Pabrik Gula


PTPN XI mempunyai beberapa unit usaha Pabrik Gula yang tersebar di beberapa tempat, yakni :

  • PG Assembagoes

PG Assembagoes yang berlokasi di Desa Trigonco Timur, Assembagoes, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur berdiri pada tahun 1891 oleh pemerintah Belanda dan ± 66 tahun peng-operasiannya dilakukan oleh Belanda yaitu NV KOOY dan Coster Van Voorhout dan selanjutnya pada tanggal 12 Desember 1957 diambil alih oleh Bangsa Indonesia. 

PG Assembagoes merupakan lambang keberhasilan dalam pengelolaan kebun dan PG secara terintegrasi.  Dukungan lahan hak guna usaha baik di Asembagus maupun Banyuwangi sangat menopang keberadaan PG tidak saja dalam pasokan tebu secara berkelanjutan, namun juga terselenggaranya kebun bibit dan peragaan yang sangat efektf dalam mewujudkan media pembelajaran bagi para petani. Limbah padat PG berupa blotong (filter cake) yang didekomposisikan dan diperkaya nutrisi menjadi biofertilizerdimanfaatkan untuk menjafa dan/atau meningkatkan kesuburan tanah.

Pada tahun 2011, PG Assembagoes merencanakan giling tebu sebanyak 415.005,5 ton (tebu sendiri 109.575,0ton dan tebu rakyat 305.430,5 ton) yang diperoleh dari areal seluas 5.150,0 ha (TS 1.350,0 ha dan TR 3.800,0 ha).Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 32.564,9 ton (milik PG 16.691,1 ton dan milik petani 15.873,8 ton) dan tetes 18.675,4 ton.Selain areal berasal dari kecamatan dalam wilayah Kabupaten Situbondo, juga terdapat di Kabupaten Banyuwangi. Kapasitas PG 2.900 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.543,9 tth sudah termasuk jam berhenti.

Daya saing tebu yang lebih tinggi dibanding komoditas agribisnis lain, menjadikannya tanaman alternatif paling menguntungkan di mata petani. Produksi yang melimpah menyebabkan surplus sehingga sebagian di antaranya dipasok untuk PG-PG lain yang bahan bakunya belum mantap.Tercatat PG Pandjie dan PG Olean yang selalu mendapat limpahan tebu dari PG Assembagoes. Walaupun demikian, pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak. Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija. PG Assembagoes  yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif. Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis. Termasuk dalam konteks ini rencana kerja-sama pemanfaatan lahan perkebunan untuk ditanami tebu, seperti Pasewaran. Upaya menarik animo petani juga dilakukan melalui perbaikan kinerja pabrik dan kelancaran giling.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.  Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Assembagoes  antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan  penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

  • PG Djatiroto

Bagi telinga awam, nama Djatiroto tidaklah terlalu asing.Djatiroto sering dikonotasikan sebagai tempat atau keberadaan PG besar di Indonesia beberapa tahun lalu. Mereka yang kini berusia di atas 40 tahun dan pernah belajar ilmu bumi atau geografi, tentu pernah mendapatkan pelajaran dari para guru SD-nya bahwa ada PG besar di Djatiroto. PG Djatiroto yang berlokasi di Desa Kaliboto, Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur berdiri pada awal 1910-an dan merupakan salah satu unit usaha HVA yang bermarkas di Amsterdaam.

- Tahun 1884 : rencana pembangunan pabrik gula

- Tahun 1901 : pelaksanaan babat hutan

- Tahun 1905 : pembangunan pabrik gula

- Tahun 1910 : mulai melaksanakan giling

- Tahun 1912 : peningkatan kapasitas giling menjadi 2.400 tth. Pada tahun tersebut terjadi pergantian nama dari PG Ranu Pakis menjadi PG Djatiroto.

- Tahun 1972 : melaksanakan rehabilitasi tahap I

- Tahun 1989 : rehabilitasi II selesai. Kapasitas giling menjadi 6.000 tth.

- Selanjutnya setiap tahun selalu diadakan inovasi peralatan proses /pabrik, untuk peningkatan kapasitas giling maupun efisiensi perusahaan. Sehingga pada tahun 1996 pemantapan kapasitas giling menjadi 7.000 tth, sampai tahun 2000 PG Djatiroto terus berbenah diri.

Pada tahun 2011, PG Djatiroto merencanakan giling tebu sebanyak 1.067.856,5 ton (tebu sendiri 616.600,0 ton dan tebu rakyat 451.256,5 ton) yang diperoleh dari areal seluas 10.215,0 ha (TS 5.300,0 ha dan TR 4.915,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 76.817,3 ton (milik PG 57.060,8 ton dan milik petani 19.756,5 ton) dan tetes 48.053,6 ton. Kapasitas PG 7.500,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 6.265,7 tth sudah termasuk jam berhenti.

Setelah mengalami beberapa kali rehabilitasi dan peningkatan kapasitas, kini PG Djatiroto mampu mengging tebu 1,1 juta-1,2 juta ton per tahun dan menghasilkan gula lebih dari 80.000 ton. Sejalan dengan program revitalisasi, pada tahun 2009 lalu kapasitas PG ini ditingkatkan dari 5.500 menjadi 8.000 tth.Pasokan tebu tidak hanya berasal dari lahan sendiri, melainkan juga tebu rakyat. Tingginya daya saing tebu terhadap komoditas agribisnis lain menyebabkan jumlah tebu Kabupaten Lumajang melimpah.  Sebagian di antaranya bahkan dipasok ke beberapa PG di Kabupaten Probolinggo.

  • PG Gending

Pabrik Gula Gending yang berlokasi di Desa Sebaung, Gending, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1830 dimana waktu itu dikelola oleh Culture Bank Maatschappy. Pada tahun 1957 dengan adanya perkembangan politik Indonesia, maka perusahaan tersebut diambil alih dari Pemerintah Hindia  Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia yang berlangsung sampai tahun 1962. Pada tahun 1962-1968 PG. Gending berada pada naungan daerah VII.

Kemudian tahun 1968 1975 semua Pabrik Gula yang dulunya bernaung dibawah inspeksi VII dirubah dan bernaung dibawah Perusahaan Negara Perkebunan XXIV. Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 1975 tentang Penggalian bentuk Perusahaan Negara Perkebunan XXV, maka mulai bulan Juni 1975 Pabrik Gula Gending dibawah naungan PT. Perkebunan XXIV – XXV (Persero) yang berkedudukan di jalan Merak No. 1 Surabaya.

Pada tahun 1995 dalam rangka efisiensi BUMN, maka PG. Gending dibawah naungan PT. Perkebunan Kelompok Jawa Timur yang meliputi PT. Perkebunan XX, XXIV, XXV, XXIII dan XXIX berubah menjadi PT. Perkebunana Nusantara IX (Persero). Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 Tanggal 14 Februari 1996 tentang Peleburan Perusahaan Persero yaitu PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero).

Dalam sejarahnya, angin kencang yang berhembus sekitar PG Gending membuat fotosintesis tanaman berlangsung dengan baik sehingga potensial menunjang tebu rendemen tinggi.Kondisi tersebut mengalami transformasi sejak dunia terkena sindrom perubahan iklim global (global climate change).

Khusus untuk tahun giling 2011, PG Gending merencanakan giling tebu sebanyak 197.445,0 ton (tebu sendiri 19.870,0 ton dan tebu rakyat 177.575,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 2.710,0 ha (TS 225,0 ha dan TR 2.485,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 14.219,1 ton (milik PG 5.624,9 ton dan milik petani 8.594,2 ton) dan tetes 8.885,2 ton. Selain areal berasal dari kecamatan dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, juga terdapat di Kabupaten Lumajang yang pembinaannya dilakukan PG Gending sejak awal. Kapasitas PG 1.650,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.349,1 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Gending beberapa kali mengalami pemantapan kapasitas sejalan meningkatnya ketersediaan tebu dari yang semula hanya 1.200 tth. Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak.  Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija.  PG Gending yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif.  Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis.  Upaya menarik animo petani juga dilakukan melalui perbaikan kinerja pabrik dan kelancaran giling.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya.  Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Gending  antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan  penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30. Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practi

  • PG Kanigoro

Sejarah perkembangan Pabrik Gula Kanigoro yang berlokasi di Desa Sidorejo, Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur didirikan pada tahun 1894 pada waktu pemerintahan kolonial Hindia Belanda oleh Cultuur Handel & Industri Bank NV sampai sekarang gedung/bangunan pabrik semuanya masih asli, belum pernah diadakan perubahan/perubahan/pemigaran.

Pada tahun 1957 kekuasaan diambil alih oleh Negara Republik Indonesia dan instansi yang menguasai ialah Pusat Perkebunan Nusantara baru (PPn Baru) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor: 229/UM/57, tanggal 10 Desenber 1957. Kemudian pada tahun 1963 dinasionalisasikan dengan Keputusan Menteri Pertanian & Agraria, Surat Keputusan nonmor : 8/KA/63 dan PP nomor : 19 tahun 1959 LN nomor : 31 tahun 1959. Nama perusahaan tersebut berubah menjadi “Perusahaan Gula Negara PG Kanigoro sesuai dengan PP nomor : 1 tahun 1963 LN nomor : 2 tahun 1963.

Perkembangan selanjutnya berdasarkan PP Nomor 165 Tahun 1961 dan ln Nomer 190 Tahun 1961, Instansi tersebut dikuasai oleh Ppn Kesatuan Jatim, sehingga namanya menjadi Ppn Gula Inspeksi Daerah V PG. Kanigoro. Kurang lebih pada pertengahan tahun 1968 berubah lagi dan dikuasai oleh Direksi Perusahaan Negara Perkebunan XX menjadi Pt Perkebunan XX (Persero) PG. Kanigoro.

Berdasarkan Surat Edaran Direksi nomor : XX-SURED/96.001. tanggal 11 April 1996. Peraturan Pemerintah (PP) nomer : 16 tanggal 14 pebuari 1996 PT. Perkebunan XX dan PT. Perkebunan XXIV-XXV (Persero) telah dibubarkan pada tanggal 11 Maret 1996, dan dibentuk Perusahaan baru dengan nama “PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) yang berkedudukan di Surabaya dengan alamat Jalan Merak No.1 Surabaya, 60175.

Pada era 1970-an dan 1980-an, PG Kanigoro beberapa kali menjadi juara nasional dalam pencapaian rendemen tinggi, sehingga selalu mendapatkan penghargaan pemerintah. Puncak kejayaan tersebut berlalu sejalan dengan berubahnya pola tanam dan tidak berlakunya lagi tata ruang kawasan budidaya tanaman tebu.

Pada tahun 2011, PG Kanigoro  merencanakan menggiling tebu sebanyak 227.032,0 ton (tebu sendiri 112.390,0 ton dan tebu rakyat 114.642,0ton) yang diperoleh dari areal seluas 3.002,0 ha (TS 1.400,0 ha dan TR 1.602,0 ha).Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 16.423,0 ton (milik PG 11.297,8 ton dan milik petani 5.125,2 ton) dan tetes 10.216,5 ton.Kapasitas PG 1.950 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.703,1 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Kanigoro beberapa kali mengalami pemantapan kapasitas dari yang semula hanya 1.200 tth sejalan dengan ketersediaan bahan baku. Untuk upaya mengembalikan kejayaan yang pernah diraih, PG Kanigoro antara lain menyelenggarakan sejumlah kebun percobaan dengan sasaran dapat menjadi wahana pembelajaran, baik bagi petani maupun petugas PG, tentang praktek bududaya terbaik (best agricultural prictices). Varietas yang pernah memberikan kinerja terbaik seperti POJ 2878 dan POJ 3016 dikembangkan setelah dilakukan pemurnian melalui kultur jaringan.Sementara itu, sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani tebu diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Keberadaan PG di tengah kota dan praktis berada di tengah pemukiman penduduk yang sangat padat mengharuskan PG Kanigoro menangani limbah secara terpadu.  Pengolahan limbah padat dan cair dilakukan secara simultan agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Demikian pula untuk menangani limbah udara, telah dipasang dust collector.

  • PG Kedawoeng

PG. Kedawoeng yang berlokasi di Desa Kedawoeng Kulon, Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur didirikan pada tanggal 6 November 1889 dengan nama NV.Kedawoeng yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Mevron De Lebret. Saat itu terdapat dua pabrik yang lokasinya berdekatan yaitu Pabrik Gula Kawisrejo. Pada saat itu PG Kedawoeng sedang melakukan perluasan kebunnya kearah barat yang ternyata melewati daerah PG Kawisrejo yang pada saat itu mengalami pailit. Dengan beberapa pertimbangan maka PG Kawisrejo dibeli oleh PG Kedawoeng sekalian dengan areal kebunnya, sehingga pada tahun 1934 resmilah penggabungan kedua pabrik tersebut dengan statusnya menjadi NV. Culture Hatchappu dengan nama PG Kedawoeng.

Pada tahun 1942-1945 PG Kedawoeng diambil alih / dikuasai oleh jepang, pada bulan Juni 1947 setelah Clash I sampai dengan bulan Agustus kembali dikuasai oleh Belanda. Pada tahun 1948 di Indonesia terjadi gejolak yang terkenaldengan nama Tri Kora dan sesuai dengan Surat Perintah Militer No. 061/12/57 dan Undang-Undang Nasionalisme Perusahaan untuk Perusahaan Bekas Belanda No.86/58 yang disahkan pada tanggal 10 Desember 1957, maka PG Kedawoeng ikut pula di Nasionalisme.

Tahun 1961-1964 namanya dirubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara Kesatuan Jawa Timur III PG Kedawoeng. Pada bulan juli 1964 sampai dengan Juni 1968 statusnya diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Gula Negara / PN Karung Goni Inspeksi Daerah VII. Pada bulan Juli 1968-1975 statusnya menjadi PTP XXIV-XXV PG Kedawoeng. Tahun 1975 berubah lagi menjadi PTP XXIV-XXV (PERSERO) PG Kedawoeng. Tanggal 14 Februari 1996 sesuai dengan Peraturan Pemerintah PTP XXIV-XXV PG Kedawoeng diubah lagi menjadi PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) PG Kedawoeng dengan Kantor Direksi di Jalan Merak No. 1 Surabaya.

Pada tahun 2011, PG Kedawoeng merencanakan menggiling tebu sebanyak 285.416,9 ton (tebu sendiri 26.287,2 ton dan tebu rakyat 259,129,7 ton) yang diperoleh dari areal seluas 3.891,8 ha (TS 340,0 ha dan TR 3.551,8 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 20.024,0 ton (milik PG 8.017,3 ton dan milik petani 12.006,7 ton) dan tetes 12.843,8 ton. Selain Kabupaten Pasuruan, areal pengusahaan tebu PG  Kedawoeng juga berasal dari Kabupaten Malang. Kapasitas PG 2.200,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.943,5 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Kedawoeng beberapa kali mengalami peningkatan kapasitas sejalan meningkatnya ketersediaan tebu. pengembangan  areal terus dilakukan,  baik untuk TS maupun TR, khususnya untuk wilayah berpengairan teknis.  Kalau pun belum berpengairan teknis, namun air dapat diupayakan melalui pompa artesis, penambahan areal juga mengarah ke sana. Harapan selanjutnya, petani mempunyai lebih banyak pilihan dalam mengusahakan komoditas usahatani yang dinilai paling profitable. Dalam 2 tahun ke depan, diharapkan kapasitas PG Kedawoeng menjadi 3.000 tth.  Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Kedawoeng  antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman, penataan varietas menuju komposisi ideal (proporsi antara masak awal, tengah dan akhir berbanding 30-40-30%), penyediaan agroinputs secara tepat, intensifikasi budidaya, dan perbaikan manajemen tebang angkut. Sedangkan untuk percepatan alih teknologi, PG Soedhono  aktif menyelenggarakan kebun percobaan.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

  • PG Olean

Pabrik Gula Olean yang berlokasi di Desa Olean, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur didirikan pada tahun 1846 oleh pemerintah Hindia Belanda tepatnya pada tanggal 4 Agustus 1846, dengan nama‚Venoot Schap Phaiton Olean. Pabrik Gula Olean terakhir menjadi milik Fa. Anemaet & Co.

Setelah indonesia merdeka pabrik-pabrik Gula milik Pemerintahan Hindia Belanda diambil alih oleh Pemerintahan Indonesia dan pabrik Gula diganti namanya menjadi Pusat Perkebunan Negara (baru). Tahun 1960 namanya diganti menjadi Pusat Perkebunan Negara (baru) Cabang Jawa Timur Unit Gula B, dan menjadi pimpinan umum perusahaan Perkebunan Negara Gula Kesatuan Jawa Timur IV pada tahun 1964.

Pada tahun 1966 diganti menjadi Badan Pimpinan Umun Perusahaan Gula Negara / Perusahaan Negara Karung goni Inspektorat VIII, dan menjadi Perusahaan Negara Perkebunan XXV pada tahun 1968. Selanjutnya dari tanggal 30 juni 1975 diganti menjadi Perusahaan Terbatas Perkebunan XXIV-XXV, dasan pada tanggal 11 Maret 1996 menjadi nama PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero). Pabrik Gula Olean dibatasi dengan :

- Batas Utara : Desa Kayu Putih

- Batas Timur : Desa Tenggir

- Batas Selatan : Desa Talkandang

- Batas Barat : Desa Alasmalang

Beroperasi sejak masa kolonial, sebelum restrukturisasi BUMN Perkebunan tahun 1996 PG yang  administratif masuk wilayah Kabupaten Situbondo ini menjadi unit usaha PTP XXIV-XXV. Dikenal sebagai PG terkecil di Indonesia (bahkan mungkin di dunia), PG Olean terus tumbuh dan berkembang memberikan yang terbaik bagi kejayaan industri gula Indonesia, antara lain melalui kinerja unggul, mutu produk prima, didukung stakeholders, dan mampu menjadi wahana percepatan pertumbuhan ekonomi regional Situbondo.

Pada tahun 2011, PG Olean merencanakan giling tebu sebanyak 139.310,0 ton (tebu sendiri 6.300,0 ton dan tebu rakyat 133.010,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 1.665,0 ha (TS 70,0 ha dan TR 1.595,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 10.272,7 ton (milik PG 3.633,6 ton dan milik petani 6.639,1 ton) dan tetes 6.269,0 ton. Selain areal berasal dari kecamatan dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, juga terdapat di Kabupaten Lumajang yang pembinaannya dilakukan PG Padjarakan sejak awal. Kapasitas PG 1.000 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 865,8 tth sudah termasuk jam berhenti.

Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama  kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak.  Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija.  PG Olean yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif. Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis. Termasuk dalam konteks ini rencana kerja-sama pemanfaatan lahan perkebunan untuk ditanami tebu, seperti Pasewaran.  Upaya menarik animo petani juga dilakukan melalui perbaikan kinerja pabrik dan kelancaran giling.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya.  Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling. Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Olean antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan  penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

  • PG Padjarakan

Pabrik Gula Padjarakan yang berlokasi di Desa Sukokerto, Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menurut Jaarboek Voor Suikerfabrikanten Op Java 1913/14 didirikan oleh suatu Perusahaan Belanda yang bernama ANEMAET & CO pada jaman Pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1830.

Sejak didirikan sampai kedatangan Jepang di Indonesia ± 1942 tidak ada catatan / dokumen yang pasti yang bisa menceriterakan riwayat Pabrik Gula Padjarakan. Selama Pemerintahan Jepang di Indonesia ± tahun 1942 s/d 1945, Pabrik Gula Padjarakan tidak beroperasi, bahkan komplek perumahan Pabrik Gula Padjarakan dijadikan markas tentara Jepang, sehingga sejak masa Pemerintahan Jepang tersebut Pabrik Gula Padjarakan tidak beroperasi, yang akhirnya mengakibatkan sebagian besar mesin-mesinnya banyak yang rusak.

Baru mulai tahun 1948 (menurut dokumen yang ada tanggal 23 Desember 1948) Pabrik Gula Padjarakan diambil alih oleh Javanch Kultur Matchappy N.V. dan mulai dibangun kembali. Karena Pabrik sudah berhenti selama ± 6 tahun, maka dengan perbaikan yang memakan waktu ± 3 tahun akhirnya Pabrik Gula Padjarakan baru dapat mulai beroperasi kembali pada masa giling 1951, sebagai pabrik swasta milik orang Belanda.

Dalam rangka perjuangan masuknya Irian Barat ke wilayah Republik indonesia maka dengan Surat Penguasa Militer / Menteri Pertahanan No.1063/PMT/1957 tanggal 5 Desember 1957 Perusahaan milik Belanda diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia (termasuk P.G. Padjarakan) dan kemudian diberi nama Perusahaan Perkebunan Negara Baru atau disingkat P.P.N Baru. Yang selanjutnya pada tahun 1960 diadakan penggabungan antara Perusahaan Perkebunan dalam lingkup P.P.N lama dengan P.P.N baru menjadi suatu Lembaga Badan Pimpinan Umum urusan Perusahaan Perkebunan Negara disingkat BPU-PPN yang berkedudukan di Jakarta dengan perwakilan BPU-PPN Jawa Timur Surabaya.

Pada tahun 1963 diadakan reorganisasi menjadi BPU-PPN Gula Jatim Inspeksi Daerah VII. kemudian 1968 diadakan reorganisasi lagi atas dasar Peraturan Pemerintah No.13 tahun 1968 dari BPU-PPN Gula Jatim Inspeksi Daerah VII menjadi P.N.P XXIV (Perusahaan Negara Perkebunan XXIV) Pabrik Gula Padjarakan. Lalu pada tahun 1974 dengan Peraturan Pemerintah No.44 tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974 direorganisasi lagi dari P.N.P XXIV P.G Padjarakan menjadi P.T.P XXIV (Persero) P.G. Padjarakan. Dan pada tahun 1975 dengan Peraturan Pemerintah No.15 tahun 1975 tanggal 28 April 1975 diadakan penggabungan antara P.T.P XXIV dengan P.T.P XXV menjadi P.T.P XXIV-XXV (Persero) yang mana sampai dengan saat ini masih tetap dengan nama: P.T.P XXIV-XXV (Persero) Pabrik Gula Padjarakan. Ahirnya pada tahun 1997 diadakan reorganisasi kembali menjadi PTPN XI (Persero) , yang merupakan penggabungan dari PTP XX (Persero) dengan P.T.P XXIV-XXV (Persero) sampai sekarang dengan nama : “ PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Padjarakan “.

Pada tahun 2011, PG Padjarakan merencanakan giling tebu sebanyak 152.840,0 ton (tebu sendiri 13.570,0 ton dan tebu rakyat 139.270,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 2.100,0 ha (TS 160,0 ha dan TR 1.940,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 10.458,5 ton (milik PG 4.217,7 ton dan milik petani 6.240,8 ton) dan tetes 6.877,9 ton. Selain areal berasal dari kecamatan dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, juga terdapat di Kabupaten Lumajang yang pembinaannya dilakukan PG Padjarakan sejak awal. Kapasitas PG 1.250,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.118,1 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Gending beberapa kali mengalami pemantapan kapasitas sejalan meningkatnya ketersediaan tebu dari yang semula hanya 1.100 tth.  Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama  kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak. Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija. PG Padjarakan yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif.  Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis. Upaya menarik animo petani juga dilakukan melalui perbaikan kinerja pabrik dan kelancaran giling.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya.  Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Padjarakan antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30. Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

  • PG Pagottan

Pabrik Gula Pagottan yang berlokasi di Desa Pagottan, Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur memiliki sejarah beberapa periode yang sering mengalami pergantian kepemilikan karena pada masa-masa perkembangan tersebut bangsa Indonesia masih dalam periode pernjajahan Belanda dan Jepang, hingga akhirnya Pabrik Gula Pagottan menjadi BUMN Perusahaan Perseroan Terbatas. Tahun 1884-1941 (masa penjajahan Belanda) PG Pagottan didirikan oleh NV Cody Costeren Van Voorhout serta mengatur pula administrasinya.

  • Tahun 1941-1945 (masa pendudukan Jepang)

Pada masa ini sedang terjadi Perang Dunia II, Jepang menggantikan Belanda menduduki Indonesia. Rakyat sekitar PG Pagottan mengambil barang-barang milik PG Pagottan sehingga PG Pagottan keadaannya menjadi rusak berat, tetapi dengan segala upaya akhirnya Jepang dapat memanfaatkan Pabrik Gula Pagottan menjadi Pabrik Pembuat Semen dengan menggunakan bahan baku gips yang banyak terdapat di daerah Slahung, Ponorogo.

  • Tahun 1945-1948 (masa revolusi fisik)

Karena kekalahan Jepang dan Perang Dunia II melawan sekutu, Jepang harus meninggalkan Indoensia PG Pagottan kemudian dimabil alih oleh rakyat Indonesia dan dimanfaatkan untuk memproduksi senjata granat tangan dan juga bangunan lainnya digunakan sebagai markas tentara.

  • Tahun 1948-1949 (masa agresi Belanda)

Pada tahun-tahun ini Belanda datang kembali ke Indonesia dan dapat menguasai kembali PG Pagottan dan juga digunakan sebagai markas.

  • Tahun 1949-1956 (masa Kedaulatan RI)

NV Cody Costtern Van Voorhout mulai membangun dan memperbaiki PG Pagottan yang telah rusak berat akibat perang. Pada mas itu pula dilakukan penanaman tenu untuk pertama kali dan sekitar tahun 1953 PG Pagottan mengadakan penggilingan yang pertama yang diberi nama“Suiker Onderneming Pagottan.

  • Tahun 1956-1957

Dengan adanya perkembangan politik sekitar tahun 1956, pengelolaan PG Pagottan dialihkan kepada Bank Industri Negara dan diberi nama “PG Pagottan”.

 

  • Tahun 1957-1958

Pada bulan Desember 1957 PG Pagottan diambil alih oleh Pemerintah Indonesia yang lebih dikenal dengan istilah Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia dan selanjutnya PG Pagottan dikelola oleh Perusahaan Negara Perkebunan (PNP/Gula Inspeksi V).

Pada tahun 2011, PG Pagottan merencanakan menggiling tebu sebanyak 375.131,6 ton (tebu sendiri 150.455,0 ton dan tebu rakyat 224.676,6  ton) yang diperoleh dari areal seluas 4.997,0 ha (TS 1.880,0 ha dan TR 3.117,0 ha).Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 26.771,6 ton (milik PG 16.649,1 ton dan milik petani 10.122,5  ton) dan tetes 16.881,0 ton. Selain Kabupaten Madiun, areal pengusahaan tebu PG Pagottan juga berasal dari Kabupaten Ponorogo. Kapasitas PG 3.200,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.821,9 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Pagottan beberapa kali mengalami peningkatan kapasitas.  Terakhir dilakukan tahun 1990-an melalui pemanfaatan peralatan PG Cot Girek di Aceh yang dilikuidasi. Kondisi agroekosistem PG Pagottan yang memungkinkan tebu tumbuh dengan baik, menjadikannya relatif bersaing terhadap komoditas agribisnis lain.  Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani tebu diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Pagottan antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman, penataan varietas menuju komposisi ideal (proporsi antara masak awal, tengah dan akhir berbanding 30-40-30%), penyediaan agroinputs secara tepat, intensifikasi budidaya, dan perbaikan manajemen tebang angkut.  Sedangkan untuk percepatan alih teknologi, PG Pagottan aktif menyelenggarakan kebun percobaan.Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best practices.

 

  • PG Pandjie

PG. Panjdie yang berlokasi di Kelurahan Mimbaan, Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur didirikan oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1884 di bawah naungan Kantor Pusat NV. Tie Demand Van Kerchem di Negeri Belanda dan perwakilan di Surabaya. Perkembangan status sejak peralihan sebagai berikut :

- Tahun 1958 PG Pandjie bergabung dengan PG lain di bawah kendali Perusahaan Perkebunan Negara baru unit IV.

- Tahun 1963 pg Pandjie dialihkan ke dalam PPN gula kesatuan IV.

- Tahun 1968 PG Pandji masuk perusahaan Negara perkebunan XXV.

- Tahun 1975 pg Pandji masuk pada Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara XI (Persero) sampai sekarang.

- Beroperasi sejak masa kolonial,  sebelum restrukturisasi BUMN Perkebunan tahun 1996 PG yang administratif masuk wilayah Kabupaten Situbondo  ini menjadi unit usaha PTP XXIV-XXV.Meskipun lokasinya di tengah kota yang secara geografis menghadapi banyak hambatan dalam pengembangan areal, PG Pandjie tetap eksis dan terus berkembang memberikan yang terbaik bagi kemajuan perseroan dan kejayaan industri gula nasional. Perwujudan PG Pandjie sebagai industri ramah lingkungan dilakukan melalui pengelolaan lingkungan secara terintegrasi, baik untuk pemasangan dust collector maupun penanganan limbah padat dan cair.

Pada tahun 2011, PG Pandjie merencanakan giling tebu sebanyak 200.015,0ton (tebu sendiri 34.415,0 ton dan tebu rakyat 165.600,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 2.580,6 ha (TS 460,0 ha dan TR 2.120,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 15.139,0 ton (milik PG 6.726,3 ton dan milik petani 8.412,7 ton) dan tetes 9.000,7 ton. Selain areal berasal dari kecamatan dalam wilayah Kabupaten Situbondo (tebu yang tidak tergiling di PG Assembagoes), juga terdapat di Kabupaten Jember yang pembinaannya dilakukan PG Pandjie sejak awal. Kapasitas PG 1.700 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.471,9 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Pandjie beberapa kali mengalami pemantapan kapasitas sejalan meningkatnya ketersediaan tebu dari yang semula hanya 1.100 tth. Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak.  Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija. PG Pandjie yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif.  Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis.  Upaya menarik animo petani juga dilakukan melalui perbaikan kinerja pabrik dan kelancaran giling.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya.  Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.  Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Pandjie antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan  penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

  • PG Purwodadie

Pabrik Gula Poerwodadie yang berlokasi di Desa Palem, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1832 yang saat itu bernama “Nederlands Hendel Maatschapij (NHM) dan berlokasi di desa Pelem, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, Karesidenan Madiun.

Pada tahun 1959 diambil alih Pemerintah Republik Indonesia dan pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), selanjutnya pada tahun 1967 berubah menjadi PPN Baru yang dipimpin oleh seorang Direktur.

Berdasarkan PP No. 14/tahun 1968 pada tahun 1968 statusnya diubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) yang membawahi beberapa pabrik gula di satu karesidenan dengan nama “Inspeksi Perusahaan Perkebunan Negara Sejak tahun 1968 itu pula PG Poerwodadie yang terletak satu karesidenan dengan PG Soedhono, PG Redjosarie, PG Pagottan, dan PG Kanigoro bergabung dalam satu badan hukum yaitu Perusahaan Negara Perkebunan XX (PNP XX) yang dipimpin oleh Direksi dan berkantor pusat di Surabaya.

Status PNP berubah menjadi Perseroan Terbatas (Persero) pada tahun 1985 dan PNP XX berubah menjadi PT Perkebunan Nusantara XX (Persero).  Pada tanggal 11 Maret 1996 PTP XX (Persero) bersama PTP lainnya dibubarkan. Berdasarkan PP No. 16/1996 tanggal 14 Februari 1996 dibentuk PTP Nusantara XI (Persero) yang merupakan gabungan eks PTP XX (Persero) dengan PTP XXIV-XXV (Persero). PTP Nusantara XI (Persero) dipimpin oleh Direksi yang berkedudukan di Jalan Merak No. 1 Surabaya hingga saat ini.

Pada tahun 2011, PG Poerwodadie merencanakan menggiling tebu sebanyak 297.229,8 ton (tebu sendiri 84.479,8 ton dan tebu rakyat 212.750,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 3.969,2 ha (TS 1.064,2 ha dan TR 2.905,0 ha). Areal tidak hanya mencakup sejumlah kecamatan di Kabupaten Magetan, namun juga di Kabupaten Bojonegoro. Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 20.783,7 ton (milik PG 11.361,3 ton dan milik petani 9.422,4 ton) dan tetes 13.375,4 ton. Kapasitas PG 2.300,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.057,2 tth sudah termasuk jam berhenti.

Sadar pentingnya tebu rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan baku, PG Poerwodadie berupaya memberikan yang terbaik untuk petani.  Sejumlah kebun peragaan diselenggarakan dengan maksud dapat menjadi wahana pembelajaran, baik bagi petugas PG maupun petani, tentang praktek budidaya terbaik (best agricultural practices). Adanya kebun peragaan juga memungkinkan para petani berinteraksi dengan PG terkait upaya peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.  Arah yang ingin dicapai produktivutas rata-rata 8 ton hablur per hektar antara lain direalisasikan melalui penataan masa tanam, penataan varietas (menuju komposisi ideal antara masak awal, tengah, dan akhir 30-40-30 % pada TG  2010/11), kecukupan agroinputs, dan perbaikan manajemen tebang-angkut.

Adanya Litbang Wilayah Barat yang berpusat di PG Poerwodadie, memungkinkan adopsi dan diseminasi teknologi berjalan lebih cepat. Sedangkan untuk mengatasi kemungkinan pencemaran akibat aktivitas pabrik yang potensial mengganggu masyarakat, PG Poerwodadie terus berupaya memperbaiki instalasi pengolahan limbah secara terpadu, baik untuk limbah padat, cair maupun udara. Harapan selanjutnya adalah industri ramah lingkungan (environmental friendly).

  • PG Prajekan

Pabrik Gula “Pradjekan” didirikan pada tahun 1883 oleh perusahaan Belanda “NV Cultuur Mioj Pradjekan Tanggerang yang merupakan investasi dari “JW yang merupakan investasi dari “JW Bernie Anment & CoSurabaya. Saat didirikan mempunyai luas area sekitar 950 Ha kapasitas giling 650 Ton/Hari. Sejak tahun 1909 sampai dengan tahun 1957 PD “Pradjekandiambil alih oleh “Cultuur Handel on Industrie Bank yang brkedudukan di Surabaya. Pada jaman pendudukan Jepang terpaksa menghentikan produksinya sampai pecahnya perang revolusi.

Pada tgl. 10 November 1957 PG. “Pradjekan diambil alih oleh Pemerintah RI sebagai realisasi Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia. Pengelolaannya diserahkan pada Pusat Perkebunan Negara Baru (PPN Baru). Dalam rangka pengambil alihan tersebut Pemerintah mengeluarkan UU Nasionalisasi (UU No. 26/1959) pada tahun 1959 dan menetapkan PG. “Pradjekan dibawah PPN Unit Jatim Rayon VIII.

Pada tahun 1960 diadakan reorganisasi dalam tubuh PPN Baru yaitu dengan dibentuknya Pra Unit  Pra Unit yang kemudian menjadi Unit-Unit Rayon. PG. “Pradjekan termasuk dalam Pra Unit Rayon Gula A. Untuk mengukuhkan Unit-Unit tersebut menjadi Badan Hukum maka dikeluarkan PP No. 141-175 tahun 1961, sehingga unit-unit diubah menjadi PPN Kesatuan, dan PG. “Padjarekan termasuk dalam PPN Kesatuan dan PG. “Pradjarekan termasuk dalam PPN Kesatuan Jawa Timur IV. Pada tahun 1963 spesialisasi sehingga PPn Kesatuan menjadi PPN Gula, PPN Tembakau, PPN Karet, PPN Aneka Tanaman dan sebagainya.

Pada tanggal 27 Maret 1968 diadakan reorganisasi. Sesuai dengan PP No. 13 dan 14 tanggal 13 April 1968 tentang Pembentukan PPN Gula, PG. “Pradjekan tergabung dalam PNP XXV dengan kantor induk di JL. Jembatan Merah 3-5 Surabaya. Pada tahun 1975 dengan PP No. 15/1975 PNP XXV mulai berstatus sebagai Perseroan Terbatas dan bergabung dengan PNP XXIV menjadi PTP.XXIV – XXV yang berkantor induk di JL. Merak 1 Surabaya. Akte pendirian perusahaan dibuat pada tanggal 30 Juni 1975 dihadapan Notaris GHS Loemban Tobing SH.

Pada tanggal 13 September 1994 berubah menjadi PTP Jatim yang berkedudukan di JL. Merak 1 Surabaya yang merupakan gabungan dari PTP XX, PTP XXIII, PTP XXIV  XXV, PTP XXVI dan PTP XXIX. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 tanggal 14 Pebruari 1996 dan Lembaran Negara No. 22 tahun 1996 tentang peleburan perusahaan perseroan maka PT. Perkebunan XX dan PT. Perkebunan XXIV – XXV menjadi PT. Perkebunan Nusantara XI (Perseroan) yang berkedudukan di JL. Merak 1 Surabaya.

Agroekosistem yang relatif sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu memungkinkan fotosintesis berlangsung secara optimal. Tidak mengherankan bila semua persyaratan agronomis dipenuhi, rendemen tinggi bagi PG Pradjekan merupakan kenyataan.  Dukungan peralatan pabrik yang sangat menunjang kelancaran giling, efisiensi, dan mutu produk menjadi daya tarik yang tidak kalah menariknya sehingga membuat para petani semakin yakin bahwa tebu merupakan komoditas alternatif sangat menguntungkan yang berkemampuan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Pada tahun 2011, PG Pradjekan merencanakan giling tebu sebanyak 403.110,1 ton (tebu sendiri 40.552,0 ton dan tebu rakyat 362.558,1 ton) yang diperoleh dari areal seluas 5.747,1 ha (TS 550,0 ha dan TR 5.197,1 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 27.797,6 ton (milik PG 11.414,3 ton dan milik petani 16.383,3 ton) dan tetes 18.140,0 ton. Kapasitas giling 2.900,0  tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.500,0  tth sudah termasuk jam berhenti.

Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak.  Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija.PG Pradjekan  yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif. Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.  Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Pradjekan antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan  penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

 

  • PG Redjosari

Pabrik Gula Redjosarie yang berlokasi di Desa Redjosarie, Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1890 dan dimiliki oleh N.I.L.M (Nationale Industrie & Landbouw Maatschappy) tanggal 27 Desember 1957 diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan pada tahun 1960-1963 Pabrik Gula Redjosarie berstatus Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) kesatuan Jawa Timur I Surabaya.

Tahun 1963-1968 Pabrik Gula berstatus Perusahaan Gula Negara dikelola oleh Perusahaan Perkebunan Gula Negara Daerah Inspeksi Wilayah V di Surabaya dibawah Departemen Pertanian Republik Indonesia.

Tahun 1968 sampai dengan 1 Mei 1981 Pabrik Gula berstatus Perusahaan Negara dikelola oleh Direksi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XX di Surabaya. Tanggal 1 Mei 1981 sampai tanggal 13 Februari 1996 bersatus Perusahaan Perseroan Terbatas (Persero), PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) dengan alamat Jln. Merak 1 Surabaya dan tanggal 14 Februari sampai dengan sekarang berstatus PT Perkebunan Nusantara XI dan bernaung dibawah Departemen Keuangan & Departemen Pertanian Republik Indonesia.

Pada tahun 2011, PG Redjosarie merencanakan menggiling tebu sebanyak 365.668,2  ton (tebu sendiri 68.270,2  ton dan tebu rakyat 297.398,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 4.735 ha (TS 850 ha dan TR 3.885,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 24.789,5 ton (milik PG 11.855,9 ton dan milik petani 12.933,6 ton) dan tetes 16.455,1 ton.Kapasitas PG 2.650,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.359,8  tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Redjosarie dikenal sebagai lumbung tebu rakyat. Kondisi agroekosistem yang memungkinkan tebu tumbuh dengan baik, menjadikannya relatif bersaing terhadap komoditas agribisnis lain.  Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani tebu diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya percepatan alih teknologi, PG Redjosarie aktif menyelenggarakan kebun percobaan.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agrocultural  practices.  Adanya kebun peragaan juga memungkinkan para petani berinteraksi dengan PG terkait upaya peningkatan produktivitas secara berkelanjutan. Arah yang ingin dicapai produktivutas rata-rata 8 ton hablur per hektar antara lain direalisasikan melalui penataan masa tanam, penataan varietas (menuju komposisi ideal antara masak awal, tengah, dan akhir 30-40-30 % pada TG  2010/11), kecukupanagroinputs, dan perbaikan manajemen tebang-angkut.

  • PG Semboro

PG Semboro berada di Desa/Kecataman Semboro, Kabupaten Jember. Beroperasi sejak 1928 sebagai unit usaha milik perusahaan swasta di era kolonialisme. Setelah mengalami beberapa kali rehabilitasi, kini PG Semboro berkapasitas 7.000 tth. Peningkatan kapasitas dilakukan tahun 2009 sejalan dengan dicanangkannya program revitalisasi dari sebelumnya sebesar 4.500 tth. Arel pengusahaan tebu sekitar 9.000 hektar, baik yang berasal dari tebu sendiri maupun rakyat. Tebu digiling mencapai 900.000 ton dan gula dihasilkan sebanyak 88.000 ton.

Pada tahun 2011, PG Semboro merencanakan giling tebu sebanyak 801.250,0 ton (tebu sendiri 165.030,0 ton dan tebu rakyat 636.220,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 8.285,0 ha (TS 1.600,0 ha dan TR 6.685,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 60.102,6 ton (milik PG 28.030,4 ton dan milik petani 32.072,2 ton) dan tetes 36.056,4 ton. Kapasitas PG 7.000,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 5.814,0 tth sudah termasuk jam berhenti.

Dalam pada itu, untuk meningkatkan mutu produk sejalan dengan perubahan perilaku konsumen yang cenderung memilih gula bermutu tinggi dan warna lebih putih cemerlang, pada tahun 2009 juga telah dilakukan alih proses dari sulfitasi dan remelt karbonatasi. Melalui proses ini, mutu produk dihasilkan minimal setara gula rafinasi sehingga secara bertahap PTPN XI dapat masuk ke pasar eceran yang memberikan premium lebih baik.

  • PG Soedono

Pabrik Gula Soedhono yang berlokasi di Desa Tepas, Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur didirikan pada tahun 1888 oleh perusahaan Verenigde Vorsendsche Cultural Maatschaapy ( VVCM ). Pada tanggal 10 Desember 1957 Direksi sebagai pimpinan tertinggi Perusahaan Negara (PN) yang berpusat di Jakarta melakukan perubahan struktur organisasi perkebunan dari sentralisasi menjadi desentralisasi dan status PG. Soedhono menjadi Perusahaan Perkebunan Negara ( PPN ). Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah ( PP ) nomor 1 / 1962 dan nomor 2 / 1962 tentang Perusahaan Negara ( PN ) maka PG. Soedhono berubah dari Perusahaan Perkebunan Negara ( PPN ) menjadi Perusahaan Negara Perkebunan ( PNP ).

Tanggal 2 Mei 1981 berdasar Peraturan Pemerintah RI nomor 6 tahun 1972 (Lembaran Negara RI nomor 7 tahun 1972) yang menetapkan pengalihan bentuk Perusahaan Negara Perkebunan XX menjadi Persero, sehingga terjadi perubahan status dari Perusahaan Negara menjadi Persero PTP XX ( Perseroan Terbatas Perkebunan ). Berdasarkan SK Pengesahan dari Menteri Kehakiman RI nomor C2-7749-HT-01-01 tahun 1983, telah disahkan berdirinya PTP XX menjadi badan hukum untuk waktu 75 tahun terhitung sejak tanggal 3 Desember 1983.

Dalam surat edaran nomor XX-SURED / 96.001, dengan berdasar pada Peraturan Pemerintah nomor 16 / 1996 tanggal 14 Februari 1996 maka PTP XX dan PTP XXIV-XXV ( Persero ) telah dibubarkan dan tanggal 11 Maret 1996 dibentuk perusahaan baru dengan nama PTP.Nusantara XI ( Persero ) dengan alamat di jalan Merak no 1 Surabaya.

Pada tahun 2011, PG Soedhono merencanakan menggiling tebu sebanyak 315.163,6  ton (tebu sendiri 105.259,1 ton dan tebu rakyat 209,904,5 ton) yang diperoleh dari areal seluas 4.140,8 ha (TS 1.300,2 ha dan TR 2.840,6  ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 22,337,0  ton (milik PG  12.882,3 ton dan milik petani 9.454,7 ton) dan tetes 14.182,3 ton. Selain Kabupaten Ngawi, areal pengusahaan tebu PG Soedhono juga berasal dari Kabupaten Bojonegoro. Kapasitas PG 2.700,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.347,8  tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Soedhono beberapa kali mengalami peningkatan kapasitas sejalan meningkatnya ketersediaan tebu. Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya.  Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Soedhono  antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman, penataan varietas menuju komposisi ideal (proporsi antara masak awal, tengah dan akhir berbanding 30-40-30%), penyediaan agroinputs secara tepat, intensifikasi budidaya, dan perbaikan manajemen tebang angkut. Sedangkan untuk percepatan alih teknologi, PG Soedhono  aktif menyelenggarakan kebun percobaan.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

  • PG Wonolangan

Pabrik Gula Wonolangan yang berlokasi di Desa Kedawoeng Dalem, Dringu, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur didirikan pada tahun 1832 oleh pemimpin Belanda bernama W.V. Nederlannsehe Handel Maathcappv. Pada tahun 1957 PG.Wonolangan mulai disosialisasikan dari pemerintah Belanda menjadi milik pemerintah Indonesia dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara dibawah pengawasan Inspektorat VII. Kata “Wonolangan” diambil dari nama tempat perusahaan itu didirikan. Berdasarkan Instruksi Presiden No. 14 tahun 1968 tentang penyederhanaan bentuk perusahaan negara, maka terdapat tiga bentuk badan usaha negara yaitu :

- PERJAN (Perusahaan Jawatan)

- PERUM (Perusahaan Umum)

- PERSERO (Perusahaan Perseroan)

Pada 30 Juni 1968. PG Wonolangan dibawah PNP XXIV (Perusahaan Perkebunan Negara XXIV) yang dipimpin oleh direktur utama yang mebawahi Pabrik Gula yakni :

- PG. Kedawung, Pasuruan

- PG. Wonlangan, Probolinggo

- PG. Gending, Probolinggo

- PG. Padjarakan, Probolinggo

- PG. Djahroto, Lumajang

- PG. Semboro, Jember

Pada 13 Desember 1974 dengan Kepitusan Presiden yang dituangkan kedalam PP RI No.14 tahun 1974 Lembaran Negara No.2 tahun 1974. PNP XXIV Surabaya digabung dengan PNP XXV yang berkedudukan di Surabaya. Penggabungan tersebut diakhiri menjadi PT. Perkebunan XXIV – XXV (Persero) tepatnya pada 30 Juni 1975. Adapun PNP XXV sebelumnya membawahi 6 Pabrik Gula, yaitu :

- PG. Demas, Situbondo

- PG. Wringinanom, Situbondo

- PG. Olean, Situbondo

- PG. Pandji, Situbondo

- PG. Asembagoes, Situbondo

- PG. Pradjekan, Bondowoso

Setelah ada penggabungan maka PTP XXIV – XXV (Persero) membawahi 12 Pabrik Gula, Pabrik Alkohol dan Rumah Sakit dengan dipimpin oleh Direktur Utama yang berkedudukan di Surabaya. Salah satu Pabrik Gula tersebut adalah Pabrik Gula Wonolangan.

Pada tahun 2011, PG Wonolangan merencanakan menggiling tebu sebanyak 221.538,0 ton (tebu sendiri 21.358,0 ton dan tebu rakyat 200.180,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 2.810,0 ha (TS 250,0 ha dan TR 2.560,0 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 16.085,6ton (milik PG 6.344,6 ton dan milik petani 9.741,0 ton) dan tetes 9.969,4 ton.Selain Kabupaten Probolinggo, areal pengusahaan tebu PG Wonolangan juga berasal dari Kabupaten Lumajang. Kapasitas PG 1.700 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.504,4 tth sudah termasuk jam berhenti.

PG Wonolangan beberapa kali mengalami peningkatan kapasitas sejalan meningkatnya ketersediaan tebu. Sadar akan lokasinya yang berada di tengah kota yang tengah mengalami pertumbuhan pesat, PG Wonolangan terus berupaya meningkatkan pelayanan bagi para petani, termasuk pemilik tebu rakyat mandiri yang notabena tidak terikat PG mana pun. Peningkatan kinerja pabrik melalui kelancaran giling dan efisiensi menjadi concern untuk memenangkan kompetisi dan mendapatkan jumlah tebu relatif memadai  sesuai kapasitas giling.  Selain itu, mengingat pentingnya tebu rakyat  dalam  pengembangan PG, secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.

Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Wonolangan antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman, penataan varietas menuju komposisi ideal (proporsi antara masak awal, tengah dan akhir berbanding 30-40-30%), penyediaan agroinputs secara tepat, intensifikasi budidaya, dan perbaikan manajemen tebang angkut. Sedangkan untuk percepatan alih teknologi, PG Soedhono  aktif menyelenggarakan kebun percobaan. Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices. Khusus untuk tebu Lumajang, pembinaan dilakukan sejak awal, sehingga tercipta hubungan emosional yang lebih baik antara petani dan PG.  Harapan selanjutnya, loyalitas petani untuk memasok tebu ke PG Wonolangan terbentuk sejak dini.

  • PG Wringinanom 

Berdirinya Pabrik Gula Wringin Anom didikan pada tahun 1881 oleh  Factory yang berkedudukan di Belanda. Pada tahun 1958, seluruh perusahaan milik Belanda diambil alih dibawah kekuasaan pemerintahan RI dan dinasionalisasikan. Pada tahun 1969 diadakan reorganisasi dan dibentuk unit-unit.

Pada tahun 1968 dibentuk Perusahaan Negara Perkebunan (PNP XXV) yang mengolah 6 Pabrik Gula dan 1 Rumah Sakit di wilayah Situbondo dan Bondowoso, termasuk Pabrik Gula Wringin Anom pada tahun 1974 berubah bentuk menjadi PT. Perkebunan XXV (Persero) Pada Tanggal 13 September 1975 PTP. XXIV dan PTP. XXV dilebur menjadi PT. Perkebunan XXIV-XXV (Persero) yang terdiri dari 9 unit usaha.

Pada tanggal 11 Maret 1996 PT. Perkebunan XXIV-XXV (Persero) dan PT. Perkebunan XX (Persero) digabung dan berubah bentuk menjadi PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) yang terdiri dari 23 unit usaha.

Sedikit melihat ke belakang, dalam sejarahnya pada tahun 1980-an PG ini hampir pernah dibekuoperasikan karena rendemen dicapai hanya 11,0%. Kondisi memang sudah berubah sejalan perubahan frontal pada tatanan di semua aspek kehidupan dan lingkungan, termasuk tidak adanya lagi kawasan tata ruang budidaya tebu dan kebebasan petani untuk mengusahakan tanaman apa saja yang dinilai paling menguntungkan, namun PG Wringin Anom tetap eksis dan terus berkembang.

Pada tahun 2011, PG Wringin Anom merencanakan giling tebu sebanyak 155.852,0 ton (tebu sendiri 11.500,0 ton dan tebu rakyat 144.352,0 ton) yang diperoleh dari areal seluas 1.890,0 ha (TS 125,0 ha dan TR  1.765,0  ha).Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 11.262,4 ton (milik PG 4.229,9 ton dan milik petani 7.032,5 ton) dan tetes 7.013,5 ton. Kapasitas PG 1.150,0 tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 1.031,4 tth sudah termasuk jam berhenti.

Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak. Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija. PG Wringin Anom yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif. Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis. Upaya menarik animo petani juga dilakukan melalui perbaikan kinerja pabrik dan kelancaran giling.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya.  Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.  Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG  Wringin Anom  antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan  penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30. Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.