PRODUK

  • Gula Kristal Putih

    Produk utama yang dihasilkan oleh PT Perkebunan Nusantara XI adalah gula kristal putih (GKP) berbasis tebu. Hingga kini, gula yang menjadi core business PTPN XI masih merupakan komoditas vital-strategik dalam ekonomi pangan Indonesia. Keberadaannya tidak hanya diperlukan sebagai pemanis berkalori yang menjadi salah satu bahan kebutuhan pokok (basic needs) masyarakat, melainkan juga bahan baku bagi industri makanan dan minuman. Pola produksinya yang melibatkan petani tebu, menyebabkan pemerintah masih merasa perlu mengeluarkan sejumlah kebijakan dan regulasi agar harga gula secara wajar dan menguntungkan semua pihak dapat diwujudkan.

    Read More
  • GUPALAS

    Mulai tahun 2011 PT Perkebunan Nusantara XI mulai memasarkan gula dalam kemasan 1 kg dengan menggunakan merek GUPALAS (Gula Pasir Sebelas). Penjualan gula dalam kemasan 1 kg ditujukan kepada pengguna akhir (end user) dengan kriteria GKP I dengan ICUMSA 80-100 IU atau dikenal sebagai gula kristal putih dengan mutu premium. GUPALAS di produksi oleh Pabrik Gula Semboro Jember Jawa Timur.

    Read More
  • Karung Plastik PK Rosella Baru

    Karung Plastik merupakan produk yang dihasilkan oleh unit usaha Pabrik Karung (PK) Rosella Baru yang berlokasi di Ngoro Industri Persada Mojokerto. Karung plastik yang diproduksi oleh PK Rosella ini digunakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan untuk keperluan produksi gula di setiap pabrik gula yang dimiliki oleh PTPN XI. Selain itu produksi karung juga dilakukan untuk pemenuhan pesanan dari pihak di luar PTPN XI dan unit usahanya. Apabila anda tertarik dengan produksi unit usaha dari PK Rosella, silahkan hubungi kami di kontak atau datang langsung ke Kantor Pusat di Jalan Merak No.1 Surabaya.

    Read More

BERITA

Pengumuman Rencana Kerjasama

Post at Friday, 20 April 2018,

SURABAYA (20/04/2018) Dalam rangka transformasi bisnis dan pengembangan asset PTPN XI dan berdasarkan PER-03/MBU/08/2017 tanggal 14 Agustus 2017 tentang Pedoman Kerja Sama Badan Usaha Milik Negara serta Peraturan Direksi PT Perkebunan Nusantara III (Persero) No. 3.00/PER/01/2018 tentang SOP Kerjasama Pemanfaatan Aset, maka PT Perkebunan Nusantara XI membuka kesempatan kepada semua pihak yang berkompeten untuk bekerjasama dengan skema :

a. Bangun Guna Serah (BOT)

b. Bangun Serah Guna (BTO)

c. Kerja sama Operasional (KSO)

d. Kerja sama Usaha (KSU)

e. Kerja sama Lisensi (KSL)

Adapun aset-aset yang akan dikerjasamakan adalah sebagai berikut: 1. Integrated Sugar Refinery Annexed with Food Industry Pabrik Gula Kedawoeng. 2. Pengembangan Pabrik Gula Wonolangan 3. Pembangunan Pabrik Gula cair di PG Padjarakan 4. Pembangunan Pabrik Gula baru di Situbondo 5. Tanah kosong persil 2 seluas 510 m2 di Siwalankerto, 6. SurabayaTanah kosong persil 3 seluas 538 m2 di Siwalankerto, 7. SurabayaTanah kosong persil 4 seluas 1.415 m2 di Siwalankerto, 8. SurabayaLahan eks KDT PK. Rosella Baru seluas 19.200 m2 di Kota Lumajang 9. Lahan seluas 2.007 m2 berada di Yosenan, Madiun 10. Lahan seluas 44.010 m2 berada di Peterongan, Jombang 11. Pembangunan Hotel di depan PG Pandji Situbondo tanah seluas 11.000 m2 12. Pembangunan Heritage & Edupark di Pabrik Gula Olean, Situbondo 13. Pengembangan dan Operasional Pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Pradjekan, Bondowoso

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Divisi Perencanaan & Pengembangan Bisnis PTPN XI. Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara XI Jl. Merak Nomor 1 Surabaya Tlp (031) 3524596 (pada jam kerja Senin sd jumat, jam 07.00 - 16.30 wib)

Read More

Membuat Sejumlah Terobosan

Post at Tuesday, 24 April 2018,

Membuat Sejumlah Terobosan

SURABAYA - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI telah beroperasi sejak kolonial Hindia Belanda berkuasa, abad 18. Saat ini, perusahaan yang merupakan hasil restrukturisasi dan penggabungan itu mengoperasikan 16 unit pabrik gula, empat rumah sakit, satu poliklinik, satu pabrik karung plastik, dan satu pabrik penyulingan ethanol distillery di Jawa Timur. Sedangkan Flora Pudji Lestari yang duduk sebagai Direktur Komersial PTPN XI adalah satu ujung tombak penentu kemajuan perusahaan pelat merah itu. “Dari awalnya manual kemudian pada tahun ini SAP efektif berlaku. Sekarang lebih terintegrasi, analisis, dan kontrol terhadap inefesiensi lebih mudah, sehingga banyak manfaat yang didapat perusahaan. Untuk inovasi selain produk bulki, mengupayakan penjualan produk yang memiliki nilai tambah dan margin yang lebih besar,” ujarnya. “Ini terkait strategi perusahaan, dalam era seperti ini kita harus betransformasi. Mau tidak mau kita tidak bisa berpangku tangan, masih banyak sumber daya yang belum dimanfaatkan. Kita harus melompat dengan transformasi bisnis agar dapat mengarah ke produk-produk hilirisasi, dan diversifikasi usaha,” tuturnya.
Selain bisnis, Flora juga berperan membangun budaya baru perusahaan yang lebih sesuai dengan tantangan zaman, “SIAPPP” (Sinergi, Inovasi, Amanah, Pelayanan Prima, Produktivitas dan Peduli). Budaya baru itu didasari budaya induk perusahaan, “Jujur Tulus Ikhlas”. Flora menambahkan, untuk mencapai sebuah keberhasilan, yang harus diingat oleh setiap orang adalah menjaga kepercayaan atas kewajiban yang diemban. “Yang penting kerja itu kita amanah karena bagi saya pribadi, integritas dan loyalitas sangat diperlukan. Lalu wawasan dan cara pandang yang lebih komprehensif dalam melihat keadaan, agar menyikapi masalah tidak sebagai kendala, tapi sebagai tantangan untuk berkreasi dan melompat semakin maju,” pungkas dia.
http://www.koran-jakarta.com/membuat-sejumlah-terobosan/
(Telah diedit menyesuaikan batas karakter)

#ptpnxi #ptpn11 #holdingperkebunan #kementrianbumn #kbumn #forumhumasbumn #fhbumn #profil #portalptpn11 #title_membuat-sejumlah-terobosan @koranjakarta.id
Read More

Pastikan Kesiapan Giling Komisaris Kunjungi PG Djatiroto

Post at Monday, 23 April 2018,

Pastikan Kesiapan Giling, Komisaris Kunjungi PG Djatiroto

LUMAJANG - Komitmen menyelesaikan proyek revitalisasi juga terlihat di PG Djatiroto, meski hari libur terlihat beberapa pekerja sedang mengerjakan pekerjaan untuk menyelesaikan proyek.
Minggu (22/04) dewan komisaris melakukan kunjungan kerja meninjau penyelesaian proyek revitalisasi PG Djatiroto.
"Sama dengan yang kami rasakan di PG Assembagoes pada awalnya, pesimis berubah menjadi optimis ketika melihat perkembangan proyek hingga saat ini", ungkap Dedy Mawardi Komisaris Utama PTPN XI.
Menurutnya meskipun progress total revitalisasi masih mencapai kisaran 60%, tetapi dengan peralatan existing PG Djatiroto masih bisa melakukan aktivitas giling tahun 2018. "Secara total revitalisasi masih mencapai kisaran 60% dengan rencana penyelesaian tahun 2019. Tetapi untuk tahun 2018 ini PG Djatiroto siap untuk giling dengan menggunakan peralatan existing dan beberapa alat yang telah selesai terpasang. Dengan demikian pelayanan kepada petani tidak terganggu", jelasnya lebih lanjut.
Komisaris Utama PTPN XI tersebut Berharap giling 2018 PG Djatiroto bisa optimal dalam pencapaian target meski revitalisasi belum tuntas selesai.
"Meskipun demikian diharapkan kualitas GKP produksi memenuhi SNI dengan icumsa kurang dari 200. 2018 kami masih menggunakan sulfitasi, tetapi 2019 nanti diganti remelt karbonatasi sehingga icumsa diharapkan kurang dari 100", jelas Agus Noor Widodo General Manager PG Djatiroto yang mendampingi selama kegiatan tersebut.
" Kami juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas komitmen semua pihak, karyawan dan konsorsium untuk menyelesaikan revitalisasi dan semua upaya untuk siap giling tahun 2018", ungkap HJG Winachyu Komisaris PTPN XI.
Revitalisasi PG Djatiroto dilaksanakan oleh konsorsium Hutama Karya-UTTAM-Euroasiatic dengan capaian peningkatan kapasitas giling menjadi 10.000 TCD, excess power 10MW dan Icumsa kurang dari 100.

#ptpnxi #ptpn11 #holdingperkebunan #kementrianbumn #kbumn #forumhumasbumn #fhbumn #revitalisasi #pabrikgula #pmn #pgdjatiroto #lumajang #portalptpn11 #title_Pastikan-Kesiapan-Giling-Komisaris-Kunjungi-PG-Djatiroto
Read More

Upacara Peringatan HUT RI ke – 71 tahun di lingkungan PTPN Gula di Jawa Timur

Post at Thursday, 18 August 2016,

SURABAYA (18/08/2016) Upacara memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-71 dilingkungan BUMN Perkebunan di Surabaya  telah sukses digelar bersama pada tanggal 17 Agustus 2016 pukul 07.00 WIB. Bertempat di halaman PTPN XI dan diikuti oleh seluruh Direksi, para Karyawan dan Karyawati PTPN X, PTPN XI dan PTPN XII. upacara tersebut berlangsung dengan khidmat. Dengan tema “Indonesia Kerja Nyata” Subiyono Direktur Utama PTPN X selaku Inspektur Upacara menyampaikan bahwa sebagai perusahaan perkebunan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan regulasi pemerintah, khususnya dalam penetapan harga produk perkebunan maka seperti slogan yang selalu dijunjung oleh Presiden RI yakni ayo kerja nyata, semua insan perkebunan diharapkan dapat bekerja secara nyata, bekerja keras dan berani untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini dilakukan (sek/sri/yns).

Read More

Mengintip Potensi Wisata Pabrik Gula di Situbondo

Post at Friday, 12 August 2016,

SURABAYA (12/08/2016) Sebuah lokomotif uap terparkir di depan gedung tua di kompleks Pabrik Gula (PG) Olean, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (30/7/2016) sore. Meski sudah berusia puluhan tahun, lokomotif yang diberi nama "Semeru" itu masih terlihat bersih dan terawat. Dua gerbong terlihat menempel di belakang lokomotif. Dari bentuknya, gerbong tersebut nampaknya tidak digunakan untuk mengangkut tebu, karena dilengkapi tempat duduk penumpang. 

Misgianto, sang masinis, terlihat sedang menyiapkan potongan kayu untuk bahan bahan bakar mesin lokomotif karena esok hari wisatawan mancanegara akan menyewa lokomotif tersebut untuk berkeliling kebun tebu. Dibantu rekannya Rusmandono, Misgianto memeriksa satu persatu komponen lokomotif yang dilengkapi cerobong uap besar di bagian depannya itu.

"Lokomotif ini sudah sangat tua, lebih tua dari saya. Sama seperti orang tua, banyak penyakitnya," kata warga asli Desa Olean Tengah, Kecamatan Situbondo ini. Untuk menjalankan lokomotif uap tersebut, Misgianto harus mulai membakar kayu-kayu tersebut sejak pagi. Sebab, bahan bakar lokomotif harus dibakar setidaknya lima jam sebelumnya untuk memanaskan mesin.

"Kayunya harus kering semua, jika ada kayu yang basah, pembakaran bahan baku tidak akan maksimal," jelas bapak satu anak ini. Misgianto sudah 13 tahun bekerja di PG warisan kolonial yang kini dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI itu. Dia memiliki tanggung jawab mengoperasikan dan memelihara lokomotif yang sudah 10 tahun terakhir berubah fungsi dari pengangkut tebu menjadi sarana pengangkut wisatawan mancanegara yang berkunjung ke pabrik itu. Misgianto juga yang selalu menemani para wisatawan yang ingin berkeliling kebun tebu dengan lokomotif uap. "Hanya berkeliling ke kebun-kebun warga sambil berfoto, kadang sampai malam hari," tuturnya.

Sebenarnya PG Olean memiliki tiga lokomotif uap. Namun dua unit lainnya sudah tidak bisa dioperasikan karena kerusakan yang sudah terlalu parah akibat dimakan usia. Bangkai kedua lokomotif tua tersebut disimoan di dalam gudang lokomotif yang terletak di belakang pabrik. "Lagipula, pegawainya sudah banyak yang pensiun. Tidak semua bisa mengoperasikan lokomotif uap," tambah dia.

Sejak 10 tahun lalu, PG yang didirikan pemerintah Hindia Belanda pada 4 Agustus 1846 itu beralih menggunakan lokomotif diesel berbahan bakar solar untuk mengangkut tebu dari kebun. Satu-satunya lokomotif uap yang tersisa kemudian hanya digunakan untuk sarana wisata. Samuel Mahendra, seorang pegawai keuangan PG Olean menjelaskan, sebenarnya pabrik tidak menyediakan khusus lokomotif uap tersebut untuk wisata, hanya saja selalu ada permintaan dari wisatawan mancanegara meminjam lokomotif untuk berkeliling kebun tebu.

"Akhirnya kita pasang tarif Rp 2 juta untuk berkeliling kebun tebu dengan lokomotif uap," katanya. Tidak banyak memang turis yang menyewa lokomotif uap tersebut untuk sarana wisata di kebun tebu. Sejak awal 2016, tercatat hanya dua kunjungan wisata ke pabrik gula tersebut.

 

Lokasi strategis

 

 

 

 

(Achmad Faizal/KOMPAS.com Gudang tua penyimpanan lokomotif di Pabrik Gula Olean Situbondo)

 

 

Selama ini, semua pengunjung adalah wisatawan mancanegara khususnya dari Belanda. Mereka hanya ingin bernostalgia mengelilingi kebun tebu dengan lokomotif uap, dan berkeliling mengunjungi pabrik. "Mereka hanya bernostalgia, bahwa bangsanya dulu adalah pendiri pabrik gula dan berkeliling kebun tebu dengan kereta lokomotif uap," ujar Samuel.

Nantinya, kata Samuel, justru PG Olean akan dijadikan pusat "Workshop Maintenance". Karena PG Olean adalah pabrik gula yang kapasitasnya produksinya kecil, sehingga tenaga pegawainya difokuskan ke urusan perbaikan peralatan 17 PG milik PTPN XI. Kapasitas produksi PG Olean hanya 1.100 ton per hari, jauh dibanding PG besar lainnya seperti PG Jatiroto Lumajang yang mencapai 7.500 ton per hari. Produksi rata-rata gula setiap tahun mencapai total 3.500 ton, dan tetes tebu rata-rata 55 ton per tahun. 

Saat dikelola pemerintah Hindia Belanda, PG yang memiliki areal lahan tebu hanya 50 hektare itu bernama Venoot Schap Phaiton Olean. PG Olean terakhir menjadi milik Fa. Anemaet & Co. Saat Indonesia merdeka, kepemilikan pabrik diambil alih pemerintah Indonesia dengan nama Pusat Perkebunan Negara. PG Olean tercatat beberapa kali berganti nama seiring dinamika perkembangan politik dan pemerintahan Indonesia dan resmi dikelola PTPN XI sejak 11 Maret 1996. 

Lokasi PG Olean yang berada hanya 3 kilometer dari pusat kabupaten Situbondo di jalur pantau utara Jawa Timur, dinilai sangat strategis oleh kalangan perusahaan wisata. Lokasi tersebut berpotensi menjadi tujuan wisatawan dari Surabaya yang akan melancong ke Banyuwangi. "Rata-rata wisatawan mancanegara datang dari Surabaya, tujuannya ke Bromo, lalu ke Banyuwangi. Di PG Olean nanti bisa mampir, karena searah," kata Dyah Ayu Tisnawati, CEO Biro Perjalanan Wisata Bayu Citra Persada.

Dia menyambut baik jika PTPN XI mengembangkan PG Olean sebagai destinasi wisata pabrik gula, karena selama ini di Jawa Timur belum ada wisata semacam itu. "Syukur-syukur bisa melengkapi destinasi andalan wisatawan mancanegara yang ada selama ini selain Kawah Ijen, Gunung Bromo, dan Banyuwangi," ujarnya. 

Namun begitu kata dia, objek wisata pabrik gula Olean harus dikemas secara profesional dengan konsep yang jelas, dan tentu harus berbeda dengan destinasi wisata yang ada selama ini. "Selain sarana dan prasarana serta promosi yang menarik, sumber daya manusia pengelolanya juga harus disiapkan," kata dia.

 

Potensi masa depan

 

(Achmad Faizal/Kompas.com Lokomotif uap ini kerap digunakan para wisatawan mancanegara berkeliling pabrik tebu di Situbondo ini)

 

Potensi wisata agrobis dan "heritage" di PG Olean dianggap potensi bisnis masa depan PTPN XI dalam rangka diversifikasi usaha. Konsep wisata yang sama kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN XI, Aris Toharisman, juga diterapkan di PG Jatiroto di Kabupaten Lumajang. "Di PG Jatiroto, menaiki lokomotif untuk berkeliling kebun tebu mungkin lebih leluasa, karena lahan kebun tebu di sana milik perusahaan," katanya.

Diversifikasi usaha yang dimaksud adalah mengoptimalkan pendapatan perusahaan dari produk non-gula dalam rangka mengejar keuntungan perusahaan. Saat ini kata Aris, sedang dikembangkan produksi listrik dari ampas tebu di PG Jatiroto Lumajang dan Asembagus Situbondo yang akan dijual ke PT PLN. Diversifikasi yang sudah dilakukan dengan memanfaatkan produk hilir tebu di antaranya etanol, alkohol, dan spirtus. Upaya diversifikasi usaha tersebut juga untuk mempersiapkan PTPN XI yang akan menjadi perusahaan Go Publik pada 2017.

Tahun ini, perusahaan mengalokasikan dana Rp 1 triliun untuk diversifikasi usaha. Jumlah itu 10 kali lipat lebih banyak dari tahun sebelumnya. Meski begitu, hasil diversifikasi dinilai masih belum banyak menyumbang keuntungan bagi PTPN XI. "Masih di bawah Rp 1 triliun keuntungannya," papar Aris. 

Kementerian BUMN, sesuai arahan Presiden Jokowi, akhir-akhir ini menggalakkan diversifikasi pabrik gula dalam upaya swasembada gula 3-5 tahun ke depan serta untuk meningkatkan pendapatan petani. 

Diversifikasi usaha pabrik gula dinilai sangat penting jika industri gula di Indonesia masih ingin berkembang. "Jika hanya mengandalkan pendapatan dari gula tidak mungkin, karena gula adalah komoditas yang pergerakan harganya selalu diintervensi pemerintah," kata Menteri BUMN, Rini Soemarno, belum lama ini. Di luar negeri seperti Brasil, kata dia, pendapatan utama pabrik gula justru bukan dari produk gula, namun dari produk hilir seperti listrik dan sebagainya. (Jo/Sumber: disini)

Read More

Indonesia Pasti Bisa Swasembada Gula

Post at Friday, 12 August 2016,

SURABAYA (12/08/2016) Komisaris Independen PTPN XI, Dedy Mawardi meyakini Indonesia akan segera mampu swasembada gula. Menurutnya, pemerintah sudah menempuh langkah tepat untuk memperkuat industri gula nasional demi kepentingan dalam negeri.

Dedy mengatakan, arahan Presiden Joko Widodo agar Indonesia menghentikan importasi gula sudah ditindaklanjuti Kementerian BUMN dengan merevitalisasi 62 pabrik gula. Khusus PTPN XI, ada dua pabrik gula yang direvitalisasi dengan alat-alat produksi yang modern, yakni PG Djatiroto dan Asembagus.

Selain itu, kata Dedy, saat ini PTPN XI juga sedang menuntaskan pembangunan PG Glenmore di Banyuwangi. “Pabrik di Glenmore ini merupakan yang terbaru setelah selama 31 tahun Kementerian BUMN tidak membangun pabrik gula,” ujar Dedy melalui rilisnya ke media, Kamis (4/8).

Ia menjelaskan, PG Glenmore menyedot investasi hingga Rp 1,5 triliun yang bersumber dari kredit perbankan. Pabrik yang dikelola oleh konsorsium PTPN XII dan PTPN XI memiliki kapasitas giling hingga 150-160 ton per hektare per hari. “Jadi akan menghasilkan 58 ton gula siap konsumsi per hari,” katanya.

Lebih lanjut Dedy mengatakan, kini ada sinergi antar-BUMN untuk memperkuat industri gula. Karenanya, gula dari PTPN dan PR Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) tidak boleh lagi dijual ke pedagang, tetapi ke Perum Bulog.

“Kebijakan ini untuk menstabilkan harga gula serta memukul para mafia gula yang selama ini memainkan harga gula seenaknya,” tegasnya.

Ia menambahkan, problem utama pabrik gula BUMN selama ini adalah minimnya lahan untuk perkebunan tebu. Namun, kimitmen kuat Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan swasembada gula membuat kendala itu lebih mudah teratasi.

“Kebijakan di sektor gula yang sudah jitu dan on the track itu akan lebih sempurna lagi jika Presiden Jokowi mengeluarkan aturan hukum yang menjamin ketersediaan lahan untuk perkebunan gula yang dikelola oleh BUMN,” tegasnya. (Jo/Sumber:disini)

Read More

Soekarwo Pastikan Harga Gula Kembali Normal

Post at Friday, 29 July 2016,

SURABAYA (29/07/2016) Menurut Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengatakan bahwa setelah mencermati hanya gula yang terus naik, pihaknya telah meminta sejumlah pihak untuk melakukan kajian, perlunya dilakukan efisiensi harga gula. Hasilnya, didapat rumusan dan langkah yang akan dilakukan untuk stabilisasi dan menurunkan harga gula. Rumusan tersebut juga sudah diteken Pangdam dan Polda. Ditargetkan harga gula akan kembali normal menjadi Rp 12.000 atau dibawahnya. Patokan penurunan harga ke Rp 12.000 tersebut sesuai dengan instruksi dari Presiden Jokowi. Ini berarti, akan ada penurunan harga gula sebesar Rp 5.000 dari harga saat ini, Rp 17.000.

Soekarwo juga menambahkan, agar harga gula kembali normal adalah dengan mengecilkan margin keuntungan yang didapat dan memangkas tata niaga suplai gula di Jatim serta menggelar operasi pasar gula secara besar-besaran. Semua stok gula sebanyak 21.000 ton yang ada di Jatim akan dikeluarkan. Baik gula yang ada di gudang milik para pengusaha, dan PTPN XI. (Jo/Sumber:disni)

Read More

Kebijakan Komprehensif Disiapkan

Post at Friday, 29 July 2016,

SURABAYA (29/07/2016) Pemerintah akan menyiapkan kebijakan pangan yang lebih komprehensif untuk menjaga stabilitas harga komoditas pokok, seperti beras, daging sapi, gula pasir, dan jagung yang masih dirasakan terlalu tinggi seusai Lebaran. "Presiden menargetkan dalam tiga bulan ke depan, (strategi) kebijakan pangan dapat dijalankan. Ini nanti akan kita bahas lebih lanjut," kata Darmin di Jakarta, Selasa (26/7). Darmin memberi perhatian pada harga gula pasir yang saat ini berada pada kisaran Rp 16 ribu per kilogram atau masih terlalu tinggi meski pasokan di tingkat global sedang menurun akibat perubahan musim yang menurunkan angka produksi. Untuk itu, Bulog diharapkan mampu meningkatkan pasokan melalui pembelian dari pabrik-pabrik gula dan menambah kuota impor bila diperlukan. Tujuannya agar harga gula dalam negeri terjamin atau berada pada kisaran Rp 12.500 per kilogram pada akhir tahun. "Kita perlu me-review lagi situasi (harga) pangan. Sekarang masih agak tinggi, daging, bawang, dan gula. Sementara, beras lebih stabil," kata Darmin. Pemerintah akan mengimpor gula sebanyak 114 ribu ton. Gula impor tersebut diharapkan masuk pada bulan depan. Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro, mengatakan, gula impor ini akan didatangkan oleh beberapa BUMN, seperti PTPN IX, X, XI, dan RNI. Kata Wahyu, gula impor didatangkan dari Australia, Brasil, dan Afrika. "Asumsinya Agustus pertengahan masuk (gula impor), kalau dari Australia kan tiga mingguan. Sekarang sudah proses realisasi," ujarnya. Wahyu mengatakan, total kuota impor gula hingga akhir tahun sebesar 381 ribu ton. Kuota tersebut akan direalisasikan setelah kuota 114 ribu ton yang merupakan tahap pertama ini telah terealisasi sepenuhnya. Menurut Wahyu, langkah pemerintah mengimpor gula ini untuk menekan harga di pasaran. Terkait upaya stabilisasi harga daging sapi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah menerbitkan Permentan Nomor 34 Tahun 2016 sebagai pengganti Permentan Nomor 58 Tahun 2015 tentang pemasukan karkas, daging, dan olahannya. Peraturan baru tersebut mengizinkan adanya impor potongan daging secondary cut dan jeroan kepada BUMN serta swasta, dan menghilangkan periodisasi impor. Menurut Amran, upaya ini ditempuh untuk memenuhi kebutuhan pasokan daging sapi dalam negeri hingga akhir tahun. Apalagi, harga daging dari bakalan dan feedlot cukup tinggi di pasaran. "Harapannya, pakan untuk rakyat (jadi lebih) murah," ujar Amran. Amran juga menjamin kelayakan daging impor dan telah melalui pemeriksaan oleh Badan Karantina. Menurut estimasi Kementerian Pertanian dan BPS, pasokan daging sapi pada akhir tahun akan mengalami surplus 35 ribu ton karena permintaan daging sapi periode Agustus hingga Desember 2016 mencapai 269 ribu ton. Dengan begitu, total persediaan mencapai 304 ribu ton. Proyeksi itu termasuk penghitungan pemenuhan sapi kurban untuk Hari Raya Idul Adha. Berdasarkan estimasi pada 2015, kebutuhannya mencapai 300 ribu ekor sapi.(Jo/Sumber:Disini)

Read More
  • ‹ First
  • 31
  • 32
  • 33
  • 34
  • 35
  • Last ›
  • MAP LOKASI UNIT