditargetkan sebanyak 75.000 ton untuk tahun 2016 ini.

“Untuk komoditi gula kami disuport oleh PTPN X dan PTPN XI. Sementara Tepung Terigu dan Minyak Goreng disediakan oleh Bulog Jawa Timur yang berkantor di Surabaya,” tandasnya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

UPACARA HARI PAHLAWAN 10 November 2016

Post at Thursday, 10 November 2016 , Comment

Ungkapan rasa syukur untuk menghargai dan menghormati pengorbanan para pahlawan yang gugur dalam peperangan melawan penjajah dalam merebut kembali kota Surabaya, PT Perkebunan Nusantara X, XI, dan XII melaksanakan upacara bersama di depan gedung PTPN XI. Upacara dimulai pukul 7.30 WIB dengan Direktur Operasional PTPN XI, Aris Toharisman, sebagai Inspektur Upacara.

Dalam upacara tersebut, disampaikan pula amanat Menteri Sosial Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa, yang menyerukan agar rakyat Indonesia melakukan Gerakan revolusi mental yang diharapkan bisa mendorong Gerakan Hidup Baru, dalam bentuk:

Perombakan cara berfikir, cara kerja, cara hidup, yang merintangi kemajuan. Peningkatan dan pembangunan cara berfikir, cara kerja, dan cara hidup yang baik.

Gerakan Hidup Baru adalah gerakan revolusi mental "untuk menggembleng manusia Indonesia ini menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat Elang Rajawali. Berjiwa api yang menyala-nyala." Selain itu, dalam amanat tersebut juga disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu dalam kebersamaan dan kebersamaan dalam persatuan untuk mewujudkan cita-cita negeri yang kita cintai ini (aq). 

 

Read More

Enam BUMN Ini Keroyokan Buka 62 Ha Kebun Tebu di Area Hutan

Post at Wednesday, 30 November -0001 , Comment

SURABAYA (31/10/2016) Enam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bekerjasama budidaya tanaman tebu di kawasan hutan, sebagai upaya mencapai swasembada gula pada 2019.

Keenam perusahaan pelat merah tersebut ‎yaitu Perum Perhutani, PT Perkebunan Nusantara III holding perkebunan, PT Rajawali Nusantara Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia.

Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M. Mauna‎ mengatakan, ruang lingkup kerjasama ini adalah penyediaan lahan kawasan hutan untuk budidaya tananam tebu dengan pola agroforestry mulai dari pengelolaan bibit, angkut hasil, peningkatan produksi dan prouktivitas tananam tebu.

"Akan dilakukan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui kegiatan tananam tebu, penyedia tenaga ahli, jaminan pembelian serta penyediaan atau pendanaan modal kerja untuk kegiatan kerjasama budidaya tananam tebu dengan kredit sindikasi," tutur Denaldy di Jakarta, Rabu (26/10/2016).

Menurut Denaldy, Perum Perhutani selama ini memiliki lahan hutan seluas 2,4 juta hektare dan sebagian dimanfaatkan untuk tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai, porang dan lainnya sesuai kaidah kehutanan.

"Untuk budidaya tebu ini, Perum Perhutani mengalokasikan 62 ribu hektar lahan kawasan hutan di KPH Indramayu, KPH Majalengka, KPH Semarang, sebagian wilayah Perhutani Jawa Timur dan wilayah anak perusahaan Perhutani di Lampung," papar Denaldy.

Direktur Human Capital Management dan Umum PT Perkebunan Nusantara III Seger Budiarjo menambahkan, kesepahaman ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk meningkatkan pasokan bahan baku, dimana tahap pertama dilakukan dengan memanfaatkan lahan hutan di Pulau Jawa.

"Itu untuk pemanfaatan lahan ditanami tebu sehingga pasokan bahan baku meningkat dan memperkuat pasokan tebu. BUMN itu pabrik tebunya di PTPN IX, X, XI, XII," tutur Seger di tempat yang sama. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Budidaya Tebu, Perhutani Bersama PTPN III Holding dan RNI Jalin Sinergi

Post at Wednesday, 30 November -0001 , Comment

SURABAYA (31/10/2016) Perum Perhutani bersama PT Perkebunan Nusantara III holding perkebunan dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sepakat bekerjasama budidaya tanaman tebu di kawasan hutan.

Kerjasama itu mendapat dukungan pendanaan dari PT Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (BNI) serta PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Adapun ruang lingkup kerjasama ini menyangkut penyediaan lahan kawasan hutan untuk budidaya tanaman tebu, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui kegiatan tanaman tebu.

Kemudian penyediaan tenaga ahli budidaya tanaman tebu, jaminan pembelian atau pengolahan hasil budidaya tanaman tebu serta penyediaan atau pendanaan modal kerja untuk kegiatan kerjasama budidaya tanaman tebu dengan kredit sindikasi.

"Sinergi enam BUMN ini bertujuan mendukung program ketahanan pangan nasional, khususnya gula yang ditetapkan pemerintah melalui optimalisasi lahan kawasan hutan," ujar Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M. Mauna di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu (26/10).

Khusus untuk kerjasama tebu, Perum Perhutani mensyaratkan kewajiban penanaman tebu dibanding tanaman kehutanan dengan rasio yang seimbang untuk tetap menjaga kelestarian sumberdaya hutan.

"Detail syarat implementasi kerjasama akan ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) oleh masing-masing BUMN," imbuh Denaldy. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Masa Kejayaan Industri Gula Indonesia

Post at Thursday, 27 October 2016 , Comment

SURABAYA (27/10/2016) Indonesia pernah mengalami era kejayaan indutsri gula pada tahun 1930- an dengan prestasi tertinggi sebagai negara pengeksport gula sebanyak 2,4 juta ton. Produksi puncak pada saat itu sekitar 3 juta ton dengan rendemen 11-13,8 persen (Sudana et al., 2000). Dari fakta ini menunjukkan bahwa sudah 86 tahun berlalu Indonesia meninggalkan era kejayaan industri gula, sejarah pernah mengukir indah tentang industri gula, akankah ada jalan kembali mengulang masa kejayaan tersebut? Bukan pertanyaan yang mudah dan adalah permasalahan sangat kompleks untuk kembali pada kejayaan, tetapi harapan selalu ada. Without History, There Would Be No Future.

Kondisi gula saat ini memang sedang terpuruk, berbagai sektor sangat berkaitan dan masing-masing memerlukan solusi. Hal ini yang mengakibatkan kemunduran yang dialami 86 tahun belakang belum juga mendapatkan pemecahan. Salah satu indikasi yang sangat menonjol adalah kecenderungan volume import gula yang terus bertambah, seperti yang ditunjukkan oleh data berikut ini:

Import gula indonesia baru mencapai 4400 ton pada tahun 1994 dan meningkat menjadi 1,34 juta ton pada 2004 yang artinya meningkat 300 kali lipat dalam 10 tahun. Tahun 2015, produksi gula nasional 2,49 juta ton dengan rendemen ratarata 8,28 persen dari 62 pabrik gula, angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 2, 57 juta ton (data asosiasi gula indonesia ). Sedangkan kementerian perindustrian memperkirakan kebutuhan nasional sebesar 5, 7 juta ton (sindonews, 2015). Artinya produksi lokal hanya bisa memenuhi setengah dari kebutuhan, yang mengharuskan kita import gula dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan tsb. Dibandingkan dengan data 2004, jumlah kebutuhan import gula pemerintah sudah naik tiga kali lipat dari 1,34 juta ton kini 3,7 juta ton. Dahulu indonesia pernah menjadi negara pengeksport gula terbesar di dunia, kini menjadi negara pengimport gula terbesar di dunia. Singkat kata penyebabnya adalah karena semakin tingginya konsumsi yang tidak diimbangi dengan peningkatan produksi. Ada tiga pelaku utama dalam industri gula yang saat ini harus disinergikan untuk mencapai kembali swasembada gula, yaitu: PETANI, PABRIK, dan PEMERINTAH.

Tahun 2012, rendemen mencapi angka 8% dengan harga gula yang menurut petani cukup bagus disekitar Rp. 10.000/kg. Tahun 2013 rendemen turun ke titik 7% dengan harga yang juga turun disekitar Rp. 8.500/kg. Tahun 2014, rembesan impor gula rafinasi melampaui batas kebutuhan yang membuat harga gula semakin anjlok. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, ini yang dirasakan oleh petani. Jika rendemen turun, artinya bagi hasil gula yang didapatkan petani juga ikut turun, ditambah lagi harga gula juga turun. Kerugian yang dialami petani pada saat itu berlipat-lipat. Jika pembagian gula dengan pabrik senilai 70% dalam 1 kwintal tebu petani akan mendapatkan 4,9 kg gula, turun 0,7 kg dari tahun 2012. Belum lagi selisih harga Rp. 1.500/kg, yang artinya petani mengalami penurunan pendapatan sebesar 1.050 rupiah per kwintal tebunya. Jika rata-rata petani tebu indonesia memiliki 50 Ha lahan dengan output rata-rata 700 kw/ha maka penurunan pendapatan yang ditanggung petani sebesar 36.750.000. Angka ini belum lagi ditambah biaya ongkos angkut jikalau musim hujan tidak kunjung reda. HPP per kg petani saat itu kurang lebih 8.800/kg, jadi kerugian petani jika memiliki 50 Ha lahan bisa diperkirakan sekitar 11 juta rupiah.

Kerugian yang dialami petani ini mempengaruhi banyak hal: efek pertama, defisit yang dirasakan petani dalam tempo yang lumayan lama mempbuat banyak petani yang mengurangi lahan penanaman tebu bahkan b eb era p a p et a n i sk a l a k ecil su da h g u l a n g t ik a r. Efek kedua, karena berkurangnya lahan tertanam tebu, pabrik tebu otomatis juga mengalami penurunan jumlah bahan baku, jika bahan baku kurang masa giling pabrik akan berkurang dan produktifitas PG juga akan berkurang. Efek selanjutnya, jika produktifitas pabrik tebu berkurang, maka berkuranglah produktifitas nasional negara yang pada akhirnya bertambahnya kuota import.

Revitalisasi pabrik gula. Revitalisasi ini artinya memperbaiki kondisi dan kualitas pabrik gula agar bisa menghasilkan gula yang berkualitas yang juga berimbas pada kesejahteraan petani. Bahan baku penggilingan gula bersumber pada hasil tanam petani, petani akan bangkit jika pbarik juga memberikan jaminan kesejahteraan dalam hal ini rendemen. Restrukturisasi permesinan dengan memperbaiki mesin dan peralatan industri gula yang sudah ada saat ini, guna menambah kapasitas giling serta memperbaiki kekuatan peras mesin sehingga dapat meningkatkan rendemen. Dampak dari peremajaan ini akan menambah volume produksi semua pabrik, sehingga gula yang dihasilkan semakin banyak, kebutuhan gula dalam negeri dapat terpenuhi.

Selain memperbaiki permesinan dari pabrik gula yang sudah ada, jumlah pabrik gula yang dimiliki Indonesia saat ini masih kurang untuk mencapai target swasembada gula, pemerintah juga harus memiliki rencana untuk menambah pembangunan pabrik gula baru baik swasta maupun BUMN. Jumlah pabrik gula (PG) yang masih beroperasi di Indonesia saat ini berjumlah 58 PG, dimana 54 PG berada di Jawa dan sisanya 12 PG di luar P. Jawa (Sumatera dan Sulawesi). Total kapasitas produksi industri gula sekitar 197.847 ton cane per day (TCD) (kompas, 2015). Padahal produksi gula indonesia saat ini masih setengah dari kebutuhan, artinya kapasitas produksi semestinya dua kali lipat dari kemampuan saat ini. Hal ini merupakan langkah yang juga membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit, untuk membangun satu pabrik baru dibutuhkan minimal 1,5 - 2 trilliun rupiah dengan kapasitas 10 ribu TCD, dan pengembalian investasi cukup lama dalam kurun waktu 8 tahun (setyawati, 2016).

Pemerintah bisa menarik investor jika memang terbatas dengan pendanaan. Jika revitalisasi pabrik gula sudah terwujud, jumlah pabrik gula bertambah, permasalahan yang muncul kemudian adalah ketersedian suplai bahan baku, dan disini selain pabrik gula harus memiliki lahan tebu sendiri, setengah nasib pabrik berada pada tangan petani. Data dari kementrian pertanian mengatakan 71,38% (gambar 2) bahan baku gula bersumber di jawa timur, dengan total produksi tahun 2014 mencapai 1,26 juta ton tebu (BPS provinsi Jawa Timur). Angka ini menunjukkan Pemerintah perlu merencanakan dan sesegera memulai untuk melabarkan sayap ke luar jawa agar tercapai swasembada gula. Jika terlalu bertumpu pada tanah jawa, sulit sekali untuk memperluas lahan pertanian mengingat kepadatan penduduk yang tidak merata. Jika permesinan pabrik sudah efisien, efek yang dirasakan petani adalah kesejahteraan, petani akan mendapat rendemen yang cukup tinggi. Semakin petani sejahtera, mereka petani akan mengekspansi dan memperbaiki kualitas tebu yang ditanam, semakin pabrik tidak kesulitan mencari material giling dan semakin bagus kualitas gula yang dihasilkan. Output akhirnya adalah semakin meningkatknya jumlah produksi gula di Indonesia, swasembada semakin dekat.

Kebijakan pemerintah adalah sektor penting yang punya peran vital. Ketika petani siap, pabrik juga siap, mustahil akan berjalan jika kebijakan pemerintah belum siap. Gula adalah salah satu komoditas pertanian yang telah ditetapkan Indonesia sebagai komoditas khusus dalam forum perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bersama beras, jagung dan kedelai. Dengan pertimbangan utama untuk memperkuat ketahanan pangan dan kualitas hidup di pedesaan, Indonesia berupaya meningkatkan produksi dalam negeri, termasuk mencanangkan target swasembada gula, yang sampai sekarang belum tercapai. Sejak tahun 2007 sampai dengan 2011, pemerintah mengimport gula jauh lebih besar dari kebutuhan yaitu rata-rata sebesar lebih dari 2,5 juta ton (sebagian besar berbentuk raw sugar dan white sugar dan refined sugar) dan terus bertambah dari tahun ke tahun, tahun 2010 import 3,3 juta ton (Hairani, 2014). Artinya, jika pemerintah mengimport gula lebih daripada yang dibutuhkan, hukum ekonomi akan berjalan, supply gula yang ada lebih banyak daripada demand, yang mengakibatkan harga menjadi turun. Hal ini merugikan petani dan berimbas pada kemampuan giling pabrik. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menyatukan visi misi menuju swasembada gula adalah mendukung revitalisasi pabrik gula dengan memberikan permodalan investasi, mempermudah investor swasta membangun pabrik di Indonesia, serta proporsi impor harus sesuai dengan kebutuhan nasional.

 

Gambar tersebut menunjukkan rangkuman skema menuju swasembada gula Indonesia. Perubahan ini tidak dapat ditekankan pada satu sektor saja, ketiga sektor penting ini (petani, pabrik, dan pemerintah) harus melangkah bersama. Ketiganya saling berhubungan dan saling terkait. Merupakan program yang amat sangat besar dan kompleks serta melibatkan banyak pemangku kepentingan, seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Keuangan, dan lainlain, serta meliputi berbagai aspek/bidang, seperti mesin/peralatan, lahan, infrastruktur, produktivitas lahan, permodalan, sarana irigasi, dll. (Kemenperin, 2012). Dan tidak sedikit uang yang harus disiapkan oleh pemerintah untuk investasi ini, tahun 2012 kementrian perindustrian telah menganggarkan dana sebesar Rp. 218,73 Milyar untuk merevitaliasi industri gula, dan tampaknya tahun 2016 ini belum ada perubahan signifikan dalam industri gula. Pemerintah diharapkan mengkaji ulang potensi swasembada pangan di Indonesia sebagai competitive advantage, artinya produk pangan yang dihasilkan bisa lebih menjual daripada produk pangan negara lain. Indonesia merupakan negara agraria dengan tanah yang subur, tenaga kerja yang berlimpah, dan varietas pangan yang bermacam-macam. Di banding dengan Thailand, tanah indonesia lebih subur, tenaga kerja lebih murah dan melimpah. Lalu kenapa kita harus mengimport gula dari Thailand? Saatnya, secara bertahap asal konsisten, Indonesia melangkah menuju swasembada pangan seperti 86 tahun yang lalu.(Jo)

 

DAFTAR PUSTAKA

Hairani, R. I. Joni M. M., Jani J. 2014. Analisa Trend Produksi dan Impor Gula Serta Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Impor Gula Indonesia. Berkala Ilmiah Pertanian, Vol. 1 No. 4, hlm 77-85. Katalog BPS 5102001, 2015. Indikator pertanian Tahun 2015 Profinsi Jawa Timur. Badan Statistik Provinsi Jawa Timur. Setyawati, Araminta. 2016. Manis Pahitnya Industri Gula di Indonesia. Neraca, Harian ekonomi. Sudana, W., P. Simatupang, S. Friyanto, C. Muslim dan T. Soelistiyo. 2000. Dampak Deregulasi Industri Gula Terhadap Realokasi Sumberdaya, Produksi Pangan, Dan Pendapatan Petani. Laporan Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. Susila, R. Wayan. 2005. Dinamika Impor Gula Indonesia, Sebuah Analisis Kebijakan. Agrimedia Volume 10, No.1. Pusat Data dan sistem informasi Pertanian, 2014. Outlook Komoditi Tebu. Sekertariat Jendral Kementerian Pertanian. S u m b e r O nl i ne :

http://www.kemenperin.go.id/artikel/21/Revitalisasi-Industri-Gula http://ekbis.sindonews.com/read/985768/34/kebutuhan-gula-nasional-capai- 5-7-juta-ton-1428310340 http://bisnis.liputan6.com/read/2410780/produksi-gula-nasional-2015- meleset-dari-target

 

Penulis : Azmil Chusnaini (Juara II Lomba Tulis Jurnalistik)

Read More

HIJAUKAN PABRIK DENGAN “ THE MISS “

Post at Thursday, 27 October 2016 , Comment

SURABAYA (27/10/2016) Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME, karena angan-angan kami sejak 2014 kini sudah bisa kami wujudkan, meskipun belum bisa 100 % yaitu untuk melakukan PENGHIJAUAN DALAM PABRIK di PG. Wringin Anom - Situbondo.

Di dalam pabrik gula yang dipenuhi dengan alat-alat / mesin-mesin baik yang digerakkan oleh uap maupun listrik, hampir semuanya mengeluarkan asap / gas dan radiasi. Gas dan radiasi itu secara cepat ataupun lambat akan mempengaruhi kesehatan bagi semua karyawan yang bekerja di sekitarnya. Dampak yang diakibatkan adalah kinerja karyawan yang menurun dan biaya kesehatan meningkat. Berangkat dari itulah kami berusaha untuk mencari solusi yang dapat  mengeliminir dampak dari polusi tersebut dengan biaya yang seminim mungkin.

Kamipun menemukan sebuah tulisan yang menyatakan bahwa “ Tanaman Hias LIDAH MERTUA ( Sansevieria trifasciata ) mampu menyerap lebih dari 107 unsur polutan berbahaya yang terdapat di udara, terbanyak diantara tanaman yang lainnya “. Tulisan tersebut adalah merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat ( NASA ) selama 25 tahun. Sansevieria mampu menyerap polutan karena mengandung bahan aktif pregnane glikosid yang mampu berfungsi untuk mereduksi polutan menjadi asam organik, gula dan asam amino, sehingga menjadi tidak berbahaya lagi bagi manusia. Sansevieria juga menjadi obyek penelitian tanaman penyaring udara NASA untuk membersihkan udara di stasiun ruang angkasa. Sebagai tambahan, berdasarkan riset dari Wolfereton Environmental Service, kemampuan setiap helai daun Sansevieria bisa menyerap 0.938 mikrogram per jam formaldehyde. Bila disetarakan dengan ruangan berukuran 75 meter persegi cukup diletakkan Sansevieria dengan 4 helai daun. Riset lainnya dapat disimpulkan bahwa untuk ruangan seluas 100 m3 cukup ditempatkan Sansevieria trifasciata dewasa berdaun 5 helai agar ruangan tersebut bebas polutan. Ciri spesifik yang jarang ditemukan pada tanaman lain, diantaranya mampu hidup pada rentang suhu dan cahaya yang banyak.

Disamping itu banyak manfaat dari tanaman lidah mertua selain menyerap polusi dan radiasi, diantaranya adalah :

Kaya akan produksi oksigen Sebagai bahan antiseptic Sebagai hair tonic alami Membantu menurunkan resiko diabetes Membantu menyembuhkan sakit kepala Aktif membantu mengurangi sick building syndrome Bunga lidah mertua memiliki bau khas sebagai aroma teraphy Sebagai bahan kerajinan anyaman dan pagar

 Karena itulah kami memberikan sebutan THE MISS untuk tanaman Lidah Mertua yakni Tanaman Hias Eksotis, Murah, Indah, Segar & Sehat.

Tahun 2014 kami mulai melakukan penanaman lidah mertua dan kami letakkan di dalam pabrik. Jumlah yang kami tanam hanya 8 pot (56 helai daun), masih jauh dari standard yg dianjurkan, yaitu 5 helai daun / 100 m³. Ruangan dalam pabrik PG. Wringin Anom ± 35.000 m³ membutuhkan 1.750 helai daun lidah mertua. Untuk mempercepat perkembangbiakan, 8 pot tanaman lidah mertua yang sudah ada kami kembangkan dengan cara memindahkannya langsung ke tanah di area UPLC.

Di area UPLC pertumbuhannya bisa lebih cepat, karena sludge / endapan hasil dari pengelolaan limbah kami manfaatkan sebagai media tumbuh yang kami campurkan dalam tanah dimana tanaman lidah mertua itu kami tanam. Bila rumpunnya sudah cukup banyak, kami adakan penjarangan yaitu dengan mengurangi jumlah dalam rumpun itu untuk kami tanam di lahan yang masih kosong.

Demikian seterusnya kami lakukan dan baru tahun ini ( 2016 ) mulai kami pindahkan ke dalam pot. Untuk sementara kami bisa memindahkan ke dalam 63 pot dengan jumlah daun 1.331 helai ( rata-rata 21 helai / pot ) dan telah kami letakkan di dalam pabrik. Jadi yang sudah dapat kami realisasikan 76 % dari yang disarankan. Sisa yang kurang  sekitar 20 pot ( 419 helai ) rencana kami tempatkan di lantai atas / boardes di semua stasiun dalam pabrik.

Semua yang kami lakukan ini bisa dikatakan tanpa biaya, modalnya adalah kemauan, ketelatenan dan kesabaran. Adapun yang kami butuhkan adalah :

Jerigen bekas chemikalia yang dibelah jadi 2 dan dilubangi sisi bawahnya. Cat sisa pengecatan timbangan dan UPLC saat LMG. Untuk pengecatan tergantung dari selera / kreasi masing-masing.

Besar harapan kami dengan penghijauan di dalam pabrik ini bisa menekan / mengurangi jumlah karyawan yang sakit dikarenakan oleh asap / gas dan radiasi, sehingga biaya kesehatanpun juga akan ikut menurun. Kamipun berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang kami hormati. (Jo)

Ditulis Oleh : Wahyu Hariadi Karyawan Bagian Pengolahan- PG. Wringin Anom

Read More

Cerita di Balik Kilau Gula Pasir

Post at Monday, 17 October 2016 , Comment

SURABAYA (17/10/16) Pepatah ada gula ada semut nyata tergambar dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pabrik gula, tempat orang menggiling tebu untuk memeras nira dan mengolahnya menjadi gula kristal. Dampak dan Agus adalah dua orang penebang tebu yang setiap musim giling meninggalkan kampung untuk mendapat penghasilan yang lebih besar dibanding menjadi buruh tani di dekat rumah. Sudah empat tahun berturut-turut Agus, lajang yang belum genap 30 tahun, meninggalkan rumahnya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, untuk bekerja menjadi penebang tebu di Kabupaten Madiun selama musim giling. Jarak dari kampungnya ke tempat kerja memang kurang dari 100 kilometer, tetapi tetap saja membuat dia terpisah dari keluarga dan kerabatnya. Menjadi tukang tebang tebu bukan pekerjaan yang ringan, tapi Agus mengatakan bahwa penghasilannya lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000 sehari. Rekan kerjanya Dampak, yang lebih senior dan sudah sepuluh tahun lebih menjadi penebang tebu, berasal dari Kabupaten Blora di pesisir utara Jawa Tengah. Dampak bertutur ia berangkat bersama beberapa tetangganya dari Blora menuju Madiun setiap musim giling antara bulan Juli hingga Oktober. "Saya sudah berpengalaman dan tahu apa yang harus dikerjakan,"ujarnya sembari duduk beristirahat, menanti batang-batang tebu yang diangkut traktor dari ladang untuk dinaikkan ke truk. Hari ini pekerjaan Agus, Dampak, Darmin dan para penebang lain yang sedang bekerja di daerah Ngasinan, Kabupaten Ponorogo, cukup berat karena ladang tebu yang mereka tebang jauh dari jalan besar, bahkan melintasi anak sungai kecil. Tebu-tebu yang sudah mereka potong harus dinaikkan traktor untuk mencapai bibir sungai, lalu dipanggul menyeberang sungai dan dinaikkan ke bak truk. "Dalam sehari rata-rata kami memuat delapan sampai sembilan truk," kata Cecep, petugas yang mengawasi penebangan. Sehari sebelumnya turun hujan lebat dan traktor pengangkut tebu tidak bisa turun mendekati tepi sungai, membuat para penebang mencari akal dengan memanfaatkan dua batang bambu yang mereka potong dari rumpun di tepi sungai menjadi alat peluncur batang tebu dari atas tebing. Tebu-tebu itu lalu mereka angkut di atas bahu. Rata-rata seorang penebang mengangkut puluhan batang dengan bobot sekitar 50 kilogram, menyeberangi sungai dengan air setinggi betis hingga sepaha orang dewasa, lalu menaiki tangga menuju bak truk. Tiba-tiba Darmin, penebang dari desa setempat, memungut kalajengking yang menempel pada salah satu batang tebu dan melemparnya jauh. Bertemu kalajengking sudah biasa bagi mereka, bahkan tak jarang hewan berbisa itu menggigit kaki atau tangan mereka. Bila ada penebang kena gigitan kalajengking, sebagai penawar mereka akan mematahkan capit penyengat dan memakan badang kalajengking tersebut. "Kalau sudah memakan itu badan tidak sakit," kata Darmin, menambahkan bahwa bila kalajengkingnya sudah lari dan tidak bisa ditemukan, mereka harus menanggung rasa sakit terkena bisanya. "Nggih ndrodok, panas-adem (ya gemetar, panas dingin)," katanya bila tidak memakan badan kalajengking setelah tergigit. Bukan saja kalajengking yang suka menempel di batang tebu, kadang-kadang mereka menemukan ular di antara tumpukan batang tebu yang harus mereka angkut. Baik Agus, Dampak dan Darmin maupun para penebang lain mengatakan bahwa pekerjaan sebagai penebang tebu memiliki tantangan yang berat. Para pemula biasanya tidak akan tahan terkena glugut, lapisan berbulu di pucuk batang tebu yang bisa menimbulkan rasa panas dan gatal apabila terkena kulit. Orang baru ada yang sehari hingga empat hari saja sudah mundur dan pulang, kata Agus yang tubuhnya sudah kebal terkena glugut ataupun tergores. Dalam satu hari seorang petani rata-rata menebang dan mengangkut sekitar 25 kwintal tebu yang dikerjakan bersama-sama secara berkelompok. Untuk pekerjaan tersebut mereka mendapat penghasilan sekitar Rp100.000,-. "Kami bekerja dari pagi hingga petang, biasanya dijemput dengan truk menuju ladang tebu," kata Darmin. Penebang yang berasal dari luar kota mendapat tempat mondok di rumah-rumah penduduk selain jatah makan tiga kali sehari dan rokok, sedangkan penebang lokal seperti Darmin tidak mendapat jatah makan. Darmin beruntung, istri yang dia nikahi sekitar 20 tahun selalu setia mengikuti hingga ke dekat ladang tempatnya bekerja untuk berjualan makanan dan minuman sehingga dia bisa menumpang makan dan minum. Selama satu musim giling yang rata-rata berlangsung antara 120-140 hari, para pekerja bisa memperoleh upah sekitar Rp5 juta dengan sistem pembayaran per minggu. "Uang 100 ribu rupiah sekarang untuk belanja tidak bisa penuh satu tas kresek beda dengan tahun 1990-an, Rp25.000,- bisa untuk beli macam-macam," kata Darmin. Orang penting "Penebang tebu menjadi orang-orang penting yang harus diperhatikan dan sedikit dimanja, karena jumlah mereka tidak banyak dan pekerjaan memotong batang tebu dibatasi oleh waktu," kata Djumono, SP, salah seorang sinder kebun di Pabrik Gula Pagotan, Madiun. Para penebang adalah orang bebas, mereka bisa memilih untuk bekerja di ladang mana saja, apakah lahan sewa yang dikelola pabrik gula atau pun lahan milik petani tebu rakyat. "Kita harus pandai-pandai menjaga hubungan agar mereka betah karena sekarang para penebang lebih cepat mendapat informasi tempat kerja yang memberi fasilitas lebih baik hanya dengan ini," kata Djumono sambil menggerakkan telepon selularnya. Selain karena perbedaan tawaran upah, menurut dia, para penebang bisa pindah ke ladang lain bila makanan yang disediakan lebih enak dan banyak serta merek rokoknya lebih bagus. PG Pagotan, salah satu pabrik yang berada di bawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI saat Ini memberikan upah tebang Rp6.000,- per kwintal tebu. "Persaingan untuk mendapat tenaga tebang sangat tinggi karena pekerjaan harus dilakukan hampir bersamaan waktunya sementara jumlah penebang tidak terlalu banyak bahkan harus dipanggil dari luar kota," kata Stefanus Drimahardhika, Kepala Kebun Wilayah (sebutan baru untuk sinder) di PG. Pagotan. Kekeluargaan Penanganan penebang harus dilakukan dengan cara kekeluargaan agar mereka betah bekerja, kata Sumanto (37), seorang petani tebu rakyat yang memiliki lahan tanam seluas 50 hektare. Sumanto menuturkan bahwa ia menyerahkan urusan konsumsi pada istrinya yang mempekerjakan beberapa orang untuk memasak bagi para tukang tebang. "Selama ini saya tidak mempunyai masalah mengenai tenaga kerja untuk menanam, merawat ladang dan memanen, karena saya berusaha memperlakukan mereka seperti keluarga," ujarnya. Rasa kekeluargaan itu dibangun dengan menempatkan diri bukan sebagai tuan, melainkan orang ikut bersama-sama dalam setiap proses pekerjaan. "Saya ikut menanam juga menebang tebu," kata pria yang baru 10 tahun beralih menjadi petani tebu setelah menjadi pemilih lahan kebun jati di Desa Dolopo di Kabupaten Madiun itu. Untuk satu musim tebang, Sumanto mempekerjakan sekitar 50 orang dan setiap minggu membayarkan upah sekitar Rp70 juta. Sumanto mengaku menyukai pekerjaan sebagai petani tebu karena merasa bekerja setiap hari mulai dari menyiapkan lahan tanam, menanam, merawat tanaman, penebangan dan mengirim tebu ke pabrik, menyiapkan bibit dan siklusnya berulang terus. Menanam jati tidak terlalu sibuk sehingga ia merasa tidak bekerja. Bagi pabrik gula, pendampingan terhadap petani tebu harus terus menerus dilakukan untuk menghasilkan tanaman yang subur dengan kadar gula tinggi. "Ada kecenderungan petani memakai pupuk sebanyak-banyaknya agar tanaman tumbuh subur, padahal apabila kebanyakan pupuk tanaman akan tumbuh besar tetapi kadar gulanya kecil," kata Manager Quality Control PG Pagotan, Ninit Hartatik Kartika. Masa tebang juga harus ditentukan dengan tepat pada saat rendemen atau kadar gula di dalam tebu tinggi, karena apabila kurang masak atau kelebihan maka rendeman akan rendah, katanya. Saat musim tebang tiba, para penebang mulai bekerja. Kisah mereka tersimpan dalam sesendok gula pasir yang manis dan berkilau bagaikan kristal. (Jo/Sumber:disini)

Read More

'Wow' Limbah Cair PG Semboro Jember Bermanfaat Untuk Sektor Pertanian

Post at Monday, 17 October 2016 , Comment

SURABAYA (17/10/2016) Seringkali penanganan limbah jadi permasalahan serius bagi perusahaan perusahaan besar terlebih limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi, namun tidak demikian yang terjadi di Pabrik Gula (PG) Semboro Kabupaten Jember Jawa timur.

Memang sebelumnya, pengolahan limbah cair di PG Semboro ini menggunakan sistem fermentasi alam yang tentunya cara ini dinilai menghabiskan lahan dan tidak ramah lingkungan.

"Limbah menggenang dan proses fermentasi lama," kata Hariwiyadi mandor limbah, unit pengolahan limbah PG Semboro. Sabtu (15/10).

Secara teknis Hari menerangkan, sejak tahun 2007 proses pengolahan limbah cair di PG Semboro secara umum menggunakan microba baik untuk tanaman pertanian

 "Dari dalam pabrik dengan menggunakan pompa listrik limbah cair dari dalam pabrik disedot lalu masuk ke unit pengolahan limbah, pertama masuk ke In hose Keeping lalu naik kembali di kolam Ekoalisasi  lalu di naikkan kembali dan dicampur menggunakan Urea dan Fosfat yang besarnya disesuaikan dengan debit air limbah yang masuk," jelasnya.

Setiap jam lanjut diakatakan bahwa limbah cair yang masuk ke saluran penampungan in hose keeping rata - rata mencapai 17 hingga 20 meter kubik,

"Setelah itu masuk kepenampungan di kolam Aerasi, di kolam aerasi inilah dikembangkan bakteri Inola 221 dimana bakteri ini sudah dikembangkan sejak sebelum musim giling dimulai, dan pada saat musim giling tiba bakteri siap digunakan," terangnya.

Salah satu contoh kata dia, hasil pengolahan limbah cair ini dapat dimanfaatkan untuk saluran irigasi persawahan masyarakat sekitar.

"Ikan saja bisa bertahan hidup dikolam penampungan akhir, ini artinya pengolahan limbah cair PG Semboro sudah ramah lingkungan," tuturnya 

Sementara itu Abraham Gusta Kepala Seksi Lingkungan Hidup PG Semboro mengatakan, pengolahan limbah PG Semboro ini bekerja sama dengan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia P3GI dan dipercaya oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI untuk melaksanakan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) sendiri pada limbah cair, padat, serta limbah udara dan setiap tahun dilaporkan ke KLH.

"Selama 3 tahun terahir PG Semboro mendapat PROPER ditingkat Biru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan tahun 2016 ini masuk kandidat Hijau yang artinya tahun depan PG Semboro berhak masuk nomimasi penilaian PROPER Hijau," terangnya

Targetnya kata dia, untuk mencapai penilaian PROPER katagori Hijau pihaknya telah menyiapkan cara. "Tahun ini kita mendapatkan penghargaan Manajemen Lingkungan pada ISO 140012016, inilah yang mendorong agar kita lebih baik lagi dalam mengolah limbah cair di PG Semboro harapannya hal ini akan menjadi  nilai Plus bagi perusahaan kami PTPN XI," tutupnya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

PTPN III Holding implementasi solusi ERP

Post at Monday, 10 October 2016 , Comment

SURABAYA (10/10/2016) PTPN III Holding mengaplikasikan solusi Enterprise Resource Planning (ERP) berbasis SAP di seluruh perusahaan perkebunan milik negara PTPN I-PTPN XIV, untuk meningkatkan kinerja agar tumbuh lebih cepat menjadi perusahaan agro industri berskala global. "Implementasi ERP diharapkan dapat mendukung proses pengambilan keputusan secara cepat, efektif, dan efisien, untuk meningkatkan kualitas dan ketepatan pelaporan internal dan eksternal, termasuk ke holding," kata Direktur Korporasi dan Keuangan PTPN III (Persero) Holding, Erwan Pelawi, di Jakarta, Senin. Menurut Erwan, implementasi teknologi informasi sangat dibutuhkan di era globalisasi di tengah persaingan industri yang semakin dinamis. Ia mengakui, mengimplementasikan ERP bukan hal yang mudah, sehingga dibutuhkan komitmen seluruh manajemen, mulai dari direksi hingga level karyawan. Sementara itu, Direktur Utama PTPN XI Dolly P Pulungan,Dolly P Pulungan menyampaikan bahwa PTPN XI telah mempersiapkan diri mulai dari perbaikan infrastruktur pendukung, perbaikan standar operasional prosedur, sehingga implementasi ERP di PTPN XI yang ditargetkan "go live" mulai 1 Januari 2017. Sementara itu, Deputi EVP PT Telkom Regional V Sudjatmiko, sebagai mitra penyedia solusi ERP mengatakan, kecepatan menjadi kunci memenangkan persaingan, karena itu dibutuhkan dukungan teknologi informasi komunikasi (ICT) yang andal. "Telkom akan mendukung secara penuh 24 jam demi suksesnya implementasi ERP di PTPN Holding," ujarnya. Ia menjelaskan, implementasi ERP bertahap yaitu pertama, penyusunan global template, dimana seluruh perwakilan PTPN melakukan harmonisasi bisnis proses dan penyusunan global template PTPN. Kedua, pilot project, tahap awal implementasi ERP akan dilakukan di Kantor Holding, PTPN XI (untuk tanaman semusim) dan PTPN V (untuk tanaman tahunan). Ketiga, roll out, setelah berhasil di pilot project akan dilakukan roll out ke seluruh PTPN. Keempat, business planning & consolidation (BPC) dan kelima, businness intelligent- dashboard. "Seluruh tahapan tersebut tditargetkan selesai pada Maret 2018," katanya. Adapun modul-modul ERP yang akan diimplementasikan di PTPN meliputi modul AGRI (tanaman semusim dan tahunan), modul FI (finance), modul CO (controlling), modul PM (Plant Maintenance), modul PS (Project System). Selanjutnya, modul PP (Project Planning), modul QM (Quality Management), modul SD (Sales and Distribution), dan modul MM (Material Management), serta modul BI (Business Intelligence) dan BPC (Business Planning and Consolidation). (Jo/Sumber:disini)

Read More

PTPN XI Klaim Punya Bukti Kepemilikan Sah Atas Tanah di Desa Nogosari Seluas 372 Hektar

Post at Tuesday, 04 October 2016 , Comment

SURABAYA (04/10/2016) Tanah sepadan yang terletak di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji bukan tanah landreform atau tanah reporma agrarian. Sebab, tanah seluas 372 hektar tersebut sudah dikuasai PTPN XI sejak zaman Belanda.

Demikian ditegaskan anggota Dewan Komisaris PTPN XI,  Dedy Mawardi, menyikapi adanya tuntutan pelepasan tanah kepada warga Nogosari saat Hari Tani Nasional beberapa waktu yang lalu dalam acara konferensi pers, Sabtu siang. Dedy menegaskan, tanah itu murni sebagai aset PTPN XI dan telah tercatat di sejumlah kementeriaan. Legalitas status tanah di Desa Nogosari itu sudah jelas bahwa pihak PTPN memperolehnya sejak zaman Belanda yang kemudian diperbaharui oleh pemerintah Indonesia. Pihak PTPN XI sudah beberapa kali memperpanjang HGU dan perpanjangan terakhir hingga tahun 2032 mendatang.

Menurut Dedy Mawardi, obyek tanah yang diklaim milik warga di luar obyek tanah spada di Desa Nogosari. Dengan demikian, tanah tersebut bukan tanah obyek landreform karena tidak dikuasai rakyat. Ia menjelaskan, tanah landreform itu adalah tanah yang bertahun-tahun dikuasai rakyat namun tidak memiliki legalitas kepemilikan.

Dedy mawardi berjanji akan memperbaiki komunikasi dengan pemerintah desa dan  masyarakat Nogosari. Selain itu, bekerjasama dengan LSM dan Universitas Jember untuk mencari solusi. Jika ada perintah dari presiden tanah tersebut diberikan kepada masyarakat, PTPN XI siap melepasnya. Terkait dengan permintaan CSR untuk Desa Nogosari, pihak PTPN sudah mengucurkan anggaran Rp 1,2 miliar mulai tahun 2007 hingga 2016. (Jo/Sumber:disinI)

Read More

Momen KPK Bongkar Mafia Gula

Post at Monday, 19 September 2016 , Comment

SURABAYA (19/09/2016) Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK Jum'at (16/9/2016) terhadap Ketua DPD-RI Irman Gusman kemudian diteruskan dengan penetapan status tersangka dugaan suap terkait import gula  tahun 2016 Bulog kepada CV BS untuk provinsi Sumatera Barat.

Jika benar bahwa OTT terhadap Ketua DPD-RI tersebut terkait import gula tahun 2016, maka apa yg disinyalir oleh Ketum APTRI Arum Sabil, ada praktek suap pada import gula (raw sugar) tahun 2016 yang melibatkan Direksi BUMN menjadi terbukti benar adanya.

OTT KPK itu seakan menjadi bukti para mafia gula masih begitu kuat mencengkeram tata niaga gula di tingkat nasional.

Bahkan diduga para mafia gula ini merekayasa angka kebutuhan nasional gula agar ada import gula. Mafia gula ini dikenal luas dengan sebutan "seven samurai".

Kuatnya daya cengkeram mafia gula ini mampu membuat industri gula yang dikelola oleh BUMN Gula nyaris tak berdaya.

Menurut Komisaris PTPN XI (Salah satu BUMN Gula) Dedy Mawardi, OTT KPK itu menjadi moment bagi KPK untuk membongkar busuknya mafia gula yang berkolaborasi dengan kekuasaan. Yang mengatur tata niaga gula selama ini.

"Selanjutnya KPK bisa bersih-bersih BUMN dari para Direksi yang suka main mata dengan mafia gula dan oknum penguasa," sarannya, Senin (19/9/2016).

Dalam pernyataannya yang diterima tribunnews.com, Dedy menegaskan kembali, pelaku industri gula khususnya BUMN dan petani gula, sangat berharap jika KPK tidak hanya melakukan penyidikan pada Ketua DPD-RI saja.

"Tanpa membongkar permainan busuk mafia gula maka kebijakan swasembada gula yang dicanangkan Presiden Joko Widodo tak kan pernah terwujudkan," ujar Dedy . (jo/Sumber:disini)

Read More

Membangun Kemandirian Dan Optimalisasi Potensi Industri Gula Untuk Mensukseskan Swasembada Gula

Post at Wednesday, 07 September 2016 , Comment

SURABAYA (07/09/2016) Gula adalah kebutuhan salah satu dari sembilan bahan  kebutuhan pokok di masyarakat di Indonesia, ,di karenakan gula adalah sumber kalori yang relatif murah,dan kedudukan gula di masyarakat indonesia sebagai bahan pemanis belum dapat tergantikan oleh bahan pemanis lainya, baik di gunakan di kalangan rumah tangga atau di industri makanan dan minuman. Oleh karena itu pemerintah menetapkan gula sebagai komoditas strategis dan sebagai komoditas barang dalam pengawasan.(Kepres no.57 tahun 2004).

Jumlah kertersediaan gula produksi dalam negeri di banding dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi serta meningkatnya usaha yang berbahan baku gula,  baik skala UMKM maupun  skala industri membuat kebutuhan gula kian melonjak.Berkaitan dengan tersebut diatas pemerintah mendorong terpenuhinya kebutuhan gula dalam negeri secara madiri atau swasembada.Melalui kementerian BUMN pemerintah menargetkan produksi gula akan mencapai swasembada pada tahun 2018 mendatang, dengan jumlah produksi gula dalam negeri mencapai produksi 3,2 juta ton. (CNN Indonesia)

Untuk mendukung kebijakan pemerintah yang menargetkan swasembada gula tahun 2018, PTPN XI Sebagai Corporasi dibawah naungan kementerian BUMN wajib  mendukung  tercapainya swasembada gula yang di targetkan pemeritah, dengan cara membangun perusahaan yang mandiri, tangguh dan memiliki daya tahan kuat di tengah-tengah persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN(MEA).

Untuk menjadi perusahaan mandiri, tangguh dan memiliki daya tahan yang kuat perusahaan harus mengambil langkah-langkah yang antara lain merubah ketergantungan menjadi suatu kemandirian, dan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada dengan cara meningkatkan nilai guna serta meningkatkan produktfitas dan efisensi perusahaan.

Membangun kemandirian

Pada dasarnya kita semua mengawali hidup dengan ketergantungan,apakah itu kepada orang tua kita atau orang lain dalam mendapatkan apa yang kita butuhkan, lalu secara bertahap kita dapat mengerti apa yang kita butuhkan, lalu  mengetahui cara mendapatkannya dan  kemudian tahu bagaimana memanfaatkan apa yang kita inginkan.Dengan kata lain, kisah hidup kita mengambarkan pergerakan kita dari ketergantungan menjadi mandiri .

Begitu pula dengan keadaan perusahaan saat ini,mungkin saat ini perusahaan dalam menjalankan usahanya masih ada ketergantungan dengan pihak lain,Namun seiring dengan waktu perusahaan harus mulai dapat memenuhi kebutuhan sendiri walaupun ketergantungan pada pihak lain masih ada namun tidak berarti bergantung sepenuhnya. Sudah saatnya membangun kemandirian perusahaan kembali demi untuk menjadi perusahan yang mandiri, tangguh dan memiliki daya tahan yang tinggi.

Membangun Kemandirian Bahan Baku.

Bahan baku dalam memegang peranan sangat vital dalam suatu proses produksi.Seperti di PTPN XI  tidak semua unit usaha memliki lahan HGU sendiri, di unit usaha yang tidak memiliki HGU sendiri sering mengalami kesulitaan untuk mencukupi bahan baku,sehinga sering terjadi masalah yg menyebabkan kerugian perusahaan.

Di PG.Soedhono misalnya, untuk musim giling tahun 2016 hanya memiliki Tebu sendiri (TS) dengan luas 400 ha dengan target produksi bahan baku 850 Kui/ha, sedangkan kapasitas giling PG.Soedono adalah 1000 Kui/jam, dengan jumlah lahan TS diatas maka tebu milik sendiri akan habis digiling selama 340 jam atau  kurang lebih 15 hari. sedangkan musim giling 2016 menargetkan 2880 jam /120 hari giling, hanya menenuhi 12,5% dari bahan baku yang di butuhkan sampai selesai giling,Untuk memenuhi kekurangan sisa bahan baku  perusahaan hanya mengandalkan pasokan dari petani tebu.

Memang tidak dipungkiri bahan baku milik sendiri (Tebu TS) sering mengakibatkan kerugian perusahaan dengan berbagai alasan, tapi ironisnya belakangan ini bahan baku yang di hasilkan APTR yang notabennya bianaan perusahaan justru lebih bagus dan bisa mencapai target.Mungkin hal tersebut di atas menjadi bahan pertimbangan kantor direksi mengambil kebijakan mengurangi atau membatasi sewa lahan karena tebu milik sendiri (TS) sering tidak mecapai target produksi sehingga mengakibatkan kerugian perusahaan.

Kebijakan pengurangan atau pembatasan sewa lahan untuk penyediaan bahan baku milik sendiri sebenarnya bukan solusi terbaik karena kedepannya akan berdampak kurang baik bagi perusahaan, perusahaan akan mengalami kesulitan bahan baku dan akan mengalami  ketergantungan bahan baku kepada pihak lain.Masih ada solusi lain untuk mengatasi kerugian akibat penyediaan bahan baku milik sendiri yaitu: perlu adanya suatu Badan independen dari perusahaan di semua unit usaha yang berisikan orang yang kredibel,jujur,dan berani. Badan independen tesebut harus berasal dari luar penyedia bahan baku dan bertanggung jawab langsung kepada direksi.Badan tersebut di beri kewenangan langsung untuk mengawasi penyedia bahan baku, dan diberikan kewenangan untuk memberikan sangsi berat kepada siapa saja yang melakukan penyimpangan tanpa pandang bulu,  sehingga dapat memberi efek jera.

Badan tersebut juga diberi kewenangan untuk menetapkan target produksi dan aturan lainya kepada penyedia bahan baku.Misalnya membuat fakta integritas yang intinya  jumlah biaya yang dikeluarkan dari sewa lahan sampai menjadi bahan baku perusahaan harus mencapai target tertentu, bagi yang tidak memenui target  harus mengembalikan, bukan hanya biaya garap yang dikembalikan, tapi nilai difisit target yang tidak tercapai yang harus dikembalikan.Sebaliknya bagi yang mencapai target, akan di berikan rewad atau penghargaan berupa bonus khusus atau berupa penghargaan yang lainya.

Misalnya, seorang penyedia bahan baku (KKW) memiliki lahan garap 10 ha dengan target 850 ton total biaya  garap di tambah biaya sewa lahan sebesar Rp 250 juta. Ternyata dalam realisasi dari 10 ha lahan tersebut hanya menghasilkan 750 ton, sehingga jumlah hasil mengalami difisit 100 ton dari target yang di rencanakan. Maka KKW tersebut wajib memenuhi difisit tersebut atau mengambalikan nilai nominal dari deficit target bahan baku, seumpama harga tebu yang berlaku Rp 450.000/ton, yang harus di  kembalikan KKW tersebut adalah Rp 45 juta.

Sebaliknya bagi yang melebihi target, misalnya dari 10 ha lahan dengan total target 850 ton ternyata realisasi mendapat 1000 ton maka ada surplus hasil sebesar 150 ton, dari surplus hasil  tersebut perusahaan dapat memberikan bonus / rewad sekian persen dari surplus tersebut.Dengan cara demikian  akan mimicu semangat kerja dan kompetisi antar penyedia bahan baku dan cara ini dapat minimalisir terjadinya penyimpangan.

Untuk mencapai swasembada gula tidak mungkin tanpa adanya peningkatan produksi, peningkatan produksi sangat tidak mungkin tercapai tanpa adanya bahan baku yang cukup.Untuk itu perusahaan harus menambah area kebun milik sendiri (TS) secara bertahap dan berkelanjutan serta dengan pengawasan yang ketat, sehingga sedikit demi sedikit ketergantungan bahan baku pada pihak ketiga dapat dikurangi, yang akirnya akan mampu mewujudkan kemandirian bahan baku untuk mendukung swasembada gula yang di targetkan pemerintah.

Kemandirian Marketing

Marketing adalah ujung tombak perusahan, berhasil dan tidaknya, bertahaan dan tidaknya suatu perusahaan tergantung pada pemasaran atau marketingnya.Sebuah perusahaan bisa saja memproduksi barang sebanyak apapun, dengan kwalitas sebagus apapun akan percuma jika tidak di imbangi dengan sistem pemasaran yang bangus dan handal.Apalagi menggantungkan pemasaran produknya ke pihak lain,  perusahan tersebut tidak akan dapat menikmati hasil maksimal dari apa yang di produksinya.

Harga gula yang cenderung fluktuatif, namun keuntungan tersebut tidak bisa di nikmati di kerenakan pemegang kendali marketing bukan perusahaan melainkan broker. Hal ini di sebabkan karena selama ini PTPN XI memakai jalur lelang untuk memasarkan gulanya.Sudah saatnya sistem pemasaran atau penjualan melalui lelang harus dirubah dengan cara membangun kemandirian marketing yaitu perusahaan bukan hanya sebagai pembuat produk tetapi juga sebagai sebagai pelaku pasar yang aktif dalam proses distribusi produk gulanya sampai ke tangan konsumen, dengan demikian perusahaan tidak bergantung kepada pihak lain broker atau pedadang besar dalam memasarkan produknya.

Kemandiran marketing tersebut tidak dapat dicapai jika broker tidak dihilangkan dari mata rantai distribusi gula dan diganti dengan sales marketing dari perusahaan sendiri.dengan cara ini profit dari proses distribusi gula dari perusahan ke konsumen dapat dinikmati sendiri oleh perusahaan, bukan broker.

Misalnya  satu unit usaha di patok untuk memasarkan 50% dari total produk yang dihasilkan.Contoh sebuah unit usaha dengan total jumlah  produksi gula dalam satu musim giling adalah 180.000 kwintal, jika selisih harga jual di tingkat grosir dengan harga lelang Rp 500 /kg, tambahan  laba kotor yang diperoleh  unit usaha adalah RP 4,5 Milyard.

Keuntungan juga bisa lebih optimal jika  masuk dalam di segmen ritel.Produk di buat kemasan 1 kg, seperti brand Gulapas, Gulaku dsb.Saat ini selisih harga gula  dari tingkat grosir ke tingkat pengacer rata rata Rp 300,-s/d Rp500,-/kg dan ini adalah salah satu peluang untuk mendapatkan profit yang lebih.Dengan mengunakan sistem Sales delivery atau sistem pemasaran jemput bola ke tingkat pengecer (toko/minimarket), nilai tambah atau keuntungan yang di dapatkan akan lebih besar,

Yang paling penting dari kemandirian marketing adalah perusahaan akan mendapat jaminan pasar terhadap produk yang dihasilkan.Selain itu manfaat tambahannya adalah dapat membuka lapangan kerja baru.

Upaya optimalisasi potensi industri gula

Selain membangun kemandirian  untuk meningkatkan daya saing perusahaan yang tak kalah penting  adalah meningkatkan optimalisasi seluruh potensi yang ada di perusahanan.

Sering kali perusahaan mengalami kesulitan keuangan hal ini di sebabkan karena kurangnya sumber pendapatan dikarenakan potensi yang ada di perusahaan belum di kelola secara optimal.Saat ini perusahaan hanya bergantung pada penjuaalan GKP saja, hal itu membuat keuntungan rendah, sementara produk turunan dari tebu lainya belum dapat di optimalkan, seperti tetes(molase), blotong (fiter cake) dan ampas jika dapat dikelola sendiri secara optimal, maka akan menghasilkan nilai tambah yang memiliki nilai ekonomis tinggi, dan nantinya akan menghasilkan profit yang tidak sedikit untuk mengembangkan perusahaan.

Tetes atau molase adalah sisa atau bisa di sebut juga limbah dari proses pembuatan GKP.Tetes yang dihasilkan sementara ini di jual langsung ke pihak ketiga seperti PT.Molindo, PT.Cheil jedang dll, untuk digunakan  sebagai bahan baku produk mereka.

Sementara PTPN XI hanya memiliki 1 prabrik pengolahan tetes yaitu Pasa Jatiroto yang memproduksi bio Etanol dengan kapasitas produksi lebih kurang 15.000 L/hari.

Sedangkan di wilayah unit usaha  yang lain seperti wilayah Madiun belum ada pabrik pengolahan  molase.Jika di wilayah barat PTPN XI membangun pabrik dengan kapasitas 50 kl/hari saja, dengan bahan baku tetes yang berasal dari seluruh pabrik gula di wilayah barat, yaitu PG.Pagotan, PG.Soedhono, PG.Poerwodadie, PG Redjosarie dan PG.Kanigoro, perusahan akan mendapat tambahan pendapatan yang tidak sedikit.Harga bio etanol saat ini kisaran Rp8.000/liter dengan kapasitas 50.000 liter/hari, maka tambahan pendapatan kotor perusahan sekitar 120 milyar per tahun,bukan hanya bio etanol saja yang dihasilkan dari pabrik pengolahan molase, limbah dari proses pembuatan bio etahol dapat disulap menjadi pupuk organik cair dengan kadar kalium tinggi dengan harga di pasaran cukup tinggi.

Selain itu juga pabrik bio etanol juga dapat menghasilkan CO2 yang digunakan untuk Dry Ice atau penyimpanan ikan segar.Permintaan pasar akan CO2 cukup bagus dengan harga sekitar Rp 2.000/kg.ini adalah peluang yang sangat bagus yang dapat mendatangkan keuntungan yang besar bagi perusahaan.

Blotong/Filter Cake

Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira kotor pada proses pemurnian nira yang di saring di rotary vacuum filter, limbah Blotong dapat digunakan langsung sebagai pupuk, karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanah.

Pembatasan pupuk bersubsidi dan program pemerintah GO Organic di sektor pertanian.Melalui departemen pertanian dan agen resmi pupuk pemerintah mewajibkan setiap petani yang membeli pupuk kimia bersubsidi harus satu paket dengan pupuk organik, inilah peluang yang sangat bagus untuk mendapatkan profit dari limbah padat blotong yang selama ini belum maksimal bahkan terbengkalai. Harga pupuk organik padat di sampai ke tangan petani adalah Rp.20.000,-/40 kg .

Dalan hal pemasaran pupuk organik, perusahaan bisa bekerja sama dengan perusahan lain yang memegang otoritas pupuk organik di Jawa timur yaitu Petro Kimia Gresik dengan brand Petroganiknya.Dengan berkerjasama dengan perusahaan lain diharapkan pemasaran produk pupuk organik tidak akan mengalami kesulitan.

Selain pupuk organik blotong juga bisa di manfaatkan sebagai pakan ternak dalam bentuk pelet, ini dapat di lakukan setelah unsur tanah pada blotong dipisahakan.Didalam blotong mengandung bahan organik, mineral, protein kasar dan gula, yang baik untuk ternak terutama sapi.(sumber: Pedoman Teknis Pengembangan Usaha Integrasi Ternak Sapi dan Tanaman Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan, Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, 2010

Ampas tebu

Ampas atau Bagase adalah limbah tebu yang memiliki nilai ekonomis yang sangat bagus.Ampas tebu dapat digunakan sebagai cellulose pulp sebagai bahan baku pembuatan kertas dan bahan baku pembuatan particle board.

Namun sekarang ini ampas tebu masih hanya di gunakan untuk bahan bakar ketel, seperti di PG.Soedhono misalnya, setiap tahun bahan bakar selalu kurang, hal ini di sebabkan masalah klasik yaitu kekurangan bahan baku,dengan kapasitas giling rata-rata sekarang ini 23000-25000 kwt / hari.Ampas yang di hasil giling hanya cukup untuk bahan bakar saja.Jika perusahan bisa menaikan kapasitas produksi rata 30.000 kwt/per hari maka hasil ampas akan melimpah dan ampas yang di hasikan akan mendatangkan keuntungan yang cukup besar bagi perusahaan jika di kelola dengan baik.

Meningkatkan Produktfitas Dan Efisensi

Untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi perlu adanya terobosan-terobosan dan inovasi dalam proses produksi antara lain dengan memanfaatkan teknologi mekanisasi dan otomatsasi.Mekanisasi dalam industri gula pada saat ini sangat di perlukan dan merupakan sesuatu hal yang urgent.Hal ini dikarenakan sulitnya mencari tenaga  manusia baik saat pembukaan lahan, perawatan, sampai  saat panen tebu, masalah kekurangan tenaga saat ini di sebabkan karena tidak ada regenerasi pekerja.Generasi muda saat ini lebih memilih menjadi pekerja urban dikota besar di banding menjadi pekerja di desa.Dengan minimnya tenaga maka secara otomatis upah untuk tenaga kerja akan jauh lebih mahal, selain itu sangat penting ketepatan waktu dalam penyelesaian proses pekerjaan di lapangan.

Seperti waktu panen tebu misalnya kekurangan tenaga tebang/panen dapat mengakibatkan kekurangan bahan baku di pabrik yang mengakibatkan giling berhenti, hal ini mengakibatkan kerugian baik financial maupun ifisiensi waktu.Apalagi di curah hujan masih tingginseperti sekarang ini, mobilitas bahan baku akan sangat terganggu di karenakan keadaan cuaca, dan mengakibatkan biaya panen melambung  sangat  tinggi yang di sebabkan penebang minta kompensasi dari situasi tersebut.

Kekurangan tenaga panen  juga sangat berpengaruh terhadap kwalitas dan kuantitas hasil dari bahan baku, misalnya tebu masak awal jika tidak dapat di tebang tepat waktu rendemennya akan turun, secara otomatis ini berakibat pada hasil.

Mekanisasi dan otomasisasi dapat menekan Harga Pokok Produksi (HPP) secara signifikan, misalkan di PG.Watoe Toelis tepatnya di kebun Jedong cangring, HPP sebelum penerapan mekanisasi sebesar Rp8.764,-/kg.Setelah menerapkan mekanisasi, HPP dapat ditekan menjadi Rp.6.866,- per kilogramnya (sumber:GresNews.com12/06/2015).

Selain itu di PG.Soedhono misalnya, tepatnya di stasiun puteran saat masih menggunakan mesin high grade manual, jumlah operator per shif sejumlah manual 20 orang, namun setelah adanya mesin otomatis High Grade RRI jumlah operator menjadi 2 orang per shif.Selain lebih efisien tenaga dan waktu, kwaliatas produck yang di hasilkan mempunyai mutu lebih bagus dari pada mesin manual.

Dengan mekanisasi dan otomatisasi Harga Pokok Produksi akan dapat di tekan, dengan demikan  semuanya akan mendapatkan untung. Pabrik untung, petani untung, dengan demikian akan memicu gairah untuk menanam tebu kembali yang akhirnya akan bisa membawa dampak positif  yaitu meningkatnya produksi di industri gula.

 

Penulis: Sutopo (karyawan PG Soedhono-Ngawi)

Pemenang I Lomba Tulis Jurnalistik 2016

Read More

Perkuat pengawasan Holding PTPN tempatkan komisaris independen

Post at Wednesday, 07 September 2016 , Comment

SURABAYA (07/09/2016) Direktur Utama PTPN III Holding (Persero), E Massa Manik merampingkan jumlah komisaris PTPN I-XIV dari sebelumnya 62 orang menjadi 41 orang. "Perombakan jajaran Dewan Komisaris menitikberatkan pada penegakan tata kelola perusahaan (GCG) dengan menempatkan komisaris independen untuk lebih memperkuat efektivitas pengawasan perusahaan," kata Massa Manik, di sela Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jajaran Baru Komisaris PTPN I, II, IV hingga PTPN XIV, di Jakarta, Senin. Dari 13 anggota komisaris yang baru diangkat, sebanyak tujuh orang di antaranya adalah komisaris independen, empat komisaris utama, dan dua anggota komisaris. Sedangkan pada pengalihan tugas, dari 11 orang, sebanyak 6 orang anggota komisaris diubah tugasnya menjadi komisaris independen, 4 orang menjadi komisaris utama, dan 1 orang menjadi anggota komisaris. "Komisaris independen baik yang baru diangkat maupun yang dialihtugaskan berjumlah 13 orang dari total 24 orang komisaris baik yang baru diangkat maupun pengalihan," ujarnya. Komisaris bertanggungjawab mendorong penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik di dalam perusahaan melalui pemberdayaan dewan komisaris agar dapat melakukan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada jajaran direksi secara efektif dan lebih memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Komisaris independen yang baru diangkat adalah Rustam Efendy N (PTPN II), Osmar Tanjung (PTPN IV), Tonny Harisman Soetoro (PTPN VI), R Juniono Soehartjahjono S (PTPN VII), Antonius Harso Waluyo Witono (PTPN VIII), Arvan Rivaldy Raebion Siregar (PTPN X), dan Martinus Sembiring (PTPN XIII). Sementara itu, komisaris yang dialihkan tugasnya menjadi komisaris independen adalah Ari Maulana (PTPN I),  Ari Dwipayana (PTPN V), Bambang Risyanto (PTPN IX),  Nus Nuzulia Ishak (PTPN XII), dan Achmad Yahya (PTPN XIV), dan Fadhil Hasan (komisaris independen merangkap komisaris utama PTPN XI). Sedangkan komisaris utama yang baru adalah E Massa Manik (PTPN IV), Amrizal (PTPN V), Banun Harpini (PTPN VI), dan Agus Pakpahan (PTPN VII). Untuk komisaris yang dialihtugaskan menjadi komisaris utama adalah Karen Tambayong (PTPN VIII), Suharnomo (PTPN IX), Siswaluyo (PTPN XII), dan Ambo Ala (PTPN XIV). Holding PTPN III Holding (Persero) dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah No 72 Tahun 2014 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham PTPN III yang membawahi seluruh PTPN, mulai dari PTPN I hingga PTPN XIV. Komoditas utama yang dihasilkan adalah kelapa sawit, karet, teh, dan gula dengan total luas lahan mencapai 1,18 juta hektare, dengan total aset PTPN III Holding (Persero) per Juni 2016 mencapai Rp109 triliun. (Jo/Sumber:disini)

 

       

 

Read More

Antisipasi Iduladha, BUMN Perkebunan Jual 158.500 Ton Gula Ke Bulog

Post at Sunday, 21 August 2016 , Comment

SURABAYA (21/08/2016) Sejumlah BUMN produsen gula menjual sedikitnya 158.500 ton hasil produksi mereka kepada Bulog untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan menjelang Iduladha.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI Didik Prasetyo mengatakan perusahaannya menjual 50.000 ton gula kristal putih kepada Bulog.

"Harganya (jual) cukup murah, Rp10.900 per kg, karena diminta oleh Pak Jokowi agar harga di konsumen Rp12.500 per kg," katanya, Jumat (19/3/2016).

Dia menyebutkan PTPN X dan PTPN XI juga menjual 50.000 ton kepada Bulog. Sementara itu, PT Industri Gula Glenmore milik PTPN XII menjual 6.000 ton. Adapun PTPN IX hanya menjual 2.500 ton.

Pemerintah memerintahkan BUMN perkebunan untuk menjual seluruh produksi gula tahun ini kepada Bulog untuk menstabilkan harga bahan pemanis itu di tingkat konsumen. Harga gula sempat melesat ke posisi Rp16.000 per kg pertengahan tahun ini, level tertinggi sepanjang sejarah.

Adapun BUMN perkebunan menguasai 34% produksi gula nasional sebanyak 2,5 juta ton. Selebihnya merupakan milik petani tebu. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Gelar Aanwijzing di PG Djatiroto dan PG Assembagoes

Post at Monday, 22 August 2016 , Comment

SURABAYA (22/08/2016) Sebagai tahapan dalam proses pengadaan Pengembangan dan modernisasi PG Djatiroto dan PG Assembagoes, PTPN XI perusahaan agribisnis berbasis tebu yang mendapat PMN menggelar aanwijzing pada tanggal 18 hingga 19 Agustus 2016. Pemberian Penjelasan atau yang lebih dikenal dengan aanwijzing merupakan salah satu tahap dalam sebuah tender dalam memberikan penjelasan mengenai pasal-pasal dalam RKS atau Rencana Kerja dan Syarat-Syarat.

Aanwijzing paket A  PG Assembagoes diikuti oleh 6 peserta sedangkan Paket B PG Djatiroto diikuti oleh 7 peserta. Direktur Project PMN Aris Toharisman menyambut baik antusias peserta sehingga peserta yang lolos kualifikasi sejumlah 7 perusahaan. “ Dengan makin banyaknya peserta yang memenuhi syarat semakin kompetitif, memperoleh calon kontraktor yang benar-benar terpilih dari peserta yg kualified “, terangnya. Bahkan pihaknya mempersilahkan peserta untuk memanfaatkan waktu selama satu bulan kedepan untuk mengunjungi pabrik tersebut untuk lebih mengeksplore kondisi existing bila masih membutuhkan untuk membuat perencanaanyang lebih baik.

Peserta kegiatan ini adalah; Konsorsium WIKA-Barata, Hutama-Euroasiatic-Uttam kso, PT Rekayasa Industri-SS Engineers, Konsorsium Adhi Wahyu, Konsorsium PP-Ometraco, PT Multinas Indonesia dan Konsorsium Waskita ISS. Seleksi peserta dilakukan oleh Sugar Research Institue dan Quensland Institue yang digandeng oleh PT Aldaberta Indonesia selaku konsultan manajemen proyek (PMC). (Jo)

Read More

Ini Penjelasan Juri Lomba Penulisan Jurnalistik PTPN XI 2016

Post at Thursday, 18 August 2016 , Comment

SURABAYA (18/08/2016) Lomba Penulisan & Jurnalistik PTPN XI 2016 yang sukses diikuti ratusan peserta dari tiga kategori  (Jurnalis, Umum, Internal) telah diumumkan pemenangnya. Terdapat enam juara di masing-masing kategori (total 18 juara) yang seluruhnya – oleh dewan juri – dinilai sebagai karya tulis berkualitas dan excellent.

Lomba penulisan ini hanya dibatasi tiga tema utama, yakni Pertama: Peran Industri Berbasis Tebu dalam Perekonomian Nasional. Kedua: Peluang dan Tantangan Diversifikasi serta Hilirisasi Industri Berbasis Tebu, dan Ketiga: Menjamin Masa Depan Swasembada Pangan.

Lutfil Hakim, praktisi media yang bertindak sebagai anggota dewan juri mengatakan, hampir seluruh naskah peserta lomba menunjukkan pemahaman yang luas dan mendalam dari penulisnya terhadap aneka potensi maupun persoalan yang melekat pada industri pergulaan nasional.

Hampir semua naskah peserta lomba, kata Lutfil, bisa mendeskripsikan secara jelas dari hulu -  hilir mengenai dinamika industri pertebuan nasional, baik dari sisi potensi maupun aneka persoalan yang menyelimutinya.

“Bukan hanya naskah kategori jurnalis dan internal yang menarik, tapi naskah peserta umum pun mengkonfirmasikan pemahamannya yang luas terkait industri berbasis tebu. Bahkan tidak jarang muncul gagasan baru dan orisinil,” kata Lutfil yang juga wakil ketua PWI Jatim tersebut.

Terkait tema swasembada, meski ada beberapa naskah yang bernada pesimis, namun mayoritas peserta lomba optimistik pada saatnya target itu akan dicapai. Asal sejak dini direncanakan secara matang, baik sisi on farm maupun off farm, permodalan, political will, hingga kesungguhan seluruh stakeholder khususnya SDM PG (pabrik gula) di semua tingkatan.

Tidak sedikit naskah peserta lomba yang juga “menggugat” kesungguhan pemerintah dalam menggapai swasembada – dengan mereferensi sederet data mengenai sejumlah negara yang berhasil di sektor industri berbasis tebu – karena peran besar pemerintahnya.

Banyak juga naskah yang memberikan ide dan solusi jangka pendek terkait aneka persoalan yang dihadapi PG saat ini, mulai dari ketersediaan lahan tebu, skema relationship antara PG dan pemilik lahan, varietas, pupuk, produktivitas lahan, tradisi bertani, irigasi dan pengelolaan air, sistem tebangan, mekanisasi, hingga efisiensi dan optimalisasi kerja mesin PG.

Dari aspek mempertahankan dan memaksimalkan aset PG, banyak naskah yang menganjurkan diversifikasi , bukan hanya pada produk-produk yang sudah banyak dibahas (bahkan sudah dilaksanakan) seperti bioetanol, listrik, hingga blotong, tapi juga diversifikasi pada bahan gula non-tebu.

Khusus naskah peserta dari kalangan internal (pegawai PTPN XI) -, hampir seluruhnya deskriptif dan komprehensif terkait nasib industri gula berbasis tebu di masa mendatang. Juga banyak muncul ide baru terkait diversifikasi , swasembada, dan budidaya.  Menariknya masing-masing naskah dari kategori internal ini memiliki angle yang berbeda satu sama lainnya. “Hampir semua naskah rata-rata excellent. Ini membuktikan SDM di PTPN XI banyak yang berkualitas,” kata Lutfil. (Jo/Sumber: Disini)

Read More

“Semua naskah rata-rata excellent” Lomba Penulisan Jurnalistik PTPN XI 2016

Post at Tuesday, 16 August 2016 , Comment

SURABAYA (16/08/2016) Lomba Penulisan & Jurnalistik PTPN XI 2016 yang sukses diikuti ratusan peserta dari tiga kategori  (Jurnalis, Umum, Internal) telah diumumkan pemenangnya. Terdapat enam juara di masing-masing kategori (total 18 juara) yang seluruhnya – oleh dewan juri – dinilai sebagai karya tulis berkualitas dan excellent.

Lomba penulisan ini hanya dibatasi tiga thema utama, yakni Pertama: Peran Industri Berbasis Tebu dalam Perekonomian Nasional. Kedua: Peluang dan Tantangan Diversifikasi serta Hilirisasi Industri Berbasis Tebu, dan Ketiga: Menjamin Masa Depan Swasembada Pangan.

Lutfil Hakim, praktisi media yang bertindak sebagai anggota dwan juri mengatakan, hampir seluruh naskah peserta lomba menunjukkan pemahaman yang luas dan mendalam dari penulisnya terhadap aneka potensi maupun persoalan yang melekat pada industri pergulaan nasional.

Hampir semua naskah peserta lomba, kata Lutfil, bisa mendeskripsikan secara jelas dari hulu -  hilir mengenai dinamika industri pertebuan nasional, baik dari sisi potensi maupun aneka persoalan yang menyelimutinya.

“Bukan hanya naskah kategori jurnalis dan internal yang menarik, tapi naskah peserta umum pun mengkonfirmasikan pemahamannya yang luas terkait industri berbasis tebu. Bahkan tidak jarang muncul gagasan baru dan orisinil,” kata Lutfil yang juga wakil ketua PWI Jatim tersebut.

Terkait thema swasembada, meski ada beberapa naskah yang bernada pesimis, namun mayoritas peserta lomba optimistik pada saatnya target itu akan dicapai. Asal sejak dini direncanakan secara matang, baik sisi on farm maupun off farm, permodalan, political will, hingga kesungguhan seluruh stakeholder khususnya SDM PG (pabrik gula) di semua tingkatan.

Tidak sedikit naskah peserta lomba yang juga “menggugat” kesungguhan pemerintah dalam menggapai swasembada – dengan mereferensi sederet data mengenai sejumlah negara yang berhasil di sektor industri berbasis tebu – karena peran besar pemerintahnya.

Banyak juga naskah yang memberikan ide dan solusi jangka pendek terkait aneka persoalan yang dihadapi PG saat ini, mulai dari ketersediaan lahan tebu, skema relationship antara PG dan pemilik lahan, varietas, pupuk, produktivitas lahan, tradisi bertani, irigasi dan pengelolaan air, sistem tebangan, mekanisasi, hingga efisiensi dan optimalisasi kerja mesin PG.

Dari aspek mempertahankan dan memaksimalkan aset PG, banyak naskah yang menganjurkan diversifikasi , bukan hanya pada produk-produk yang sudah banyak dibahas (bahkan sudah dilaksanakan) seperti bioetanol, listrik, hingga blotong, tapi juga diversifikasi pada bahan gula non-tebu.

Khusus naskah peserta dari kalangan internal (pegawai PTPN XI) -, hampir seluruhnya deskriptif dan komprehensif terkait nasib industri gula berbasis tebu di masa mendatang. Juga banyak muncul ide baru terkait diversifikasi , swasembada, dan budidaya.  Menariknya masing-masing naskah dari kategori internal ini memiliki angle yang berbeda satu sama lainnya. “Hampir semua naskah rata-rata excellent. Ini membuktikan SDM di PTPN XI banyak yang berkualitas,” kata Lutfil.

Berikut daftar pemenang dari hasil penjurian lomba penulisan & jurnalistik PTPN XI 2016 :

KATEGORI UMUM Juara I - JUDUL: Diversifikasi  produk non-gula industri berbasis tebu:peluang, tantangan dan strategi (Subiyakto S) Juara II - JUDUL: Menuju kembali masa kejayaan industry gula Indonesia ( Azmi Khusaini ) Juara III - JUDUL: Gula Untuk Masa Depan Pangan (Khavilana Wifandani Pratama)

Harapan 1 - JUDUL: Jurus Pamungkas untuk swasembada gula (Bayu Setiawan) Harapan 2 - JUDUL: Transmigrasi produksi gula: pemanfaatan lahan gambut menjadi lahan perkebunan tebu guna mendukung terciptanya swasembada gula nasional (Samsul Bahri) Harapan 3 - JUDUL: Grab the Opportunity ! Memaksimalkan Manisnya potensi sang gula (Ferdian A Kurniawan)   KATEGORI INTERNAL Juara I – JUDUL: Membangun kemandirian dan  optimalisasi potensi industri gula untuk menyukseskan swasembada gula (Sutopo) Juara II – JUDUL: Data mining untuk analisis prilaku petani berdasarkan data kebun petani sebagai upaya menuju ketahanan pangan dan swasembada gula nasional (Tsabbit Aqdami Mukhtar) Juara III – JUDUL: Pemberdayaan petani tebu rakyat jawa timur sebagai kunci utama percepatan swasembada gula nasional (Nanik Tri Ismadi)

Harapan 1 – JUDUL: Mendukung PTPN XI menjadi perusahaan agro-industri yang unggul di Indonesia melalui pembenahan pada On Farm (Dody Daud Wattie) Harapan 2 – JUDUL: Gula Energi, Sebuah Alternatif Difersifikasi (Chrisdiyanto Triwibowo) Harapan 3 – JUDUL: Upaya Kreatif Inovatif Industri Gula Dalam Mempercepat Swasembada Gula Di Indonesia (Dony Saputro) Harapan 4 – JUDUL: TABULAMPOT, upaya kreatif inovatif industri gula dalam mempercepat swasembada gula di Indonesia (Moh Effendy) Harapan 5 – JUDUL: Potensi Besar versus Dilema Regulasi (Endar Harry Yoko) Harapan 6 – JUDUL: Cluster Gula global (Nurman Fitrianto Rosyadi)

KATEGORI WARTAWAN Juara I – JUDUL: Membaca Masa Depan Industri Gula di Tanah Air penulis :Wahyu Kuncoro ( BHIRAWA ) Juara II – JUDUL: Janji Jokowi, Air Mata Rini, dan Mimpi Buruk yang Berulang penulis : Oryza A Wirawan ( BERITAJATIM.com ) Juara III – JUDUL: Revitalisasi PG Tak Bisa Ditawar dan Ciptakan Varietas Tebu Baru penulis : Zainal Ibad ( BHIRAWA )

Harapan 1 – JUDUL: Ampas tebu bisnis tumpuhan masa depan industri gula penulis : Agung Kusdyanto ( GLOBAL ENERGY ) Harapan 2 – JUDUL: Mendorong Diversifikasi Tebu untuk Energi Kuncinya Beri Insentif dan Tumbuhkan Pasar penulis : Hari Setiawan (RADAR JEMBER ) Harapan 3 – JUDUL: Panen "Emas" dari Ladang Tebu penulis : Aan Haryono ( Sindo )   Penyerahan hadiah Rabu  17 Agustus 2016, pukul 09:00, di acara peringatan HUT RI ke 71 di Kantor PTPN XI Jl Merak No 1 Surabaya.  Peserta dengan karya tulisnya yang masuk dalam nominasi juara sebagaimana tersebut diatas, dimohon kehadirannya dalam acara penyerahan hadiah tersebut. (Jo/sumber:disini)

Read More

Rangkaian HUT RI ke – 71 Tahun di Kantor Pusat PTPN XI

Post at Thursday, 18 August 2016 , Comment

SURABAYA (18/08/2016) Setiap tanggal 17 Agustus selain memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, terdapat beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan oleh PTPN XI, khususnya di lingkungan Kantor Pusat PTPN XI. Salah satu rangkaian acara tersebut antara lain adalah  pemberian penghargaan kepada seluruh karyawan tetap yang telah menjalani masa kerja minimal 20, 25, 30 dan 35 tahun. Penghargaan yang diberikan dalam bentuk piagam penghargaan, ang tunai dan emas 24 karat. Hal ini bertujuan untuk mengapresiasi dedikasi, loyalitas dan pengabdian yang diberikan kepada perusahaan.

Selain pemberian penghargaan terhadap karyawan, PTPN XI juga memberikan bantuan dana Bina Lingkungan untuk masyarakat sekitar Kantor Pusat. Sesuai dengan program “BUMN Hadir untuk Negeri” bantuan dana Bina Lingkungan tersebut diharapkan dapat bermanfaat sebagai bantuan renovasi rumah.

In House Keeping di lingkungan PTPN XI

 

Setiap perusahaan pasti mengharapkan suatu lingkungan kerja yang selalu bersih, rapi, dan masing – masing orang mempunyai konsistensi dan disiplin diri, sehingga mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi di perusahaan. Untuk mendukung hal tersebut, PTPN XI mengadakan lomba in house keeping di Kantor Pusat maupun Unit Kerja, dimana Pabrik Gula Semboro menjadi Juara Umum pada lomba in house keeping tahun 2016.

Lomba Jurnalistik

Untuk menggali potensi diri, setiap masyarakat Indonesia dalam menyumbangkan idenya khususnya terhadap Swasembada Gula, PTPN XI tahun 2016 mengadakan Lomba Penulisan Jurnalistik yang dibagi menjadi beberapa kategori yaitu kategori media, netizen dan internal. Tak kurang 134 karya tulis yang telah disumbangkan oleh para peserta. Sesuai dengan arahan Direktur Utama, Dolly P. Pulungan, “Melalui menulis kita bukan hanya menjaga, tapi juga meningkatkan kemampuan analitis untuk memecahkan persoalan industri gula nasional” harapannya melalui lomba penulisan ini akan lahir pemikiran dan ide kreatif yang dapat berguna untuk mengembangkan industri pergulaan Indonesia. Adapun daftar pemenang lomba penulisan jurnalistik antara lain:

Untuk kategori Umum :

Juara I,  judul tulisan : Diversifikasi  produk non-gula industri berbasis tebu:peluang, tantangan dan strategi, penulis : Subiyakto S

Juara II, judul tulisan : Menuju kembali masa kejayaan industry gula Indonesia, Azmi Khusaini

Juara III, judul tulisan : Gula Untuk Masa Depan Pangan, penulis : Khavilana Wifandani Pratama

Kategori Internal

Juara I, judul tulisan : Membangun kemandirian dan  optimalisasi potensi industri gula untuk menyukseskan swasembada gula, penulis : Sutopo

Juara II, judul tulisan : Data mining untuk analisis prilaku petani berdasarkan data kebun petani sebagai upaya menuju ketahanan pangan dan swasembada gula nasional, penulis : Tsabbit Aqdami Mukhtar

Juara III, judul tulisan : Pemberdayaan petani tebu rakyat jawa timur sebagai kunci utama percepatan swasembada gula nasional, penulis : Nanik Tri Ismadi

Untuk kategori Wartawan

Juara I, judul tulisan :Membaca Masa Depan Industri Gula di Tanah Air, penulis :Wahyu Kuncoro (BHIRAWA )

Juara II, judul tulisan : Janji Jokowi, Air Mata Rini, dan Mimpi Buruk yang Berulang, penulis : Oryza A Wirawan ( BERITAJATIM.com )

Juara III, judul tulisan : Revitalisasi PG Tak Bisa Ditawar dan Ciptakan Varietas Tebu Baru, penulis : Zainal Ibad ( BHIRAWA )

(sri/yns)

Read More

Upacara Peringatan HUT RI ke – 71 tahun di lingkungan PTPN Gula di Jawa Timur

Post at Thursday, 18 August 2016 , Comment

SURABAYA (18/08/2016) Upacara memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-71 dilingkungan BUMN Perkebunan di Surabaya  telah sukses digelar bersama pada tanggal 17 Agustus 2016 pukul 07.00 WIB. Bertempat di halaman PTPN XI dan diikuti oleh seluruh Direksi, para Karyawan dan Karyawati PTPN X, PTPN XI dan PTPN XII. upacara tersebut berlangsung dengan khidmat. Dengan tema “Indonesia Kerja Nyata” Subiyono Direktur Utama PTPN X selaku Inspektur Upacara menyampaikan bahwa sebagai perusahaan perkebunan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan regulasi pemerintah, khususnya dalam penetapan harga produk perkebunan maka seperti slogan yang selalu dijunjung oleh Presiden RI yakni ayo kerja nyata, semua insan perkebunan diharapkan dapat bekerja secara nyata, bekerja keras dan berani untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini dilakukan (sek/sri/yns).

Read More

Mengintip Potensi Wisata Pabrik Gula di Situbondo

Post at Friday, 12 August 2016 , Comment

SURABAYA (12/08/2016) Sebuah lokomotif uap terparkir di depan gedung tua di kompleks Pabrik Gula (PG) Olean, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (30/7/2016) sore. Meski sudah berusia puluhan tahun, lokomotif yang diberi nama "Semeru" itu masih terlihat bersih dan terawat. Dua gerbong terlihat menempel di belakang lokomotif. Dari bentuknya, gerbong tersebut nampaknya tidak digunakan untuk mengangkut tebu, karena dilengkapi tempat duduk penumpang. 

Misgianto, sang masinis, terlihat sedang menyiapkan potongan kayu untuk bahan bahan bakar mesin lokomotif karena esok hari wisatawan mancanegara akan menyewa lokomotif tersebut untuk berkeliling kebun tebu. Dibantu rekannya Rusmandono, Misgianto memeriksa satu persatu komponen lokomotif yang dilengkapi cerobong uap besar di bagian depannya itu.

"Lokomotif ini sudah sangat tua, lebih tua dari saya. Sama seperti orang tua, banyak penyakitnya," kata warga asli Desa Olean Tengah, Kecamatan Situbondo ini. Untuk menjalankan lokomotif uap tersebut, Misgianto harus mulai membakar kayu-kayu tersebut sejak pagi. Sebab, bahan bakar lokomotif harus dibakar setidaknya lima jam sebelumnya untuk memanaskan mesin.

"Kayunya harus kering semua, jika ada kayu yang basah, pembakaran bahan baku tidak akan maksimal," jelas bapak satu anak ini. Misgianto sudah 13 tahun bekerja di PG warisan kolonial yang kini dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI itu. Dia memiliki tanggung jawab mengoperasikan dan memelihara lokomotif yang sudah 10 tahun terakhir berubah fungsi dari pengangkut tebu menjadi sarana pengangkut wisatawan mancanegara yang berkunjung ke pabrik itu. Misgianto juga yang selalu menemani para wisatawan yang ingin berkeliling kebun tebu dengan lokomotif uap. "Hanya berkeliling ke kebun-kebun warga sambil berfoto, kadang sampai malam hari," tuturnya.

Sebenarnya PG Olean memiliki tiga lokomotif uap. Namun dua unit lainnya sudah tidak bisa dioperasikan karena kerusakan yang sudah terlalu parah akibat dimakan usia. Bangkai kedua lokomotif tua tersebut disimoan di dalam gudang lokomotif yang terletak di belakang pabrik. "Lagipula, pegawainya sudah banyak yang pensiun. Tidak semua bisa mengoperasikan lokomotif uap," tambah dia.

Sejak 10 tahun lalu, PG yang didirikan pemerintah Hindia Belanda pada 4 Agustus 1846 itu beralih menggunakan lokomotif diesel berbahan bakar solar untuk mengangkut tebu dari kebun. Satu-satunya lokomotif uap yang tersisa kemudian hanya digunakan untuk sarana wisata. Samuel Mahendra, seorang pegawai keuangan PG Olean menjelaskan, sebenarnya pabrik tidak menyediakan khusus lokomotif uap tersebut untuk wisata, hanya saja selalu ada permintaan dari wisatawan mancanegara meminjam lokomotif untuk berkeliling kebun tebu.

"Akhirnya kita pasang tarif Rp 2 juta untuk berkeliling kebun tebu dengan lokomotif uap," katanya. Tidak banyak memang turis yang menyewa lokomotif uap tersebut untuk sarana wisata di kebun tebu. Sejak awal 2016, tercatat hanya dua kunjungan wisata ke pabrik gula tersebut.

 

Lokasi strategis

 

 

 

 

(Achmad Faizal/KOMPAS.com Gudang tua penyimpanan lokomotif di Pabrik Gula Olean Situbondo)

 

 

Selama ini, semua pengunjung adalah wisatawan mancanegara khususnya dari Belanda. Mereka hanya ingin bernostalgia mengelilingi kebun tebu dengan lokomotif uap, dan berkeliling mengunjungi pabrik. "Mereka hanya bernostalgia, bahwa bangsanya dulu adalah pendiri pabrik gula dan berkeliling kebun tebu dengan kereta lokomotif uap," ujar Samuel.

Nantinya, kata Samuel, justru PG Olean akan dijadikan pusat "Workshop Maintenance". Karena PG Olean adalah pabrik gula yang kapasitasnya produksinya kecil, sehingga tenaga pegawainya difokuskan ke urusan perbaikan peralatan 17 PG milik PTPN XI. Kapasitas produksi PG Olean hanya 1.100 ton per hari, jauh dibanding PG besar lainnya seperti PG Jatiroto Lumajang yang mencapai 7.500 ton per hari. Produksi rata-rata gula setiap tahun mencapai total 3.500 ton, dan tetes tebu rata-rata 55 ton per tahun. 

Saat dikelola pemerintah Hindia Belanda, PG yang memiliki areal lahan tebu hanya 50 hektare itu bernama Venoot Schap Phaiton Olean. PG Olean terakhir menjadi milik Fa. Anemaet & Co. Saat Indonesia merdeka, kepemilikan pabrik diambil alih pemerintah Indonesia dengan nama Pusat Perkebunan Negara. PG Olean tercatat beberapa kali berganti nama seiring dinamika perkembangan politik dan pemerintahan Indonesia dan resmi dikelola PTPN XI sejak 11 Maret 1996. 

Lokasi PG Olean yang berada hanya 3 kilometer dari pusat kabupaten Situbondo di jalur pantau utara Jawa Timur, dinilai sangat strategis oleh kalangan perusahaan wisata. Lokasi tersebut berpotensi menjadi tujuan wisatawan dari Surabaya yang akan melancong ke Banyuwangi. "Rata-rata wisatawan mancanegara datang dari Surabaya, tujuannya ke Bromo, lalu ke Banyuwangi. Di PG Olean nanti bisa mampir, karena searah," kata Dyah Ayu Tisnawati, CEO Biro Perjalanan Wisata Bayu Citra Persada.

Dia menyambut baik jika PTPN XI mengembangkan PG Olean sebagai destinasi wisata pabrik gula, karena selama ini di Jawa Timur belum ada wisata semacam itu. "Syukur-syukur bisa melengkapi destinasi andalan wisatawan mancanegara yang ada selama ini selain Kawah Ijen, Gunung Bromo, dan Banyuwangi," ujarnya. 

Namun begitu kata dia, objek wisata pabrik gula Olean harus dikemas secara profesional dengan konsep yang jelas, dan tentu harus berbeda dengan destinasi wisata yang ada selama ini. "Selain sarana dan prasarana serta promosi yang menarik, sumber daya manusia pengelolanya juga harus disiapkan," kata dia.

 

Potensi masa depan

 

(Achmad Faizal/Kompas.com Lokomotif uap ini kerap digunakan para wisatawan mancanegara berkeliling pabrik tebu di Situbondo ini)

 

Potensi wisata agrobis dan "heritage" di PG Olean dianggap potensi bisnis masa depan PTPN XI dalam rangka diversifikasi usaha. Konsep wisata yang sama kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN XI, Aris Toharisman, juga diterapkan di PG Jatiroto di Kabupaten Lumajang. "Di PG Jatiroto, menaiki lokomotif untuk berkeliling kebun tebu mungkin lebih leluasa, karena lahan kebun tebu di sana milik perusahaan," katanya.

Diversifikasi usaha yang dimaksud adalah mengoptimalkan pendapatan perusahaan dari produk non-gula dalam rangka mengejar keuntungan perusahaan. Saat ini kata Aris, sedang dikembangkan produksi listrik dari ampas tebu di PG Jatiroto Lumajang dan Asembagus Situbondo yang akan dijual ke PT PLN. Diversifikasi yang sudah dilakukan dengan memanfaatkan produk hilir tebu di antaranya etanol, alkohol, dan spirtus. Upaya diversifikasi usaha tersebut juga untuk mempersiapkan PTPN XI yang akan menjadi perusahaan Go Publik pada 2017.

Tahun ini, perusahaan mengalokasikan dana Rp 1 triliun untuk diversifikasi usaha. Jumlah itu 10 kali lipat lebih banyak dari tahun sebelumnya. Meski begitu, hasil diversifikasi dinilai masih belum banyak menyumbang keuntungan bagi PTPN XI. "Masih di bawah Rp 1 triliun keuntungannya," papar Aris. 

Kementerian BUMN, sesuai arahan Presiden Jokowi, akhir-akhir ini menggalakkan diversifikasi pabrik gula dalam upaya swasembada gula 3-5 tahun ke depan serta untuk meningkatkan pendapatan petani. 

Diversifikasi usaha pabrik gula dinilai sangat penting jika industri gula di Indonesia masih ingin berkembang. "Jika hanya mengandalkan pendapatan dari gula tidak mungkin, karena gula adalah komoditas yang pergerakan harganya selalu diintervensi pemerintah," kata Menteri BUMN, Rini Soemarno, belum lama ini. Di luar negeri seperti Brasil, kata dia, pendapatan utama pabrik gula justru bukan dari produk gula, namun dari produk hilir seperti listrik dan sebagainya. (Jo/Sumber: disini)

Read More

Indonesia Pasti Bisa Swasembada Gula

Post at Friday, 12 August 2016 , Comment

SURABAYA (12/08/2016) Komisaris Independen PTPN XI, Dedy Mawardi meyakini Indonesia akan segera mampu swasembada gula. Menurutnya, pemerintah sudah menempuh langkah tepat untuk memperkuat industri gula nasional demi kepentingan dalam negeri.

Dedy mengatakan, arahan Presiden Joko Widodo agar Indonesia menghentikan importasi gula sudah ditindaklanjuti Kementerian BUMN dengan merevitalisasi 62 pabrik gula. Khusus PTPN XI, ada dua pabrik gula yang direvitalisasi dengan alat-alat produksi yang modern, yakni PG Djatiroto dan Asembagus.

Selain itu, kata Dedy, saat ini PTPN XI juga sedang menuntaskan pembangunan PG Glenmore di Banyuwangi. “Pabrik di Glenmore ini merupakan yang terbaru setelah selama 31 tahun Kementerian BUMN tidak membangun pabrik gula,” ujar Dedy melalui rilisnya ke media, Kamis (4/8).

Ia menjelaskan, PG Glenmore menyedot investasi hingga Rp 1,5 triliun yang bersumber dari kredit perbankan. Pabrik yang dikelola oleh konsorsium PTPN XII dan PTPN XI memiliki kapasitas giling hingga 150-160 ton per hektare per hari. “Jadi akan menghasilkan 58 ton gula siap konsumsi per hari,” katanya.

Lebih lanjut Dedy mengatakan, kini ada sinergi antar-BUMN untuk memperkuat industri gula. Karenanya, gula dari PTPN dan PR Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) tidak boleh lagi dijual ke pedagang, tetapi ke Perum Bulog.

“Kebijakan ini untuk menstabilkan harga gula serta memukul para mafia gula yang selama ini memainkan harga gula seenaknya,” tegasnya.

Ia menambahkan, problem utama pabrik gula BUMN selama ini adalah minimnya lahan untuk perkebunan tebu. Namun, kimitmen kuat Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan swasembada gula membuat kendala itu lebih mudah teratasi.

“Kebijakan di sektor gula yang sudah jitu dan on the track itu akan lebih sempurna lagi jika Presiden Jokowi mengeluarkan aturan hukum yang menjamin ketersediaan lahan untuk perkebunan gula yang dikelola oleh BUMN,” tegasnya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Soekarwo Pastikan Harga Gula Kembali Normal

Post at Friday, 29 July 2016 , Comment

SURABAYA (29/07/2016) Menurut Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengatakan bahwa setelah mencermati hanya gula yang terus naik, pihaknya telah meminta sejumlah pihak untuk melakukan kajian, perlunya dilakukan efisiensi harga gula. Hasilnya, didapat rumusan dan langkah yang akan dilakukan untuk stabilisasi dan menurunkan harga gula. Rumusan tersebut juga sudah diteken Pangdam dan Polda. Ditargetkan harga gula akan kembali normal menjadi Rp 12.000 atau dibawahnya. Patokan penurunan harga ke Rp 12.000 tersebut sesuai dengan instruksi dari Presiden Jokowi. Ini berarti, akan ada penurunan harga gula sebesar Rp 5.000 dari harga saat ini, Rp 17.000.

Soekarwo juga menambahkan, agar harga gula kembali normal adalah dengan mengecilkan margin keuntungan yang didapat dan memangkas tata niaga suplai gula di Jatim serta menggelar operasi pasar gula secara besar-besaran. Semua stok gula sebanyak 21.000 ton yang ada di Jatim akan dikeluarkan. Baik gula yang ada di gudang milik para pengusaha, dan PTPN XI. (Jo/Sumber:disni)

Read More

Kebijakan Komprehensif Disiapkan

Post at Friday, 29 July 2016 , Comment

SURABAYA (29/07/2016) Pemerintah akan menyiapkan kebijakan pangan yang lebih komprehensif untuk menjaga stabilitas harga komoditas pokok, seperti beras, daging sapi, gula pasir, dan jagung yang masih dirasakan terlalu tinggi seusai Lebaran. "Presiden menargetkan dalam tiga bulan ke depan, (strategi) kebijakan pangan dapat dijalankan. Ini nanti akan kita bahas lebih lanjut," kata Darmin di Jakarta, Selasa (26/7). Darmin memberi perhatian pada harga gula pasir yang saat ini berada pada kisaran Rp 16 ribu per kilogram atau masih terlalu tinggi meski pasokan di tingkat global sedang menurun akibat perubahan musim yang menurunkan angka produksi. Untuk itu, Bulog diharapkan mampu meningkatkan pasokan melalui pembelian dari pabrik-pabrik gula dan menambah kuota impor bila diperlukan. Tujuannya agar harga gula dalam negeri terjamin atau berada pada kisaran Rp 12.500 per kilogram pada akhir tahun. "Kita perlu me-review lagi situasi (harga) pangan. Sekarang masih agak tinggi, daging, bawang, dan gula. Sementara, beras lebih stabil," kata Darmin. Pemerintah akan mengimpor gula sebanyak 114 ribu ton. Gula impor tersebut diharapkan masuk pada bulan depan. Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro, mengatakan, gula impor ini akan didatangkan oleh beberapa BUMN, seperti PTPN IX, X, XI, dan RNI. Kata Wahyu, gula impor didatangkan dari Australia, Brasil, dan Afrika. "Asumsinya Agustus pertengahan masuk (gula impor), kalau dari Australia kan tiga mingguan. Sekarang sudah proses realisasi," ujarnya. Wahyu mengatakan, total kuota impor gula hingga akhir tahun sebesar 381 ribu ton. Kuota tersebut akan direalisasikan setelah kuota 114 ribu ton yang merupakan tahap pertama ini telah terealisasi sepenuhnya. Menurut Wahyu, langkah pemerintah mengimpor gula ini untuk menekan harga di pasaran. Terkait upaya stabilisasi harga daging sapi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah menerbitkan Permentan Nomor 34 Tahun 2016 sebagai pengganti Permentan Nomor 58 Tahun 2015 tentang pemasukan karkas, daging, dan olahannya. Peraturan baru tersebut mengizinkan adanya impor potongan daging secondary cut dan jeroan kepada BUMN serta swasta, dan menghilangkan periodisasi impor. Menurut Amran, upaya ini ditempuh untuk memenuhi kebutuhan pasokan daging sapi dalam negeri hingga akhir tahun. Apalagi, harga daging dari bakalan dan feedlot cukup tinggi di pasaran. "Harapannya, pakan untuk rakyat (jadi lebih) murah," ujar Amran. Amran juga menjamin kelayakan daging impor dan telah melalui pemeriksaan oleh Badan Karantina. Menurut estimasi Kementerian Pertanian dan BPS, pasokan daging sapi pada akhir tahun akan mengalami surplus 35 ribu ton karena permintaan daging sapi periode Agustus hingga Desember 2016 mencapai 269 ribu ton. Dengan begitu, total persediaan mencapai 304 ribu ton. Proyeksi itu termasuk penghitungan pemenuhan sapi kurban untuk Hari Raya Idul Adha. Berdasarkan estimasi pada 2015, kebutuhannya mencapai 300 ribu ekor sapi.(Jo/Sumber:Disini)

Read More

PT RNI dan PTPN Diminta Percepat Realisasi Impor 114.000 Ton "Raw Sugar"

Post at Friday, 29 July 2016 , Comment

SURABAYA (29/07/2016) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto meminta badan usaha milik negara (BUMN) yang sudah menerima mandat mengimpor raw sugar, untuk segera merealisasikan rekomendasi yang sudah dikeluarkan Kemenperin.

Rekomendasi impor raw sugar atau gula mentah sebanyak 114.000 ton sebelumnya telah dikeluarkan Kemenperin untuk lima BUMN, yakni PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, dan PTPN XII.

Panggah mengatakan, salah satu upaya untuk menurunkan harga gula pasir yang saat ini menembus Rp 16.000 per kilogram (kg) adalah dengan menambah pasokan.

"Ya rekomendasi yang sudah kita keluarkan itu segera direalisasikan. Ini belum banyak yang terealisasi," kata Panggah ditemui seusai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (26/7/2016).

Memang diakui Panggah, saat ini sangat susah untuk mencari pasokan raw sugar dikarenakan produksi dunia menurun akibat perubahan iklim La Nina.

Negara-negara pemasok raw sugar, seperti Thailand dan Brasil, pun mengalami penurunan produksi.

Akibatnya, harga raw sugar juga meningkat 25-28 persen per tonnya.

Karena itu, Panggah berharap agar BUMN yang sudah mengantongi rekomendasi impor bisa merealisasikannya sebelum September 2016.

"Tadi kan Pak Menko berharap agar harga gula pasir ini bisa Rp 12.500 per kg pada akhir tahun," pungkas Panggah. (Jo/Sumber: disini)

Read More

Gula Impor Masuk Pertengahan Agustus

Post at Friday, 29 July 2016 , Comment

SURABAYA (29/07/2016) Pemerintah akan mengimpor gula sebanyak 114 ribu ton. Gula impor tersebut diharapkan masuk pada bulan depan. Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro, mengatakan gula impor ini akan didatangkan oleh beberapa BUMN seperti PTPN IX, PTPN X, PTPN XI dan RNI. Wahyu mengatakan gula impor didatangkan dari Australia, Brasil dan Afrika. "Asumsinya Agustus pertengahan masuk (gula impor), kalau dari Australia kan tiga mingguan. Sekarang sudah proses realisasi," kata Wahyu di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Selasa (26/7). Wahyu mengatakan, total kuota impor gula hingga akhir tahun sebesar 381 ribu ton. Kuota tersebut akan direalisasikan setelah kuota 114 ribu ton yang merupakan tahap pertama ini telah terealisasi sepenuhnya. Menurut dia, langkah pemerintah mengimpor gula ini untuk menekan harga di pasaran. "Pemerintah ingin harga gula tidak lebih dari Rp 12.500 per kg," ujarnya. (Jo/sumber: disini)

Read More

PTPN XI Gelar Lomba Karya Tulis Berhadiah Total Puluhan Juta Rupiah

Post at Tuesday, 12 July 2016 , Comment

SURABAYA (12/07/2016) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI menyelenggarakan lomba karya tulis untuk jurnalis, mahasiswa, netizen, maupun umum.

Untuk kategori wartawan dan netizen, pilihan temanya, “Peran Industri Berbasis Tebu dalam Perekonomian Nasional dan Percepatan Pertumbuhan Ekonomi”.

Selain itu, “Peluang dan Tantangan Diversifikasi serta Hilirisasi Industri Berbasis Tebu”, dan “Menjamin Masa Depan Swasembada Pangan dan Energi Melalui Revitalisasi Industri Gula”.

Ketentuannya, naskah yang dilombakan berbentuk hard news, feature, atau model penulisan jurnalistik lainnya.

Peserta adalah wartawan media massa, baik cetak maupun online yang terdaftar di dewan pers atau berbadan hukum.

Karya tulis yang dilombakan harus sudah dimuat di media massa pada periode 1 Januari hingga 1 Agustus 2016.

Semua karya tulis harus asli, bukan saduran, dan bukan karya terjemahan. Karya tulis boleh dikerjakan secara individu maupun tim.

Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya tulis. Seluruh karya tulis yang masuk menjadi hak PTPN XI dan bisa dipergunakan untuk kepentingan PTPN XI dengan tetap mencantumkan sumbernya.

Naskah wajib dikirimkan dalam bentuk hard copy ke alamat panitia dan soft copy melalui surat elektronic (e-mail). Bukti pemuatan berupa kliping wajib disertakan dalam pengiriman naskah.

Untuk media online wajib menyertakan  print screen, link, mention ke @ptpn11. Pengiriman naskah wajib dilampiri identitas (KTP/SIM) dan kartu pers. Tulisan opini tidak disarankan, namun tidak dilarang.

Sedangkan ketentuan kategori umum/ netizen, naskah yang dilombakan berbentuk tulisan opini dengan gaya bahasa ilmiah – populer.

Peserta lomba adalah Warga Negara Indonesia (WNI), baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri.

Tulisan yang dilombakan harus sudah dimuat di blog dan media sosial lainnya pada periode 1 Januari – 1 Agustus 2016.

Peserta wajib membagi tulisan atau link ke Facebook atau Twitter atau jaringan media sosial lainnya.

Karya tulis yang dilombakan harus asli, bukan saduran, dan bukan terjemahan. Panjang tulisan minimal 700 kata, dan dikerjakan secara individu.

Setiap peserta diperbolehkan mengirimkan lebih dari satu karya tulis. Karya tulis yang masuk menjadi hak PTPN XI dan bisa dipergunakan untuk kepentingan PTPN XI dengan tetap mencantumkan sumbernya.

Naskah wajib dikirimkan dalam bentuk hard copy ke alamat panitia dan soft copy melalui surat elektronik (e-mail).

Link di blog atau medsos yang memuat tulisan peserta wajib disertakan dalam pengiriman dengan Mention Twitter @ptpn11 dan dishare di fanpage facebook: ptpn11 dan Hastag #ptpn11 #swasembadagula

Pengiriman naskah wajib dilampiri identitas yang berlaku (KTP/SIM/Paspor). Naskah diterima paling lambat 1 Agustus 2016.

Hadiahnya, untuk kategori wartawan, Juara I Rp 10 juta, Juara II Rp 7,5 juta, Juara III Rp 5 juta, dan tiga juara harapan masing-masing Rp 2 juta.

Untuk kategori umum/netizen, Juara I Rp 8 juta, Juara II Rp 6 juta, Juara III Rp 4 juta, dan tiga juara harapan masing-masing Rp 2 juta.

Nama-nama pemenang lomba karya tulis ini akan diumumkan pada 15 Agustus 2016, sedangkan penyerahan hadiahnya pada 17 Agustus 2016. (Jo/Sumber:disini)

Read More

PTPN XI Akan Terbitkan Surat Utang

Post at Friday, 01 July 2016 , Comment

SURABAYA (01/07/2016) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI berencana menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) pada Agustus. "Kami akan menerbitkan MTN sebanyak Rp 300 miliar, bulan Juli sudah masuk," kata Direktur Utama PTPN XI Dolly Parlagutan Pulungan saat jumpa pers di Hotel Papilion, Rabu malam, 29 Juni 2016. Dolly mengatakan surat utang jangka menengah dipilih karena tak perlu menggunakan jaminan. "Cukup jaminan dari korporasi," ujarnya. Dolly merinci, perusahaannya membutuhkan total pendanaan Rp 4,3 triliun untuk 2019. Dana sebesar itu diproyeksikan untuk mengejar target produksi gula 3 juta ton. Setelah menerbitkan surat utang jangka menengah sebesar Rp 300 miliar, perusahaan akan menerbitkan surat obligasi sebanyak Rp 1 triliun pada 2018. Terhadap sisa kebutuhan Rp 3,3 triliun, PTPN XI menggunakan sumber pendanaan lain seperti perbankan dan penyertaan modal negara (PMN). "Dana sebesar itu kami akan pakai untuk investasi tujuh pabrik gula serta membangun co-generation (pabrik penghasil listrik) dan etanol guna menambah pendapatan," kata Dolly. Karena itu, dalam waktu dua tahun, pihaknya akan terus meningkatkan penjualan dan keuntungan sehingga layak menerbitkan obligasi. PTPN XI kini berfokus untuk meningkatkan peringkat (ranking) menjadi single A. "Target tahun depan A-, sehingga tahun 2018 bisa A+. Sekarang kami mencapai BBB+," ujarnya. PTPN XI memiliki 16 unit usaha pabrik gula yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Selain itu, korporasi memiliki satu unit usaha pabrik alkohol dan spiritus di Djatiroto, Kabupaten Lumajang, dan unit usaha pabrik karung plastik dan benang multifilament di Kabupaten Mojokerto. Memasuki musim giling, stok gula di PTPN XI hingga 23 Juni lalu mencapai 20.183 ton dengan rincian milik pabrik gula sebesar 3.371 ton, milik petani tebu rakyat 6.531 ton, dan milik pedagang 10.281 ton. (jo/Sumber:disini, berita serupa disini dan disini)

Read More

Buka Bersama, Direksi, Media dan Petani Tebu Rakyat

Post at Friday, 01 July 2016 , Comment

SURABAYA (01/07/2016) Jajaran Direksi PTPN XI menggelar pertemuan dengan awak media dan petani temu rakyat Rabu (29/06) lalu. Pertemuan yang dikemas dengan buka bersama ini dihadiri jajaran Direksi lengkap, awak media tulis, elektronik dan online serta para petani tebu rakyat yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PTPN XI.

Dalam pertemuan itu juga membahas isu-isu terkini mengenai pergulaan, terkait stok dan harga gula menjelang hari raya keagamaan. Petani menilai harga yang terbentuk saat ini masih tergolong wajar. “Kalau dilihat dari tingkat konsumsi masyarakat Indonesia per tahun yang mencapai sekitar 12 kilogram per kapita per tahun, harga gula konsumen yang sekarang ini tidak mahal,” ujar Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Pusat, Arum Sabil.

Sementara itu Dolly Parlagutan Pulungan menegaskan stok gula Jawa timur masih aman hingga lebaran, karena hampir semua pabrik gula sudah melakukan aktivitas giling sehingga hasil produksi bisa menutupi kebutuhan masyarakat.

Diharapkan pertemuan dengan media dan stakeholder ini mampu menjadi jembatan komunikasi antara korporasi sehingga infomasi menjadi berimbang dan valid. (Jo)

Read More

Stabilisasi Harga, PTPN XI Alokasikan 5.500 Ton Gula Ke Bulog

Post at Friday, 24 June 2016 , Comment

SURABAYA (24/06/2016) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mengalokasikan 5.500 ton gula kepada Bulog pada Ramadhan tahun ini guna ikut berperan membantu pemerintah dalam menstabilisasi harga gula yang melonjak saat ini. Direktur SDM dan Pemasaran PTPN XI, M. Cholidi mengatakan kondisi harga gula di pasaran saat ini memang cukup tinggi untuk itu sejumlah BUMN gula mengalokasikan produksi gulanya untuk dijual ke Bulog dengan harga Rp11.400/kg dan akan dijual oleh Bulog di level Rp13.000/kg, "Hanya saja untuk PTPN XI sendiri mengalokasikan gula sampai menjelang Lebaran atau 3 Juli 2016," katanya kepada Bisnis, Rabu (15/6/2016). Dia mengatakan alokasi tersebut bukan seluruh produksi gula perseroan tahun ini. Menurutnya harga gula yang tinggi saat ini diperkirakan hanya bersifat sementara atas kepanikan pasar yang terjadi. "Kami yakin setelah Lebaran ini pasar akan jenuh karena digencarkan operasi pasar oleh pemerintah. Kalau pasar sudah jenuh, harga gula akan kembali normal," imbuh Cholidi. Berdasarkan rencana pengalokasian gula BUMN untuk Bulog, total gula yang digelontorkan yakni 14.000 ton. Sebanyak 5.500 ton dari PTPN XI, 2.000 ton dari PTPN VII, 4.500 ton dari PTPN X, dan RNI sebanyak 2.000 ton. (Jo/Sumber:disini)

Read More

PTPN XI Nilai Raw Sugar Bantu Revitalisasi Pabrik

Post at Friday, 24 June 2016 , Comment

SURABAYA (24/06/2016) BUMN gula, PT Perkebunan Nusantara (PTPN XI) mengungkapkan impor raw sugar atau gula mentah memang cukup mendesak dilakukan guna memenuhi kapasitas menganggur (idle capacity) akibat kurangnya bahan baku tebu.   Direktur SDM dan Pemasaran PTPN XI, M Cholidi mengatakan untuk menggenjot produksi bahan baku tebu tersebut diperlukan cara untuk merangsang para petani agar mau menanam tebu berkualitas. Seperti merevitalisasi pabrik gula dan memberikan jaminan rendemen 8,5% bagi petani. Hanya saja, pemberian jaminan membayar hasil gula petani sesuai rendemen memang cukup berat bagi perseroan.   "Maka itulah, kalau kita berpikir normal dan sederhana, yang lebih tepat disuruh mengimpor adalah PTPN karena ada manfaatnya. Pada raw sugar diolah PG kita menjadi gula akan ada margin dan margin itu bisa dipakai untuk mendorong revitalisasi pabrik dan ujungnya tebu petani yang diolah akan menghasilkan gula yang baik," jelasnya, kemarin.   Diakuinya rencana impor raw sugar oleh BUMN ini terdapat polemik, ada pro dan kontra, ada yang mendukung dan ada yang menolak. Namun begitu, diharapkan semua pihak dapat mengerti maksud dan tujuan impor raw sugar dengan kuota 318.000 ton itu.    "Antara petani dan pabrik gula adalah mitra maka apapun yang mendukung hal yang lebih baik untuk kedua pihak harusnya didukung. Berbeda bila impor diserahkan kepada swasta, siapa yang mendapat marginnya," ujarnya.   Diketahui, tahun ini pemerintah memberikan izin impor gula mentah 318.000 ton melalui BUMN gula. Langkah tersebut dilakukan mengingat kebutuhan gula nasional saat ini mencapai 3 juta ton dengan asumsi konsumsi 12 kg/kapita/tahun. Kondisi pabrik gula hanya mampu memproduksi 2,5 juta ton, sehingga masih ada kekurangan 500.000 ton. (Jo/Sumber:disini)
Read More

Pemerintah Tegaskan Impor Raw Sugar Untuk Stabilisasi Harga

Post at Friday, 24 June 2016 , Comment

SURABAYA (24/06/2013) Pemerintah menegaskan bahwa rencana importasi raw sugar atau gula mentah sebanyak 381.000 ton yang ditugaskan ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X ditujukan untuk stabilisasi harga khususnya pada tingkat konsumen. "Upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan harga gula dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, salah satunya adalah BUMN. Rapat Terbatas Kemenko Perekonomian, PTPN telah berkomitmen untuk menurunkan harga gula sampai Rp12.500 per kilogram," kata Menteri Perdagangan Thomas Lembong dalam rapat kerja dengan DPR RI di Jakarta, Kamis malam. Thomas mengatakan, PTPN berencana untuk memberikan jaminan kepastian pendapatan petani tebu setara dengan rendemen 8,5 persen melalui sistem baru yaitu pembelian tebu putus dengan harga Rp55.652 per kuintal. Thomas menjelaskan, sistem tersebut merupakan pembaruan dari sistem bagi hasil sebelumnya, dimana PTPN berpendapat sistem jaminan pendapatan petani itu membutuhkan biaya yang cukup besar yang sebagian besar dapat diambil melalui pengolahan gula mentah setara 381.000 ton. "Pemberian impor gula mentah tersebut diharapkan dapat diberikan PTPN dan diolah setelah masa giling selesai yakni sekitar bulan Oktober 2016 untuk mengisi stok awal tahun 2017. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan harga gula serta memberikan jaminan pendapatan terhadap petani tebu di masa mendatang," kata Thomas. Thomas menambahkan, hingga saat ini pihaknya masih belum mengeluarkan izin importasi gula mentah tersebut, namun dalam waktu dekat akan dilakukan pembahasan dalam rapat koordinasi dikarenakan keputusan tersebut tidak dapat ditunda dalam waktu yang lama. "Izin memang belum dikeluarkan, mungkin dalam minggu berikut ini kami praktis akan melakukan rakor pangan dan memang tidak bisa terlalu lama kita tunda. Mungkin dalam minggu berikutnya harus diputuskan," ujar Thomas. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wachid, mendukung rencana pemerintah untuk melakukan importasi gula mentah sebesar 381.000 ton tersebut. "Impor raw sugar yang akan dilakukan oleh PTPN X merupakan kebijakan yang akan meningkatkan kapasitas giling pabrik-pabrik gula milik PTPN," kata Wachid. Pemerintah melalui Surat Menteri BUMN Nomor S-288/MBU/05/2016 mengajukan permohonan izin impor gula mentah kepada Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian dan Menteri Perindustrian. Selain itu juga menugaskan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X untuk melakukan importasi gula mentah tersebut yang nantinya akan dialokasikan kepada PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, PT PG Rajawali I dan PT PG Rajawali II.(Jo/sumber)

Read More

Suport Giling, Komisaris Kunjungi PG Wilayah Barat

Post at Thursday, 23 June 2016 , Comment

SURABAYA (23/06/2016) Ditengah curah hujan yang relatif tinggi, meski telah memasuki musim kemarau Pabrik Gula dibawah naungan PTPN XI telah melakukan aktivitas giling tahun 2016. Berbagai upaya dilakukan manajemen untuk mensukseskan musim giling ini baik on farm (kebun) maupun off farm (pabrik).

Demikian juga dengan dewan komisaris, sebagai bentuk suport dukungan terhadap manajemen, rabu (22/06) dekom melakukan kunjungan kerja ke pabrik gula wilayah barat dipimpin langsung oleh Gunaryo sebagai komisaris utama. Kunker dilakukan di PG yang telah giling yakni Pagottan, Redjosarie, poerwodadie dan Sudhono, sementara PG Kanigoro belum melakukan aktivitas giling yang direncanakan setelah lebaran nanti. Selain Komsiaris Utama kunker tersebut diikuti Dedy Mawardi serta H.J.G. Winachyu sebagai komisaris dan didampingi General Manager masing-masing pabrik gula.

"Kami mensuport penuh manajemen untuk sukseskan giling ini, terutama kelancaran suply BBT (bahan baku tebu) serta pelayanan terbaik kepada petani tebu rakyat", jelas Gunaryo. Selain itu pihaknya berharap Off farm juga disiapkan dengan optimal untuk mendukung hal tersebut. Selain itu pemenuhan standar SNI menjadi keharusan terutama pencapaian kualitas gula terangnya lebih lanjut. Pengendalian biaya pokok menjadi kunci bagi keberhasilan korporasi terutama komoditas gula yang masih tergantung pada harga pasar ungkapnya kmudian.

Selanjutnya Prijastono GM PG Pagottan menjelaskan bahwa ada persyaratan yang tetep harus dipenuhi terkait dengan BBT dintaranya brix pucuk harus lebih besar >18%, mutu tebangan memenuhi kriteria manis bersih dan segar. PG Pagottan memulai aktivitas giling sejak tanggal 9 Juni lalu dengan rencana hari giling sejumlah 120 hari. Sedangkan target produksi tebu yang digiling sejumlah 329ribu ton dengan total produksi gula sebesar 26ribu ton. (jo)

Read More

Dampak Kemarau Basah Mulai Terasa

Post at Thursday, 23 June 2016 , Comment

SURABAYA(23/06/2016) Giling tahun 2016 diwarnai curah hujan yang relatif tinggi, sebagaimana diprediksikan sebelumnya bahwa tahun ini terjadi fenomena musim kemarau basah. Artinya hujan akan terus turun meski telah memasuki musim kemarau.

" Dampak hujan yang berlebih pada saat jelang panen yaitu penurunan potensi rendemen dan proses tebang muat angkut hasil panen akan terganggu " ungkap Junaidi General Manager  PG Redjosarie di sela-sela kunjungan kerja Dewan Komisaris Rabu (22/06) kemarin. Hujan akan membuat tebu yang mulai masak menjadi memasuki fase pertumbuhan sehingga menyebabkan rendemen berpotensi turun dengan timbulnya peranakan tebu baru. Sedangkan kondisi kebun yang basah cenderung berlumpur menyulitkan proses pengangkutan tebu hasil panen ke pabrik gula karena truk pengangkut tidak bisa memasuki kebun yang berlumpur dan tergenang air hujan.

Belum lagi pola tebang yang menjadi tidak sesuai dengan rencana. Tebang yang telah direncanakan disesuaikan dengan tingkat kemasakan tebu yang akan ditebang. "Bila kebun tebu yang direncanakan ditebang tidak bisa ditebang karena kondisi kebun becek maka penebang akan menebang tebu yang kebunnya bisa dimasuki truk", terang Junaidi. Selain mempengaruhi pasokan bahan baku tebu untuk pabrik, hal ini akan berdampak pada capaian rendemen & gula produk serta ampas yang dihasilkan sedikit jelasnya lebih lanjut.

Sebagai informasi Ada 5 (lima) pabrik gula milik PTPN XI di wilayah barat (Madiun, Ngawi dan Magetan) yakni, Pabrik Gula Pagottan, Kanigoro, Redjosarie, Poerwodadie dan Sudhono. Dari lima PG tersebut kini hanya PG Kanigoro yang belum melakukan aktivitas giling. Pabrik gula ini direncanakan akan memulai giling setelah lebaran nanti. (jo)

Read More

Ditunjuk sebagai Pilot Project Penerapan ERP, PTPN XI Bentuk Tim

Post at Monday, 20 June 2016 , Comment

SURABAYA (20/06/2016) Sebagai perusahaan yang menduduki peringkat 3 besar diantara perusahan perkebunan milik negara lainnya, tak ayal tantangan yang dihadapi kedepan pun semakin besar. Salah satunya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) selaku Holding dari perusahaan perkebunan menunjuk PTPN XI sebagai Pilot Project Penerapan ERP untuk Tanaman Semusim. Menindaklanjuti hal tersebut, Direksi PTPN XI tentu turut memberikan respon yang positif.

Sebagaimana yang dikatakan oleh M. Cholidi selaku Direktur SDM dan Umum PTPN XI pada “ERP Overview dan Project Metodology” yang dilaksanakan pada Senin (20/6) di Kantor Pusat PTPN XI Surabaya, bahwa BOD berkomitmen untuk mendukung implementasi ERP ini.

“ERP adalah cita-cita besar semuanya. Dengan penerapan ERP ini maka akan membuat perusahaan ter-manage dengan baik karena dapat terukur, sehingga akan dapat termonitor dengan baik pula. Untuk itu semua Direksi setuju atas penerapan sistem ini” ujar Cholidi.

Menindaklanjuti hal tersebut, Direksi pun telah mementuk Tim Implementasi ERP dengan tujuan agar penerapan dan pelaksanaannya dapat berjalan secara maksimal.

Rapat tersebut juga dihadiri oleh PTPN III (Persero) selaku Holding perusahaan perkebunan, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) selaku mitra kerja dalam penerapan sistem ini. Serta hadir pula Tim ERP PTPN XI yang terdiri atas Kepala Divisi, Kepala Urusan dan Staf terkait. Rencananya kegiatan tersebut akan berlangsung pada tanggal 20 hingga 24 Juni 2016. (Yns)

Read More

Memasuki Musim Giling 2016, PG Semboro Optimis Penuhi Target 75 Ribu Ton

Post at Friday, 17 June 2016 , Comment

SURABAYA (17/06/2016) Pabrik Gula (PG) Semboro yang berada di bawah kepemilikan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, memulai buka giling bulan Mei lalu.

General Manager (GM) PG Semboro Ir Imam Cipto Suyitno MM mengatakan, sengaja PG Semboro buka giling lebih awal.

“Dengan harapan mendekati target yaitu 70 – 75 ribu ton atau peninggkatan 10 – 12% dari musim giling 2015,” ujarnya, Selasa (14/06)

Ia melanjutkan, PG Semboro, akan berkomitmen untuk terus memaksimalkan angka produksi gula, peningkatan produksi dimulai peningkatan kapasitas dari tahun lalu 6500 – 7000 tcd.

“Diawal giling ini kendalanya curah hujan yang masih tinggi, kita berharap curah hujan kembali normal. Namun apabila hujan berlanjut akan mempengaruhi pencapaian produksi tahun ini,” imbuhnya.

Meski penuh tantangan pihaknya akan berusaha wujudkan hal tersebut.

“Semuanya bersinergi untuk mengejar target, baik dari PTPN XI selaku pemilik PG, petani, maupun pemerintah sebagai salah satu stakeholder, dengan harapan terciptanya swasembada gula yang dicanangkan pemerintah,” tutupnya. (Yns/Sumber : disini)

 
Read More

Petani Tebu PTPN XI Lakukan Lelang Perdana

Post at Wednesday, 15 June 2016 , Comment

SURABAYA (15/06/2016) Untuk pertama kalinya di musim giling 2016 petani tebu di lingkungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI akan melelang sekitar 2.000 ton gulanya. Ketua Tim Lelang Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPD APTRI) PTPN XI H. Mawardi mengatakan hal tersebut, Senin (13/6). 2.000 ton gula tersebut, kata Mawardi, adalah gula petani dari tiga Pabrik Gula (PG) di lingkungan PTPN XI, yakni PG Purwodhadie, PG Pagottan dan PG Semboro. ". Ini adalah lelang perdana gula petaani di lingkungan PTPN XI. Lelang bersifat bebas dan dilaksanakan di PTPN XI mulai pukul 13.00 wib," kata Mawardi. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) APTRI PG Pagottan H. Tasir mengatakan meski masa giling di PG Pagottan baru berlangsung sejak empat hari lalu, namun beberapa petani telah mengusulkan agar gula milik mereka segera dilelang. Alasannya, selain mengejar harga gula yang sedang tinggi selama beberapa minggu belakangan, pelaksanaan lelang juga dipicu oleh tingginya kebutuhan petani menjelang hari raya idul fitri 1437 H dan upaya persiapan menyambut musim tanam 2016/2017. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ketua DPC APTRI PG Semboro Yeyek Subiyantoro. "Tetapi yang pasti adalah keinginan untuk memperoleh harga terbaik. Mengingat jika panen tebu telah mencapai masa puncaknya dan gula petani mulai memenuhi gudang-gudang PG, dikhawatirkan harga gula mengalami penurunan," tutup Yeyek. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Gula Pasir Murah PG Semboro Diserbu

Post at Friday, 10 June 2016 , Comment

SURABAYA (10/06/2016) Pasar murah gula pasir yang digelar PG Semboro di Disperindag dan ESDM Jember Rabu (08/06) diserbu warga. Begitu dibuka, puluhan warga langsung antre agar mendapatkan gula pasir murah seharga Rp 12.000 per kilogram. Dipasaran harga gula pasir sampai Rp 16.000 per kilogram.

Manajemen PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI) PG Semboro menyiapkan sekitar 5 ton gula pasir untuk operasi pasar murah Ramadhan 1437 H. Pasar murah tersebut dimaksudkan untuk membantu menstabilkan harga gula pasir dipasaran yang terus bergerak naik.

Tak heran, dalam waktu dua jam, 5 ton gula pasir murah yang disiapkan PG Semboro langsung ludes. Pasar murah tersebut sebagai upaya untuk menstabilkan harga gula pasir dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) yang bersinergi dengan PG Semboro dalm bentuk operasi pasar murah.

"Operasi pasar murah sudah kami lakukan dan akan dilanjutkan besok” kata Humas PG Semboro Satrio Nurwicaksono, SH kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurut Satrio yang langsung turun ke lokasi, operasi pasar murah tersebut dilakukan sebagai terobosan PG Semboro untuk menekan harga gula pasir di pasaran yang kini terus melambung. Apalagi mendekati hari Raya Idul Fitri 1437 H.

Yang jelas, lanjut dia, operasi pasar murah juga sebagai wujud kepedulian PG Semboro untuk membantu masyarakat secara langsung. Untuk operasi pasar gula pasir murah pertama dilakukan PG Semboro di depan Disperindag dan EDSM Jember.

Selanjutnya, pasar murah akan dilakukan diberbagai lokasi seperi di pasar tradisional dan lokasi lainnya yang banyak penduduknya. Kegiatan serupa akan digelar hari ini (08/06). Warga bebas membeli dan sejak pagi truk yang membawa gula pasir sebanyak 5 ton tersebut datang langsung diserbu warga.

Satrio menambahkan, pihaknya menjual gula pasir seharga Rp 12.000 per kilogram atau jauh lebih murah daripada harga di pasar yang sudah bergerak naik hingga mencapai Rp 16.000 kilogramnya. “Hari pertama operasi pasar terus diserbu warga. Mungkin karena harganya yang jauh lebih murah”, ucapnya.

Untuk menghindari tindakan nakal warga yang tidak bertanggungjawab, PG Semboro hanya memperbolehkan setiap pengunjung yang datang untuk membeli paling banyak 5 kilogram gula pasir. “Paling tidak, apa yang dilakukan PG Semboro ini menjadi upaya yang jelas dan konkret untuk membantu meringaknkan biaya hidup kami” kata Badriah Daud, salah satu warga asal Kecamatan Sumbersari yang membeli gula murah. (Yns)

Sumber : Harian Jawa Pos Radar Jember (Kamis, 9 Juni 2016)

Read More

2016, PG Kedawung Giling 32.000 Ton Tebu

Post at Tuesday, 07 June 2016 , Comment

SURABAYA (07/06/2016) Pabrik Gula (PG) Kedawung di Grati, Pasuruan, menargetkan akan menggiling tebu tahun ini sebanyak 3.200.000 kuintal tebu atau sebanyak 32.000 ton yang menghasilkan gula sebesar 24.000 ton. Kepala PG Kedawung, Nur Derajat, mengatakan untuk mencapai target itu pihaknya tengah menyiapkan banyak rencana, seperti investasi dalam pabrik sebesar Rp 24 miliar yang berasal dari Kantor Direksi PTPN XI, menaikkan protas dari satuan lahan, latihan dan kunjungan ke Bulu Lawang agar provitas tebu meningkat, serta ekstensifikasi alias perluasan lahan.   “Khusus yang ekstensifikasi, kita memang masih kekurangan dalam hal penyediaan lahan. Untuk itu, semoga Bupati dapat membantu kami untuk melakukan perluasan lahan,” kata Derajat, Kamis (2/6).   Lahan yang dimaksud, kata Derajat, berupa ketersediaan lahan tebu di semua wilayah se-Kabupaten Pasuruan yang saat ini mencapai 4.400 hektar, ada sebanyak 3.000 hektar diantaranya merupakan lahan untuk penanaman tebu lokal, sedangkan 1.400 hektar tebu dari Mojokerto, Malang, Gresik dan Lumajang.    “Kita targetkan selama 3 tahun, penambahan luas lahan dapat kita lakukan antara 400 sampai 500 hektar setiap tahunnya. Sehingga kita akan lepas dari tebu luar,” ungkapnya. (Jo/Sumber:disini)
Read More

PTPN XI terus lakukan perbaikan pabrik, guna kejar rendemen 8%

Post at Wednesday, 08 June 2016 , Comment

SURABAYA (08/06/2016) Anomali iklim yang terjadi saat ini membuat industri pergulaan ketir-ketir. Pasalnya, dengan masih turunnya hujan membuat kemasakan tebu tidak maksimal. Dampaknya, rendemen diperkirakan akan sulit berada dilevel 8%.

Untuk mencapai rendemen 8% atau bahan lebih, PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI) melakukan berbagai langkah strategis, diantaranya adalah dengan memaksimalkan efisiensi dan perbaikan pabrik.

"Untuk mencapai rendemen 8% sepertinya berat, tetapi kami tetap optimistis. Agar rendemen sesuai target, kami agresif memperbaiki PG, karena tantangan iklim sangat berat. Kami harus meminimalisir kehilangan atau tingkat looses dalam pengolahan. Selain itu, efisiensi juga harus dilakukan secara maksimal," kata Direktur SDM dan Umum PTPN XI M Cholidi ketika dikonfirmasi, Surabaya, Senin (6/6/16).

Cholidi menjelaskan perbaikan PG yang dilakukan diantaranya adalah dengan memperbaiki atau mengganti alat penggilingan. Ada dua PG yang diganti pengilinannya, yaitu PG Asembagus dan PG Jatiroto. Dengan penggantian tersebut, maka tingkat ekstraksi menjadi maksimal dan potensi gula dalam tebu bisa dikeluarkan secara maksimal pula.

Selain itu, PTPN XI juga telah melakukan penyempurnaan beberapa sistem pengolahan dalam pabrik. Pemakaian uap secara efisien telah dilakukan, sehingga tidak ada uap yang terbuang sia-sia. "Uap bekas pengolahan ini digunakan untuk produksi berikutnya dan seterusnya dan seterusnya. Sehingga bekas uapnya tidak terbuang percuma. Karena jika energi minimal, tingkat kehilangan minimal dan andaikan potensi tebu sama, maka rendemen yang akan dihasilkan akan lebih baik," tegasnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan PTPN XI telah memulai giling sejak 31 Mei 2016 kemarin, yang dimulai di PG Semboro dengan kapasitas 6.500 TCD, PG Purwodadi, PG Wonolangun dan PG Sembagus. Selanjutnya beberapa PG juga akan mulai giling sebelum lebaran. Tetapi ada juga PG di lingkungan PTPN XI yang musim gilingnya dimulai setelah lebaran, yaitu PG dengan kapasitas kecil yang jumlahnya sekitar 3 PG.

Terkait praduksi, Chlolidi menyatakan bahwa PTPN XI menargetkan produksi gula mencapai 450.000 ton dengan tingkat rendemen sama dengan tahun lalu, sekitar 8,04%. Target produksi tersebut lebih besar dibanding pencapaian tahun lalu yang dikisaran 400.000 ton.

Sementara laba diharapkan akan bisa bertahan sekitar Rp 250 miliar, sama dengan tahun lalu karena memang pada tahun ini baik musim maupun tanaman tebu tidak begitu bagus. Pencapaian laba tahun 2015 sendiri adalah yang terbaik dalam kurun 10 tahun terakhir. (Jo/Sumber:Disini)

Read More

Hingga Juli, Bulog Redam Harga Gula Lumajang dan Probolinggo

Post at Tuesday, 07 June 2016 , Comment

SURABAYA (07/06/2016) Kepala Badan Urusan Logistik Sub Divisi Regional Probolinggo, Jawa Timur, Irsan Nasution mengatakan puluhan ton gula akan digelontorkan ke pasar di Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo dan Kabupaten Lumajang. "Operasi pasar gula rencananya digelar hingga 1 Juli 2016," kata Irsan di Lumajang, Kamis 2 Juni 2016. Irsan menjelaskan operasi pasar gula ini setiap harinya menyasar dua pasar di tiga wilayah kabupaten dan kota itu. Apabila cara itu ternyata tidak efektif meredam harga gula yang melonjak atau tidak banyak pembeli, atas persetujuan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan gula Bulog dibawa ke permukiman lain. Untuk gula kuotanya sekotar 2.500 kilogram atau 2,5 ton setiap hari. Artinya dalam satu bulan sekitar 200 ton gula bakal digelontorkan ke tiga kabupaten dan kota itu. Gula yang dipasok Bulog untuk operasi pasar ini dijual dengan harga Rp 17.500. Ternyata laku keras. Selain gula, operasi pasar juga digelar untuk komoditas beras. "Setiap titik 500 kilogram setiap hari," katanya. Kendati demikian, Irsan mengakui operasi pasar tidak secara otomatis menyebabkan harga gula di pasaran langsung turun. "Mungkin modal beli pedagang, dengan harga yang masih tinggi sebelumnya," katanya.  

Dia berharap harga di pasaran akan segera mengikuti harga gula yang dijual dalam operasi pasar. Berdasarkan pantauan Tempo di Lumajang, harga gula saat ini masih berkisar di harga Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu perkilogram. Harga gula di Kabupaten Lumajang yang masih cukup tinggi ini dinilai ironis lantaran ada Pabrik Gula Jatiroto yang merupakan anak perusahaan PTPN XI. Sementara itu, General Manajer Pabrik Gula Jatiroto mengatakan lonjakan harga gula pasir yang mencapai Rp 15 ribu perkilogram saat ini diyakini karena keberadaan stok gula di pasaran yang menipis. Selain karena stok di pasaran yang sudah mulai menipis lantaran banyak pabrik gula yang belum buka giling, Setyo mengatakan ada juga pengaruh dari penurunan produksi di tingkat internasional. Selain itu, "Bisa jadi karena sentimen menjelang puasa ramadhan serta lebaran," katanya. (Jo/Sumber:Disini)

Read More

INDIA MINTA TEBU TRANSGENIK PTPN XI

Post at Monday, 06 June 2016 , Comment

SURABAYA (06/06/2016) Tebu Transgenik tahan kekeringan yang merupakan hasil penelitian bangsa sendiri yaitu PTPN XI dan Universitas Jember ,sudah diminta India untuk dikembangkan di sana. Bambang Purwantara, Direktur Indonesia Biotechnology Information Centre menyatakan hal ini. Permintaan India belum bisa dipenuhi karena belum semua uji supaya benih ini bisa beredar diselesaikan. Tebu transgenik ini sudah lulus dalam pengujian varietas baru, uji kemanan pangan dan uji keamanan lingkungan. Karena daun dan pucuk tebu banyak digunakan untuk pakan ternak, maka satu uji lagi harus dilakukan yaitu uji keamanan pakan. Uji ini belum dilakukan karena Peraturan Menteri Pertanian tentang pedoman uji keamanan pakan belum ada. “Informasi terakhir draft Permennya sudah ada di meja Mentan tinggal ditandatangani. Kalau ini sudah keluar maka uji kemanan pakan segera dilakukan dan kita harap akhir tahun 2016 ini bibit tebu transgenik sudah beredar,” katanya. Kalau sudah beredar di sini bari permintaan India bisa dipenuhi. Harus ada perjanjian khusus karena Hak atas Kekayaan Intelektualnya ada di PTPN XI dan Universitas Jember . Harus ada kompensasi khusus untuk Haki ini. Bambang yakin tebu transgenik tahan kekeringan ini merupakan salah satu solusi untuk mencapai swasembada gula. Tebu yang ada sekarang dirancang untuk ditanam di lahan sawah, sedang sekarang tebu sudah bergeser ke lahan kering. Sistim budidaya yang ada sekarang masih untuk lahan sawah bukan lahan kering. (Jo/sumber:disini)

Read More

Dukung stabilisasi harga, PTPN XI gelontorkan 800 ton gula pasir

Post at Sunday, 05 June 2016 , Comment

SURABAYA (06/06/2016) Komitmen operasi pasar untuk stabilisasi harga gula terus dilakukan PT Perkebunan Nusantara atau PTPN XI selaku BUMN produsen gula terbesar di Indonesia.

"Sepekan terakhir kita alokasikan 20 ton gula, tapi kalau operasi pasar dilanjutkan hingga lebaran maka sudah siap 800 ton gula untuk stabilkan harga gula," papar Direktur Utama PTPN XI, Dolly P Pulungan, Kamis (2/6/2016) petang.

Menurut Pulungan, pelaksanaan operasi pasar gula murah PTPN XI tersebut menyasar tempat-tempat ramai dan di banyak tempat di Jawa Timur.

"Pagi ini, operasi pasar PTPN XI masih ada di sekitar Surabaya, tapi ke depan akan merambah daerah-daerah lain, sesuai kebutuhan yang ada," jelas Pulungan.

Dijadwalkan, Kamis (2/6/2016) pagi, untuk operasi pasar PTPN XI di Surabaya, digelar di Pasar Manukan dengan harga gula Rp 12.000,- per kilogram.

Adapun sejumlah lokasi lainnya yang telah disasar operasi pasar gula murah PTPN XI di Surabaya, antara lain di Pasar Pabean  (25/5/2016), Pasar Kapas Krampung (27/5/2016) dan Pasar Turi (31/5/2016).

"Jadi intinya kami siap drop gula untuk stabilasasi harga, karena kami sudah mulai giling sehingga stok gula kita mulai tersedia di minggu pertama juni ini ," tambah Pulungan.

Menurut Pulungan, pihaknya akan berkordinasi dengan instansi terkait guna suksesnya pelaksanaan operasi pasar guna stabilisasi harga kebutuhan pokok jelang lebaran.

"Kita jangkaulah daerah-daerah lain di Jatim yang membutuhkan gula murah, asal panitia setempat siap, sekuriti disana juga siap," imbuh Pulungan.

Menurut Pulungan, operasi pasar PTPN XI sendiri akan mengoptimalkan pula stok dan distribusi di 16 pabrik gula PTPN XI di Jawa Timur.

"Jadi sebagian pabrik gula kami ada juga yang mulai giling bulan lalu, sehingga pasokan gula akan bertambah dan diharapkan bisa digelontor ke pasar supaya harga gula bisa kembali normal sebelum puasa dan lebaran," jelas Dolly Pulungan optimistis.

PT Perkebunan Nusantara (PTPN XI) sendiri di tahun 2016 berupaya meningkatkan produksi gula menjadi 450.000 ton dengan target rendemen mencapai 8,04% sejalan dengan target pemerintah.

"Target produksi tersebut naik dari tahun 2015 kami memproduksi gula 405.000 ton dan mampu lebih besar menjangkau kebutuhan pasar dalam negeri," papar Dolly Pulungan. (Jo/Sumber: Disini)

Read More

Ini Strategi PTPN XI Jaga Kestabilan Harga Gula

Post at Monday, 06 June 2016 , Comment

SURABAYA (06/06/2016) PT Perusahaan Perkebunan (PTPN)  XI siap menggelontor 800 ton gula hingga menjelang  Lebaran. Hal itu dilakukan untuk menahan laju kenaikan harga gula di pasar.

’’Sementara ini, operasi pasar PTPN XI hanya diadakan di sekitar Surabaya. Namun, ke depan akan merambah daerah-daerah lain untuk menyesuaikan kebutuhan,’’ ujar Dirut PTPN XI Dolly P. Pulungan di Surabaya sebagaimana dikutip Jawa Pos, Jum’at (3/6).

Operasi pasar dilakukan di sejumlah pasar tradisional, seperti  Pasar Manukan, Pasar Pabean, Pasar Kapas Krampung, dan Pasar Turi. Harga gula pun mencapai Rp 12.000 per kg.

’’Berapa pun yang dibutuhkan, kami siap menyediakan. Apalagi sekarang sudah mulai giling. Stok kami akan tersedia pada minggu pertama Juni,’’ tuturnya.

Ia mengaku  telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melaksanakan operasi pasar, khususnya jika ada permintaan dari daerah di luar Surabaya. ’’Kami jangkau daerah-daerah lain di Jatim yang membutuhkan gula murah,’’ ucapnya.

Pada bagian lain, Dolly mengatakan bahwa PTPN XI  akan melakukan giling dengan target produksi 450 ribu ton gula. Target produksi ini naik jika dibandingkan dengan produksi pada 2015, yaitu 405.000 ton. (Jo/Sumber:disini)

Read More

PTPN XI Naikkan Target Produksi Gula Kristal Putih Jadi 470.000 Ton Tahun Ini

Post at Friday, 03 June 2016 , Comment

SURABAYA (06/06/2016) PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) menargetkan kenaikan produksi menjadi 470.000 ton gula kristal putih (GKP) pada musim giling tahun ini, naik dari realisasi tahun lalu sejumlah 418.000 ton GKP.

Direktur SDM dan Umum PTPN XI M. Cholidi menjelaskan beberapa dari total 16 pabrik gula (PG) terbesar milik BUMN perkebunan itu memulai musim gilingnya pekan ini. PG Asembagus, misalnya, mulai giling 30 Mei, PG Djatiroto 31 Mei, PG Semboro 26 Mei.

“Produksi terbanyak akan disumbang dari PG Djatiroto dan PG Semboro. Tahun ini, PG Djatiroto dan Asembagus serius perbaikan, sehingga harapannya tahun depan mereka sudah bisa produksi GKP premium seperti Semboro,” katanya kepada Bisnis, Jumat (29/5/2015).

Pada musim giling tahun ini, lanjutnya, tantangan terberat adalah kondisi tebu yang belum ideal. Selain itu, sisa-sisa dari masa suram industri gula pada 2014 juga masih terasa, di mana sebagian petani masih terpuruk minat tanamnya.

Namun, tahun ini Cholidi meyakini harga lelang dapat kembali mencapai Rp10.000/kg di tengah harga patokan petani (HPP) GKP yang sudah dinaikkan Kementerian Perdagangan dari Rp8.500/kg menjadi Rp8.900/kg.

“Tahun ini adalah tahun perbaikan industri gula, sehingga rasanya efek perbaikan itu baru akan terasa pada musim giling tahun depan. Saat ini kami lebih fokus pada persiapan untuk musim tanam (MT) 2015-2016,” tuturnya.

Beberapa yang telah dilakukan PTPN XI untuk persiapan MT 15-16 adalah mengintensifkan sosialisasi kepada para petani untuk menjadikan bisnis tebu lebih prospektif, misalnya melalui mekanisasi, perbaikan sistem kontrak, penggunaan kredit komersial, maupun uji coba sistem borongan untuk pengelolaan lahan.

Cholidi menjelaskan dengan memakai pemborong, para petani tidak perlu menanggung sendiri setiap biaya produksi karena ditalangi secara patungan untuk membuat hamparan lahan yang ideal bagi pemanfaatan mekanisasi.

Dengan demikian, ongkos produksi dapat ditekan sehingga ketika terjadi koreksi harga saat lelang, mereka dapat tetap merasakan keuntungan. Sistem tersebut baru akan diujicobakan di PG Djatiroto, Semboro, dan Wonolangan.

“Kalau menggunakan cara ini, kami yakin tahun depan produksi GKP PTPN XI dapat mencapai lebih dari 500.000 ton.” (Jo/sumber:disini)

Read More

Klarifikasi Teknis (Beauty Contest) untuk Pengadaan Jasa Konsultansi Manajemen Proyek Konstruksi Dua Pabrik Gula

Post at Thursday, 02 June 2016 , Comment

SURABAYA (02/06/2016) Rangkaian proses pengadaan Jasa Konsultansi Manajemen Proyek (Project Management Consultant (PMC)) Konstruksi dalam rangka Revitalisasi dua Pabrik Gula di lingkungan kerja PT Perkebunan Nusantara XI telah memasuki tahap Klarifikasi Teknis (Beauty Contest). Kegiatan tersebut diselenggarakan di Kantor Pusat PTPN XI Surabaya pada Kamis (02/06) dan diikuti oleh 4 perusahaan penyedia jasa konsultansi konstruksi yang telah lolos hingga tahap ini. 

Seperti yang telah diketahui, PTPN XI akan melakukan revitalisasi terhadap dua Pabrik Gula yakni PG Djatiroto dan PG Assembagoes. Diharapkan proyek ini berjalan tanpa mengganggu proses giling, sehingga dibutuhkan tenaga ahli yang berpengalaman sebagai PMC.

“Pengerjaan proyek ini tidak boleh mengganggu proses giling. Sehingga kami membutuhkan tenaga ahli yang berpengalaman, khususnya di industri gula” terang Aris Toharisman dalam sambutannya.

Aris Toharisman yang merupakan Direktur Perencanaan dan Pengembangan sekaligus sebagai Direktur Proyek PMN PTPN XI juga menekankan bahwa tujuan kegiatan klarifikasi teknis (beauty contest) ini adalah agar proyek PMC di dua Pabrik Gula tersebut bisa berjalan dengan efektif dan efisien. “Tujuan kegiatan pada hari ini adalah agar proyek PMC di dua Pabrik Gula ini berjalan efektif dan efisien sehingga bisa mencapai tujuan yang diharapkan” ujar Aris.

Pada kesempatan tersebut, peserta diminta untuk melakukan klarifikasi teknis melalui presentasi dan berdiskusi terkait dengan pengadaan jasa konsultansi tersebut. 

Kegiatan tersebut juga diikuti oleh Panitia Pelelangan/Pengadaan Barang dan Jasa PTPN XI, Kepala Divisi, General Manager dan Karyawan PTPN XI yang tergabung dalam Tim Penyertaan Modal Negara (PMN) PTPN XI. (Yns)

Read More

Stabilkan Harga, PTPN XI Siapkan 800 Ton Gula

Post at Thursday, 02 June 2016 , Comment

SURABAYA (02/06/2016) Komitmen operasi pasar untuk stabilisasi harga gula terus dilakukan PT Perkebunan Nusantara atau PTPN XI, sebagai BUMN produsen gula terbesar di Indonesia.

"Sepekan terakhir kita alokasikan 20 ton gula, tapi kalau operasi pasar dilanjutkan hingga lebaran maka sudah siap 800 ton gula untuk stabilkan harga gula," papar direktur utama PTPN XI, Dolly P Pulungan, Kamis (2/6).

Pelaksanaan operasi pasar gula murah PTPN XI tersebut, kata dia, menyasar tempat-tempat ramai dan berlangsung di banyak tempat di wilayah provinsi Jawa Timur (Jatim).

"Pagi ini, operasi pasar PTPN XI masih ada di sekitar Surabaya, tapi ke depan akan merambah daerah-daerah lain, sesuai kebutuhan yang ada," jelas Pulungan.

Dijadwalkan, Kamis (2/6) pagi ini, untuk operasi pasar PTPN XI berlangsung di Pasar Manukan, Surabaya, dengan harga gula Rp 12.000 per kilogram (Kg).

Sementara, kata Pulungan, sejumlah lokasi lainnya yang telah disasar operasi pasar gula murah PTPN XI di Surabaya, antara lain di Pasar Pabean (25/5), Pasar Kapas Krampung (27/5), dan Pasar Turi (31/5).

"Jadi intinya kami siap drop gula untuk stabilasasi harga, karena kami sudah mulai giling sehingga stok gula kita mulai tersedia di minggu pertama juni ini," tambahnya.

Menurut Pulungan, pihaknya akan berkordinasi dengan instansi terkait guna suksesnya pelaksanaan operasi pasar dan melakukan stabilisasi harga kebutuhan pokok jelang lebaran.

"Kita jangkaulah daerah-daerah lain di Jatim yang membutuhkan gula murah, asal panitia setempat siap, sekuriti disana juga siap," imbuh Pulungan.

Menurut Pulungan, operasi pasar PTPN XI sendiri akan mengoptimalkan pula stok dan distribusi di 16 pabrik gula PTPN XI di Jawa Timur.

"Jadi sebagian pabrik gula kami ada juga yang mulai giling bulan lalu, sehingga pasokan gula akan bertambah dan diharapkan bisa digelontor ke pasar supaya harga gula bisa kembali normal sebelum puasa dan lebaran," kata Pulungan optimistis.

Tahun 2016 ini, lanjut dia, PTPN XI sendiri berupaya meningkatkan produksi gula menjadi 450.000 ton dengan target rendemen mencapai 8,04 persen sejalan dengan target pemerintah.

"Target produksi tersebut naik dari tahun 2015, dimana kami memproduksi gula 405.000 ton dan mampu lebih besar menjangkau kebutuhan pasar dalam negeri," tambah Pulungan. (Yns / Sumber : disini)

Read More

Efisiensi Pabrik, PG Wonolangan Investasi Infrastruktur Rp1 M

Post at Wednesday, 25 May 2016 , Comment

SURABAYA (25/05/2016) Pabrik Gula (PG) Wonolangan di Probolinggo milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI tahun ini menginvestasikan Rp1 miliar untuk membangun infrastruktur jalan masuk truk pengangkut tebu menuju areal pengolahan.

Manajer Tanaman PG Wonolangan Heru Wibowo mengatakan investasi pembangunan jalan tersebut perlu dilakukan mengingat selama ini kerap terjadi penumpukan truk tebu yang antre masuk ke pabrik saat musim giling tiba.

“Karena kapasitas menampung truk di areal pabrik sangat rendah, nah hal ini membuat truk tebu berjubel dan tercecer sampai di pinggir-pinggir jalan raya,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/5/2016).

Dia memaparkan selama ini truk pengangkut tebu yang masuk ke pabrik harus melewati pintu gerbang depan. Sebelum truk tebu itu masuk pabrik, truk tersebut harus berhenti dulu di pos Kedungasem yang berjarak sekitar 3 km dari pabrik untuk melaporkan tebu yang diangkutnya.

“Jumlah truk yang berhenti melapor di pos Kedungasem itu hanya bisa menampung 55 unit truk. Padahal kebutuhan menggiling tebu di pabrik kami kapasitasnya tebu 300 truk/hari,” jelas Heru.

Akibatnya, lanjut Heru, sirkulasi keluar masuknya truk ke pabrik tidak efisien, dan tebu yang akan digiling tidak terkontrol lantaran yang melapor ke petugas pos hanya sopir truk, sedangkan tebu terparkir jauh dari lokasi pos.

“Padahal tebu yang akan digiling itu harus dicek terlebih dahulu, sehingga terkadang menunggu petugas yang datang menuju lokasi parkir truk untuk melakukan pengecekan,” imbuhnya.

Adapun dalam pembangunan jalan yang berada di jalur belakang PG Wonolangan saat ini masih dalam tahap konstruksi dan diperkirakan rampung Juni atau sebelum masuk musim giling tahun ini.

Dengan pembangunan jalan belakang pabrik maka akan menambah daya tampung hingga lebih dari 70 an truk di pabrik. “Di jalur depan nanti tetap bisa menampung 55 truk dan di belakang bisa 20 an truk,” imbuh Heru.(Jo/Sumber:Disini)

Read More

PTPN XI "Pede" Bisa Raup Lebih Banyak Laba Tahun Ini

Post at Wednesday, 25 May 2016 , Comment

SURABAYA (25/05/2016) Dewan komisaris PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI merasa percaya diri perseroan mampu mengukir prestasi lebih baik dengan meraup laba yang lebih banyak pada 2016.

Komisaris PTPN XI Winachyu mengatakan perolehan laba yang lebih tinggi bisa dicapai asalkan jajaran direksi perusahaan bertekad mempertahankan dan mau belajar dari masa lalu. Periode selama PTPN XI menanggung kerugian dalam bisnisnya, imbuh dia, anggap saja masa pembelajaran.

“Anggaplah tahun-tahun yang lalu itu sekolahan, ada jeleknya, ada buruknya,” tuturnya kepada Bisnis ditemui di kantornya, belum lama ini.

Demi mencapai kinerja yang lebih baik, jajaran komisaris berjanji akan mengawasi dengan seksama. Di antara komisaris, direksi, dan karyawan harus menjalin kerja sama yang solid. Menurut Winachyu, tidak cukup hanya kerja sama melainkan pula wajib bekerja bersama-sama.

Melalui kerja sama yang solid, etos kerja yang baik selayaknya bisa selalu diterapkan. Yang mendasar dari sinergi internal perusahaan adalah rasa memiliki seluruh lapiran karyawan sampai ke komisaris terhadap perusahaan.

“Manajemen harus bersedia dikoreksi, harus mau membaca dan mengikuti petunjuk-petunjuk yang diamanatkan,” ucap Winachyu.

Selain faktor internal, eksternal juga berperan penting. Dalam hal ini yang dimaksud adalah dukungan pemerintah berupa keberpihakan melalui regulasi dan sokongan materil. Seberapapun hebat jajaran direksi menahkodai PTPN XI takkan berarti banyak tanpa bantuan pemerintah.

Perseroan terus mengharapkan pemerintah menelurkan regulasi yang berpihak kepada bisnis perseroan. Pasalnya, banyak permasalahan yang tetap menantang untuk dihadapi pada tahun ini. Sebut saja persaingan di era MEA dan ancaman gula impor ilegal.

“Kalau ini tidak ditangani dengan baik kami juga bisa-bisa gulung tikar,” tutur dia. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Jelang Diluncurkan Jokowi, Sosialisai Kartu Tani Makin Gencar

Post at Monday, 23 May 2016 , Comment

SURABAYA (23/05/2016) Terobosan bersama dalam sinergi antara BUMN pergulaan dan BUMN bidang perbangkan makin nyata, diantaranya kartu tani yang akan diluncurkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Kami berharap dengan salah satunya kartu tani ini yang segera diluncurkan presiden ini, besar pengaruhnya dalam peningkatakan pendapatan petani, sehingga meningkatkan kuantitas dan kualitas pasokan tebu mereka ke pabrik gula yang pada akhirnya berdampak pada tercapai swasembada gula," demikian dirut Holding PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Elia Massa Manik di Jember, Kamis (19/5/2016).

Dalam upaya mendorong antusisame kartu tani di kalangan petani tebu, secara khusus Elia membuka sarasehan digelar BRI, APTRI dan PTPN XI - PG Semboro dengan tema "Sosialisasi Kartu Tani Indonesia untuk Sinergi  Menuju Swasembada Gula Berdaya Saing" di Padepokan H.M. Arum Sabil, Tanggul, Jember. Ikut mendapingi Elia Massa Manik dalam rangkaian sarasehan dan kunjungan itu, dirut PTPN X Subiyono, dirut PTPN XII Irwan Basri, serta dirut PTPN XI Dolly Pulungan.  

Elia menegaskan, untuk mencapai swasembada gula, pabrik gula di lingkungan BUMN akan mendongkrak skala produksinya hingga dua kali lipat. "Kalau sekarang ini hanya produksi pabrik gula BUMN hanya 1,5 juta ton, dengan revitalisasi yang terus dijalankan maka produksi bisa mencapai 3 juta ton gula," kata Elia.

Dengan target lonjakan produksi gula yang signifikan ini, diakui butuh dukungan peningkatan pasokan tebu petani. "Petani harus terus mempunyai keyakinan untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas jumlah tebunya," kata Elia.

Ditambahkan dirut PTPN XI Dolly P Pulungan, berbagai upaya dalam mencapai swasembada gula memang terus disiapkan. Selain dengan kartu tani, pihaknya bersama Asosiasi Petani Tebu rakyat atau APTRI juga ada program radikalisasi tanaman.

"Saya sudah bicara dengan petani dan Pak Arum Sabil soal radikalisasi produksi tebu di 40 ribu hektar dilingkungan PTPN XI, melalui pendekatan baru dalam pembiyaan dan termasuk adanya kartu tani ini. Sehingga haraoannya ada lonjakan produksi tebu, dari kisaran sekarang 76 ton per hektar menjadi 100 ton per hektar, karena tanah HGU PTPN XI sudah 120 ton/hektar," jelas Dolly Pulungan. 

1,2 Juta Petani Tebu Antusias 

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI H.M Arum Sabil menjelaskan, terobosan kartu tani ini memang sangat menarik. "Ini sejalan dengan Nawacita Presiden Jokowi, karena selain ada upaya menyehatkan rakyatdengan kartu sehat, sekarang ada kartu tani untuk kesejahteraan petani yang notabene lebih separuh dari total penduduk Indonesia," tutur Arum Sabil.

Ke depan, dijelaskan Arum, kartu tani ini juga akan dikembangkan bukan hanya untuk petani tebu tapi petani berbagai komoditi, juga peternak dan nelayan. "Memang pilot project petani tebu, yang notabene ada sekitar 1,2 juta orang, yang hampir separuhnya ada di Jatim," ujar HM Arum Sabil yang juga wakil ketua bidang pemberdayaan petani di Himpunan Kerukuan Tani Indonesia atau HKTI Pusat.

Diakuinya, dengan adanya kartu tani, banyak kemudahan yang didapat. Bukan hanya dalam hal pengumpulan data, tapi juga pendanaan karena kartu tani tersebut akan berfungsi sebagai ATM. "Sehingga kita sampaikan ke petani, kalau mereka akan terdata, termasuk akan mendapatkan berbagai fasilitas lainnya. Dan diharapkan kartu tani ini tidak disalahgunakan karena batuan serta program pemerintah nantinya adalah basis datanya kartu tani," papar Arum Sabil. (Jo/Sumber:Disini)

Read More

PTPN XI Mulai Pasang Infrastruktur Pendukung Kartu Petani

Post at Thursday, 19 May 2016 , Comment

SURABAYA (19/05/2016) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mulai memasang infrastruktur pendukung kartu petani pada hari ini di Pabrik Gula (PG) Semboro, Kabupaten Jember.

Kepala Urusan IT PTPN XI Evi Kusumawardhani Utami mengatakan setelah dilakukan pemasangan akan dilanjutkan uji coba penerapannya di pabrik. Semboro menjadi PG pertama yang akan mencicipi uji coba teknologi IT ini.

"Belum bisa diterapkan di semua PG, selain di Semboro sebetulnya ada dua lagi yang akan dipasang mesin untuk kartu petani, yaitu Djatiroto dan Wonolangan," ucapnya kepada Bisnis, Rabu (18/5/2016).

Pada tahap awal, PTPN XI mencetak sekitar 2.000 kartu petani untuk penerapan di Semboro. Nantinya petani tinggal menempelkan atau menggesek ke mesin EDC, masukkan pin lantas akan keluar seluruh informasi mengenai dirinya, seperti rendemen, luas kebun, nomor petak dan lokasinya, data kredit, serta produksi.

Kartu petani diterapkan PTPN XI bekerja sama dengan developer IT tersendiri. Rencananya produk ini akan diterapkan di semua pabrik gula. "Rencananya mulai tahun depan," ujar Evi.

Pemilihan uji coba kartu petani di Semboro merupakan hasil kebijakan direksi. Evi berpendapat kemungkinan besar pertimbangannya karena PG besar sekaligus dilihat juga manajemen datanya, pabrik ini salah satu yang rapi.

"Tapi Djatiroto dan Semboro dipilih karena pabrik besar, Wonolangan datanya bagus. Dan di Semboro petani enggak terlalu banyak banget," ucap Evi.(Jo/Sumber:Disini)

Read More

PTPN XI lakukan efisiensi total

Post at Thursday, 19 May 2016 , Comment

SURABAYA (19/05/2016) Mempertahankan pendapatan tahun 2015, manajemen PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI akan melakukan efisiensi total di sektor on farm maupun off farm. Di sektor on farm salah satunya dilakukan dalam bentuk intensifikasi tanaman, sementara di sektor off farm diantaranya dengan menekan biaya produksi dari kisaran Rp. 7500 – Rp. 7.800/kg menjadi Rp. 7.000/kg.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN XI Dolly Parlagutan Pulungan kepada Media Center APTRI akhir pekan kemarin di Surabaya. “Langkah efisiensi total ini harus kami lakukan sebagai antisipasi terhadap penurunan protase tebu sendiri (TS) sebagai dampak anomali cuaca pada musim tanam 2015/2016,” katanya.

Dolly mengatakan, akibat dampak anomali cuaca yang terjadi selama musim tanam 2015/2016, protase tebu (TS) diperkirakan akan turun hingga 20 persen dari protase tahun sebelumnya. “Artinya, kita akan kehilangan pasokan sekitar 40.000 ton tebu pada musim giling tahun ini. Jika dirupakan dalam bentuk gula, tingkat kehilangan tersebut mencapai 15.000 ton,” kata Dolly.

Dengan kata lain, jika pada tahun 2015 PTPN XI mampu menghasilkan sebanyak 205.000 ton gula yang dihasilkan dari tebu sendiri (TS), maka pada musim giling 2016 ini hanya akan menghasilkan gula sendiri sebanyak 190.000 ton. Penurunan produksi tersebut jika tidak diantisipasi akan berdampak pada penurutan pendapatan PTPN XI di musim giling 2016.

“Ini tidak boleh terjadi. Karenanya kami harus melakukan berbagai cara untuk mempertahankan tingkat pendapatan perusahaan, semisal dengan upaya intensifikasi tanaman, melakukan efisiensi dan menekan biaya pokok produksi,” tegasnya.

Dolly yakin dengan berbagai upaya tersebut PTPN XI mampu mempertahankan pendapatan (sebelum pajak) sekitar Rp 264 miliar, dan keuntungan bersih sekitar Rp 164 miliar. Optimisme Dolly juga dipicu dengan harapan dan tren harga gula yang diperkirakan akan naik sepanjang tahun 2016 ini.

Sebagai catatan, pada 2015 lalu BUMN pergulaan terbesar ini mampu mengantongi keuntungan kotor (sebelum pajak) dari penjualan sebanyak 205.000 ton gula dan produk turunan lainnya serta usaha lainnya sebesar Rp 264 miliar. Atau keuntungan bersih sebesar Rp 186 miliar.(Jo/Sumber:Disini)

Read More

PTPN XI Jajaki Kelayakan Produksi Gula Cair

Post at Monday, 16 May 2016 , Comment

SURABAYA (16/05/2016) PT Perkebunan Nusatara (PTPN) XI tengah mengkaji kelayakan produksi gula tebu cair untuk pabrik-pabrik yang kurang efisien memproduksi gula pasir.    Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN XI Aris Toharisman menyatakan studi kelayakan proyek sedang berjalan, hasilnya diperoleh sebulan lagi. Kelanjutan proyek ini tergantung kepada hasil studi kelayakan, jika secara skala keekonomian mencukupi akan dilanjutkan dan sebaliknya.   “Kami ada rencana untuk membuat gula cari dari nira tebu. Nah pabrik-pabrik yang kuang efisien, rantai produksinya kami potong untuk memproduksi gula cair saja,” ucapnya kepada Bisnis, Jumat (13/5/2016).    Aris menyebutkan ada dua pabrik yang kemungkinan akan dialihkan produksinya menjadi gula tebu cair, yaitu PG Kanigoro dan PG Olean. Kapasitas produksi pabrik gula (PG) Kanigoro sekarang berkisar 1.700 ton tebu per hari, sedangkan PG Olean seitar 800 ton tebu per hari.    Tantangan dalam pemasaran gula cair dibandingkan gula kristal putih (GKP) adalah pengemasan. Gula cair dinilai lebih muda terkontaminasi. Guna menyiasatinya, PTPN XI akan meningkatkan level kekentalan dibareng dengan penyimpanan yang lebih khusus.    “Gula cair ini larinya akan lebih banyak diserap industri minuman. Gula cair mengandung semuanya, ya sukrosa, fruktosa maupun glukosa,” ujar Aris.    Tebu yang akan diolah menjadi gula cair hanya tebu PTPN XI sendiri sebesar 34%, bukan milik petani. Di Indonesia sekarang ini bagi hasil yang diterapkan antara  petani dan pabrik gula 66 : 34, 66% menjadi bagian para petani.   Persentase itu ada karena mayoritas PG yang beroperasi sekarang tak punya lahan sendiri, bahan baku tebu mereka peroleh dari petani. Wujud kemitraan yang sekarang berkembang adalah sistem bagi hasil (SBH) gula yang ditanam petani lantas diolah pabrik gula mitranya.(Jo/sumber:disini)

Read More

BUMN Ini Biayai Proyek Tol Trans Sumatera Hingga Rumah Sakit Milik PTPN

Post at Thursday, 12 May 2016 , Comment

SURABAYA (12/05/2016) PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) terlibat dalam pembiayaan infrastruktur yang digarap Badan Usaha Milik Negara maupun pemerintah. BUMN di bawah Kementerian Keuangan ini terlibat dalam pembiayaan infrastruktur mulai dari Tol Trans Sumatera hingga rumah sakit milik PTPN XI di Malang, Jawa Timur. Edwin Syahruzad, Direktur pembiayaan dan investasi PT. SMI menjelaskan, proyek yang dibiayai itu antara lain:

Tol Trans Sumatera: Tol Medan-Binjai nilai proyeknya Rp 1,6 T, porsi SMI Rp 481 M, Tol Palembang-Indralaya nilai proyeknya Rp 3,3T, porsi SMI Rp 1,24 T. Tol Trans Jawa: Tol Solo-Ngawi-Kertosono nilai proyeknya Rp 10.85 T, porsi SMI Rp 700 M, Tol Pejagan-Pemalang nilai proyek Rp 2.25 T, porsi SMI Rp 700 M. Transportasi: Pelabuhan Cigading, Banten, nilai proyek Rp 500 M, porsi SMI  Rp125 M, Pengembangan Bandara Soetta Terminal 3, nilai proyek Rp 18.7 T, porsi SMI Rp 500 M. Ketenagalistrikan: PLTU Tenayan, Pekanbaru, nilai proyek Rp 2.2 T, porsi SMI Rp 400 M, PLTU Sumsel 5 B dan Kendari 3, nilai proyek US$ 682 juta, porsi SMI US$ 40 juta. Sektor lain: Rumah Sakit Lavalette nilai proyek Rp 82,5 M, porsi SMI Rp 70 M.

Dia menjelaskan, sektor infrastruktur yang paling banyak dibiayai SMI adalah ketenagalistrikan (48%). Disusul kemudian proyek jalan (26%), minyak dan gas (14%), transportasi (5%), telekomunikasi (3%), irigasi (2%), serta multi sektor (4%). Adapun lokasi proyek terbanyak berada di pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Disusul berikutnya Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. "Ada 20 Kabupaten/Kota, di antaranya Pemkot Padang, Pesisir Selatan, Bandar Lampung, Temanggung, Lombok Timur, Lombok Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, hingga Halmahera Selatan," tutur Edwin. (Jo/Sumber:Disni)

Read More

Kemenko Optimistis Harga Pangan Jelang Ramadhan Terkendali

Post at Tuesday, 10 May 2016 , Comment

SURABAYA (10/05/2016) Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian Musdalifah menampik kabar kenaikan harga pangan sebulan jelang Ramadhan. Justru pemerintah saat ini sedang menyiapkan sejumlah instrumen pengendalian harga agar harga pangan di momen tersebut tetap terjaga. "Kata siapa naik ,belum kok, cabai sudah turun, bawang merah pas masuk bulan puasa sudah siap, kita akan rakor lagi besok," kata dia saat ditemui di Gedung Bulog, Selasa (10/5). Begitu pun soal kabar melambungnya harga gula di Riau. Ia menyebut, pengendalian harga akan diserahkan kepada BUMN. Pemenuhan kebutuhan protein di Ramadhan dan Lebaran 2016 akan dipenuhi dari impor. Rencananya pemerintah melalui Berdikari akan mengimpor 10 ribu daging sapi dan karkas hingga musim lebaran usai. Namun ia tidak menjelaskan negara mana yang akan memasok daging untuk Indonesia serta belum memastikan apakah Bulog juga akan terlibat dalam distribusi. Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menyebut, hingga kini stok beras di gudang Bulog sebanyak 1,93 juta ton. Penyerapan beras terus dilakukan diiringi perbaikan infrastruktur dan gudang. "Kita mulai dari pasca panen, kita harus punya pengering, harus punya dryer," katanya. Tak berhenti sampai di sana, Bulog juga perlu melengkapi armadanya dengan kesiapan gudang yang mumpuni. Misalnya gudang jagung dan gabah kering giling. Bulog, lanjut dia, membutuhkan minimal Rp 2,3 triliun untuk melakukan penguatan infrastruktur tahap pertama. Bulog telah mengajukan permohonan PMN Rp 2 triliun dan akan melengkapinya dengan dana internal Rp 400-500 miliar. "Kalau itu belum bisa, maka saya akan mohon PMN yang digunakan untuk moda kerja bisa diswitch utuk investasi ini," tuturnya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Bantu Petani Tebu, Bank Jatim Kucurkan Rp 600 Miliar

Post at Tuesday, 10 May 2016 , Comment

SURABAYA (10/05/2016) Para ahli gula yang tergabung dalam Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) menggelar Kongres XI di Surabaya, Rabu (4/5) lalu -- yang juga dihadiri perusahaan perbankan dan industri alat berat sektor pertanian ini -- membahas tentang pemberdayaan SDM dan teknologi industri gula.   Di antaranya, PT Bank Jatim Tbk telah menjalin sinergi dengan dua produsen gula, yakni PTPN X dan PTPN XI telah menyepakati perjanjian kerjasama pada Desember 2015 dan April 2016 lalu. Bank Jatim mendukung pembiayaan bagi para petani tebu di lingkungan dua perusahaan gula tersebut.   “Dengan kerjasama tersebut, diharapkan produktivitas petani tebu, khususnya yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di lingkungan PTPN meningkat,” ungkap Direktur Agrobisnis dan Unit Usaha Syariah Bank Jatim, Tony Sudjiaryanto dalam keterangan persnya, Sabtu (7/5).   Tony menambahkan, total rencana pembiayaan sekitar Rp 600 miliar dengan pola kredit executing. Kredit dari Bank Jatim ke sektor perkebunan tebu menawarkan suku bunga ringan dengan masa kredit maksimal dua tahun.   “Ini juga bagian upaya Bank Jatim untuk membantu petani tebu dan perusahaan gula guna mewujudkan swasembada gula. Apalagi Jawa Timur merupakan salah satu sentra industri gula nasional, jadi Bank Jatim sangat berkomitmen membantu pengembangan industri gula,” pungkas Tony. (Jo/Sumber:disini)
Read More

BRI Kucurkan Kredit Rp 993 Miliar untuk PTPN XI

Post at Tuesday, 10 May 2016 , Comment

SURABAYA (10/05/2016) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyalurkan kredit senilai Rp 993 miliar kepada sektor produksi gula PT Perkebunan Nusantara XI. Penanda tangan akad kredit dilakukan Wakil Direktur Utama BRI Sunarso dan Direktur Utama PTPN XI Dolly P Pulungan di Pabrik Gula (PG) Pagotan, Desa Kradegan, Madiun, Jawa Timur. Dengan demikian, total kredit yang telah disalurkan BRI kepada PTPN XI menjadi Rp 1,72 triliun. Sedangkan, penyaluran pembiayaan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor produksi gula secara keseluruhan berjumlah Rp 4,12 triliun. Sunarso menjelaskan, pemberian kredit tersebut merupakan pembiayaan dari hulu ke hilir, yakni dari tebu ditanam sampai dengan tebu dijual. "Secara umum, pemberian fasilitas kredit ini bertujuan untuk menjamin rantai pasokan bahan baku tebu petani dan mempertahankan tingkat kapasitas produksi gula agar tetap optimal sehingga tingkat suplai gula di masyarakat tetap stabil dan kontinuitasnya juga terjaga," kata Sunarso, di Madiun, Selasa (3/5). Dalam akad senilai Rp 993 miliar tersebut, BRI menyalurkan kredit dalam bentuk Modal Kerja Talangan on farm tebu petani sebesar Rp 300 miliar, Modal Kerja Talangan Gula Petani sebesar Rp 350 miliar, dan Kredit Investasi (KI) Capital Expenditure (Capex) sebesar Rp 343 miliar. "Untuk Modal Kerja Talangan on farm tebu petani, skim ini digunakan untuk memberikan kemudahan pembiayaan modal kerja bagi petani dengan suku bunga murah, yaitu sebesar 9,75 persen per tahun. Pembiayaan modal kerja ini ditujukan kepada petani mitra PTPN XI yang berjumlah lebih 20 ribu petani dengan luas lahan mencapai 44 ribu hektare," ujar Sunarso. (Jo/Sumber:disini, berita serupa dapat diakses disini dan disini)

Read More

Pembebasan Tugas dan Pengangkatan Pejabat Puncak PTPN XI

Post at Sunday, 01 May 2016 , Comment

SURABAYA (01/05/2016) Sesuatu yang ada awalnya pasti akan berujung pada akhirnya. Hal itu pula yang terjadi pada Sabtu (30/04) kemarin. Salah satu Pejabat Puncak PTPN XI memasuki masa purna tugas. Beliau adalah Lukman Hidayat yang sebelumnya menjabat sebagai General Manager PG Assembagoes. Pria yang telah mendedikasikan hidupnya lebih dari 25 tahun di PTPN XI ini merupakan salah satu sumber daya terbaik yang dimiliki PTPN XI.

Menindaklanjuti hal tersebut, Achmad Barnas yang sebelumnya menjabat sebagai General Manager PG Kedawoeng dipercaya oleh Direksi untuk menggantikan posisi beliau sekaligus menjabat sebagai General Manager PG Olean. Sedangkan PG Kedawoeng dipimpin oleh Noor Drajat Rachman sebagai Pjs General Manager yang sebelumnya merupakan salah satu Tim Pendampingan PG-PG PTPN IX di Bidang Tanaman. Edi Pangestu yang sebelumnya menjabat sebagai General Manager PG Purwodadie dan PG Sudhono per tanggal 1 Mei 2016 ditetapkan sebagai General Manager PG Purwodadie.

Selain hal tersebut diatas, adapun pergantian pejabat puncak PTPN XI adalah sebagai berikut :

Widodo Kardijanto sebagai General Manager PG Sudhono Probo Wahyono sebagai Kepala Divisi Pemasaran M. Khoiri sebagai Kepala Divisi Hukum dan Divisi Umum & Pemberdayaan Aset Subagiyo sebagai Kepala Divisi Sumber Daya Manusia Bambang Tri A. sebagai Pjs Kepala Divisi Pengadaan

“Dengan adanya mutasi dan promosi diharapkan bahwa para General Manager dan Kepala Divisi dapat fokus serta dapat mengeksekusi hal-hal yang sudah diputuskan oleh Direksi dengan baik, mengingat kompetisi dan tantangan yang kian berat” ujar Dolly P. Pulungan selaku Direktur Utama PTPN XI dalam arahan yang diberikannya (Yns)

Read More

State Sugar Plantation PTPN XI Swings to Profit on Efficent Operation

Post at Wednesday, 20 April 2016 , Comment

SURABAYA (20/04/2016) State-owned plantation company Perkebunan Nusantara XI booked a Rp 248 billion ($19 million) net income in 2015, thanks to a more efficient operation after suffering a Rp 192.5 billion loss a year earlier amid falling sugar prices.

The profit was the company's best performance in the last decade and the highest profit among state plantations last year.

"This is the fruit of our handwork with the farmers. PTPN XI has tried to change the worker's mindset to work faster. We are no longer have complicated bureaucracy," Dolly P Pulungan, PTPN XI president director, said on Thursday (24/3).

The company targets to produce 450,000 metric tons of sugar this year, up 11.1 percent from 405,000 metric tons a year earlier.

M Cholidi, PTPN XI human resources director, said the prolonged drought last year had reduced production. He said the company aims to match Thailand's production of 100 metric tons a hectare in three years.

"We will try to keep the production volume this year, or about an average of 80 metric tons a hectare of sugar cane production, that is enough. But in the 2016 to 2017 planting season, we will try to improve [the production] in several ways, including through land conversion in collaboration with PTPN XII," he said. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Langkah konkrit Menteri BUMN Untuk Kebangkitan Industri Gula Nasional

Post at Tuesday, 19 April 2016 , Comment

SURABAYA (19/04/2016) Senin (18/04) lalu Menteri BUMN Rini Soemarno melakukan sebuah tindakan konkrit terhadap kepastian Industri Gula Nasional dengan menggelar pertemuan yg melibatkan semua pihak pemangku kepentingan (stakeholder) industri gula yakni para petani tebu, PT Perkebunan Nusantara (PTPN), PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), Perum Bulog, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Direksi Bank BUMN, Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Ikatan Ahli Gula, hingga serikat pekerja pabrik gula.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk mensinergikan antar BUMN dan lembaga Pemerintah lainnya guna membangkitkan industri gula nasional kedepan. Tindakan konkrit Menteri BUMN ini menuai tanggapan positif terhadap investasi dan optimisme kemajuan Industri Gula Nasional.

Dedy Mawardi selaku Komisaris PTPN XI menyambut positif kebijakan itu, "Sikap Ibu Menteri adalah terjemahan konkrit atas program Nawa Cita Presiden Jokowi di industri gula nasional. Negara hadir di industri gula nasional yang berbasis tebu. Keputusan ini semakin memberi optimisme kami di PTPN XI dan hal ini akan mendapat dukungan publik, khususnya para petani tebu". Dedy memaparkan kebutuhan gula nasional ada 2.205 Juta ton dengan segmentasi, 245 juta ton gula kristal putih dan 735 gula rafinasi industri gula untuk industri kecil, sebagian sisanya digunakan untuk konsumen harian masyarakat. Dan pola sinergisitas antar BUMN adalah kunci atas akselerasi Industri Gula Nasional.

Lebih lanjut Dedy menerangkan situasi Pabrik Gula di Indonesia, "Pabrik kita kan warisan jaman Belanda, mesinnya sudah tua, jadi tidak lagi optimal dalam proses produksi. PTPN XI sudah membeli beberapa mesin baru untuk mengejar optimalisasi baik secara kualitatif (rendemen) dan kuantitatif". "Kami berharap langkah Menteri BUMN ini dapat didukung penuh oleh Presiden Jokowi dengan menerbitkan kebijakan yang berpihak pada Industri Gula Nasional demi mewujudkan swasembada gula di tahun 2019. Dengan langkah konkrit Menteri BUMN ini maka secara perlahan pemerintah tak perlu lagi buka kran Impor gula untuk memenuhi kebutuhan gula secara nasional" tutup Dedy Mawardi. (Jo/Yns)

Read More

HARGA GULA AKAN MEROKET SAAT LEBARAN

Post at Thursday, 14 April 2016 , Comment

SURABAYA (14/04/2016) Menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran, segala harga-harga barang kebutuhan pokok diprediksi melonjak. Salah satunya adalah gula. Hanya saja, tahun 2016 ini diprediksi lonjakan harga gula bisa beberapa kali lipat. Hal ini disebabkan beberapa hal yang di antaranya, rata-rata rendemen tebu sejumlah perkebunan akan turun drastis hingga 15 persen. Menurut Direktur Penelitian dan Pengembangan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), Gede Wibawa, perkebunan tebu diprediksi akan terganggu kinerja produksinya saat musim kemarau basah. Meski sudah memasuki bulan April, namun akhir-akhir ini masih sering turun hujan, terutama di Pulau Jawa. Gede menjelaskan, saat musim kemarau, musim giling tengah berlangsung dan jika terlalu banyak air, maka petani akan sulit memanen dan pengangkutan pun sulit dilakukan. "Kemudian rendemen bisa turun karena terlalu banyak air. Tebu ini perlu musim kering saat membentuk gulanya. Kalau kemarau basah, rendemennya turun, ini kalau kita bandingkan dengan kondisi normal ya,” kata Gede melalui siaran pers, Rabu (13/4). Menurutnya, meskipun volume produksinya bagus, produksi gula berpotensi berkurang karena penurunan rendemen itu. Gede memprediksi produksi tebu bisa naik lima persen namun rendemen bisa turun hingga 15 persen. Pada saat yang bersamaan, cuaca di Thailand juga tak mendukung bagi perkebunan tebu di sana. Hasil panen tebu Thailand diprediksi jatuh ke level terendah dalam empat tahun terakhir seiring cuaca kering yang melanda. Akibatnya, suplai global dapat semakin defisit. Thai Sugar Millers Corp. menyampaikan produksi gula periode 2015-2016 dapat jatuh di bawah 100 juta ton. Artinya, pencapaian tersebut bakal lebih rendah dibandingkan 2011-2012. Tahun lalu, produksi menghasilkan 106 juta ton. Dalam 91 hari terakhir, produksi gula sudah sebesar 7,19 ton. Angka ini merosot dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 8 juta ton. Montri Vissanupornprasit, Secretary General North Eastern Sugar Cane Planters Federation, mengatakan kelanjutan cuaca kering memperburuk kualitas dan hasil tebu. "Keseluruhan produksi mungkin hanya mencapai 95 juta ton," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg. F.O.Licht Senior Commodity Analyst Stefan Uhlenbrock di Bangkok berpendapat defisit gula dunia pada periode 2015-2016 berkisar 6,5 juta ton, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,2 juta ton. Sedangkan defisit 2016-2017 berjumlah 1,5 juta ton. Jika kondisi di dalam negeri, lambung karena rendemen yang buruk sementara di luar negeri suplai juga berkurang seperti di Thailand, maka sinyal merah ketahanan pangan di Indonesia bisa menyala. Selama ini Indonesia banyak mengimpor gula kristal putih dari Thailand. Jika stok di Thailand menurun, maka Indonesia pun bisa terpengaruh. Kondisi akan membahayakan kondisi di Indonesia, jelang ramadhan dan lebaran. Bisa-bisa gula akan menghilang karena menurunnya produksi pabrik gula dan impor juga tak lancar. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Petani Tebu Rakyat Minta Penetapan Harga Dasar Gula

Post at Thursday, 14 April 2016 , Comment

SURABAYA (14/04/2016) Para petani tebu rakyat di wilayah Jawa Barat (Jabar) berharap agar pemerintah segera menetapkan harga patokan petani (HPP) sebagai harga dasar gula. Hal itu untuk menghadapi persaingan dengan gula dari luar negeri di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti sekarang. Sekretaris DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar, Haris Sukmawan mengatakan, di era MEA, pemerintah meniadakan harga dasar gula dan melepasnya melalui mekanisme pasar. ''Padahal, di era MEA, gula rakyat harus bersaing dengan gula dari luar negeri. Pemerintah harus segera menetapkan harga dasar gula,'' tegas pria yang akrab disapa Wawan itu, Rabu (13/4). Wawan berharap, pemerintah menetapkan harga dasar gula sebelum musim giling dimulai bulan depan. Dia pun meminta, harga dasar gula pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 8.900 per kg. Wawan menyebutkan, biaya pokok produksi (break event point/BEP) gula mencapai Rp 9.100 - Rp 9.250 per kg. Karena itu, maka harga dasar gula yang diharapkan minimal bisa mencapai Rp 10 ribu per kg. Wawan mengakui, gula dari luar negeri, seperti dari Thailand dan Vietnam, lebih efisien dalam produksinya dibandingkan dengan gula lokal. Karena itu, harganya pun menjadi lebih murah. Lebih efisien dan murahnya gula dari luar negeri itu dikarenakan adanya proteksi dari pemerintahnya masing-masing. Seperti bunga pinjaman bank yang rendah dan tingkat rendemen yang tinggi. Untuk tingkat rendemen, selama ini tebu rakyat hanya bisa menghasilkan rendemen yang rendah. Hal itu dikarenakan mesin-mesin di pabrik gula sudah berusia tua yang merupakan peninggalan penjajah Belanda. (Jo/Sumber:Disini)

Read More

Strategi PTPN XI Bikin Jumlah Pabrik Gula Berkurang

Post at Tuesday, 12 April 2016 , Comment

SURABAYA 12/04/2016) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI berencana melakukan regrouping pabrik gula. Terutama untuk pabrik gula skala kecil. Hal itu dilakukan untuk menekan biaya pemeliharaan dan investasi.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN XI Aris Toharisman mengatakan, pihaknya akan membenahi sejumlah pabrik dengan modal perseroan. Ke depan, skala kapasitas PG dan efisiensi ditingkatkan.

“Konsekuensinya, jumlah PG berkurang. Tapi, kapasitasnya akan bertambah besar. Kapasitas yang besar ini akhirnya dapat meningkatkan efisiensi,” terang Aris, Minggu (20/4) kemarin.

Menurut dia, jika skala kapasitas PG kecil, biaya investasi dan pemeliharaannya tidak jauh berbeda dengan PG berskala besar. Direncanakan, sampai 2019, jumlah PG di PTPN XI menjadi sembilan unit dari sekarang 16 unit.

Aris mencontohkan, peningkatkan kapasitas PG Asembagus dan Jatiroto yang memakan dana PMN Rp 650 miliar. Dana lebih dari setengah triliun rupiah itu nanti terbagi menjadi Rp 250 miliar untuk PG Asembagus dan Rp 400 miliar untuk PG Jatiroto.

“Dana ini pun sebenarnya kurang. Sebab, kebutuhan kami untuk dua pabrik itu sekitar Rp 1,7 triliun,’’ ujar Aris. Padahal, kata dia, laba yang dibukukan PTPN XI tahun lalu hanya Rp 118 miliar. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Gathering Petani PTPN XI, Manisnya Kebersamaan dan Kemitraan

Post at Monday, 11 April 2016 , Comment

SURABAYA (11/04/2016) Dalam dua hari terakhir, (7-8/4/2016), sekitar seratus petani tebu tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) wilayah PTPN XI berkumpul dalam sebuah 'gathering' di Jogjakarta. Acara yang digagas oleh PTPN XI ini bertujuan untuk makin mengukuhkan jalinan kemitraan perusahaan dgn petani yang merupakan mitra strategisnya.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN XI, Aris Toharisman menyatakan, bahwa hubungan baik dengan petani selaku pemasok tebu merupakan salah satu kunci sukses PTPN XI.

"Kami bisa membalik posisi rugi menjadi untung berkat dukungan petani juga. Pasok  tebu kami lebih lancar dan kualitas tebu petani makin baik, sehingga rendemen gula tahun giling lalu naik menjadi 8,04% dari sebelumnya dibawah 8%", imbuh Aris Toharisman, pada joss.today hari ini.

Acara gathering diisi juga paparan dari jajaran direksi BNI tentang mekanisme pencairan KUR bagi petani tebu. Ketua harian APTRI wilayah PTPN XI, Sunardi Edi, meminta agar BNI bisa segera mempercepat proses pencairan KUR karena sangat diperlukan untuk modal kerja usahatani tebu. "Dengan dukungan avalis PG kami yakin BNI segera mengucurkan KUR, apalagi didukung perusahaan yang sangat sehat dan kuat", ujar Edi.

Para petani pun demikian menyambut antusias dan berharap acara serupa di tahun-tahun mendatang. "Dialog kami dengan Direksi sangat terbuka, gayeng,  cair dan tanpa batas. Ini membuat kami senang dan bisa memahami upaya Direksi dalam mengembangkan perusahaan", demikian penjelasan Mawardi, salah satu tokoh petani tebu Pasuruan.

Acara gathering dengan petani dihadiri semua GM PG di PTPN XI, praktisi pergulaan dan motivator. "Ini sekaligus momen menyamakan persepsi tentang langkah2 menuju peningkatan produktivitas gula musim giling tahun ini", papar Aris Toharisman.

Menurut Aris Toharisman yang juga sekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia atau IKAGI Pusat, target produksi gula PTPN XI tahun ini naik menjadi 500 ribu ton, dari capaian sebelumnya sekitar 405 ribu ton.

Ketua Dewan Pembina APTRI, Arum Sabil menambahkan, hal-hal baik yang sudah dimulai di PTPN XI ini harapannya juga bisa dijalin oleh perusahaan gula yang lain.

"Kebersamaan dan kemitraan petani dengan perusahaan gula adalah kunci penting dalam meningkatkan produktifitas gula nasional menuju percepatan swasembada gula karena disitulah segala permasalahan bisa ditemukan jalan keluarnya" imbuh Arum penuh optimistis.(Jo/Sumber:disini)

Read More

Revitalisasi Pabrik Gula Support Target Swa Sembada Gula Nasional

Post at Thursday, 07 April 2016 , Comment

SURABAYA (07/04/2016) Plant visit hari kedua digelar di Pabrik Gula (PG) Assembagoes, Rabu (06/04) kemarin. Setelah sebelumnya dilakukan di PG Djatiroto. PG paling timur yg dimiliki PTPN XI ini mendapat giliran kunjungan kontraktor sebelum proses tender dilakukan.

Ditegaskan kembali oleh Aris Toharisman selaku Project Director, PTPN XI  memberi kesempatan untuk melakukan evaluasi kondisi eksisting di masing-masing pabrik gula. Sehingga para kontraktor dapat menyusun rencana proyek dengan tepat. "Di  hari kedua ini kami tegaskan, agar kesempatan yang ada digunakan untuk melakukan evaluasi atas kondisi eksisting yg ada sehingga perencanaan bisa dilakukan secara tepat", ujar Aris pada saat brifing sebelum kunjungan ke pabrik. "Mohon kepada masing-masing  kontraktor memanfaatkan momen plant visit ini dengan sebaik-baiknya. Ini merupakan wujud keterbukaan & akuntabilitas kami dalam proses revitalisasi pabrik gula. Hanya kontraktor yang berpengalaman dan profesional yang kami harapkan, serta mengikuti proses profesional dan tidak ada lobi-lobi khusus" tegasnya lebih lanjut.

Melalui program PMN, PG Assembagoes direncanakan akan ditingkatkan kapasitas gilingnya dari 3.000 TCD menjadi 6.000 TCD. Selain itu peningkatan kualitas juga menjadi sasaran PTPN XI, targetnya adalah gula produk memiliki icumsa berada di bawah 100 IU dan mempersiapkan produk co-generation dengan kapasitas 10 MWatt.

Dengan HGU sekitar 1.300 Ha ditambah dengan mitra petani tebu rakyat (PTR) diharapkan penambahan kapasitas giling mampu memacu produksi gula sehingga mendukung program swa sembada gula nasional tahun 2019. “Dengan peningkatan kapasitas diharapkan PG Assembagoes mampu mendukung program swa sembada gula nasional”, harap D. Yusmanto selaku Ketua Tim Teknis PMN PTPN XI.

Plant Visit hari kedua ini dihadiri oleh Director Project, Ketua Tim Teknis, Ketua Tim Adminstrasi, General Manajer PG Assembagoes PTPN XI beserta tim pendamping dan para kontraktor yang telah memenuhi persyatan untuk mengikuti kegiatan plant visit yang digelar pada 5 dan 6 April 2016. (Jo/Yns)

Read More

Diharapkan Efek Domino pada Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Post at Thursday, 07 April 2016 , Comment

SURABAYA (07/04/2016) Program revitalisasi Pabrik Gula (PG) milik PTPN XI diharapkan mampu memberikan multiplier efek baik secara ekonomi hingga sosial pada masyarakat khususnya stakeholder. Sebagaimana disampaikan oleh Aris Toharisman disela-sela kegiatan plant visit di PG Assembagoes, Situbondo Rabu (06/04) kemarin.

“Harapan kami dengan pelaksanaan program revitalisasi PG dengan memanfaatkan dana PMN ini akan menciptakan multplier efect mulai perekonomian hingga sosial” ujar Direktur Proyek PMN PTPN XI ini.

Aris menerangkan lebih lanjut bahwa bentuk revitalisasi PG Assembagoes adalah peningkatan kapasitas giling dari 3.000 TCD menjadi 6.000 TCD, peningkatan mutu hingga icumsa <100 IU dan persiapan produksi co-generation dengan kapasitas 10 MW. Program ini bersifat multiyears, dimulai tahun 2016 hingga 2018 dan merupakan turnkey project.

“Dengan kapasitas giling yang meningkat, pabrik gula dapat menggiling tebu termasuk milik petani dan menyelamatkan potensi rendemen dalam tebu optimal. Diharapkan perekonomian petani akan turut tergerak karena hasil yang optimal dan berkualitas premium”, terang D. Yusmanto selaku Ketua Tim Teknis Proyek PMN PTPN XI.

Disatu sisi efisiensi pabrik akan tinggi, sehingga dapat mengendalikan biaya sehingga laba yang diraih pabrik gula lebih besar. Hal ini akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan karyawan dan perputaran perekonomian masyarakat sekitar pabrik. Dengan peningkatan jumlah produksi, diharapkan mampu mendukung pencapaian swa sembada gula nasional, terangnya lebih lanjut.

Sebagaimana diketahui, PTPN XI memperoleh pendanaan Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2015 sebesar Rp 650 Milyar yang akan dialokasikan ke dua pabrik gula, yakni Rp 400 Milyar untuk PG Jatiroto dan Rp 250 Milyar untuk PG Assembagoes. Jumlah Rp 650 Milyar tersebut hanya sebagian dari jumlah kebutuhan investasi yang dibutuhkan dalam melakukan revitalisasi dilingkungan PTPN XI. (Jo/Yns)

Read More

PTPN XI Targetkan Produksi Gula BUMN Naik 10 Persen Tahun Ini

Post at Wednesday, 06 April 2016 , Comment

Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menargetkan produksi Gula Kristal Putih (GKP) atau gula pasir buatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bisa mencapai 1,6 juta ton tahun ini atau meningkat hampir 10 persen dari realisasi produksi tahun lalu, 1,455 juta ton. “Target (produksi) gula GKP sekitar 1,6 juta ton sedangkan kebutuhan GKP tahunan itu rata-rata tiga juta ton,” tutur Dolly Pulungan, Ketua Badan Pengarah AGI usai peresmian kantor baru AGI di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Senin (4/4). Diretur Utama PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN) ini mengungkapkan selain mengandalkan produksi gula perusahaan pelat merah, kebutuhan gula pasir dalam negeri juga akan dipasok oleh perusahaan swasta sekitar satu juta ton. Sementara, sekitar 400 ribu ton kekurangan pemenuhan GKP tahun ini akan diupayakan dari usaha peningkatan produktivitas dan efisiensi pabrik gula pelat merah. Misalnya, lanjut Dolly, melalui peningkatan kapasitas giling, penghematan bviaya operasional pabrik, hingga perbaikan budidaya tanam dan teknologi pemupukan. “Moga-moga dengan upaya itu, kami bisa meningkatkan produksi kami tahun ini menjadi 2 juta ton, dimaksimalkan,” ujar Dolly. Lebih lanjut, Dolly menyatakan AGI ingin membantu pemerintah untuk menciptakan swasembada gula pada 2018. Pada saat itu, diharapkan, produksi GKP bisa mencapai 3 juta ton per tahun. Untuk mencapai itu, perusahaan gula BUMN tengah didorong untuk melakukan konversi lahan seluas 30.150 hektare secara bertahap menjadi lahan tanaman tebu. “Lahannya dari tanaman karet, hutan tanaman keras, dan lahan yang terawat,” ujarnya. Di tempat yang sama, Ketua Umum Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengungkapkan tahun ini merupakan tahun yang berat bagi produksi gula karena berkurangnya ketersedian tebu. “Pada 2015 lalu kan musim kemarau panjang ketika tebu ditebang, pertumbuhan vegetatifnya mengalami kendala. Musim kemarau panjang membuat pupuk tidak maksimal diberikan kepada tanaman sehingga pertumbuhan vegetatifnya terganggu,” ujar Arum.

Arum berharap, iklim tahun ini lebih bersahabat sehingga pertumbuhan tanaman tebu bisa optimal. Arum memperkirakan anomali iklim tahun lalu menurunkan luas areal tebu petani sekitar 15 hingga 20 persen dan menurunkan produktivitas tebu sekitar 10 hingga 15 persen. Selain faktor alam, berkurangnya tanaman tebu juga disebabkan oleh keengganan petani untuk menanam tebu. Hal itu disebabkan oleh adanya keterbatasan biaya dan adanya risiko rugi dari harga gula yang fluktuatif. Selain itu, kebutuhan pupuk juga sempat sulit terpenuhi. “Apabila ada keterbatasan biaya, pasti tanaman tidak terawat dengan baik. Kalau ingin swasembada gula yang berdaya saing itu tercapai, perluasan areal tebu itu bisa dicapa, maka cukupi biayanya. Itu tugas pemerintah. Kedua, beri pupuk tepat waktu kemudian perbaiki pabriknya,” ujarnya. Sebagai informasi, saat ini total luasan lahan tebu nasional mencapai 475 ribu hektare dengan produktivitas sekitar 95 ton gula rendemen 10 per hektare per tahun. Adapun total produksi tebu dari perkebunan BUMN mencapai 12 juta ton tebu per bulan. (Yns/Sumber : disini)

Read More

REVITALISASI PG, STIMULUS BISNIS DALAM NEGERI

Post at Wednesday, 06 April 2016 , Comment

SURABAYA (06/04/2016) Program revitalisasi pabrik gula yang akan dilaksanakan PTPN XI diharapkan mampu menjadi stimulan bagi iklim bisnis dalam negeri. Sebagaimana diungkapkan oleh Aris Toharisman, Direktur Proyek PMN PTPN XI saat melakukan plant visit di PG Jatiroto selasa (05/04) kemarin. Pasalnya dalam pelaksanaan program tersebut PTPN XI mensyaratkan penggunaan komponen dalam negeri.

“Perusahaan yang ikut tender harus merupakan perusahaan lokal, silahkan menggandengan perusahaan asing yang berpengalaman sebagai bentuk support technology  tetapi harus berbentuk konsorsium legal”, terang aris disela-sela indoor meeting.

Selain itu penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi preferensi dalam menentukan pemenang tender nanti. “Tingkat penggunaan TKDN menjadi salah satu preferensi kami”, jelas D. Yusmanto selaku Ketua Tim Teknis Proyek PMN PTPN XI. Selain itu PTPN XI juga mensyaratkan kontrak berbahasa Indonesia dan transaksi menggunakan mara uang Rupiah sebagai upaya untuk menstimulus iklim bisnis dalam negeri, pungkasnya lebih lanjut.

Sebagaimana diketahui, PTPN XI memperoleh pendanaan PMN tahun 2015 sebesar Rp 650 Milyar yang akan dialokasikan ke dua pabrik, yakni Rp 400 Milyar untuk PG Jatiroto dan Rp 250 Milyar untuk PG Assembagoes. Jumlah tersebut hanya sebagian dari kebutuhan PTPN XI dalam melakukan revitalisasi.

PTPN XI memiliki tiga tujuan utama dalam revitalisasi ini, yakni meningkatkan kapasitas giling PG Jatiroto dari 7.500 TCD menjadi 10.000 TCD, PG Assembagoes dari 3.000 TCD menjadi 6.000 TCD dan meningkatkan mutu produk dengan icumsa kurang dari 100 IU serta menyiapkan co-generation 10 MW. (Jo/Yns)

Read More

REVITALISASI TIDAK AKAN GANGGU GILING

Post at Wednesday, 06 April 2016 , Comment

SURABAYA (06/04/2016) Selama dua hari yakni selasa dan rabu (5-6 April 2016), PTPN XI menggelar kegiatan plant visit di dua pabrik gula (PG) miliknya, yakni PG Jatiroto dan PG Assembagoes. Diharapkan dari kegiatan tersebut masing-masing calon kontraktor lebih memahami kondisi, mampu mengeksplor dan mengevaluasi eksisting kedua PG tersebut yang selanjutnya dapat membuat rencana kemungkinan kedepannya. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari program revitalisasi pabrik gula dengan memanfaatkan dana Penyertaan Modal Negara (PMN).

“Pendanaan dari PMN yang didapat PTPN XI tahun 2015 adalah sebesar Rp 650 Milyar. Dana tersebut akan dialokasikan ke dua PG yakni Rp 400 Milyar untuk PG Jatiroto dan Rp 250 Milyar untuk PG Assembagoes. Tetapi jumlah Rp 650 Milyar tersebut hanya sebagian dari kebutuhan investasi PTPN XI”, ungkap Aris Toharisman selaku Direktur Proyek PMN PTPN XI.

“Jatiroto akan ditingkatkan kapasitas gilingnya dari 7.500 TCD menjadi 10.000 TCD. Sedangkan Assembagoes akan ditingkatkan kapasitas gilingnya dari 3.000 TCD menjadi 6.000 TCD. Selain itu revitalisasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan mutu produk sehingga icumsa produk yang didapatkan menjadi kurang dari 100 IU dan menyiapkan co-generation 10 MW”, jelasnya. Lebih lanjut Aris menyebut bahwa proyek tersebut bersifat multiyears hingga 2018 dan termasuk dalam turnkey project.

Pelaksanaan proyek pun tidak boleh mengganggu kegiatan produksi giling, sehingga diharapkan pemenang merupakan kontraktor berpengalaman. Disatu sisi pihaknya mensyaratkan peserta harus merupakan perusahaan lokal, bila perusahaan tersebut bekerjasama dengan perusahaan asing, maka harus berbentuk konsorsium legal.

“Yang terpenting adalah sepanjang kegiatan revitalisasi tidak boleh mengganggu aktivitas produksi dalam musim giling”, terang Aris yang juga merupakan Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN XI. (Jo/Yns)

Read More

PLANT VISIT WUJUD KETERBUKAAN PROSES TENDER

Post at Tuesday, 05 April 2016 , Comment

SURABAYA (05/04/2016) Sebagai bagian dari proses pemanfaatan dana Penyertaan Modal Negara (PMN), Selasa (05/04) PTPN XI menggelar plant visit yang dilaksanakan di Pabrik Gula Jatiroto, Lumajang. “Plan visit ini diikuti oleh delapan kontraktor yang telah memenuhi syarat”, terang Aris Toharisman, Direktur Perencanaan dan Pengembangan selaku Direktur Proyek PMN PTPN XI.

Sebanyak 21 kontraktor telah memasukkan aplikasi kepada PTPN XI dan 13 diantara masih harus melengkapi persyaratan yang ada, sehingga hanya 8 kontraktor yang dapat mengikuti kegiatan plant visit tersebut.

Selanjutnya Aris Toharisman menegaskan bahwa kegiatan plant visit berbeda dengan anzwijzing yang biasa dilakukan dalam proses tender, sehingga tidak hanya 8 kontraktor tersebut yang dapat mengikuti tender. Namun 13 kontraktor lain yang bisa segera melengkapi persyaratan juga dapat mengikuti tender tanpa mengikuti kegiatan plant visit. “Tidak menutup kemungkinan tidak hanya 8 kontraktor ini yang akan mengikuti tender. Bila ada diantara 13 kontraktor yang telah memasuki aplikasi sudah melengkapi berkas persyaratan, maka dia bisa mengikuti tender tanpa harus mengikuti plant visit” terangnya lebih lanjut.

Melalui plant visit PTPN XI memberikan kesempatan luas kepada calon kontraktor untuk mengeksplor dan memahami masing-masing lokasi eksisting engineering untuk membuat perencanaan kedepan terhadap dua PG milik PTPN XI yakni PG Jatiroto dan PG Assembagus. Selain itu kegiatan ini juga merupakan bentuk dari transparansi dan akuntabilitas. Dalam kegiatan tersebut peserta meninjau lokasi dan mendapatkan penjelasan secara langsung terkait rencana proyek dari PTPN XI.

Plant visit tersebut dihadiri oleh Direktur Proyek PMN, Tim Teknis dan Tim Admnistrasi & Legal proyek PMN PTPN XI yang terdiri atas Kepala Divisi terkait beserta staf, General Manajer PG Jatiroto. (Jo/Yns)

Read More

PTPN XI Lakukan Intensifikasi Tanaman Tebu

Post at Thursday, 24 March 2016 , Comment

SURABAYA (24/03/2016) Mengantisipasi kemungkinan terjadinya penurunan produksi gula akibat berkurangnya pasokan tebu sebagai dampak dari cuaca ekstrim, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI melakukan intensifikasi tanaman dengan harapan mampu meningkatkan protase tanaman tebu. Upaya serupa juga diharapkan dilakukan oleh para petani tebu, khususnya yang berada di wilayah kerja PTPN XI.

Direktur Produksi PTPN XI Budi Adi Prabowo mengatakan hal  tersebut, Kamis, 24 Maret 2016, disela-sela acara Jalan Sehat Memperingati  Hari Ulang Tahun ke-20 PTPN XI, di Surabaya. “Kemarau panjang yang terjadi pada musim tanam 2015/2016 dan siklus hujan yang terlambat menjadi penyebab turunnya produksi tebu yang kita ketahui bersama merupakan bahan baku utama pembuatan gula,” kata Budi Adi Prabowo.

Dia tidak berani memprediksi seberapa besar tingkat penurunan produksi tebu yang akan terjadi. “Penurunan bisa saja terjadi, tetapi kami percaya itu masih dalam batas-batas toleransi dan mampu diatasi. Kisarannya mungkin hanya diangka 5-8 persen saja. Dan kami sudah siap untuk mengantisipasinya sehingga kemungkinan tersebut bisa diminimalisir,” urainya.

Kemungkinan bakal turunnya produksi tebu juga dipicu oleh terlambat tibanya musim hujan, dan --yang oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)-- diperkirakan akan berlangsung singkat hanya sekitar 4-5 bulan yang akan berpengaruh terhadap tingkat kematangan tanaman tebu. “Itulah sebabnya kami mencoba melakukan intensifikasi tanaman dengan meningkatkan pemupukan baik urea maupuk NPK untuk meningkatkan speed up pertumbuhan tanaman dan tingkat kematangannya,” ungkap Budi Ari Prabowo.

Di tempat yang sama, Direktur SDM PTPN XI Cholidi menambahkan, upaya lain yang dilakukan PTPN adalah dengan menambah luasan areal tanam dari yang sebelumnya sekitar 80.000 hektare menjadi 85.000 hektare.

Harapannya, dengan penambahan areal tanam tersebut kuantitas produksi tanaman tebu secara total akan stabil seperti tahun-tahun sebelumnya. “Dengan begitu, kalaupun ada penurunan produksi tebu per hektare-nya, namun dengan adanya penambahan areal tanam seluas 5.000 hektare, kami optimis produksi gula tahun ini tidak akan mengalamai penurunan. Apalagi jika petani juga ikut melakukan intensifikasi pada tanaman tebu milik mereka masing-masing,” kata Cholidi.

Opimisme serupa dikemukakan Direktur Utama PTPN XI Dolly P Pulungan. Menurut Pulungan, jika pada 2015 lalu PTPN XI mendapatkan laba kotor sebelum pajak sebesar Rp 248 Milyar dan menjadi BUMN pergulaan dengan tingkat keuntungan terbesar secara nasional dan tercatat sebagai BUMN pergulaan yang memiliki kinerja terbaik, maka pada 2016 ini pendapatannya harus meningkat.

“Kita masih belum bisa memprediksi peningkatan pendapatan tersebut, tetapi itu dimungkinkan dari sisi membaiknya harga ditambah dengan upaya-upaya maksimal lainnya disisi on farm agar produksi tebu per hektarenya bisa stabhil di kisaran 90-100 ton per hectare,” kata Dolly P Pulungan.

Di sisi off farm, PTPN XI telah mengalokasikan investasi dengan total sebesar Rp 1,1 Triliun untuk revitalisasi beberapa pabrik gula. BUMN pergulaan itu juga berencana mengembangkan bisnis co-generation di sektor kelistrikan dan rumah sakit sebagai bisnis derivative.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) H.M. Arum Sabil pun tak mengingkari adanya kemungkinan penurunan produksi tebu  akibat anomali cuaca. Anomali cuaca yang secara umum terjadi di Indonesia, kata Arum, diharapkan tidak menyurutkan produktivitas petani tebu.

“Memasuki musim kemarau yang bersifat basah (iklim basah) tahun ini memang diprediksi akan mengganggu produksi tebu secara nasional. Namun hal itu tidak menyurutkan produksi komoditas petani. Pasalnya kita dituntut untuk berdaya saing tinggi. Menghadapi anomali cuaca, bersama-sama dengan PTPN, petani tebu di lingkungan PTPN XI sudah mempersiapkan segalanya,” kata Arum disela-sela acara memperingati ulang tahun ke 20 PTPN XI, Kamis (24/3/2016).

Selain dengan cara intensifikasi tanaman, perlu dilakukan suatu inovasi teknologi terutama dalam hal tebang angkut, revitasliasi pabrik dan penggunaan benih unggulan semacam tebu transgenik Tebu transgenik merupakan hasil riset atau temuan mahasiswa Universitas Jember (Unej). Tebu transgenic memiliki sifat toleran Kekeringan adalah jenis tanaman tebu dengan sifat tahan terhadap kekeringan. Tebu yang dikembangkan oleh PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) yang bekerjasama dengan Ajinomoto Co, Inc dan Universitas Jember dan telah disetujui oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Tanaman ini telah lolos dari uji keamanan melalui keputusan Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG) Indonesia pada bulan Mei 2013. (Yns/Sumber : disini)

Read More

DPR Minta Pemerintah Evaluasi 9 Industri Rafinasi ‘Bodong’

Post at Tuesday, 22 March 2016 , Comment

Panitia Kerja (Panja) Gula DPR RI meminta pemerintah mengevaluasi keberadaan 9 dari 11 industri gula rafinasi yang izin operasionalnya sesungguhnya sudah habis alias 'bodong' namun terus beroperasi, bahkan mengabaikan ketentuan-ketentuan investasi awal. 

Demikian wakil ketua Panitia Kerja (Panja) Gula DPR RI Abdul Wahid, dalam acara Pra Rapat Pleno Dewan Pembina dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), di Best Western Papilio Hotel Surabaya, Senin (22/3/2016) malam.

Dalam agenda tersebut, diantaranya dibahas isu-isu strategis sektor pergulaan nasional, yaitu yang terkait keberadaan industri gula rafinasi yang dinilai ‘bodong’. 

Nampak hadir pada acara tersebut, jajaran direksi PTPN XI, PTPN X, PT RNI dan PT Kebon Agung selaku mitra strategis petani tebu. Selain itu, jajaran Dewan Pembina dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), dan utusan DPD APTRI dari Jawa Barat, DPD APTRI Jawa Tengah, DPD APTRI PTPN XI, DPD APTRI Sulsel, DPD APTRI Lampung, DPD APTRI PTPN X dan DPD APTRI PT RNI.

Di forum tersebut, Abdul Wahid yang juga ketua umum DPP APTRI menandaskan, "Bahwa keberadaan 9 dari 11 industri gula rafinasi bukan hanya bermasalah yang izin operasionalnya, alias bodong dan terus beroperasi, tapi juga mengabaikan ketentuan-ketentuan investasi awal."

Menurut Abdul Wahid, harusnya pemerintah menghentikan operasional industri gula rafinasi bodong tersebut. Lebih-lebih, berdasarkan laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 9 industri gula rafinasi tersebut sudah tidak memperpanjang izin operasionalnya.

Ditandaskan Abdul Wahid, pembangunan industri gula rafinasi secara besar-besaran dimulai pada 2008 lalu. Ketika itu untuk memenuhi kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman di pasar domestik pemerintah melalui menteri perindustrian memberikan izin pendirian industri gula rafinasi di dalam negeri.

Melengkapi izin pendirian industri gula rafinasi tersebut pemerintah juga memberi peluang bagi pengusaha industri  gula rafinasi untuk mengimpor raw sugar sebagai bahan bakunya, ditambah fasilitas bea masuk nol persen selama jangka waktu tiga tahun.

Persyaratannya, setelah tiga tahun, industri gula rafinasi tersebut diwajibkan mendirikan Pabrik Gula dan memiliki kebun tebu sendiri dengan luasan disesuaikan dengan kemampuan kapasitas terpasang PG yang dibangunnya.

“Kenyataannya, dari 11 industri gula rafinasi yang sudah ada sampai saat ini, tak satupun yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Anehnya pemerintah seakan tutup mata. Harusnya pemerintah segera menutup industri gula rafinasi yang tidak memenuhi persyaratan tersebut. Lebih-lebih terhadap yang ‘bodong’,” tegas Wahid yang juga anggota Komisi VI DPR RI itu.

Sependapat dengan Wahid, Ketua Dewan Pembina APTRI HM Arum Sabil mengatakan, jika memang pemerintah serius ingin mencapai target swasembada gula, seharusnya pemerintah mengambil langkah tegas terhadap industri gula rafinasi ‘bodong’ tersebut.

“Pembiaran terhadap keberadaan industri gula rafinasi ‘bodong' itu hanya akan merugikan industri gula nasional,” kata Arum. 

Karenanya Arum Sabil sepakat agar pemerintah secepatnya melakukan evaluasi dan mengambil tindakan tegas terhadap industri gula rafinasi yang melanggar aturan dan memberikan hukuman yang berefek jera. (Yns,Sumber : disini)

Read More

KEMARAU BASAH: Rendemen Tebu Diprediksi Turun 15%

Post at Sunday, 20 March 2016 , Comment

Musim kemarau yang bersifat basah yang diprediksi terjadi di paruh kedua tahun ini diprediksi berpotensi menurunkan produktivitas tebu. Kendati volume produksinya meningkat, rendemen tebu diprediksi turun hingga 15%.

Direktur Penelitian dan Pengembangan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), Gede WIbawa menyampaikan ada dua komoditas perkebunan utama yang diprediksi akan terganggu kinerja produksinya saat musim kemarau basah.

Pertama, komoditas tebu. Gede menjelaskan saat musim kemarau, musim giling tengah berlangsung dan jika terlalu banyak air, maka petani akan sulit memanen dan pengangkutan pun sulit dilakukan.

”Kemudian rendemen bisa turun karena terlalu banyak air. Tebu ini kan perlu musim kering saat membentuk gulanya. Kalau kemarau basah, rendemennya turun, ini kalau kita bandingkan dengan kondisi normal ya,” kata Teguh, Minggu (20/3/2016).

Menurutnya, meskipun volume produksinya cukup bagus, produksi gula berpotensi berkurang karena penurunan rendemen. Gede memprediksi produksi tebu bisa naik 5% namun rendemen bisa turun hingga 15%.

Kedua, kopi robusta. “Bisa turun produktivitas 20%-30% karena saat kemarau, komoditas ini justru sedang berbunga sehingga kalau udaranya lembab bisa gagal jadi buah,” ungkap Gede.

Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyampaikan prediksi tahun ini ada peluang terjadi dua anomali cuaca yaitu musimkemarau yang cenderung basah dan fenomena la nina yang mungkin menghampiri Tanah Air di penghujung tahun.

Kemarau basah yaitu meski mengalami musim kemarau, sebagian besar wilayah Indonesia tetap akan memiliki curah hujan cukup tinggi, berpotensi melewati intensitas ambang batas yaitu 150 mm. Indonesia akan mengalamikemarau mulai Mei mendatang.

Kemarau basah diprediksi terjadi pada peralihan dari musim kemarau yang dimulai Mei-Juni dan la nina yang diprediksi tiba di Indonesia pada sekitar Oktober-Desember. Kemarau basah terjadi menjelang la nina sehingga ada kemungkinan curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata (Yns,Sumber: disini)

Read More

Rini Soemarno Pimpin Rapat di Kereta Yogya-Surabaya

Post at Friday, 18 March 2016 , Comment

SURABAYA (18/03/2016) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, memimpin rapat dengan jajarannya di Kereta Api dari Yogyakarta menuju Surabaya. Rapat tersebut di antaranya membahas masalah peningkatan produksi pabrik gula milik BUMN. Agenda kegiatan selama di Yogyakarta, Rini menghadiri acara seminar di Universitas Aisyiyah Yogyakarta dan rapat dengan direksi pabrik gula BUMN di Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta. "Rapat kementerian BUMN untuk mengonsolidasikan seluruh BUMN gula di LPP Yogyakarta dilanjutkan di dalam kereta api menuju Surabaya yang dipimpin langsung oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno. Sebab ada acara juga di Surabaya setelah dari Yogyakarta," kata Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agro dan Farmasi, Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro di sela-sela acara di LPP Yogyakarta di Jl Urip Sumoharjo, Jumat (18/3/2016). Menurut Wahyu Kementerian BUMN telah mengonsolidasikan 48 unit pabrik gula yang dimiliki oleh PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, PTPN XIV, dan PT RNI.  Pertemuan dengan BUMN pabrik gula ini untuk mengejar target produksi di atas 3 juta ton. Hai ini merupakan salah satu upaya menopang perwujudan swasembada gula yang ditargetkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Wahyu, untuk mewujudkan target 3,26 juta ton bukan angka yang mudah, tapi harus dengan sinergi seluruh BUMN gula. Saat ini semua bekerja untuk mewujudkannya. Berbagai hal ditempuh oleh BUMN gula di antaranya perbaikan mesin, penambahan luas lahan tebu hingga hilirisasi. "Pada Februari lalu sudah ada pabrik gula BUMN yang memulai giling. Namun sebagian besar baru mulai giling pada Mei-Juni atau pertengahan tahun ini," katanya. Dia mengatakan untuk perluasan lahan tebu secara bertahap hingga 357.177 hektar dengan produksi tebu yang digiling 33,23 juta ton tebu. Untuk target penambahan areal/lahan ini akan dipenuhi dari konversi lahan dari tanaman karet, kopi, teh, dan sawit yang sudah berumur tua atau tidak produktif kemudian ditanami tebu.  Seperti dilakukan di Sumatera oleh PTPN II dan PTPN VII, dan di Jawa oleh PTPN IX dan XII. Selain itu, PTPN-PTPN yang ada juga akan memperluas areal tebu rakyat yang bekerja sama dengan petani serta memanfaatkan areal milik sendiri yang selama ini belum dioptimalkan. (Yns/Sumber : disini)

Read More

PTPN XI Mendapat Komitmen KKP Rp750 Miliar

Post at Tuesday, 15 March 2016 , Comment

SURABAYA (15/03/2016) KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk tanaman tebu yang selama ini dijanjikan sampai saat ini realisasinya masih sulit, karena itu, harus mencari alternatif pengganti pendanaan tebu.

Dolly Pulungan, Direktur Utama PTPN XI, membenarkan bahwa harus ada alternatif pendanaan untuk petani tebu pada tahun 2016-2017. Sebab saat ini bank yang sudah memberikan komitmen untuk memberikan kredit adalah ICBC sebesar Rp300 miliar.

“Kredit ini direncanakan akan cair bulan Juni 2016. ICBC memberikan kredit kepada PTPN XI sebagai korporasi tanpa agunan, selanjutnya melalui PG akan langsung disalurkan pada petani,” jelas Dolly.

Sementara itu, Direktur Keuangan PTPN XI Anang Abdul Qoyyum menambahkan, bahwa tingkat suku bunga kredit dari ICBC 11% efektif pertahun. Dalam penyaluran ini PTPN XI berfungsi sebagai avails.

Selain dengan ICBC, saat ini juga PTPN XI masih perundingan tahap akhir penyaluran kredit ketahanan pangan (KKP) dari Bank Jatim sebesar Rp250 miliar. Diperkirakan kredit bank Jatim ini akan cair bulan Juni 2016.

“Khusus Bank Jatim karena penyalurannya harus melalui koperasi maka diajukan dua opsi. Opsi pertama Bank Jatim menempatkan dananya di koperasi induk yang dikelola PTPN XI, kemudian disalurkan pada petani lewat PG. Opsi ke dua adalah dana ditempatkan pada koperasi karyawan PTPN XI yang langsung disalurkan pada petani tanpa lewat PG. Suku bunga Bank Jatim sekitar 10,5% yaitu 10% dari bank dan 0,5% merupakan manajemen fee bagi koperasi.,” terang Anang.

Selain itu PTPN XI juga sudah mendapat komitmen dari BRI untuk KKP sebesar Rp100 miliar. Dari PT Pertamina juga dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) sebesar Rp100 miliar untuk KKP. Dengan demikian total dana yang disiapkan PTPN XI untuk petani tebu Rp750 miliar. (Jo/Sumber: disini berita serupa klik disini )

Read More

In House Workshop “Modern Office and Administration for Professional Secretary”

Post at Saturday, 20 February 2016 , Comment

SURABAYA (20/02/2016) Setiap karyawan dalam sebuah perusahan pasti memiliki fungsi dan perannya masing-masing. Tidak terkecuali pada sekretaris di PT Perkebunan Nusantara XI. Dalam rangka meningkatkan kemampuan, ilmu dan etika dalam bekerja secara profesional, Sabtu (20/02) lalu telah dilaksanakan sebuah pelatihan yang bertemakan “Modern Office and Administration for Professional Secretary”. Pelatihan dilaksanakan di Ruang Rapat II Kantor Pusat PTPN XI ini diikuti oleh 11 peserta yang terdiri dari sekretaris dari beberapa divisi yang ada di PTPN XI Surabaya.

Dalam sambutannya Sri Sukanar Kepala Urusan Humas dan Analisa Data menuturkan, bahwa pelatihan ini merupakan salah satu fasilitas yang diberikan PTPN XI untuk mengembangkan kemampuan dan pola pikir para sekretaris. Harapannya apa yang akan didapatkan hari ini dapat menjadi bekal demi kemajuan perusahaan.

Antusias peserta pun terlihat dalam pelatihan tersebut, sebab materi yang diberikan selalu disambut oleh peserta melalui pertanyaan yang diajukan. Adapun materi yang didapatkan oleh peserta antara lain organisasi dan manajemen kantor modern, peran dan fungsi sekretaris dalam aktivitas kantor, total image dan etiket aktivitas kantor, table manners, record management and filling system, electronic feeling system, serta retention file period. (Yns)

Read More

Senam Bersama Direksi PTPN XI

Post at Friday, 19 February 2016 , Comment

SURABAYA (19/02/2016) Olah raga bukan menjadi hal yang baru bagi karyawan kantor pusat PTPN XI. Pasalnya, setiap hari Jumat seluruh karyawan difasilitasi untuk melakukan olahraga sebelum menjalankan perkerjaannya. Bulutangkis, tenis meja dan senam merupakan jenis olah raga yang dapat dilakukan oleh karyawan PTPN XI dilingkungan kantor direksi PTPN XI Surabaya.

Namun tampak perbedaan dari pelaksanaan senam bersama kali ini. Terlihat hadir 3 Direksi PTPN XI, yakni M. Cholidi (Direktur SDM dan Umum), Anang A. Qoyyum (Direktur Keuangan) dan Aris Toharisman (Direktur Perencanaan dan Pengembangan). Ketiganya pun tak segan untuk bergabung dengan karyawan PTPN XI pada senam bersama pagi hari ini. Senam yang dipandu oleh seorang instruktur tersebut berlangsung selama ±45 menit.   

Diakhir kegiatan senam, seluruh peserta senam tampak beristirahat sembari mendengarkan pengarahan dari direksi yang diwakili oleh Direktur SDM dan Umum. Dalam arahannya, direksi menginformasikan terkait tingginya antusias pelamar pada lowongan calon karyawan PTPN XI tahun 2016.

“Jumlah pelamar pada lowongan calon karyawan PTPN XI 2016 mencapai sekitar 6000 orang. Itu artinya ada hal yang membuat mereka tertarik pada PTPN XI ini. Untuk itu kita semua harus bersama-sama mengoptimalkan dan mengembangkan kapasitas dan kapabilitas. Berbagai pelatihan dan pengembangan juga akan kami siapkan guna mendukung hal tersebut ”. ujar Direktur SDM dan Umum

M. Cholidi juga mengatakan bahwa forum seperti ini akan dilaksanakan secara berkala. Selain untuk menjalin kedekatan, interaksi dan komunikasi, melalui forum ini juga direksi dapat menginformasikan beberapa hal secara langsung kepada seluruh karyawan. (Yns)

Read More

Waspada Dampak El Nino, Semua Harus Maksimal

Post at Tuesday, 16 February 2016 , Comment

SURABAYA (16/02/2016) Tarik menarik pengaruh antara El Nino dan monsum Asia berdampak pada curah hujan di Indonesia bagian selatan khatulistiwa terdistribusi lebih panjang dari normalnya. Imbasnya, awal musim kemarau diprediksi akan mengalami kemunduran. Sebagaimana pernyataan Kepala Pusat Iklim, Agroklimat, dan Iklim Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nurhayati yang dikutip dari Harian Kompas Selasa (16/02). Nurhayati menyatakan bahwa awal musim kemarau diprediksikan mundur dua-tiga dasarian (20-30 hari) bagi sebagian besar wilayah Indonesia. 

Kondisi tersebut tentunya memberikan pengaruh pada sektor perkebunan, termasuk pada komoditas tebu. Pasalnya, lebih panjangnya musim hujan dibandingkan pada kondisi normal dan adanya potensi kemarau basah mengancam mundurnya masa panen dan penurunan produktivitas tebu.

Menghadapi fenomena tersebut, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XI Dolly P. Pulungan telah mengantisipasi dengan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. “ Terkait dengan adanya kemungkinan mundurnya musim kemarau tahun ini, kami memaksimalkan semua sumber daya untuk mengatur bahan baku tebu baik milik PTPN XI maupun tebu milik rakyat, sehingga tidak mengganggu kegiatan giling “ jelasnya. Pihaknya juga menyiapkan seluruh jajarannya untuk menghadapi gejala alam tersebut, hal ini nampak dari kunjungan kerja direksi ke unit usaha untuk mensupervisi kegiatan produksi.  (Yns)

Read More

SWASEMBADA GULA: Menanti Revitalisasi Pabrik Gula

Post at Tuesday, 16 February 2016 , Comment

SURABAYA (16/02/2016)  Dalam satu tahun terakhir, jumlah lahan yang ditanami tebu di kawasan Jawa Tengah menyusut hingga 21,6%. Harga yang tidak sesuai menjadi alasan utama banyaknya petani tebu yang berpaling dan memilih komoditas lain terutama padi.

“Banyak yang beralih karena tidak cocok harganya. Mereka lebih memilih menanam telo . Katanya lebih laku dibandingkan dengan tebu. Kami tidak bisa mengatur, kan itu tanah mereka,” kata Kepala Dinas Perkebunan Pemprov Jawa Tengah Yuni Astuti belum lama ini.

Akibat peralihan komoditas tersebut, Dinas Perkebunan Jateng mencatat total area perkebunan tebu pada akhir 2015 seluas 58.000 hektare, berkurang 16.000 hektare dibandingkan dengan 2014 yang mencapai 74.000 hektare.

Kendati luas areal perkebunan tebu menyusut, sambungnya, sebetulnya seluruh areal tebu di Jateng sudah mampu memenuhi jumlah kebutuhan produksi pabrik gula (PG) milik pemerintah yang dioperasikan oleh PT Perkebunan Nusantara IX (Persero).

Berdasarkan penghitungan Dinas Perkebunan, kebutuhan produksi tebu dari PG milik PTPN IX mencapai sekitar 35.000 hektare. “Kalau 58.000 hektare bisa masuk semua, sebetulnya sudah lebih. Namun, selama ini tebu yang ada tidak masuk pabrik itu, tapi lari ke pabrik lain. Petani mencari pabrik bagus, yang bisa menghasilkan rendemen yang tinggi,” tuturnya.

Permasalahan memang sering kali muncul, lantaran petani merasa pabrik tidak mem berikan harga yang sesuai, dan sebaliknya pabrik merasa kualitas tebu yang dihasilkan petani tidak terlalu bagus.

Yuni mencatat rata-rata rendemen tebu di Jateng sebesar 7,3%, jauh lebih rendah dibandingkan rendemen di Jawa Timur yang sudah mencapai 10%. Oleh karena itu, peralatan pabrik yang memadai sangat dibutuhkan untuk menghasilkan rendemen yang maksimal.

“Perlu dibina hubungan antara pabrik dengan petani. Kalau peralatan sudah bagus, petani juga harus memastikan kualitas tanaman juga bagus. Kuncinya adalah kerja sama,” katanya.

Terkait dengan masalah tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung rencana revitalisasi empat pabrik gula di Jawa Tengah, yakni pabrik yang terletak di Mojo, Rendeng, Sragi, dan Pangka.

Dengan catatan, PTPN harus membuat komitmen jaminan pembelian tebu petani. Hal itu dibutuhkan untuk menjaga penyerapan hasil panen dan meningkatkan kesejahteraan buruh tani.

“Kami baru mengatur rencana aksinya, dengan harapan produksi bisa meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Sejumlah PG di Jateng yang selama ini mangkrak akan kembali dioperasikan. Diharapkan para pengelola menerapkan manajemen yang modern,” tambahnya.

REVITALISASI PG

Terkait swasembada gula, Ganjar meminta instansi terkait seperti Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, dan juga PTPN untuk diskusi bersama membuat rencana aksi. Mulai dari pemetaan tanah guna penambahan luasan lahan hingga revitalisasi pabrik gula.

“Dari pemerintah nanti juga ikut mendorong dengan memberikan bantuan seperti bantuan bibit unggul, pupuk bersubsidi, hingga pendampingan penyuluh untuk menjaga kualitas rendemen,” tuturnya.

Direktur Utama PTPN XI Dolly P. Pulungan mengatakan pihaknya telah diminta oleh Kementerian BUMN untuk membantu PTPN IX dalam proses pengelolaan delapan PG di Jawa Tengah. PTPN XI sendiri mengelola 16 unit pabrik gula di Jawa Timur.

Kapasitas produksi dari masing-masing pabrik yang akan direvitalisasikan akan ditingkatkan menjadi 4.000 ton per hari dari sebelumnya sekitar 2.200 ton—2.800 ton per hari. Dengan begitu, tebu yang diperoleh dari petani bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Dolly menuturkan berbagai kendala yang terjadi menyebabkan pabrik tidak mampu beroperasi dengan maksimal, seperti mesin di pabrik yang terlalu tua dan belum diperbaiki, sistem yang ada belum di-upgrade, serta sistem operasional yang belum efisien.

“Potensinya masih bagus, sehingga akan dikembangkan secara bertahap. Ke depan, akan disesuaikan lagi upaya pengembangan untuk pabrik-pabrik lainnya,” ungkapnya.

Komisaris PTPN XI Dedy Mawardi menambahkan langkah yang dilakukan saat ini merupakan upaya untuk menciptakan sinergi, sehingga swasembada gula bisa direalisasikan. “Di situ butuh peran pemda juga. Karena itu kami harapkan gubernur bisa turut terlibat dalam rencana tersebut. Tujuannya adalah meningkatkan produksi gula nasional, sehingga kita tidak perlu impor gula lagi,” katanya.

Revitalisasi pabrik di Jawa Tengah merupakan bagian dari peta jalan untuk mencapai swasembada gula pada 2019. Untuk menyentuh target produksi gula 4 juta ton per tahun, tentu masih banyak pekerjaan rumah lainnya yang harus dikerjakan. Semua pihak dituntut berlari kencang.(Jo/Sumber:disini)

Read More

Kembangkan Inovasi, PTPN XI Optimalkan Bioteknologi

Post at Wednesday, 27 January 2016 , Comment

SURABAYA (27/01/2016) PT Perkebunan Nusantara atau PTPN XI yang merupakan perusahaan gula terbesar di Tanah Air berkomitmen mengoptimalkan sejumlah terobosan varietas tebu unggul berbasis pengembangan bioteknologi pertanian. Direktur PTPN XI M. Cholidi mengatakan, pengembangan bioteknologi di bidang budi daya tebu (on farm) adalah solusi terhadap pencapaian swasembada gula, hingga terwujudnya ketahanan pangan hingga energi. 

"Ketergantungan Indonesia pada rekayasa genetika impor adalah satu keprihatinan, sehingga komitmen PTPN XI adalah mengambil peran di depan dalam pengembangan inovasi bioteknologi dalam budi daya tebu, hingga nantinya tercapai swasembada gula, yang adalah bagian dari ujud nyata Program Ketahanan Pangan Nasional dalam Nawa Cita," demikian penegasan direktur PTPN XI M Cholidi, dalam acara "Sosialisasi Bioteknologi Pertanian untuk Jurnalis" di Surabaya, Rabu (27/1/2015). 

Adapun pengembangan bioteknologi yang merupakan rekayasa genetika, di PTPN XI telah menghasilkan satu varietas tebu unggul, yaitu varietas toleran kekeringan. Varietas ini telah mulai uji coba pada ribuan lahan HGU milik PTPN XI di sejumlah daerah diantaranya di Situbondo dan Banyuwangi. "Varietas ini telah diteliti cukup lama, dan akan terus dikembangkan oleh tim peneliti PTPN XI dan perguruan tinggi, sekaligus telah mendapatkan dukungan positif dari banyak pihak termasuk dari lembaga keamanan pangan," papar M Cholidi.

Mengutip data yang ada, penelitian pengembangan bibit tebu dengan bioteknologi ini mulai dilakukan PTPN XI bersama peneliti dari dua kampus besar antara lain Universitas Negeri Jember (Unej) dan Universitas Gajah Mada (UGM) sejak April 2009 lalu. Saat itu juga telah dilakukan pengajuan kajian keamanan lingkungan. Pada Januari 2010, pengajuan keamanan pangan ke BPOM.    Pada Agustus 2011, varietas terseut telah memperoleh sertifikat Keamanan Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pertanian. Pada Oktober 2012 mendapat sertifikat Keamanan Pangan dari BPOM. “Kita harapkan bibit ini bisa diaplikasikan secara komersil,” jelas Nurmalasari Ketua Urusan Penelitian PTPN XI.

Menurut Nurmalasari Darsono, perijinan bibit tebu dengan bioteknologi itu terus dilengkapi. Dan sekarang masih menunggu turunnya satu izin lagi yakni ketahanan pakan yang masih dalam proses di Kementerian Pertanian. Sedangkan dua izin lainnya yakni Ketahanan Lingkungan dari Kementerian Lingkungan dan Ketahanan Pangan dari BPPOM sudah dikantongi PTPN XI. 

Dijelaskan, izin ketahanan pakan ini penting, karena daun tebu dan limbah dari varietas unggulan ini harapannnya bisa pula dimanfaatkan untuk pakan ternak milik petani, sehingga dengan adanya terobosan bioteknologi ini, petani bisa pula meningkatkan pula pendapatan dari peternakan.

Dirincikan, dengan varietas ini, petani pun dinyatakan akan bisa mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp 11,5 juta per hektar di luar penghasilannya sebesar Rp 54 juta per hektar dari pertanian konvensional. “Jadi penghasilkannya bisa mendapat Rp 65,5 juta jika menggunakan bibit bioteknologi ini. Hasil ini kami dapat ketika kami lakukan penelitian dengan harga gula Rp 9 ribu per kilogram,” jelas Nurmalasari. (Yns / Sumber : disini)

(Berita serupa dapat ditemukan disini)

Read More

Outbond Karyawan Kantor Pusat PTPN XI

Post at Thursday, 28 January 2016 , Comment

SURABAYA (28/01/2015) Lebih dari 200 orang karyawan kantor pusat PTPN XI mengikuti outbond yang dilaksanakan pada 25 – 28 Januari 2016 di Batu, Malang . Antusiasme peserta untuk mengikuti kegiatan tersebut tampak dari keikutsertaan penuh dari awal hingga akhir kegiatan, dimana dalam pelaksanaannya terbagi atas dua gelombang. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi musim giling tahun 2016 menjadi fokus direksi PTPN XI.

Dalam sambutannya, direksi yang diwakili oleh Direktur Keuangan pada gelombang I dan Direktur SDM dan Umum pada gelombang II menuturkan, bahwa kegiatan tersebut digagas agar karyawan PTPN XI khususnya kantor pusat mampu memperat tali silahturahmi antar karyawan agar semua dapat beriringan untuk membanggakan PTPN XI. “Denyut, getaran, frekuensi diseluruh karyawan harus sama, bahwa kita ingin menjadikan PTPN XI ini dapat dibanggakan” ujar Moh. Cholidi, Direktur SDM dan Umum.

Sejalan dengan hal tersebut, panitia menghadirkan pemateri guna memotivasi peserta. Materi yang disampaikan oleh dr. H. Ali Agus Fauzi, PGD Pall Med (ECU) mengambil tema “Bersyukur dan Optimis Mencapai Target 2016”. Materi yang dikemas santai dan penuh canda tawa ini meninggalkan banyak nilai-nilai positif yang dapat dipetik oleh peserta.

Setelah mendapatkan materi motivasi, pada hari kedua peserta mengikuti kegiatan outbond yang merupakan tujuan utama diselenggarakannya kegiatan ini, yakni mengasah kekompakan karyawan. Outbond yang terdiri atas permainan – permainan ini diikuti peserta dengan penuh suka cita. Canda tawa pun mampu mencairkan suasana seluruh peserta. Permainan ini juga tak lepas dari esensi postif didalamnya, yakni untuk membangun rasa tanggung jawab, melatih kepemimpinan, bekerja sama dan rasa percaya diri yang tentunya dapat diterapkan dalam bekerja maupun kehidupan sehari-hari. Harapannya seluruh rangkaian acara ini dapat menjadi stimulus karyawan untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan lebih baik lagi. (Yns)

Read More

Pemerintah Hitung Ulang Kuota Impor Gula Putih

Post at Friday, 22 January 2016 , Comment

SURABAYA (22/01/2016) Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menghitung ulang kuota impor ‎gula kristal putih (GKP) tahun 2016. Alasannya, data yang dimiliki pemerintah masih kurang akurat karena belum diketahui dengan pasti berapa sebenarnya stok GKP yang ada di dalam negeri. "Impor gula masih akan dibicarakan lagi karena kita mau evaluasi dulu ketersediaan gula kita sampai berapa," kata Deputi II Bidang Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud, usai Forum Dialog HIPMI di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (21/1/2016). Berdasarkan perhitungan sementara pemerintah, saat ini stok GKP yang ada kurang lebih 800.000 ton. ‎ "Kita masih punya stok lebih dari 800.000 ton, jadi kita masih punya waktu 4 bulan untuk ‎mengevaluasi kembali (kuota impor GKP)," ujar Musdhalifah. ‎Selain itu, diperkirakan akan ada produksi kurang lebih 200.000 ton GKP sampai Mei 2016. "Ada panen juga sebanyak 200.000 ton gula dari Januari-Mei di wilayah Sumatera," ‎imbuhnya. Sebelumnya, Rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian pada 28 Desember 2015 lalu memutuskan bahwa akan dilakukan impor gula putih oleh Perum Bulog untuk konsumsi masyarakat. Kuota yang ditetapkan yaitu tidak lebih dari 200.000 ton untuk 2016. "Kalau gula itu kita tidak bicara gula industri. Kita bicarakan gula putih. Gula putih kita impor untuk jaga-jaga. Impor akan dilakukan Bulog saja, nggak sampai 200.000 ton setahun. Nggak terlalu banyak. Itu akan dilakukan oleh Bulog," jelas Menko Perekonomian Darmin Nasution. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Akhir 2016, Holding Rumah Sakit BUMN Terbentuk

Post at Tuesday, 12 January 2016 , Comment

SURABAYA (12/01/2016) Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, pembentukan holding (induk usaha) yang menyatukan sebanyak 78 rumah sakit milik BUMN rampung sebelum akhir 2016.

"Sebelum akhir tahun (2016) holding operasional RS BUMN ditargetkan sudah direalisasikan," kata Rini di sela Kick Off Meeting Sinergi BUMN Pengelolaan Rumah Sakit di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (7/1).

Menurut Rini, pembentukan holding tersebut agar RS BUMN bisa menjadi perusahaan penyedia layanan kesehatan berkelas dunia, terpercaya dan memiliki daya saing.

Selama ini, ujar dia, banyak warga Indonesia terutama segmen menengah atas berobat keluar negeri dengan total biaya mencapai puluhan triliun per tahun, sehingga menjadi peluang RS BUMN untuk melakukan nerbagai terobosan untuk menambah kepercayaan masyarakat.

"Kita punya RS BUMN yang jika dikelola dengan baik, maka dapat mengalahkan kualitas layanan rumah sakit ternama," tegas Rini. Ia menjelaskan, saat ini banyak BUMN yang memiliki rumah sakit padahal kompetensinya bukan pada layanan rumah sakit.

Sejumlah BUMN yang memiliki RS seperti PT Pertamina, PT Bukit Asam, Pelindo I, II, III, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I, II, III, IV, V, VIII, X, XI, XII dan XIII.

Selanjutnya RS Krakatau Steel, RS Pelni, RS KBN, RS milik Aneka Tambang, Semen Indonesia, Timah, Pupuk Indonesia, dan sejumlah klinik besar.

"Kecuali RS Pertamina dan RS Pelni, selama ini RS BUMN masih dikelola dengan pola budgeting sehingga masih belum memiliki cost leadership," ujar dia.

Selain itu, pembentukan holding RS BUMN juga dapat mengakomodir terlaksananya pelayanan pembiayaan BPJS Kesehatan. "RS BUMN juga dapat dimaksimalkan melalui sinergi dengan BUMN lainnya bidang farmasi, obat-obatan dan vaksin seperti Kimia Farma, IndoFarma, BioFarma. Ini potensi BUMN yang kedepan harus betul-betul bersinergi secara penuh," ujar dia seperti dikutip Antara.

Dengan begitu, tambah Rini, dalam pengelolaan holding RS BUMN agar memiliki standar yang sama dalam memberikan pengobatan dan obat-obatan yang baik dan memiliki sumber daya yang handal.

Meski begitu Rini belum bisa menyebutkan nama holding RS BUMN yang dimaksud, karena masih dalam proses penyelesaian pembentukan.

"Operating company RS BUMN bisa melalui pembentukan unit usaha patungan (joint venture/JV) berupa saham yang ditanamkan mengikuti induk usaha. Intinya, aset masing-masing BUMN yang memiliki rumah sakit tersebut tidak bergeser atau dialihkan," ujar dia. (Jo/Sumber:disini)

Read More

SMI Gandakan Pembiayaan Hingga Rp13 triliun

Post at Tuesday, 12 January 2016 , Comment

SURABAYA (12/01/2016) BUMN pembiayaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Persero menggandakan komitmen pembiayaan hingga akhir 2015 sebesar Rp13 triliun atau tumbuh sekitar 130 persen dibanding capaian komitmen hingga 2014 yang sebesar Rp5,57 triliun. Direktur Utama SMI Emma Sri Martini dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat (8/1) mengatakan, komitmen pembiayaan Rp13 triliun disepakati untuk proyek infrastruktur senilai Rp96,3 triliun dengan daya ungkit ekonomi hingga 7,4 kali. "Termasuk banyak juga untuk sektor jalan, transportasi dan ketenagalistrikan, dan mendukung proyek-proyek strategis pemerintah," ujar dia.

Sepanjang 2015, proyek-proyek infrastruktur yang didukung pendanaan dari SMI, antara lain, ruas Trans Sumatera untuk rute Medan-Binjai sepanjang 16,6 kilometer dan ruas Palembang - Simpang Indralaya sepanjang 22 kilometer. Kemudian penyelesaian jalan tol Trans Jawa, seperti jalan tol Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, dan Cikopo-Palimanan.

SMI yang akan menjadi Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia juga pada 2015 membantu pendanaan PT. Angkasa Pura II untuk pengembangan Bandara Soekarno Hatta. Kemudian, di sektor energi, SMI mengerjakan proyek pembangkit listrik Tenayan di Riau dengan kapasitas 2 X 110 MW.

Selain menyalurkan pendanaan, SMI juga mengerjakan jasa konsultasi pendanaan infrastruktur termasuk untuk program Kerja Sama Pemerintah Swasta (KPS). Emma mengatakan sepanjang 2015, perseroan memberikan konsultasi pembangunan kapasitas untuk 12 proyek infrastruktur. Salah satu dari proyek itu adalah disepakatinya insentif dari APBN 2016 untuk Dukungan Kelayakan Proyek (Viability Gap Funding/VGF) guna membiayai proyek KPS Sistem Air Minum Umbulan di Propinsi Jawa Timur.

"Mandat perluasan sektor dari OJK, direalisasikan SMI dengan memberi pinjaman untuk revitalisasi rumah sakit milik PTPN XI di Malang. SMI juga sedang melakukan identifikasi atas pemda yang potensial untuk memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT SMI, di antaranya Pemda Provinsi Sumatera Barat, Kota Jayapura, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Gianyar," jelas Emma. Pada 2016, perseroan menargetkan pembiayaan di akhir tahun dapat mencapai Rp22 triliun, termasuk dengan kewajiban baru SMI untuk mendanai proyek infrastruktur pemerintah daerah. (Jo/Sumber:disini)

Read More